Tugas Quality Control Proyek dan Contoh Laporannya

Daftar Isi

Tugas Quality Control Proyek dan Contoh Laporannya

Proses verifikasi presisi dimensi ketebalan material baja ringan C-Channel menggunakan alat ukur jangka sorong digital (digital caliper) oleh Quality Control untuk memastikan kesesuaian dengan standar spesifikasi teknis proyek.

Dalam setiap proyek konstruksi, baik gedung, rumah, jembatan, jalan raya, bandara, pelabuhan, maupun jaringan utilitas, peran Quality Control (QC) menjadi tulang punggung keberhasilan pekerjaan. QC adalah penjaga mutu, pengendali risiko, serta pengarah agar seluruh aktivitas lapangan berjalan sesuai standar teknik, gambar kerja, dan spesifikasi.

Apa Itu Quality Control Proyek?

Quality Control Proyek adalah proses sistematis untuk memastikan bahwa seluruh pekerjaan konstruksi mencakup aspek material, metode kerja, serta hasil akhir agar sesuai dengan spesifikasi teknis, standar mutu proyek, dan regulasi yang berlaku. QC berada di garis depan pengawasan mutu, mendukung tim QA (Quality Assurance), Site Engineer, serta manajemen proyek dalam menjaga kualitas bangunan.

QC berperan sebagai filter pertama atas segala potensi deviasi, dan sebagai pencatat resmi kondisi lapangan melalui dokumentasi mutu yang kritis dalam penilaian proyek.

Tugas Utama Quality Control Proyek

Sebagai fondasi dari kontrol kualitas bangunan, pemahaman mendalam mengenai tugas quality control proyek menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan konstruksi. Berikut adalah penjabaran teknis tugas-tugas utama QC yang wajib dijalankan:

1. Memahami Spesifikasi dan Standar

Seorang QC wajib membedah dokumen kontrak secara mendalam, terutama Rencana Kerja dan Syarat (RKS) serta Gambar For Construction. Langkah ini mencakup penguasaan penuh terhadap Rencana Mutu Proyek (Project Quality Plan) dan standar referensi global seperti SNI, ASTM, atau ACI guna mencegah misinterpretasi data teknis yang dapat berakibat fatal di lapangan.

2. Memeriksa dan Menguji Material

Tugas ini melibatkan verifikasi ketat terhadap Approval Material sebelum barang dipesan. QC harus memastikan setiap material baik berupa besi beton, semen, maupun agregat memiliki sertifikat uji pabrik (Mill Certificate) yang valid serta lolos pengujian independen di laboratorium untuk menjamin spesifikasi material sesuai dengan persyaratan struktur.

3. Mengawasi Pelaksanaan Proyek

Melakukan pengawasan aktif (surveillance) untuk memastikan tim lapangan bekerja sesuai Method Statement yang telah disetujui. Dalam menjalankan tugas quality control proyek ini, QC harus jeli memantau tahapan kritis tidak hanya pada pekerjaan struktur (bekisting, pembesian, pengecoran), tetapi juga pada pekerjaan arsitektur (pasangan bata, finishing) serta instalasi Mekanikal, Elektrikal, dan Plumbing (MEP) agar tidak terjadi kegagalan fungsi atau pekerjaan ulang (rework).

4. Melakukan Evaluasi dan Inspeksi

Menjalankan prosedur Joint Inspection bersama Konsultan Pengawas atau Owner pada titik-titik krusial (Hold Point). QC melakukan pemeriksaan visual detail dan pengujian lapangan yang komprehensif, mulai dari Soil Test (uji kepadatan tanah), Slump Test beton, hingga Weld Test (uji las) pada struktur baja, untuk mengevaluasi kelayakan hasil pekerjaan secara objektif berbasis data.

5. Mencegah Penyimpangan

Berperan proaktif dalam mendeteksi potensi cacat mutu (defect) sedini mungkin. Jika ditemukan ketidaksesuaian, QC memiliki otoritas untuk menerbitkan instruksi perbaikan atau teguran resmi (seperti Site Instruction) guna mencegah deviasi mutu yang lebih parah sebelum pekerjaan dilanjutkan ke tahap berikutnya.

6. Menyiapkan dan Mengelola Laporan

Menyusun dokumentasi administrasi mutu yang akuntabel dan tertelusur, mulai dari Material Receiving Report (MRR) saat material tiba, Log Book Harian, hingga penerbitan NCR (Non-Conformance Report) jika ada pelanggaran. Kelengkapan dokumen ini menjadi syarat mutlak dalam proses serah terima pekerjaan (Handover) kepada pemilik proyek.

7. Memastikan Keselamatan Kerja

Meskipun fokus pada mutu, QC juga bertanggung jawab memastikan metode pelaksanaan yang digunakan memenuhi kaidah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi. Hal ini termasuk memastikan penggunaan APD yang tepat saat inspeksi dan memverifikasi keamanan akses kerja (scaffolding) sebelum mengizinkan pekerjaan dimulai.

8. Menyelaraskan Pekerjaan

Memastikan bahwa metode kerja yang diterapkan mendukung efisiensi waktu sesuai Kurva-S atau Master Schedule tanpa mengorbankan kualitas. QC harus mampu menyeimbangkan kecepatan progres konstruksi dengan ketelitian teknis agar target penyelesaian proyek tercapai dengan mutu yang terjaga.

