Pedoman Mori PSHT Aji Asli

Table of Contents

Pedoman Mori PSHT Aji Asli

Kain mori putih suci yang melambangkan tiga makna pengesahan warga PSHT sebagai Lambang Jadi, Tanda Bukti, dan pencapaian filosofis melalui cipta, rasa, dan karsa

Lebih dari sekadar kain putih, mori¹ adalah saksi bisu perjalanan spiritual seorang pendekar. Helaiannya menyimpan ajaran tentang kesucian, keteguhan, dan kepasrahan. Dalam pedoman ini, kita akan membuka lembar demi lembar rahasia yang terkandung di dalamnya: menyingkap makna filosofisnya, memahami tata cara merawat dan menyucikannya (penjamasan²), serta mendalami perannya sebagai sarana untuk menyambungkan doa dan permohonan (panyuwunan³).

1. Makna dan Filosofi Mori

a. Pengertian Mori pada Pengesahan Warga PSHT

Berikut adalah beberapa pengertian mendasar mengenai mori pengesahan bagi Warga PSHT:
  • Mori Pengesahan PSHT bermakna "Lambang Jadi." Maksudnya adalah melambangkan hati yang memilikinya: putih, bersih, suci dan kita tahu akan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa. Manusia yang sempurna ialah mendekati / memiliki sifat Tuhan dari kesempurnaan hidupnya. Manusia ini dijauhkan dari marabahaya. "LIS SAMBI KALA"
  • Mori Pengesahan PSHT bermakna "Tanda Bukti." Maksudnya adalah suatu tanda bukti yang telah dimiliki. Di mana sebelumnya itu ada tanda bukti tingkatan, antara lain tingkatan polos, jambon, hijau, putih. Di mana tanda bukti yaitu sabuk Warga PSHT.
  • Mori Pengesahan PSHT bermakna "Filosofi." Maksudnya adalah mengandung pengertian yang tinggi yang hanya dapat dicapai dengan cipta, rasa, dan karsa.

b. Landasan Filosofis Penggunaan "Sarana"

Dalam setiap laku spiritual, penggunaan "sarana" atau media perantara adalah hal yang lumrah sebagai wujud dari usaha lahiriah untuk mencapai tujuan batiniah. Konsep ini sejalan dengan ajaran luhur dan kisah para Nabi.

Kisah Nabi Musa AS: Ketika bertempur melawan sihir dari para penyihir Mesir, Nabi Musa AS memohon pertolongan Allah. Allah SWT kemudian menurunkan tongkat sebagai sarana. Melalui perantara tongkat itulah, sihir mereka dapat dikalahkan.

Kisah Nabi Muhammad SAW: Allah SWT berkuasa untuk membuat Nabi Muhammad SAW memahami seluruh isi Al-Qur'an secara langsung. Namun, Allah memilih jalan menurunkan wahyu secara bertahap melalui perantara Malaikat Jibril sebagai sebuah proses.

Dari sini, dapat dipahami bahwa pertolongan Tuhan seringkali datang melalui sebuah sarana sebagai wujud dari ikhtiar. Sebagaimana falsafah Jawa menyebutkan: "TUYO IKU TIBO NENG SAPA SING LAKU," yang berarti berkah atau pertolongan itu akan datang kepada siapa yang mau berusaha dan menjalankan laku prihatin.

c. Filosofi Kain Mori (Lanjutan)

Dalam konteks ini, kain mori dipandang sebagai salah satu sarana lahiriah untuk menunjang laku batiniah seorang insan Setia Hati Terate.

Wujud Fisik: Wujudnya yang putih melambangkan tujuan dari kita, untuk dapat hidup yang baik, tidak berniat tercela. Umumnya orang mati itu dibungkus oleh mori, ini mempunyai suatu maksud, bahwa pasrahnya (anggota) SH Terate pada Tuhan Yang Maha Esa di ikuti ikhlas batin. Artinya sewaktu-waktu, di manapun, kalau Allah memanggil, kita lebih siap. Dengan harapan kita jangan menyusahkan orang lain.

Fungsi Pengingat: Dengan punya mori, maka setiap melihat mori kita akan selalu ingat bahwa kita berjanji untuk taat kepada Allah dan menjadi manusia yang benar, dapat membedakan benar dan salah.

Makna Spiritual: Apabila kau mau bertirakat satu malam untuk tidak makan ("MELELENG"), kau akan tahu bahwa di dalamnya ada hal penting, yaitu: Di dalam mori terdapat huruf arab yang menentukan laku dirimu.

