Quality Assurance adalah Proses Sistematis untuk Menjamin Kualitas Produk atau Layanan secara Konsisten
Quality Assurance (QA): Pengertian, Komponen, dan Penerapannya
Quality Assurance (QA) atau jaminan mutu adalah upaya sistematis dan terencana untuk memastikan produk atau layanan yang dihasilkan suatu organisasi memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Berbeda dengan inspeksi produk akhir, QA berfokus pada pencegahan cacat melalui pengelolaan proses, prosedur kerja, dan sistem manajemen mutu secara menyeluruh. Disiplin ini diterapkan di berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, konstruksi, perangkat lunak, farmasi, hingga layanan kesehatan dan pendidikan.
Dalam praktiknya, Quality Assurance dirancang agar organisasi dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan, mengoptimalkan kredibilitas di pasar, dan mencapai kesuksesan jangka panjang. Standar internasional yang paling banyak digunakan sebagai kerangka kerja QA adalah ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu, yang menerapkan siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA) sebagai dasar peningkatan berkelanjutan. Di Indonesia, penerapan QA pada sektor konstruksi diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Jasa Konstruksi.
| Singkatan | QA |
| Padanan bahasa | Jaminan Mutu |
| Disiplin induk | Manajemen Mutu |
| Pendekatan | Preventif (proaktif) |
| Fokus utama | Proses dan prosedur kerja |
| Standar utama | ISO 9001:2015 |
| Metode populer | PDCA, Six Sigma, TQM, Kaizen |
| Target Six Sigma | 3,4 cacat per juta |
| Pengembang siklus PDCA | W. Edwards Deming |
| Penerapan | Lintas industri |
Definisi dan Konsep Dasar
Quality Assurance didefinisikan sebagai bagian dari manajemen mutu yang berfokus pada penyediaan keyakinan bahwa persyaratan mutu akan terpenuhi. Berdasarkan definisi yang diadopsi secara luas dalam standar ISO, QA adalah aktivitas terencana dan sistematis yang diimplementasikan dalam sistem mutu sehingga memberi keyakinan memadai bahwa suatu produk atau jasa akan memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkan.
Konsep dasar QA berakar pada filosofi "pencegahan lebih baik daripada perbaikan". Dengan menetapkan standar dan prosedur sejak awal, QA berusaha menghindari munculnya cacat ketimbang mendeteksinya setelah produk selesai. Pendekatan ini secara langsung mengurangi biaya pengerjaan ulang (rework), penarikan produk (recall), dan kerugian reputasi akibat masalah mutu. Di sisi lain, QA juga mendukung peningkatan berkelanjutan (continuous improvement) melalui evaluasi data kualitas dan refinement proses secara iteratif.
Perbedaan Quality Assurance dan Quality Control
Quality Assurance (QA) dan Quality Control (QC) sering dipertukarkan dalam pembicaraan sehari-hari, namun kedua disiplin ini memiliki fokus, pendekatan, dan waktu pelaksanaan yang berbeda. QA bersifat proaktif dan berorientasi pada proses, sedangkan QC bersifat reaktif dan berfokus pada produk akhir.
| Aspek | Quality Assurance (QA) | Quality Control (QC) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Proses dan prosedur kerja (preventif) | Produk akhir (detektif) |
| Pendekatan | Proaktif — mencegah cacat sejak awal | Reaktif — menemukan dan memperbaiki cacat |
| Tahap Pelaksanaan | Sebelum atau selama proses produksi | Setelah produk jadi, sebelum pengiriman |
| Contoh Aktivitas | Pengembangan standar mutu, audit internal, pelatihan | Pengujian akhir produk, inspeksi visual, sampling |
| Hasil Utama | Pencegahan cacat, kepatuhan proses, konsistensi | Deteksi cacat, validasi spesifikasi output |
| Skala Kerja | Kerangka kerja keseluruhan, lintas proyek | Operasional teknis untuk produk tertentu |
QA dan QC bersifat saling melengkapi. QA memastikan proses yang benar agar produk berkualitas, sedangkan QC memastikan hasil akhirnya sesuai standar. Keduanya merupakan komponen integral dalam Sistem Manajemen Mutu terpadu (Total Quality Management System).
