Analisa Material dan Harga Gorong-gorong Beton
Table of Contents
Analisa Material Gorong-gorong Beton
Estimasi kebtuhan material dan biaya pembuatan gorong-gorong (buis) beton pracetak.
Buis gorong-gorong beton merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan infrastruktur, khususnya pada sistem drainase, pengendalian banjir, irigasi, dan jalur air bawah jalan. Material ini berbentuk pipa beton pracetak dengan berbagai ukuran diameter, mulai dari kecil hingga besar, yang berfungsi untuk menyalurkan air secara aman tanpa merusak struktur tanah maupun permukaan jalan di atasnya.
Dalam perencanaan konstruksi, penggunaan buis gorong-gorong beton tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor harga, mutu beton, ukuran diameter, serta metode pemasangan. Harga yang bervariasi sering kali menjadi pertimbangan utama, baik bagi kontraktor, pemerintah daerah, maupun masyarakat yang membutuhkan untuk proyek skala kecil.
Pengertian Buis Gorong-gorong Beton
Buis gorong-gorong beton adalah elemen beton pracetak berbentuk silinder atau pipa yang digunakan untuk mengalirkan air di bawah permukaan tanah maupun konstruksi jalan. Dalam dunia teknik sipil, komponen ini termasuk ke dalam kategori culvert atau saluran tertutup yang berfungsi sebagai media perlintasan air, baik untuk keperluan drainase perkotaan, irigasi pertanian, maupun pembuangan air hujan.
Menurut standar SNI 03-4431-1997 tentang gorong-gorong pipa beton, buis beton diproduksi dengan menggunakan campuran semen, agregat halus, agregat kasar, dan air dengan perbandingan tertentu agar mencapai mutu beton yang diinginkan (misalnya K-175, K-225, K-250, hingga K-350). Proses produksinya dapat dilakukan secara manual dengan cetakan sederhana maupun menggunakan metode pracetak modern yang diawasi dengan kontrol mutu ketat.
Perbedaan buis gorong-gorong beton dengan material gorong-gorong lain, seperti pipa PVC atau pipa baja, terletak pada aspek kekuatan, daya tahan, dan fungsi. Beton memiliki karakteristik kuat menahan beban tanah maupun lalu lintas di atasnya, sehingga buis beton lebih sering dipakai pada proyek jalan raya, jembatan kecil, serta saluran utama. Sementara itu, pipa PVC atau baja umumnya digunakan untuk kebutuhan yang lebih ringan dan fleksibel.
Dengan kata lain, buis gorong-gorong beton merupakan solusi konstruksi yang kokoh, tahan lama, dan sesuai standar infrastruktur nasional, sehingga perannya sangat vital dalam mendukung keberlanjutan sistem drainase dan jaringan air di berbagai jenis proyek pembangunan.
Jenis-jenis Buis Gorong-gorong Beton
Buis gorong-gorong beton memiliki beragam jenis yang dapat dibedakan berdasarkan bentuk, sistem sambungan, dan fungsi penggunaannya. Pemilihan jenis yang tepat sangat penting agar sesuai dengan kebutuhan teknis dan kondisi lapangan. Berikut penjelasannya:
1. Berdasarkan Bentuk
- Buis Bulat (Round Culvert)
- Jenis yang paling umum digunakan, berbentuk silinder dengan diameter bervariasi mulai dari 20 cm hingga 200 cm. Cocok untuk drainase jalan, saluran air hujan, maupun irigasi.
- Buis Oval
- Bentuknya lonjong, digunakan pada area dengan keterbatasan ruang vertikal, misalnya di bawah jalan dengan elevasi rendah.
- Buis Belah
- Merupakan buis beton berbentuk setengah lingkaran (belahan dari buis bulat). Jenis ini umumnya dipakai sebagai saluran terbuka di permukaan tanah untuk drainase ringan, saluran taman, atau pembuangan air hujan di area perumahan. Keunggulannya adalah pemasangan yang lebih mudah dan biaya relatif lebih ekonomis dibandingkan buis bulat penuh.