2. Laku Batin dan Doa Persiapan

a. Hubungan Mori dengan Laku Puasa

Hubungan mori dengan perpuasaan adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

b. Kumpulan Doa dan Niat Terkait Mori

Niat Sambung Doa (Permohonan Bantuan):
(Niat ini diucapkan untuk memohon bantuan kepada "saudara gaib" agar hajat kita dikabulkan oleh Tuhan)

"Kang kawah adi ari-ari aku njaluk pitulungan, kersane awakku mugo-mugo ora lali aku nyuwun restune ning Gusti Kang Murbeng Dumadi." (Dibaca 3x, lalu ditutup dengan Al-Fatihah dan Yaa Robbal 'alamin)

Doa Nambung Mori:
(Doa ini diucapkan untuk menyambungkan diri dengan para leluhur dan "saudara spiritual")

"Nini among, Kaki among. Kakang Kawah adi ari-ari. Sedulur tuwo lan enom, papat kiblat limo pancer. Enem among jiwo lan rogo. Rino lan wengi lan enem pan meriku. Rino lan wengi dawuh pangucapku." (Dibaca 3x, lalu ditutup dengan Yaa Robbal 'alamin)

3. Tata Cara Perawatan dan Pencucian Mori (Penjamasan)

a. Dinten Ingkang Sae (Hari yang Baik untuk Mencuci)

Pencucian mori PSHT hanya boleh dilakukan pada bulan Suro (Muharram)¹⁰. Hari-hari yang dianjurkan adalah:
  • Malam satu Suro (1)
  • Mlam sepuluh Suro (10)
  • Malam dua puluh sembilan Suro (29)

b. Niat dan Doa Sebelum Mencuci

Niat Purunee Ngumbah (Niat Sebelum Mencuci):
(Niat ini diucapkan sebelum memulai proses pencucian mori)

"Duh Gusti Kulo nyuwun pangapunten. Bapak-Ibu, kulo nyuwun tambahe pangestu. Kakang Kawah, adi ari-ari, papat kiblat limo pancer, nini among, kaki among, getih ing puser, kadang insan lan dulurku sing karomat lan sing ora karomat sedoyo kabeh. Aku arep nglakoni niat ingsun idem mori dadi siji ing alam jiwo lan rogoku. ...supoyo awakku Kados toyo, suci saking rogo lan batinku." (Dibaca 3x, lalu ditutup dengan Yaa Robbal 'alamin)

Doa Nglebetaken Mori (Doa Memasukkan Mori ke Air):

"Duh Gusti Kang Moho Suci. Kulo panjenengan paring pitedah poso sedulur kulo sing sampun kades wonten jagad kelanggengan panjenengan paringi kasucen saget ngumpul manunggal. Kalihan Kawulo. Gusti lan jagad dalem gesang, dalem kalising sambikolo ingkang supados anjagi badan kulo." (Dibaca 3x, lalu ditutup dengan Aamiin, Aamiin, Aamiin Yaa Robbal 'alamin)

Doa Ngedusi Mori (Doa Memandikan Mori):

"Ingsun ngumbah mori ing sasi Syuro, supoyo tansah pinaringan Dalan Saged mantep papat kiblat limo pancer, Nini Among, Kaki Among, sedulurku sing karomat lan sing ora karomat. Aku njaluk pangapuro saking kaluputan lan awonipun anggonku tirakat, weleh suwukku iki." (Dibaca 3x, lalu ditutup dengan Yaa Robbal 'alamin)

c. Prosesi Pencucian Mori

Persiapan Ritual Air Cucian

Langkah ini bertujuan untuk mengisi air yang akan digunakan untuk mencuci dengan energi spiritual melalui doa.

Siapkan Bahan:
  • Suruh temu rose¹¹: 9 buah.

Doa untuk Suruh:
  • Bacalah Istighfar sebanyak 201x.
  • Setelah selesai, tiupkan pada masing-masing punggung suruh tersebut sebanyak 3x.

Doa untuk Kain Mori:
  • Bacalah tasbih "Subhanallāhi wa bihamdihī, subhanallāhil 'azīm" sebanyak 201x.
  • Setelah selesai, tiupkan pada kain Mori yang akan dicuci sebanyak 3x.

Doa untuk Air:
  • Ambil 1 gelas air.
  • Bacakan pada air tersebut: Istighfar 101x dan "Subhanallāhil 'azīm" 101x.
  • Setelah selesai, tiupkan pada air di dalam gelas tersebut sebanyak 3x.

Proses Mencuci Fisik

Langkah ini menjelaskan cara mencuci dan mengeringkan kain Mori untuk menjaga kesucian dan keutuhannya.
  • Siapkan wadah yang bersih seperti maron/kuali/ember plastik¹².
  • Mori diucek perlahan-lahan sampai bersih menggunakan sabun biasa.
  • Bilas dengan air bersih.
  • Terakhir, bilas dengan air kembang setaman¹³. (Catatan: Bila dalam mencuci mori tidak ada bunga, bisa diganti dengan bibit bunga).
  • Mori dilipat jadi dua dan diperas.
  • Jemur mori di dalam rumah atau di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Biarkan hingga benar-benar kering secara alami.

d. Penyimpanan dan Larangan

Penyimpanan: Setelah kering, simpan mori di tempat yang bersih, suci, dan terhormat. Pastikan mori tidak tercampur dengan barang-barang lain yang dianggap kurang bersih atau kotor.

