Analisis Kelayakan Air Bersih Pemukiman

Table of Contents

Analisis Kelayakan Air Bersih Pemukiman

📚 Pengantar Modul Pembelajaran

Halaman ini menyajikan contoh nyata laporan analisis kelayakan air bersih sungai untuk kebutuhan pemukiman. Dokumen ini dirancang sebagai Studi Kasus bagi pelajar, mahasiswa, atau praktisi untuk memahami alur kerja evaluasi sanitasi lingkungan, mulai dari sampling, uji laboratorium, hingga interpretasi data berdasarkan baku mutu. Perhatikan kotak-kotak berwarna untuk mendapatkan penjelasan teoritis tambahan.
Keberadaan air tidak lepas dari siklus hidrologi. Dengan adanya siklus tersebut maka air akan bersentuhan dengan senyawa sehingga air terkontaminasi dengan bahan lain. Jadi tidak ada air yang benar-benar murni. Di sisi lain pertumbuhan penduduk yang begitu pesat telah meningkatkan aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan di segala sektor. Peningkatan ini mengakibatkan peningkatan intensitas pencemaran terhadap sumber daya air yang tersedia. Ditambah lagi perubahan teknologi baru yang dapat mencemari lingkungan seperti detergen, pupuk, pestisida, dan lain-lain. Semakin menambah rusak sumber daya air yang tersedia.

Tujuan

Mengevaluasi kelayakan air bersih pada pemukiman penduduk perkebunan.

Batasan Masalah

Pada pembahasan ini fungsi air dipersempit lagi air dalam fungsi menjadi air bersih untuk kehidupan masyarakat. Air bersih ini berfungsi untuk kebutuhan sehari-hari misal: mandi, mencuci, memasak, dan lain-lain yang berhubungan dengan kebutuhan rumah tangga pemukiman penduduk perkebunan.

Permasalahan

Mengingat demikian pentingnya air bersih bagi masyarakat perkebunan terutama untuk kelangsungan kebutuhan air bersih, maka air yang akan digunakan, diteliti, dan dianalisa terlebih dahulu apakah sudah tercemar atau belum dan memenuhi syarat kesehatan atau tidak. Sumber pencemaran air antara lain:
  • Limbah air buangan rumah tangga (Domestik)
  • Limbah air buangan industri
  • Limbah pertanian (Residu Pupuk/Pestisida)
  • Limbah radioaktif

Pembahasan

PEMERIKSAAN AIR SUNGAI

Lokasi Pengambilan Sampel

Lokasi pengambilan sampel adalah Sungai atau Waduk Tadah Hujan. Lokasi ini terletak di antara tempat aktivitas masyarakat dan pemukiman penduduk sehingga kemungkinan air tercemar sangat tinggi. Sebagai penyebab pencemaran antara lain limbah rumah tangga, baik limbah organik maupun limbah anorganik seperti detergen, pupuk, pestisida, dan lain-lain.

Peta sketsa lokasi pengambilan sampel air permukaan di sungai waduk tadah hujan dekat pemukiman warga dan area perkebunan.

Cara Pengambilan Sampel

Sampel air diambil dari lokasi dengan menggunakan jerigen air yang berjumlah 2 buah (10 liter). Pengambilan dilakukan dari permukaan air dengan hati-hati sehingga kondisi air yang diambil sesuai dengan kondisi air di lapangan. Metode yang digunakan adalah:
  1. Menjaga agar endapan di dasar sungai tidak ikut terbawa.
  2. Menggunakan jerigen yang bersih dan tidak mengandung zat-zat kimia yang mudah larut.
Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kesalahan analisis sehingga tidak keliru dalam mengambil keputusan.

💡 Wawasan Teknis: Metode Sampling
Dalam ilmu lingkungan, metode yang dijelaskan di atas dikenal sebagai Grab Sampling (pengambilan sesaat). Untuk hasil yang lebih presisi mewakili kondisi sungai yang dinamis, disarankan menggunakan metode Composite Sampling (sampel gabungan dari berbagai titik atau waktu) atau Integrated Sampling.