9. Berkoordinasi dengan Tim Lain

Menjalankan fungsi Koordinasi Teknis secara intensif untuk memastikan tidak ada celah kualitas yang terlewat. Bagian penting dari tugas quality control proyek adalah menjalin komunikasi efektif dengan berbagai pihak strategis, antara lain:

  • QA Engineer: Untuk penyelarasan sistem manajemen mutu dan audit internal.
  • Site Engineer: Terkait pemecahan masalah teknis dan metode kerja di lapangan.
  • Project Manager: Melaporkan status mutu dan isu kritikal yang mempengaruhi progres.
  • Laboratorium Uji: Memverifikasi hasil pengujian material independen.
  • Vendor Material: Memastikan spesifikasi teknis material yang dikirim sesuai dengan pesanan.

Sinergi ini vital untuk menyepakati toleransi pekerjaan serta memastikan semua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai standar kualitas yang diharapkan (Quality Expectation).

Kegiatan koordinasi lapangan dan joint inspection antara Quality Control Engineer dengan Supervisor Tim Proyek saat melakukan pemeriksaan fisik kedatangan material baja profil (incoming material inspection) di area site konstruksi.

Alur Kerja QC di Lapangan

Rutinitas operasional seorang Quality Control di lapangan merupakan siklus pengawasan yang sistematis dan berkelanjutan guna menjamin standar mutu tetap terjaga.

  1. Pagi hari:
    Aktivitas dimulai dengan peninjauan dokumen Request for Work (RFW) serta verifikasi kesiapan sumber daya, yang mana langkah ini krusial untuk memastikan metode kerja tim lapangan telah sesuai dengan Method Statement yang disetujui.
  2. Saat pekerjaan berlangsung:
    Seiring berjalannya aktivitas konstruksi, QC melakukan inspeksi keliling atau site walk guna memonitor parameter teknis seperti jarak sengkang pada pembesian, vertikalitas bekisting, maupun nilai slump beton saat pengecoran berlangsung.
  3. Siang hari:
    Apabila terdapat kedatangan material baru, prosedur inspeksi material (incoming inspection) segera dilaksanakan dengan mencocokkan Mill Certificate dan fisik barang agar material yang menyimpang dari spesifikasi dapat direjeksi seketika.
  4. Menjelang sore:
    Menjelang berakhirnya jam operasional, pengecekan final dilakukan terhadap segmen pekerjaan yang telah rampung guna menerbitkan daftar perbaikan atau Punch List apabila ditemukan ketidaksesuaian minor.
  5. Sore hari:
    Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyusunan Laporan Harian QC yang mengompilasi data visual serta hasil pengukuran lapangan sebagai basis data riwayat mutu proyek yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Siklus kerja ini menempatkan QC sebagai filter kualitas utama yang beroperasi tanpa henti, memastikan setiap tahapan dari persiapan hingga penyelesaian selaras dengan standar proyek.

Standar & Acuan Teknis yang Digunakan

Dalam menjalankan tugas, QC mengacu pada berbagai standar, di antaranya:

  • SNI (Standar Nasional Indonesia)
  • ASTM (American Society for Testing and Materials)
  • ACI (American Concrete Institute)
  • AISC
  • ISO 9001 Quality Management System
  • Standar internal proyek atau kontraktor

Standar ini menjadi dasar setiap pemeriksaan dan pengujian.

Tantangan yang Sering Dihadapi QC Proyek

Beberapa tantangan nyata yang sering terjadi di lapangan antara lain:

  • cuaca yang menghambat pekerjaan,
  • material yang datang tidak sesuai pesanan,
  • pekerja yang tidak mengikuti metode kerja,
  • ketidaksesuaian antara shop drawing dan kondisi lapangan,
  • keterlambatan hasil uji laboratorium,
  • tekanan waktu dari manajemen proyek.

Seorang QC profesional harus tetap objektif dan berpegang pada standar mutu meskipun berada di tengah tekanan proyek.

Peran Strategis QC dalam Keberhasilan Proyek

Tugas QC bukan hanya memastikan pekerjaan “baik”, tetapi memastikan bahwa seluruh elemen konstruksi aman, andalan, dan berkelanjutan. QC berpengaruh langsung terhadap:

  • kestabilan struktur,
  • umur layanan bangunan,
  • keselamatan kerja,
  • efisiensi biaya proyek,
  • kelancaran serah terima dengan owner,
  • dan reputasi teknis kontraktor.

Tanpa QC yang kompeten, proyek berisiko mengalami cacat mutu, pembengkakan biaya, bahkan kegagalan konstruksi.

Contoh Format Laporan dan Monitoring Proyek

Salah satu output utama dari aktivitas Quality Control adalah pelaporan yang akurat. Laporan ini berfungsi sebagai alat monitoring progress fisik sekaligus rekam jejak performa kontraktor di lapangan.

Berikut adalah contoh visual format laporan bulanan yang mencakup status kontrak, bobot pekerjaan (S-Curve), serta evaluasi performa (Action Plan):

Tampilan lembar kerja Excel laporan performa kontraktor yang mencakup grafik kurva S, status kontrak, dan monitoring progress fisik mingguan proyek infrastruktur.

Guna mempermudah pekerjaan administrasi teknik, maka tersedia template kerja dalam format Excel yang dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan proyek. File ini mencakup kolom monitoring SPK, progress termin, hingga status deviasi pekerjaan.

Silakan unduh dokumen kerja tersebut melalui tautan di bawah ini:


Kesimpulan

Quality Control bukan sekadar aktivitas memegang meteran, kamera, dan checklist. Ia adalah seni menjaga keseimbangan antara fungsi, estetika, kekuatan, dan keselamatan. Tanpa QC, sebuah proyek kehilangan kendalinya. Dengan QC yang baik, proyek berjalan rapi dari fondasi hingga serah terima.
Tito Reista
Tito Reista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Postingan Lama Postingan Lebih Baru

Posting Komentar