Standar Cara Uji Slump Beton Segar
Standar Cara Uji Slump Beton Segar
Uji slump beton segar (concrete slump test) adalah metode pengujian standar untuk menentukan konsistensi dan workabilitas (kemudahan pengerjaan) beton segar yang dibakukan dalam SNI 1972:2008 dan ASTM C143/C143M-20. Secara umum, nilai slump beton yang dianggap normal berada dalam rentang 8-12 cm — nilai ini menjadi indikator penting dalam menilai workabilitas atau kemudahan penanganan beton segar. Jika nilai slump mencapai 0 cm, hal ini menunjukkan workabilitas beton sangat rendah, yang dapat mempengaruhi proses pengecoran dan kualitas akhir struktur beton. Standar internasional acuan meliputi ASTM C143/C143M-20 dan AASHTO T 119 tentang Metode Uji Slump Beton Semen Hidrolis, dengan kode klasifikasi ICS 91.100.30.
Uji slump bukan hanya untuk mengecek kualitas beton baru, tetapi juga memastikan beton memiliki konsistensi yang tepat sesuai spesifikasi teknis. Hasil uji slump memiliki implikasi langsung terhadap pekerjaan konstruksi, perencanaan campuran beton, dan kontrol kualitas. Mengetahui nilai slump yang tepat membantu memastikan beton dapat ditempatkan dengan baik di cetakan dan dipadatkan tanpa mengalami segregasi atau bleeding. Studi empiris menunjukkan terdapat korelasi terbalik antara nilai slump dan kuat tekan beton: slump 12 menghasilkan kuat tekan 34,97 MPa, sementara slump 18 hanya menghasilkan 25,20 MPa — penurunan signifikan akibat rasio air-semen (w/c ratio) yang terlalu tinggi. Oleh karena itu, pemahaman dan penerapan uji slump yang benar adalah bagian integral dari keberhasilan proyek konstruksi beton, sebagaimana diatur dalam prosedur curing beton dan hammer test beton.
| Nama Lain | Concrete Slump Test |
| Standar nasional | SNI 1972:2008 (revisi SNI 03-1972-1990) |
| Standar terbaru | SNI 1972:2022 |
| Standar internasional | ASTM C143/C143M-20 |
| Standar AASHTO | AASHTO T 119 |
| Kode ICS | 91.100.30 |
| Penemu metode | Duff Abrams (Kerucut Abrams) |
| Tujuan | Mengukur workabilitas beton segar |
| Nilai slump normal | 8 – 12 cm (80 – 120 mm) |
| Toleransi slump | ± 2 cm |
| Batas validitas | 15 mm < slump < 230 mm |
| Agregat maksimal | 37,5 mm |
| Dimensi kerucut | 4" atas × 8" bawah × 12" tinggi |
| Jumlah penumbukan | 3 layer × 25 = 75 kali |
Intisari
- Uji slump beton adalah metode penting untuk memeriksa kualitas dan workabilitas campuran beton segar.
- Metode ini menilai konsistensi atau tingkat kekakuan campuran beton serta menentukan kecukupan air.
- Pengujian dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan dengan hasil untuk perencanaan campuran dan pengendalian mutu beton.
- Nilai slump normal berkisar 8-12 cm, dengan toleransi sekitar 2 cm.
- Proses pengujian slump mengacu pada standar SNI 1972:2008 dan ICS 91.100.30.
Pengantar Uji Slump Beton
Definisi Uji Slump Beton
Uji slump beton adalah cara uji yang menunjukkan konsistensi beton segar melalui pengukuran kekakuan campuran beton. Standar terbaru SNI 1972:2022 menggunakan metode dari ASTM C143/C143M - 20 sebagai dasar prosedur pengujian. Metode ini ditemukan oleh insinyur Amerika Duff Abrams pada tahun 1922 dan menjadi acuan internasional hingga kini.