Komponen Utama Sistem QA
Sistem Quality Assurance yang efektif terdiri dari enam komponen utama yang saling terintegrasi membentuk siklus mutu organisasi. Setiap komponen memiliki peran spesifik namun saling bergantung dalam menjamin konsistensi kualitas.
Kebijakan dan Prosedur
Dokumen kebijakan mutu (quality policy) dan Prosedur Operasi Standar (Standard Operating Procedure/SOP) menetapkan standar kualitas, pedoman kerja, dan metode QA yang berlaku di organisasi. Kebijakan mutu ini menjadi dasar bagi seluruh aktivitas QA dan biasanya disahkan oleh manajemen puncak sebagai bentuk komitmen organisasi terhadap mutu.
Perencanaan QA
Rencana QA (Quality Assurance Plan) berupa dokumen yang merinci kegiatan QA seperti pengujian, audit, dan alokasi sumber daya (waktu, SDM, peralatan). Pada dokumen ini ditetapkan objektif mutu, jadwal audit, kriteria penerimaan, serta penanggung jawab setiap aktivitas QA.
Pengujian dan Evaluasi
Proses pengujian produk atau layanan secara menyeluruh untuk mengidentifikasi cacat atau ketidaksesuaian dengan spesifikasi. Pada perangkat lunak, pengujian mencakup functional test, integration test, dan stress test. Pada manufaktur, pengujian melibatkan inspeksi fisik, uji laboratorium material, dan uji ketahanan produk.
Pemantauan dan Pengukuran
Pengumpulan metrik dan data kinerja proses untuk memantau kualitas secara kuantitatif. Contoh metrik mencakup tingkat kegagalan produk, statistik produksi, indeks kepuasan pelanggan, dan rasio cacat per juta produk. Metrik ini membantu menganalisis tren mutu dan mengevaluasi efektivitas proses.
Pelaporan dan Dokumentasi
Laporan hasil audit, pengujian, dan inspeksi yang disusun secara sistematis. Dokumentasi QA mencakup catatan pengujian, formulir pemeriksaan, laporan kecacatan (non-conformity report), dan tindakan korektif. Dokumentasi ini menjadi bukti pemenuhan standar dan referensi untuk perbaikan ke depan.
Tindakan Perbaikan dan Pencegahan
Sistem penanganan masalah meliputi corrective action untuk masalah yang sudah terjadi dan preventive action untuk mencegah masalah serupa terjadi lagi. Identifikasi akar masalah (root cause analysis) menggunakan teknik seperti diagram Ishikawa atau metode 5-Why menjadi langkah kunci dalam tahap ini.
Tahapan Proses Quality Assurance
Proses Quality Assurance terdiri dari tujuh tahapan terstruktur yang membentuk siklus berkelanjutan. Penggunaan diagram alir (flowchart) sering diadopsi untuk memvisualisasikan urutan langkah QA agar mudah dipahami dan diterapkan secara konsisten.
Tujuh tahapan utama Quality Assurance secara berurutan adalah:
- Perencanaan QA: Menentukan objek pengujian, menetapkan tujuan, dan mengembangkan rencana QA termasuk jadwal audit, rencana pengujian, dan alokasi sumber daya.
- Pengembangan Standar dan Prosedur: Merumuskan standar kualitas dan SOP yang harus diikuti, termasuk spesifikasi produk, tolok ukur kinerja, dan instruksi teknis.
- Pelaksanaan Pengujian dan Inspeksi: Melakukan pengujian produk atau komponen secara menyeluruh sesuai metode yang relevan dengan industri.
- Evaluasi dan Analisis: Mengevaluasi hasil pengujian untuk mengidentifikasi penyimpangan, cacat, atau kelemahan, lalu membandingkan dengan kriteria mutu yang ditetapkan.
- Perbaikan dan Tindakan Korektif: Menerapkan langkah perbaikan seperti memperbarui prosedur, mengganti material, atau melakukan pelatihan tambahan agar kesalahan tidak terulang.
- Pengawasan dan Pemantauan: Memonitor pelaksanaan proses secara berkelanjutan untuk memastikan kesesuaian dengan standar dan mendeteksi potensi masalah secara dini.
- Pelaporan: Menyusun laporan berkala yang memuat hasil pengujian, temuan audit, dan langkah perbaikan kepada manajemen sebagai bentuk transparansi mutu.