Pemeriksaan Air Kotor

Uji Fisika
A. Tujuan
Untuk mengetahui tingkat pencemaran air sungai.

B. Dasar Teori
Air yang tercemar dapat diteliti dan diamati secara fisik melalui ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Suhu: Kelarutan oksigen dalam air sangat tergantung pada perubahan suhu. Hal ini dimungkinkan karena naiknya suhu akan mengakibatkan proses oksidasi tinggi seiring dengan cepatnya proses oksidasi biologis, kebutuhan akan oksigen juga bertambah.
  2. Warna, rasa dan bau: Warna, rasa dan bau termasuk dalam syarat air yang sehat. Air yang sehat adalah air yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Bila telah tercemar maka salah satu atau ketiga unsur tersebut dapat berubah.
  3. Kekeruhan: Semakin keruh air maka semakin banyak pula kotoran yang terlarut dalam air tersebut. Semakin banyak kotoran maka semakin jelek kualitas air tersebut.

C. Alat dan Bahan
  • Alat: Jerigen air, stop watch, termometer, kertas pH, tali dan pelampung.
  • Bahan: Air sampel dari sungai Pepe.

Peralatan uji kualitas air lapangan termasuk jerigen 10 liter, termometer suhu 28 derajat celcius, dan kertas indikator pH universal.

D. Cara Kerja
  1. Mencatat waktu pengambilan sampel (pagi, siang, sore) beserta jam.
  2. Membaca suhu yang ditunjukkan oleh termometer terhadap sampel.
  3. Mengamati kekeruhan (keruh, agak keruh atau jernih).
  4. Mengamati warna sampel (coklat, hitam, hijau, dan sebagainya).
  5. Memeriksa dan mengamati bau sampel.
  6. Memeriksa pH dengan kertas pH kemudian mencocokkan warnanya dengan warna standar.
  7. Mengamati kecepatan aliran. Pada jarak tertentu dilepaskan pelampung pada aliran sungai dan mencatat waktu tempuhnya dengan rumus kecepatan = jarak / waktu.
  8. Mengambil contoh air sebanyak 10 liter dalam jerigen.
  9. Mengamati keadaan lingkungan setempat (apakah banyak pohon, banyak sampah, dan lain-lain).

E. Hasil Pengamatan
1. Pemeriksaan di lapangan
  • Lokasi (nama sungai): Sungai Pondok Perkebunan
  • Pada titik: A
  • Hari / tanggal: ...
  • Jam: 08.00 WIB
  • Volume air: 10 liter
  • Diperoleh:
    • Suhu: 28°C
    • pH: 7
    • Warna: Kecoklatan
    • Bau: Amis, busuk, tidak enak
    • Kekeruhan: Agak keruh
    • Populasi yang hidup: Ikan, tumbuhan air, katak, kecebong

2. Perhitungan Debit Sungai
  • Lebar dasar sungai: 11.7 m
  • Lebar permukaan sungai: 12.3 m
  • Kedalaman sungai: 0.3 m
  • Luas tampang sungai: 3.6 m²
  • Kecepatan aliran:
    • Jarak benda terapung: 3.5 m
    • Waktu tempuh benda: 8.12 detik
    • Kecepatan: 0.43 m/detik
  • Debit sungai (Q = V x A): 0.43 x 3.6 = 1.548 m³/detik
  • Lingkungan sekitar: Pemukiman penduduk, tegal (perkebunan), jembatan.

Ilustrasi teknis penampang basah sungai lebar 12 meter dengan kedalaman 300mm untuk perhitungan debit aliran 1548 meter kubik per detik.