Tujuan dan Manfaat Uji Slump
Tujuan uji slump beton adalah menentukan seberapa mudah beton segar diolah (workabilitas). Standar SNI 1972:2022 telah diperbarui untuk menambahkan informasi dan kemudahan prosedur dibandingkan versi 2008. Manfaat utama pengujian:
- Menjaga kualitas beton dengan kontrol kebutuhan air sesuai standar mutu
- Memastikan konsistensi campuran beton segar di lapangan
- Mempermudah pengawasan kualitas beton selama pekerjaan pengecoran
- Mencegah segregasi dan bleeding akibat beton terlalu encer
- Mendukung perencanaan mix design yang optimal
Cara Menentukan Slump (10 Langkah Prosedur)
Langkah-langkah lengkap untuk melakukan uji slump beton segar:
- Persiapan alat: Bersihkan alat slump dan dasarnya dengan kain yang dibasahi air.
- Pengisian layer 1: Isi alat slump dengan campuran beton sebanyak 1/3, kemudian lakukan penumbukan sebanyak 25 kali (gunakan penumbuk dari tulangan beton polos berdiameter 16 mm).
- Pengisian layer 2: Tambahkan campuran beton lagi hingga mencapai 2/3 penuh dan lakukan penumbukan 25 kali lagi.
- Pengisian layer 3: Isi alat slump hingga penuh dengan campuran beton dan lakukan penumbukan 25 kali.
- Meratakan permukaan: Ratakan permukaan atas campuran dengan menggunakan sendok pengaduk, bersihkan sisi-sisinya, dan pastikan tidak ada beton yang tumpah.
- Mengangkat cetakan: Angkat alat slump secara tegak lurus dan hati-hati (dalam 5-10 detik).
- Posisi pengukuran: Letakkan alat slump di dekat tumpukan campuran beton, kemudian ukur perbedaan tinggi antara tumpukan beton dan alat slump.
- Mengambil nilai rata-rata: Ambil nilai rata-rata dari beberapa pengukuran mulai dari yang terendah hingga tertinggi — inilah nilai slump.
- Evaluasi workability: Evaluasi kemudahan pengolahan beton berdasarkan nilai slump yang diperoleh.
- Pengujian berulang: Lakukan pengujian nilai slump beberapa kali hingga mencapai nilai yang diinginkan sesuai spesifikasi proyek.
- Nilai slump tinggi menunjukkan beton cair (banyak air) → workabilitas tinggi tetapi kuat tekan rendah.
- Nilai slump rendah menunjukkan beton kental (sedikit air) → kuat tekan tinggi tetapi sulit dikerjakan.
- Tujuan utama: mencapai beton plastis yang mudah diolah sesuai regulasi mutu.
Flowchart 10 Langkah Prosedur Uji Slump Beton
Diagram alur berikut merangkum sepuluh langkah prosedur uji slump beton secara sistematis sesuai SNI 1972:2022 dan ASTM C143/C143M-20, dari persiapan alat hingga pengujian berulang.
Nilai Slump untuk Pekerjaan Beton Berdasarkan PBI-1971 NI-2
| Uraian Jenis Pekerjaan Beton | Slump Maksimum (mm) | Slump Minimum (mm) |
|---|---|---|
| Dinding, pelat pondasi, pondasi telapak bertulang | 125 | 50 |
| Pondasi telapak tidak bertulang, kaison, konstruksi di bawah tanah (tanah rawa) | 90 | 25 |
| Pelat, balok, kolom, dinding | 150 | 75 |
| Pengerasan jalan | 75 | 50 |
| Pembetonan masal | 75 | 25 |
Referensi: PBI - 1971 (Peraturan Beton Bertulang Indonesia), NI - 2 (Norma Indonesia 2).
Peralatan untuk Uji Slump Beton
Alat penting yang diperlukan untuk uji slump beton meliputi kerucut terpancung dan batang penusuk. Peralatan tambahan mencakup Slump Cone, spatula, alat pengukur slump, timbangan, air meter, ember, dan trowel. Selain itu juga diperlukan kain lap, wadah air, dan formulir catatan pengujian.