Metode dan Standar QA Populer
Berbagai metode dan standar Quality Assurance telah dikembangkan untuk membantu organisasi membangun sistem mutu yang efektif. Empat kerangka kerja yang paling banyak digunakan secara global adalah ISO 9001, Six Sigma, Total Quality Management, dan siklus PDCA.
ISO 9001:2015
ISO 9001:2015 adalah standar internasional untuk Quality Management System (QMS) yang menetapkan persyaratan bagi organisasi untuk mengelola mutu seluruh aktivitas bisnis. Standar ini berfokus pada struktur organisasi, tanggung jawab, prosedur, proses, dan sumber daya untuk mencapai mutu produk atau jasa. Dengan pendekatan siklus PDCA, ISO 9001 membantu organisasi merencanakan, mengontrol, dan memperbaiki sistem mutu secara berkelanjutan. Sertifikasi ISO 9001 banyak diterapkan di sektor manufaktur, jasa, dan instansi pemerintahan.
Six Sigma
Six Sigma adalah metode QA yang berfokus pada pengendalian kualitas menggunakan analisis statistik. Tujuannya mengurangi variasi proses dan mencapai target kinerja sangat tinggi — maksimal 3,4 cacat per satu juta kesempatan. Six Sigma menggunakan kerangka kerja DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) untuk proyek peningkatan proses, serta DMADV (Define, Measure, Analyze, Design, Verify) untuk pengembangan proses baru. Metode ini banyak diadopsi di industri manufaktur otomotif, elektronik, dan jasa keuangan.
Total Quality Management (TQM)
Total Quality Management adalah filosofi mutu menyeluruh yang muncul pada era 1980-an dengan inti pencapaian keberhasilan jangka panjang melalui kepuasan pelanggan. TQM melibatkan seluruh anggota organisasi dalam upaya peningkatan kualitas, bukan hanya departemen khusus. Konsep utamanya meliputi fokus pada pelanggan, keterlibatan total karyawan, pendekatan proses, dan strategi proaktif untuk peningkatan berkelanjutan menuju zero defect.
Siklus PDCA
PDCA (Plan-Do-Check-Act) adalah siklus perbaikan berkelanjutan yang dikembangkan oleh W. Edwards Deming dan dikenal juga sebagai Deming Cycle. Siklus empat langkah ini diterapkan untuk mengelola dan meningkatkan setiap proses secara iteratif. Setiap siklus PDCA berakhir pada tindakan perbaikan yang kemudian diulang lagi, sehingga kualitas terus meningkat. PDCA menjadi konsep dasar dalam implementasi ISO 9001 dan program Continuous Improvement di berbagai industri.
| Metode / Standar | Fokus & Pendekatan | Contoh Penggunaan |
|---|---|---|
| ISO 9001:2015 | Standar internasional QMS, berbasis siklus PDCA, menekankan dokumentasi dan peningkatan terus-menerus. | Manufaktur, jasa, pemerintahan, konsultan konstruksi. |
| Six Sigma | Metode statistik mengurangi variasi dan cacat dengan target ≤3,4 cacat per juta. Pendekatan DMAIC/DMADV. | Otomotif, elektronik, jasa keuangan. |
| TQM | Filosofi mutu menyeluruh melibatkan semua karyawan, fokus kepuasan pelanggan, continuous improvement. | Manufaktur, TI, kesehatan, sektor jasa. |
| PDCA | Siklus perbaikan berkelanjutan empat langkah untuk peningkatan proses iteratif. | Dasar ISO 9001 dan program Continuous Improvement. |
Metode-metode di atas sering digunakan bersamaan. Sebuah organisasi dapat menerapkan ISO 9001 dengan pendekatan TQM dan siklus PDCA, sambil mengintegrasikan alat statistik Six Sigma untuk proyek spesifik. Pemilihan metode bergantung pada tujuan organisasi dan sifat produk atau layanan.
Dokumentasi dalam Quality Assurance
Dokumentasi merupakan bagian krusial dari Quality Assurance karena menjadi bukti tertulis pemenuhan standar mutu, dasar audit eksternal, dan referensi peningkatan proses. Tanpa dokumentasi yang sistematis, QA tidak dapat menilai apakah prosedur telah diikuti dengan benar.