💡 Wawasan Teknis: Mengapa Menghitung Debit?
Perhitungan debit (Discharge) sebesar 1.548 m³/detik sangat krusial dalam perencanaan SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Data ini menentukan apakah sungai tersebut mampu menyuplai kebutuhan air seluruh penduduk sepanjang tahun, terutama di musim kemarau (debit andalan).
F. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan maka diperoleh data-data sebagai berikut:
  1. Warna air Sungai Pondok adalah kecoklatan, hal ini mungkin disebabkan oleh limbah dan endapan tanah yang ikut terbawa dalam aliran sungai tersebut.
  2. Suhu air masih di bawah standard suhu air limbah, yaitu 28°C sehingga dapat digunakan untuk air baku air bersih.
  3. Bau yang amis menandakan bahwa air sudah tercemar.
  4. Air yang agak keruh menandakan bahwa kandungan lumpur dan polutan sudah bercampur dengan air sungai.
  5. Kecepatan aliran 0.43 m/detik, maka dapat dikatakan bahwa air cukup berat untuk mengalir. Hal ini mungkin disebabkan oleh zat-zat pencemar dan lumpur yang sudah bercampur dengan air, sehingga berat air meningkat dan akibatnya air sulit mengalir.

Kesimpulan

Kesimpulan Air Bersih

Tabel 6.1 Tabel perbandingan antara hasil percobaan dengan baku mutu air
ParameterHasil PercobaanStandarKeterangan
Uji Fisika
1. Suhu28°C24 - 30°CMemenuhi Syarat
2. WarnaCoklatTidak BerwarnaTidak Memenuhi Syarat
3. BauAmisTidak BerbauTidak Memenuhi Syarat
4. KekeruhanAgak KeruhJernihKurang Memenuhi Syarat
Uji Kimia
1. Fe0 mg/lt0.0 - 1.0 mg/ltMemenuhi Syarat
2. pH7.16.5 - 9Memenuhi Syarat
3. CO213.2 mg/ltMaks. 10 mg/ltTidak Memenuhi Syarat
4. COD12.64 mg/ltMaks. 12 mg/ltTidak Memenuhi Syarat

Tabel 4.3 Tabel perbandingan hasil percobaan air sebelum disaring dengan air sesudah disaring
ParameterHasil sebelum disaringHasil sesudah disaringKeterangan
Uji Fisika
1. Suhu28°C28°CTetap
2. WarnaCoklatTidak BerwarnaBerubah
3. BauAmisTidak BerbauBerubah
4. KekeruhanKeruhAgak JernihBerubah
Uji Kimia
1. Fe0 mg/lt0 mg/ltTetap
2. pH77.1Naik
3. CO215.84 mg/lt13.2 mg/ltTurun
4. COD85.28 mg/lt12.64 mg/ltTurun

Dari perbandingan di atas dapat disimpulkan bahwa dari hasil setelah pengolahan menjadi lebih baik, meskipun masih belum memenuhi syarat baku air bersih.

Glosarium & Catatan Pembelajaran

COD (Chemical Oxygen Demand)
Jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengurai bahan organik secara kimiawi. Nilai COD yang tinggi (seperti 85.28 mg/l pada sampel awal) menunjukkan tingkat pencemaran organik yang parah, biasanya dari limbah domestik atau deterjen.

pH (Derajat Keasaman)
Ukuran keasaman atau kebasaan air. pH 7 adalah netral. Perubahan pH menjadi 7.1 setelah penyaringan menunjukkan bahwa media filter mungkin bersifat sedikit basa (alkalis), seperti adanya batuan kapur atau pasir.

Baku Mutu Air
Ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air. Di Indonesia, sering merujuk pada PP No. 22 Tahun 2021 atau Permenkes No. 32 Tahun 2017.

Tantangan Analisis (Study Questions)

Untuk memperdalam pemahaman, cobalah jawab pertanyaan berikut berdasarkan data di atas:
  1. Mengapa parameter fisik (Warna & Bau) berhasil diperbaiki secara signifikan oleh filter, namun parameter kimia (COD) masih di atas ambang batas (12.64 mg/l vs standar 12 mg/l)?
  2. Apa rekomendasi pengolahan lanjutan yang Anda sarankan agar nilai COD bisa turun di bawah 12 mg/l? (Petunjuk: Pikirkan tentang proses biologi atau kimia tambahan).
Tito Reista
Tito Reista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Newer Posts Older Posts

Post a Comment