Cetakan Kerucut Terpancung (Kerucut Abrams)
Cetakan ini terbuat dari logam tak lengket agar pasta semen tidak menempel. Ketebalan logam minimal 1,5 mm (sebelumnya 1,2 mm pada SNI 03-1972-1990). Spesifikasi dimensi Kerucut Slump (Kerucut Abrams):
- Diameter atas: 4 inci (≈ 100 mm)
- Diameter bawah: 8 inci (≈ 200 mm)
- Tinggi cetakan: 12 inci (≈ 300 mm)
- Material: Lembaran baja yang kokoh, anti karat
Batang Penusuk (Tamping Rod)
Batang penusuk diciptakan dari baja berkualitas dengan spesifikasi:
- Diameter: 16 mm
- Panjang: 600 mm
- Bentuk ujung: Setengah bola (hemisphere) untuk meminimalkan kerusakan campuran
Pelat Dasar (Base Plate)
Pelat dasar harus cukup luas untuk menampung beton yang sudah slump dan tidak menyerap air. Spesifikasi pelat dasar:
- Material: Lembaran baja, dilengkapi pegangan untuk handling
- Dimensi: 600 × 600 × 5 mm
- Permukaan: Rata dan kedap air untuk akurasi pengukuran
Diagram Teknis Dimensi Kerucut Abrams
Ilustrasi penampang Kerucut Abrams berikut memperlihatkan proporsi dan dimensi resmi sesuai SNI 1972:2022 — diameter atas 100 mm, diameter bawah 200 mm, dan tinggi cetakan 300 mm — beserta posisi setiap layer pengisian beton.
Persyaratan Bahan dan Ukuran Beton
Untuk beton plastis dengan agregat kasar hingga 37,5 mm, slump test dapat digunakan dengan akurasi tinggi. Jika agregat kasar lebih besar dari 37,5 mm, harus dilakukan pemisahan agregat terlebih dahulu sesuai prosedur SNI. Penting untuk diperhatikan bahwa metode ini tidak sesuai untuk beton non-plastis atau non-kohesif.
| Persyaratan Bahan Beton | Ukuran Agregat Beton |
|---|---|
| Beton plastis dengan ukuran maksimum agregat kasar hingga 37,5 mm | Ukuran agregat kasar maksimal 37,5 mm |
| Tidak dapat diterapkan pada beton non-plastis dan non-kohesif | Jika lebih besar, perlu dilakukan pemisahan agregat sesuai prosedur SNI |
Prosedur Uji Slump Beton
Persiapan Pengujian
Langkah pertama adalah menyiapkan alat. Basahi cetakan dan pelat dasar dengan kain basah untuk mencegah penyerapan air dari beton segar. Kemudian, letakkan cetakan di atas pelat dasar pada permukaan yang rata dan stabil.
Pengisian Cetakan
Beton segar dimasukkan ke dalam cetakan secara selapis demi selapis (3 layer dengan tinggi masing-masing sekitar 1/3 tinggi cetakan). Setiap lapisan dipadatkan secara terpisah, kemudian permukaan akhir diratakan dengan sendok pengaduk.
Pemadatan Beton
Setelah diratakan, beton dipadatkan secara sistematis. Untuk pemadatan, gunakan batang penusuk berukuran 16 mm × 600 mm dengan teknik:
- Lakukan 25 kali penumbukan per lapisan (total 75 kali untuk 3 lapisan)
- Distribusi tumbukan merata di seluruh permukaan layer
- Batang penusuk harus menembus sedikit ke layer bawah untuk integrasi
- Ujung batang yang berbentuk setengah bola membantu menghindari kerusakan
Ilustrasi 3 Layer Pengisian dan Pemadatan Beton dalam Kerucut
Diagram berikut memperlihatkan urutan pengisian beton ke dalam Kerucut Abrams dalam tiga tahap — masing-masing diikuti 25 kali penumbukan — sehingga total tumbukan adalah 75 kali sebelum cetakan diangkat untuk pengukuran.
Pengukuran Nilai Slump
Setelah semua layer dipadatkan, angkat cetakan secara perlahan dan vertikal tanpa gerakan memutar (waktu pengangkatan ideal 5-10 detik). Ukur nilai slump dengan cara membandingkan tinggi beton yang runtuh dengan tinggi awal cetakan (300 mm). Nilai ideal slump untuk beton segar adalah 8-12 cm.
Interpretasi Hasil Uji Slump
Hasil uji slump mengukur tinggi beton yang runtuh setelah cetakan diangkat, dalam satuan sentimeter (cm) atau milimeter (mm). Biasanya, slump yang baik berada di antara 8 hingga 12 cm. Untuk aplikasi konstruksi umum, slump normalnya sekitar 50 hingga 100 mm (5-10 cm).