Enam jenis dokumen utama yang menjadi fondasi sistem QA meliputi:
- Manual Mutu (Quality Manual): Dokumen tertinggi yang menguraikan kebijakan mutu, cakupan sistem mutu, dan peran organisasi dalam QA. Berisi komitmen manajemen puncak dan ringkasan struktur Sistem Manajemen Mutu.
- Prosedur Operasi Standar (SOP): Dokumen yang merinci langkah operasional untuk proses-proses penting seperti produksi, inspeksi, dan pengujian, memastikan setiap karyawan mengikuti cara kerja yang konsisten.
- Rencana Jaminan Mutu (Quality Plan): Dokumen spesifik proyek yang mengatur kegiatan QA/QC termasuk jadwal pengujian, alat uji, dan kriteria penerimaan.
- Formulir dan Checklist: Formulir pengujian, daftar periksa inspeksi, dan rekaman data selama aktivitas QA, seperti formulir outgoing quality control atau in-process check.
- Laporan Audit dan Inspeksi: Dokumentasi hasil audit internal dan eksternal, laporan inspeksi akhir, catatan temuan ketidaksesuaian (non-conformities), dan rekomendasi perbaikan.
- Log dan Catatan Kualitas: Catatan validasi, kalibrasi alat, laporan pelatihan, dan dokumen pendukung lain yang menyatakan kesesuaian proses mutu.
Penerapan QA dalam Konstruksi dan Arsitektur
Quality Assurance dalam proyek konstruksi dan arsitektur adalah pendekatan sistematis yang dimulai sejak konsepsi desain hingga serah terima proyek akhir. QA menitikberatkan pada pencegahan masalah mutu dengan merencanakan standar dan prosedur yang konsisten pada setiap tahap proyek. Tujuan utama QA/QC plan proyek konstruksi adalah memastikan bangunan akhir memenuhi spesifikasi kontrak, tepat waktu, dan tetap dalam anggaran.
QA Berdasarkan Fase Proyek
Kegiatan QA utama pada setiap fase proyek konstruksi dapat diringkas dalam tabel berikut:
| Tahap Proyek | Kegiatan Jaminan Mutu (QA) Utama |
|---|---|
| Desain & Pra-konstruksi | Verifikasi desain arsitektur-struktural; simulasi performa struktur, gempa, dan energi; pemastian kepatuhan terhadap SNI dan persyaratan klien; penyusunan Rencana Mutu (Quality Plan). |
| Perencanaan Proyek | Penyusunan Quality Management Plan; identifikasi risiko kualitas teknis dan operasional; koordinasi tolok ukur mutu antara arsitek, insinyur, dan kontraktor. |
| Pengadaan Material | Audit vendor berdasarkan sertifikasi dan pengalaman; definisi spesifikasi teknis material; uji laboratorium mutu beton dan kekuatan baja; verifikasi dokumentasi penunjang. |
| Pelaksanaan Konstruksi | Inspeksi lapangan rutin untuk struktur, hidrolika, kelistrikan, dan finishing; uji non-destruktif; pengujian mutu beton di lokasi; penggunaan checklist dan dokumentasi harian. |
| Komisioning & Serah Terima | Proses komisioning sistem HVAC, listrik, dan keamanan; penunjukan Commissioning Agent independen; penyusunan punch list dan sertifikat penyelesaian. |
QA dalam Proyek Gedung Bertingkat Tinggi
Pada proyek gedung bertingkat tinggi (high-rise), kualitas pengerjaan dan manajemen risiko menjadi lebih kompleks akibat ketinggian, kepadatan struktur, dan sistem bangunan yang canggih. Gedung tinggi membutuhkan perencanaan struktur yang sangat presisi dan pemasangan elemen berat seperti pondasi dalam dan sistem lift yang tidak menoleransi kesalahan.
Aktivitas QA tambahan pada proyek gedung tinggi meliputi analisis beban dinamis, pemantauan formasi beton, uji stabilitas ekskavasi, dan pengujian kualitas sambungan struktur. Praktik QA modern juga mengintegrasikan teknologi Building Information Modeling (BIM) untuk pemantauan kualitas real-time dan deteksi dini benturan antar disiplin desain. Studi menunjukkan, aktivitas rework konstruksi dapat menyumbang kerugian hingga 4–6% dari total biaya proyek, sehingga penerapan QA yang konsisten secara signifikan menekan pembengkakan biaya.