- Box Culvert (Gorong-gorong Kotak)
- Berbentuk persegi atau persegi panjang. Digunakan untuk debit air besar, sungai kecil, atau saluran utama di bawah jalan raya. Box culvert biasanya diproduksi dengan beton bertulang untuk memperkuat daya tahannya.
2. Berdasarkan Sistem Sambungan
- Tanpa Sambungan (Plain End)
- Buis hanya diletakkan berdampingan tanpa sistem pengikat tambahan. Cocok untuk aliran air ringan dengan tekanan rendah.
- Sambungan Spigot-Socket (Lancar/Drat)
- Memiliki sistem jantan-betina pada ujung buis sehingga lebih rapat dan aman terhadap kebocoran. Digunakan pada saluran dengan debit sedang hingga besar.
- Sambungan dengan Kawat Beton/Bendrat atau Las
- Menggunakan pengikat tambahan untuk menjaga kekuatan sambungan antar buis, umumnya dipakai pada proyek drainase sementara atau skala kecil.
3. Berdasarkan Fungsi
- Buis Beton Tanpa Tulangan
- Dibuat dari beton biasa tanpa tulangan baja. Digunakan untuk saluran kecil dengan beban tanah ringan.
- Buis Beton Bertulang (Reinforced Concrete Pipe)
- Menggunakan tulangan baja pada dinding buis. Memiliki daya tahan tinggi terhadap tekanan tanah maupun beban lalu lintas di atasnya. Jenis ini paling sering dipakai pada proyek infrastruktur besar seperti jalan raya, jembatan kecil, dan bandara.
Ukuran Standar Buis Gorong-gorong Beton
Ukuran buis gorong-gorong beton ditentukan berdasarkan diameter dalam (inner diameter) dan tebal dinding. Pemilihan ukuran yang tepat bergantung pada volume debit air yang akan dialirkan, kondisi tanah, serta jenis beban di atasnya (misalnya lalu lintas kendaraan).
Menurut praktik umum di lapangan dan acuan SNI 03-4431-1997, buis gorong-gorong tersedia dalam berbagai variasi diameter, mulai dari ukuran kecil untuk drainase perumahan hingga ukuran besar untuk saluran utama pada jalan raya.
Berikut adalah tabel ukuran standar buis gorong-gorong beton yang umum diproduksi:
| Diameter Dalam (cm) | Tebal Dinding (cm) | Penggunaan |
|---|---|---|
| 20 cm | 5 – 6 cm | Saluran kecil, pembuangan air rumah tangga |
| 30 cm | 6 – 7 cm | Drainase perumahan, saluran lingkungan |
| 40 cm | 7 – 8 cm | Saluran sekunder dengan debit ringan |
| 50 cm | 8 – 9 cm | Drainase jalan kecil atau gang |
| 60 cm | 9 – 10 cm | Saluran primer perkotaan, irigasi ringan |
| 80 cm | 10 – 11 cm | Saluran air menengah, proyek drainase perkotaan |
| 100 cm | 11 – 12 cm | Gorong-gorong jalan desa/lingkungan |
| 120 cm | 12 cm | Saluran besar, drainase jalan kabupaten |
| 150 cm | 12 – 14 cm | Gorong-gorong jalan raya dengan debit besar |
| 200 cm | 14 – 15 cm | Proyek besar: jalan nasional, crossing sungai kecil |
Catatan Penting:
- Semakin besar diameter, semakin tebal pula dinding buis yang dibutuhkan agar mampu menahan beban.
- Buis tanpa tulangan biasanya tersedia pada diameter kecil (20 – 60 cm).
- Buis bertulang umumnya digunakan mulai dari diameter 80 cm ke atas, terutama bila dipasang di bawah jalan raya.
- Produsen lokal kadang menambahkan variasi ukuran tertentu (misalnya 25 cm, 70 cm, atau 90 cm) untuk menyesuaikan kebutuhan lapangan.
Faktor yang Memengaruhi Harga Buis Gorong-gorong Beton
Harga buis gorong-gorong beton tidak bersifat tunggal, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis dan non-teknis. Memahami faktor-faktor ini sangat penting, terutama bagi kontraktor, konsultan, maupun masyarakat yang ingin melakukan perencanaan anggaran dengan lebih akurat.