Rentang Nilai Slump yang Dapat Diterima
| Rentang Slump | Interpretasi | Implikasi pada Beton |
|---|---|---|
| < 15 mm | Sangat rendah / Tidak valid | Beton kurang lentur, sulit dicor, dan tidak dapat diuji dengan metode slump |
| 15 - 50 mm | Slump rendah | Beton kaku, cocok untuk pengerasan jalan dan pembetonan masal |
| 50 - 100 mm | Slump sedang | Beton normal untuk konstruksi umum |
| 80 - 120 mm | Slump optimal | Beton plastis, mudah diolah, kualitas terbaik |
| 100 - 175 mm | Slump tinggi | Beton encer, cocok untuk pelat-balok-kolom |
| > 230 mm | Sangat tinggi / Tidak valid | Beton tidak lengket, bisa segregasi, tidak dapat diuji dengan metode slump |
Beton dengan slump sedang cenderung lebih berkualitas dan memenuhi standar konstruksi. Slump rendah menandakan beton susah untuk dicor, sedangkan slump tinggi menandakan beton sulit mengikat serta dapat menimbulkan masalah serapan air berlebih saat mengeras.
Menginterpretasi hasil uji slump penting untuk mengetahui kualitas beton secara teliti. Banyak faktor yang berpengaruh, seperti ukuran agregat, jumlah air, dan dampak air pada campuran semen yang patut diperhatikan dengan cermat.
Skala Visual Rentang Nilai Slump Beton
Diagram gauge berikut memvisualisasikan seluruh rentang nilai slump (0–230 mm) dengan zona warna yang memudahkan pembacaan hasil pengujian secara langsung — dari zona tidak valid (merah), rendah, sedang, optimal (hijau), hingga tinggi dan sangat tinggi.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Nilai Slump
Mengerti faktor-faktor yang dapat mengubah nilai slump sangat penting karena dapat membantu hasil pengujian disesuaikan dengan baik. Beberapa faktor utama meliputi:
Kadar Air Campuran
Kadar air campuran sangat mempengaruhi nilai slump. Jika air dalam campuran lebih banyak, nilai slump akan lebih besar karena air membuat beton lebih mudah dikerjakan. Namun, konsekuensinya adalah penurunan kuat tekan karena rasio air-semen (water-cement ratio) yang tidak optimal.
Ukuran Agregat
Ukuran agregat juga berpengaruh signifikan pada nilai slump beton. Agregat besar membuat nilai slump menjadi lebih kecil karena membutuhkan lebih banyak pasta semen untuk meratakan butirannya. Standar SNI 1972:2008 membatasi ukuran agregat kasar maksimal 37,5 mm untuk validitas pengujian.
Bahan Tambah (Admixture)
Superplasticizer dapat meningkatkan nilai slump tanpa menambah air. Hal ini karena superplasticizer membantu semen merata lebih baik melalui mekanisme dispersi partikel semen. Pengaturan bahan tambah juga penting untuk mendapatkan nilai slump yang diinginkan tanpa mengorbankan kuat tekan.
Mengenali faktor-faktor nilai slump adalah kunci agar nilai slump yang diharapkan dapat tercapai. Hal ini untuk memastikan beton berkualitas sesuai standar yang ditetapkan dalam prosedur Quality Assurance.
Diagram Hubungan Faktor-faktor terhadap Nilai Slump
Diagram berikut menggambarkan bagaimana ketiga faktor utama — kadar air, ukuran agregat, dan bahan tambah (admixture) — masing-masing mempengaruhi nilai slump dan pada akhirnya berdampak pada kuat tekan beton.
Uji Slump Beton di Lapangan
Pengujian slump beton dapat segera dilakukan di tempat sebelum pengecoran dimulai. Hal ini penting untuk memeriksa kualitas beton dan mencegah kerusakan struktur bangunan akibat beton tidak sesuai spesifikasi. Persiapan meliputi memastikan semua peralatan siap dan area pengujian bersih dari kontaminasi.
Alat yang dibutuhkan untuk uji slump di lapangan meliputi slump cone, spatula, timbangan, dan alat pengukur air. Juga diperlukan ember, trowel, dan kain lap untuk membersihkan alat. Jangan lupa menyiapkan formulir catatan pengujian untuk dokumentasi.