QA dalam Praktik Arsitektur
Bidang arsitektur berfokus pada proses desain dan kreatif, tetapi juga menuntut penerapan QA yang terstruktur. Organisasi arsitektur profesional sering mengadopsi sistem mutu formal berbasis ISO 9001, dengan firma besar wajib memiliki Quality Management System bersertifikat dan firma kecil membuat Project Quality Plan (PQP) untuk setiap proyek.
Dalam konteks arsitektur berkelanjutan (green architecture), QA juga melibatkan pengawasan kriteria lingkungan seperti desain hemat energi, ventilasi alami, dan penggunaan bahan ramah lingkungan. Dokumentasi perhitungan energi, uji termal, dan sertifikasi green building seperti LEED, BREEAM, atau Greenship Indonesia menjadi bagian integral QA desain berkelanjutan.
Penerapan QA di Berbagai Sektor Industri
Quality Assurance bersifat lintas industri dan dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing sektor. Berikut penerapan QA pada beberapa industri utama:
- Perangkat Lunak (Software): QA di bidang IT melibatkan pengujian unit, integrasi, sistem, dan penerimaan pengguna untuk memastikan produk bebas bug. Pengujian otomatis dan manual dilakukan secara sistematis sebelum rilis.
- Manufaktur: Industri otomotif dan elektronik menerapkan QA dengan menetapkan prosedur perakitan dan inspeksi inline. Pengujian fungsional komponen selama jalur produksi dan audit rutin memastikan produk siap pakai.
- Makanan dan Minuman: QA di sektor pangan fokus pada keamanan dan kepatuhan regulasi. Sistem deteksi kontaminan fisik (seperti X-ray) digunakan untuk memastikan produk bebas kontaminan sebelum dikemas.
- Farmasi: Industri obat-obatan menggabungkan QA dalam setiap tahap R&D dan produksi, dengan standar ketat seperti Good Manufacturing Practice (GMP) dan regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia.
- Pendidikan Tinggi: Institusi pendidikan menerapkan QA melalui Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) yang mengelola sistem mutu internal sesuai panduan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Layanan Kesehatan: Rumah sakit dan klinik menjalankan QA dengan protokol medis, standardisasi pelayanan pasien, kontrol infeksi, dan akreditasi rumah sakit melalui Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).
- Sektor Jasa: Perusahaan perbankan, telekomunikasi, dan layanan publik mengadopsi QA melalui audit pelayanan pelanggan, standar operasional, dan sertifikasi ISO 9001.
Skill dan Peran Tenaga QA
Tenaga Quality Assurance memegang peran kunci dalam mengimplementasikan sistem mutu organisasi. Profesional QA harus memiliki kombinasi soft skill dan hard skill teknis yang relevan dengan industrinya.
Soft Skill yang Dibutuhkan
- Berpikir Kritis: Kemampuan menganalisis proses dan hasil pengujian secara objektif.
- Ketekunan dan Perhatian pada Detail: Memperhatikan hal-hal kecil yang berpotensi menjadi penyebab cacat.
- Analisis Data: Mahir dalam mengumpulkan data pengujian dan mengidentifikasi pola masalah.
- Pemecahan Masalah (Problem Solving): Kreatif menemukan akar permasalahan dan tindakan korektif.
- Komunikasi Efektif: Keterampilan lisan dan tulisan untuk berkoordinasi lintas tim dan melaporkan ke manajemen.
- Kerja Sama Tim: QA sering bekerja lintas departemen, sehingga kolaborasi sangat penting.
- Manajemen Proyek: Keterampilan merencanakan, menjadwalkan pengujian, dan mengelola sumber daya.
Hard Skill Spesifik Industri
Selain soft skill, tenaga QA memerlukan kompetensi teknis yang berbeda untuk setiap industri:
- QA Perangkat Lunak: Pengetahuan SDLC (software development life cycle), bahasa pemrograman, dan alat uji seperti Selenium dan JMeter.
- QA Manufaktur: Penguasaan standar mutu spesifik seperti Statistical Process Control (SPC), ASTM, dan teknik inspeksi.
- QA Konstruksi: Pemahaman SNI, K3 Konstruksi, BIM, dan prosedur audit lapangan.