Berikut adalah faktor utama yang memengaruhi harga buis gorong-gorong beton:
- Ukuran dan Diameter
- Semakin besar diameter dalam dan tebal dinding, semakin banyak material beton yang dibutuhkan.
- Contoh: buis diameter 30 cm tentu lebih murah dibandingkan buis diameter 150 cm, karena volume beton yang dipakai berbeda jauh.
- Mutu Beton (K-175, K-225, K-300, K-350, dll.)
- Mutu beton ditentukan berdasarkan kuat tekan (MPa atau kg/cm²).
- Beton mutu tinggi seperti K-300 atau K-350 memerlukan proporsi semen lebih banyak, sehingga harga produksi lebih mahal dibanding beton mutu rendah (K-175 atau K-225).
- Jenis Tulangan
- Buis tanpa tulangan (plain concrete) lebih murah karena hanya menggunakan beton biasa.
- Buis bertulang (reinforced concrete pipe) membutuhkan baja tulangan (wire mesh atau besi ulir), sehingga biayanya lebih tinggi tetapi jauh lebih kuat dan tahan lama.
- Metode Produksi
- Cetakan manual (tradisional): biasanya digunakan untuk produksi skala kecil, kualitas bervariasi, dan harga relatif lebih murah.
- Produksi pracetak pabrikan: menggunakan mesin cetak getar (vibrating machine) dengan standar mutu terkontrol, kualitas lebih konsisten, namun harganya lebih tinggi.
- Standarisasi: SNI atau non-standar.
- Logistik: distribusi dan jarak angkut.
- Pasar: harga material & lokasi proyek.
- Volume order: sedikit vs massal.
Simulasi Perbandingan Harga — Per 1 Meter Buis Gorong-gorong Beton (Ilustratif)
Asumsi yang dipakai dalam simulasi
- Perhitungan volume beton per meter = volume dinding pipa (m³/m).
- Massa jenis beton ≈ tidak langsung dipakai; biaya bahan dihitung berdasarkan harga beton jadi.
- Harga beton (asumsi) = IDR 800.000 / m³.
- Biaya overhead / fabrikasi = 30% dari biaya beton.
- Biaya baja tulangan (hanya untuk buis bertulang) dihitung dari estimasi kg baja per meter dengan harga IDR 15.000 / kg. (Kg baja per meter diasumsikan berbeda menurut diameter.)
- Biaya angkut / transport diasumsikan bervariasi menurut diameter (semakin besar, semakin mahal).
- Panjang dasar yang dipakai = 1 meter per unit.
Catatan: semua nilai berikut hanya contoh ilustratif untuk tujuan edukasi/perbandingan. Harga riil berbeda menurut produsen, daerah, kondisi proyek, dan fluktuasi bahan baku.
| Diameter (cm) | Volume Beton per m (m³) | Biaya Beton (IDR) | Overhead (IDR) | Biaya Baja (IDR) | Transport (IDR) | Estimasi Harga / m (IDR) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 30 | 0.0506 | 40.464 | 12.139 | 0 | 100.000 | 152.603 |
| 60 | 0.1507 | 120.574 | 36.172 | 0 | 150.000 | 306.747 |
| 100 | 0.3197 | 255.760 | 76.728 | 450.000 | 300.000 | 1.082.525 |
| 150 | 0.5595 | 447.614 | 134.284 | 750.000 | 600.000 | 1.931.898 |
| 200 | 0.8450 | 676.008 | 202.802 | 1.200.000 | 1.000.000 | 3.078.810 |
(Kolom “Biaya Beton” = volume × IDR 800.000; “Overhead” = 30% dari biaya beton; “Biaya Baja” = asumsi kg baja × IDR 15.000; transport adalah asumsi tetap per ukuran.)
Interpretasi singkat
- Untuk diameter kecil (30–60 cm) seringkali buis tanpa tulangan sudah memadai sehingga biaya jauh lebih rendah karena tidak ada biaya baja.