Persiapan Pengujian di Lapangan
Persiapan uji slump di lapangan meliputi pengecekan peralatan dan pembersihan area uji. Biasanya, slump beton baru antara 50-100 mm untuk bangunan umum. Interpretasi nilai slump di lapangan:
- Slump rendah → menandakan beton kaku, perlu evaluasi workabilitas
- Slump sedang → menunjukkan kualitas baik untuk konstruksi standar
- Slump tinggi → berarti beton terlalu basah, berpotensi menurunkan kuat tekan
Kekuranglancaran beton atau slump yang terlalu rendah dapat menurunkan kualitas beton, menyebabkan retak atau pengerasan yang buruk.
Pengawasan Proses Uji Slump
Pada saat pengujian slump, pengawas harus hadir untuk mencatat pelaksanaannya secara terdokumentasi. Cara ini membantu menghindari kesalahan dan memenuhi standar kualitas. Spesifikasi acuan:
- Slump beton ideal: 60-180 mm
- Workabilitas optimal: 8-12 cm
- Standar metode: ASTM C-143 dengan Kerucut Abrams
- Spesifikasi penusuk: diameter 16 mm, panjang 600 mm
Perawatan dan Penyimpanan Peralatan Uji Slump
Agar keakuratan hasil pengujian terjaga, perlu merawat peralatan uji slump beton dengan baik. Cetakan kerucut sebaiknya selalu bersih dan terlindungi — pastikan tidak ada lekukan atau deformasi yang dapat mengubah dimensi internal.
Penyimpanan Batang Penusuk
Batang penusuk perlu dijaga kebersihannya saat disimpan untuk mencegah kerusakan dan korosi. Hasil uji slump akan lebih akurat dan konsisten dengan perawatan rutin meliputi:
- Pembersihan setelah pemakaian dengan air bersih
- Pengeringan menyeluruh sebelum penyimpanan
- Penyimpanan di tempat kering dengan suhu stabil
- Pelapisan minyak ringan untuk mencegah karat (opsional)
Standar Akurasi Peralatan
Peralatan uji dan penyiap sampel beton harus sesuai ketentuan standar:
- Keakuratan: hingga 0,3% atau 0,1% dari kapasitas maksimum
- Benda uji beton: ukuran 150 mm × 300 mm
- Penyesuaian khusus untuk agregat kasar lebih besar dari standar
Perawatan Benda Uji Beton
Lakukan perawatan khusus untuk benda uji yang akan diuji kuat tekannya nanti:
- Suhu penyimpanan: 16-27°C selama 48 jam pertama setelah pembuatan
- Waktu transportasi: maksimal 4 jam ke laboratorium
- Perlindungan: benda uji harus terlindung dari kerusakan mekanis
- Kelembaban: tetap dijaga lembab selama transportasi dan penyimpanan
Penting menggunakan metode pengujian yang sudah diakui seperti SNI (Standar Nasional Indonesia) dan ASTM (American Society for Testing and Materials). Ini memastikan kontrol kualitas yang baik dalam pengujian beton sesuai prinsip curing beton.
Pencatatan dan Pelaporan Hasil Uji Slump Beton
Hasil pencatatan hasil uji slump beton sangat penting untuk dokumentasi kualitas proyek. Detail yang harus dicatat meliputi:
- Identitas sampel beton (mutu fc', nomor batch, supplier)
- Waktu pengujian (tanggal, jam pencampuran, jam pengujian)
- Lokasi pengujian (titik pengecoran, area struktur)
- Hasil nilai slump dalam mm atau cm
- Suhu lingkungan dan kondisi cuaca saat pengujian
- Identitas pelaksana dan pengawas pengujian
Hubungan Nilai Slump dengan Kuat Tekan Beton
Menurut penelitian empiris, terdapat korelasi terbalik signifikan antara nilai slump dan kuat tekan beton:
| Nilai Slump (cm) | Kuat Tekan Rata-rata (MPa) | Penurunan dari Slump 12 | Interpretasi |
|---|---|---|---|
| 12 | 34,97 | Baseline (0%) | Slump optimal, kuat tekan maksimal |
| 14 | 27,84 | -20,4% | Air berlebih, kuat tekan turun signifikan |
| 16 | 26,40 | -24,5% | Slump terlalu tinggi, tidak ekonomis |
| 18 | 25,20 | -27,9% | Risiko segregasi tinggi, mutu rendah |
Grafik Batang — Nilai Slump vs Kuat Tekan Beton (MPa)
Grafik berikut memvisualisasikan data empiris korelasi terbalik antara nilai slump dan kuat tekan beton. Semakin tinggi slump (lebih banyak air), semakin rendah kuat tekan yang dihasilkan.