- QA Farmasi: Penguasaan GMP, validasi proses, dan regulasi BPOM atau FDA.
Peran utama tenaga QA dalam perusahaan meliputi penetapan standar mutu, penyusunan rencana pengujian, pelaksanaan audit, pelacakan cacat, dan pimpinan tindakan perbaikan. Quality Manager atau Quality Engineer umumnya memimpin tim QA dan bertanggung jawab atas keberlanjutan proses mutu.
Contoh Penerapan dan Dampak QA
Penerapan Quality Assurance dalam praktik dapat diilustrasikan melalui contoh kasus berikut. Sebuah perusahaan manufaktur sepatu kulit mengalami peningkatan pengembalian produk karena sol sepatu mudah lepas. Tim QA melakukan analisis akar permasalahan (root cause analysis) dan mengidentifikasi tiga faktor utama: perekat tidak memenuhi spesifikasi, proses pengeleman tidak konsisten, dan kurangnya pelatihan operator.
Berdasarkan temuan tersebut, tim QA dan produksi melaksanakan tiga tindakan korektif: mengganti jenis perekat dengan kualitas lebih baik sesuai standar, menyusun SOP lebih rinci untuk proses pengeleman, dan menyelenggarakan pelatihan ulang bagi operator. Setelah implementasi, jumlah sepatu yang dikembalikan karena sol lepas menurun secara signifikan, biaya penanganan kerusakan berkurang, dan kepuasan pelanggan kembali meningkat.
Contoh kedua dapat dilihat pada proyek gedung bertingkat tinggi. Studi perbandingan antara Shanghai Tower (Cina, 632 m) dan Hudson Yards (New York) menunjukkan dampak penerapan QA/QC yang konsisten. Shanghai Tower yang menerapkan manajemen mutu ketat mencatat 12 cacat teridentifikasi dibanding 15 pada Hudson Yards, dengan tingkat keterlambatan akibat masalah kualitas lebih rendah (2% vs 5%) dan kebutuhan rework yang lebih kecil (5% vs 6%). Data ini menegaskan bahwa pengendalian mutu yang baik mengurangi risiko kualitas dan pembengkakan biaya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Quality Assurance (QA)?
Quality Assurance adalah upaya sistematis dan terencana untuk memastikan produk atau layanan yang dihasilkan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. QA berfokus pada pencegahan cacat melalui pengelolaan proses dan prosedur kerja, bukan hanya memeriksa produk akhir.
Apa perbedaan QA dan QC?
QA bersifat proaktif dan berorientasi pada proses untuk mencegah cacat, sedangkan QC bersifat reaktif dan berfokus pada produk akhir untuk mendeteksi cacat. QA dilakukan sebelum atau selama proses produksi, sedangkan QC dilakukan setelah produk selesai.
Apa saja komponen utama sistem QA?
Sistem QA terdiri dari enam komponen utama: kebijakan dan prosedur, perencanaan QA, pengujian dan evaluasi, pemantauan dan pengukuran, pelaporan dan dokumentasi, serta tindakan perbaikan dan pencegahan.
Apa itu ISO 9001 dalam konteks QA?
ISO 9001:2015 adalah standar internasional untuk Sistem Manajemen Mutu yang menetapkan persyaratan bagi organisasi untuk mengelola mutu seluruh aktivitas bisnis dengan pendekatan siklus PDCA.
Apa itu Six Sigma?
Six Sigma adalah metode QA yang berfokus pada pengendalian kualitas menggunakan analisis statistik dengan target maksimal 3,4 cacat per satu juta kesempatan, menggunakan kerangka kerja DMAIC dan DMADV.
Lihat Juga
- Manajemen Konstruksi: Pengertian, Aspek, dan Tahapannya
- Kick Off Meeting: Pengertian, Tujuan, dan Pelaksanaannya
Referensi
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Jakarta: Sekretariat Negara.
- Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2020 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Jasa Konstruksi. Jakarta: Sekretariat Negara.
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi. Jakarta: Kementerian PUPR.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI ISO 9001:2015 — Sistem Manajemen Mutu, Persyaratan. Jakarta: BSN.
- Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI.
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pedoman Sistem Penjaminan Mutu Internal Perguruan Tinggi. Jakarta: Kemendikbudristek.
Post a Comment