- Mulai diameter menengah-ke-besar (≥100 cm) umumnya digunakan buis bertulang → menambah biaya signifikan (baja + handling + transport).
- Komponen biaya terbesar pada ukuran besar biasanya: material (beton + baja) dan transport / handling (butuh alat angkat, truk khusus).
- Harga per unit dapat sangat turun jika memesan volume besar (diskon produksi / efisiensi).
Rekomendasi
- Gunakan tabel di atas sebagai panduan perbandingan — bukan sebagai acuan harga final.
- Untuk anggaran proyek yang valid, minta quotation (penawaran harga) dari 2–3 produsen lokal, dengan menyertakan spesifikasi: diameter, tebal dinding, mutu beton (mis. K-225/K-300), panjang per unit, dan kebutuhan tulangan.
Pemasangan Buis Gorong-gorong Beton
Pemasangan buis gorong-gorong beton merupakan tahap penting dalam pekerjaan drainase maupun saluran bawah tanah. Proses ini harus dilakukan dengan benar agar fungsi saluran optimal, tidak terjadi pergeseran, kebocoran, maupun kerusakan dini. Berikut tahapan umum pemasangannya:
1. Persiapan Lapangan
- Dilakukan survei dan penandaan lokasi pemasangan sesuai gambar kerja.
- Pembuatan gali tanah dengan kedalaman dan lebar sesuai ukuran buis yang akan dipasang.
- Dasar galian harus rata, padat, dan stabil, bila perlu diberi lapisan pasir setebal ±10–15 cm sebagai alas.
2. Penataan Dasar dan Pemasangan Plat Beton Precast
- Setelah dasar galian selesai, lapisan bawah diratakan dan dipadatkan.
- Biasanya ditambahkan lapisan pasir setebal ±10–15 cm untuk meratakan dasar.
- Di atasnya dipasang plat beton pracetak (base slab) dengan ketebalan ±8–12 cm (tergantung diameter buis dan beban lalu lintas di atasnya).
- Fungsi plat beton pracetak: menjaga kestabilan buis, mencegah penurunan tanah, serta memastikan kemiringan saluran tetap konsisten.
3. Penurunan dan Pemasangan Buis
- Buis gorong-gorong diturunkan ke dalam galian menggunakan alat berat (backhoe, crane) atau manual (untuk buis kecil).
- Pemasangan dimulai dari sisi hilir ke hulu agar arah sambungan searah dengan aliran air.
- Setiap sambungan buis diberi mortar (adukan semen-pasir), ring karet (rubber joint), atau sistem las besi untuk buis bertulang, sesuai jenis yang digunakan.
- Pastikan sambungan rapat dan tidak ada celah yang bisa menyebabkan kebocoran.
4. Penyambungan Buis
- Ujung buis dimasukkan secara perlahan hingga rapat dengan buis sebelumnya.
- Bila menggunakan buis tanpa tulangan, sambungan biasanya diperkuat dengan adukan semen dan kawat bendrat.
- Untuk buis bertulang, dapat menggunakan sistem las atau kunci sambungan agar lebih kuat.
5. Finishing dan Penguatan Ujung Buis
- Pada ujung masuk (inlet) dan keluar (outlet), biasanya dibuat headwall atau pasangan batu kali agar tanah tidak longsor.
- Permukaan sekitar buis dirapikan agar siap difungsikan.
6. Pengurugan (Backfilling)
- Setelah buis tersambung dengan baik, dilakukan pengurugan tanah kembali.
- Urugan dilakukan bertahap (layer by layer) dengan ketebalan ±20–30 cm setiap lapisan, lalu dipadatkan.
- Material urugan sebaiknya berupa tanah pilihan atau pasir agar pemadatan lebih optimal.
7. Pengecekan Kemiringan (Slope)
- Kemiringan buis harus sesuai desain, umumnya antara 0,2% – 0,5%, agar aliran air lancar tanpa genangan.
- Pengukuran dilakukan dengan waterpass atau theodolite untuk memastikan elevasi terjaga.






Post a Comment