Memantau dan melaporkan hasil uji slump sangat vital dalam manajemen proyek konstruksi. Informasi layanan:
- Biaya per uji slump: Rp 13.800,-
- Waktu hasil: 2 hari setelah pengujian
- Laporan QC: data kualitas pekerjaan konstruksi terintegrasi
Dengan catatan dan laporan yang baik, semua pihak yang terlibat dapat mengawasi kualitas beton — ini membantu menjaga beton sesuai standar sehingga proyek konstruksi berjalan lebih baik dan sukses.
Keselamatan saat Melakukan Uji Slump Beton
Uji slump beton membutuhkan perhatian khusus terutama soal keselamatan kerja (K3). Pakailah helm, sarung tangan, dan sepatu khusus untuk melindungi diri dari bahaya. Pastikan area uji bersih dari tumpahan beton atau alat yang dapat menimbulkan bahaya.
Setiap karyawan harus tahu cara kerja yang aman untuk prosedur ini. Mereka juga harus latihan rutin dan mengikuti prosedur keselamatan. Pengetahuan serta praktik kerja yang aman sangat ditekankan selama pengujian sesuai prinsip risk management.
Aspek Keselamatan dan Tindakan yang Diperlukan
| Aspek Keselamatan | Tindakan yang Diperlukan |
|---|---|
| Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) | Wajib menggunakan helm, sarung tangan, dan sepatu pengaman |
| Kondisi Area Pengujian | Dibersihkan dari potensi bahaya seperti tumpahan beton atau peralatan lain |
| Kompetensi Personel | Personel harus terlatih dan mengikuti prosedur keselamatan yang berlaku |
Memperhatikan hal di atas sangat mengurangi risiko kecelakaan saat uji slump. Ini bukan hanya tentang keselamatan kita semua, tetapi juga memastikan proyek berjalan lebih lancar sehingga keberhasilan proyek konstruksi terjamin.
Standar Terkait Uji Slump Beton
Di Indonesia, uji slump beton mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) 1972:2008. Standar ini telah direvisi dari SNI 03-1972-1990 dengan penambahan tentang ukuran agregat kasar maksimal, persyaratan cetakan, dan langkah kerja yang lebih detail. Referensi penting lainnya adalah AASHTO T 119 yang membahas Metode Uji Slump Beton Semen Hidrolis.
SNI 1972:2008 — Ketentuan Utama
SNI 1972:2008 menegaskan beberapa ketentuan kritis:
- Batas validitas pengujian: Beton plastis dengan agregat kasar hingga 37,5 mm
- Ketebalan cetakan logam: Minimal 1,5 mm (sebelumnya 1,2 mm)
- Batas nilai slump valid: Antara 15 mm hingga 230 mm
- Beton non-plastis/non-kohesif: Tidak dapat diuji dengan metode slump
Alternatif Cetakan
Standar ini juga merinci spesifikasi peralatan untuk uji slump beton, termasuk cetakan kerucut terpancung dan batang penusuk. Meski begitu, alternatif cetakan diperkenankan asalkan sesuai pengujian ketat demi hasil yang konsisten dengan cetakan baku.
Evolusi Standar Uji Slump Indonesia
| Versi Standar | Tahun Terbit | Catatan Revisi |
|---|---|---|
| SNI 03-1972-1990 | 1990 | Standar awal, ketebalan cetakan 1,2 mm |
| SNI 1972:2008 | 2008 | Revisi mayor, ketebalan 1,5 mm, batas agregat 37,5 mm |
| SNI 1972:2022 | 2022 | Pembaruan informasi dan kemudahan prosedur, adopsi ASTM C143/C143M-20 |
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu uji slump beton?
Uji slump beton (concrete slump test) adalah metode pengujian standar untuk menentukan konsistensi dan workabilitas (kemudahan pengerjaan) beton segar. Pengujian dilakukan dengan menempatkan beton segar dalam cetakan Kerucut Abrams ukuran 4×8×12 inci, kemudian mengangkat cetakan dan mengukur penurunan tinggi beton. Nilai slump normal 8-12 cm dengan toleransi ±2 cm, mengacu pada SNI 1972:2008 dan ASTM C143/C143M-20.
Berapa nilai slump beton normal untuk pekerjaan konstruksi?
Berdasarkan PBI-1971 NI-2: (1) Dinding, pelat pondasi, pondasi telapak bertulang: 50-125 mm; (2) Pondasi telapak tidak bertulang, kaison: 25-90 mm; (3) Pelat, balok, kolom, dinding: 75-150 mm; (4) Pengerasan jalan: 50-75 mm; (5) Pembetonan masal: 25-75 mm. Nilai slump umum untuk konstruksi normal berkisar 50-100 mm.
Apa hubungan nilai slump dengan kuat tekan beton?
Terdapat korelasi terbalik: Slump 12 menghasilkan kuat tekan 34,97 MPa (baseline), Slump 14 = 27,84 MPa (-20,4%), Slump 16 = 26,40 MPa (-24,5%), Slump 18 = 25,20 MPa (-27,9%). Semakin tinggi nilai slump (lebih banyak air), semakin rendah kuat tekan beton karena rasio air-semen meningkat.
Apa saja faktor yang memengaruhi nilai slump beton?
Tiga faktor utama: (1) Kadar air campuran — semakin banyak air, semakin tinggi slump. (2) Ukuran agregat — agregat besar menurunkan slump (maksimal 37,5 mm). (3) Bahan tambah — superplasticizer dapat meningkatkan slump tanpa menambah air sehingga workabilitas naik tanpa mengorbankan kuat tekan.
Apa peralatan yang dibutuhkan untuk uji slump beton?
Peralatan utama: (1) Cetakan Kerucut Abrams — logam tebal min 1,5 mm dengan ukuran 4×8×12 inci. (2) Batang Penusuk — baja diameter 16 mm panjang 600 mm dengan ujung setengah bola. (3) Pelat Dasar — lembaran baja 600×600×5 mm. Peralatan tambahan: spatula, sendok pengaduk, penggaris, ember, kain lap, wadah air, dan formulir catatan.
Lihat Juga
- Curing Beton: Perawatan Beton setelah Pengecoran
- Rumus Perhitungan Hammer Test Beton Excel
- Tabel Berat Besi Beton SNI Lengkap: BJTP 24 & BJTU 40
- Tabel Berat Wiremesh SNI Lengkap
- Pasangan Bata Dinding: Jenis, Spesi, dan Pelaksanaan
- Materi Dasar Teknik Sipil: Dimensi, Mekanika, dan Survei
- Cetakan Batako: Jenis, Bahan, dan Dimensi Standar
- Manajemen Konstruksi: Pengertian, Aspek, dan Tahapannya
- Quality Assurance (QA): Pengertian, Komponen, dan Penerapannya
- Risk Management: Pengertian, Proses, dan Penerapannya
- Gambar Konstruksi Bangunan: Klasifikasi FC, SD, FD, ABD
- Cara Pasang Plafon Gypsum: Panduan Lengkap
- Contoh S Curve Time Schedule Proyek Excel
Referensi
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 1972:2008 — Cara Uji Slump Beton. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 1972:2022 — Cara Uji Slump Beton (Revisi). Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 03-1972-1990 — Metode Pengujian Slump Beton (Standar awal). Jakarta: BSN.
- American Society for Testing and Materials. ASTM C143/C143M-20 — Standard Test Method for Slump of Hydraulic-Cement Concrete. West Conshohocken: ASTM International.
- American Association of State Highway and Transportation Officials. AASHTO T 119 — Standard Method of Test for Slump of Hydraulic Cement Concrete. Washington DC: AASHTO.
- Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR. PBI-1971 NI-2 — Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971. Jakarta: Kementerian PUPR.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 2847:2019 — Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 7656:2012 — Tata Cara Pemilihan Campuran untuk Beton Normal, Beton Berat, dan Beton Massa. Jakarta: BSN.
- Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 28/PRT/M/2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum. Jakarta: Kementerian PUPR.
- Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian PUPR. Modul Pelatihan Pengujian Material Beton untuk Konstruksi. Bandung: BPSDM Kementerian PUPR.
- Kemendikbudristek. Modul Teknologi Beton untuk Pendidikan Vokasi Teknik Sipil. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.
Post a Comment