Larangan-Larangan:
  • Tidak boleh terkena tanah: Kain Mori harus selalu dijaga agar tidak menyentuh tanah secara langsung untuk menjaga kebersihannya secara fisik dan spiritual.
  • Tidak boleh dibawa ke kamar mandi / WC: Sebagai benda yang dianggap suci, Mori tidak boleh dibawa masuk ke tempat-tempat yang dianggap kotor atau najis.
  • Tidak boleh dilangkahi: Melangkahi benda, terutama yang disakralkan, dianggap sebagai tindakan yang sangat tidak sopan.
  • Tidak boleh terkena sinar matahari: Mori harus dihindarkan dari sinar matahari langsung karena diyakini dapat memudarkan energi spiritual yang ada di dalamnya.

4. Penggunaan Mori untuk Panyuwunan (Sarana Permohonan)

a. Niat Sebelum Mengambil Mori

Sebelum mengambil mori dari tempat penyimpanannya untuk tujuan permohonan, ucapkan niat berikut dengan tulus dan penuh keyakinan:

"Niat Ingsun njupuk mori, kangge sarana panyuwunan................. (sebutkan hajat/permohonan Anda), Lillahi ta'ala."

Artinya: "Saya berniat mengambil mori, sebagai sarana untuk permohonan................. (sebutkan hajat/permohonan Anda), karena Allah Ta'ala."

b. Doa dan Amalan Sesuai Hajat

Setelah niat diucapkan dan mori diambil, lanjutkan dengan doa atau amalan khusus yang diajarkan sesuai dengan tujuan permohonan Anda.
  • Untuk Permohonan: Kain Mori diduduki (dijadikan alas duduk), lalu berdoa: "Mori iki kagungane Allah, njaluk ridho dumateng Allah. Ya Rohman, ya Rokhim." (Dilanjutkan Allahu Akbar 3x).
  • Untuk Penyembuhan Diri Sendiri: Kain Mori dilipat dan digunakan sebagai bantal tidur, lalu berdoa: "Mori iki kagungane Allah, penyakit asale saking Allah, iso waras baliko dumateng Allah. Ya Rohman, ya Ghafur¹⁴." (Dilanjutkan Allahu Akbar 3x).
  • Untuk Kekebalan (Kebal Pukul): Kain Mori dibuat menjadi sabuk tarikat¹⁵, lalu berdoa: "Mori iki kagungane Allah, iso gawe kebal saking ridhane Allah." (Dilanjutkan "Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil 'azīm" 3x).
  • Untuk Mengusir Jin dan Setan: Kain Mori ditutupkan pada wajah orang yang mengalami gangguan, lalu berdoa: "Mori iki kagungane Allah, jin/setan jajalen iso nglebur soko ridhane Allah." (Dilanjutkan "Lā haula wa lā quwwata illā billāh" 3x).
  • Agar Tidak Terlihat (Panglimunan¹⁶): Kain Mori dikalungkan pada leher dalam keadaan terdesak, lalu berdoa: "Mori iki kagungane Allah, moto picek, kuping budek¹⁷, saking kersane Allah." (Dilanjutkan Allahu Akbar 3x, atau 1x jika sangat mendesak).


  • ¹ Mori: Kain kafan atau kain putih polos tanpa jahitan yang dalam tradisi spiritual Jawa seringkali dianggap sakral dan digunakan sebagai media atau sarana dalam berbagai ritual.
  • ² Penjamasan: Istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada ritual penyucian atau pembersihan benda-benda pusaka atau sakral. Prosesnya lebih dari sekadar mencuci biasa karena melibatkan doa, waktu khusus, dan tata cara tertentu untuk membersihkan benda tersebut baik secara fisik maupun spiritual.
  • ³ Panyuwunan: Berasal dari kata "suwun" yang berarti meminta. Dalam konteks ini, panyuwunan adalah doa permohonan atau hajat khusus.
  • LIS SAMBI KALA: Berasal dari frasa Jawa "Kalising Sambikolo" yang berarti terhindar atau dijauhkan dari segala rintangan, marabahaya, atau halangan.
  • Cipta, Rasa, dan Karsa: Konsep trilogi dalam filsafat Jawa. Cipta adalah daya pikir atau kemampuan intelektual untuk menciptakan gagasan. Rasa adalah kepekaan batin atau intuisi untuk merasakan kebenaran. Karsa adalah kehendak atau kemauan kuat untuk bertindak. Ketiganya harus selaras untuk mencapai pemahaman yang utuh.
  • Kakang Kawah, Adi Ari-ari: Konsep Sedulur Papat (Empat Saudara) yang merujuk pada "saudara gaib" yang menyertai manusia sejak lahir: air ketuban (kawah) dan plasenta (ari-ari). Dipercaya sebagai pelindung spiritual.
  • Nini Among, Kaki Among: Panggilan hormat kepada entitas pembimbing atau pamomong spiritual, seringkali merujuk pada arwah lelurur baik dari garis perempuan (Nini) maupun laki-laki (Kaki).
  • Sedulurku Tuwo lan Enom: "Saudaraku yang tua dan yang muda". Ini adalah perluasan dari konsep Sedulur Papat untuk mencakup semua entitas gaib lain yang dianggap sebagai saudara pelindung.
  • Papat Kiblat Lima Pancer: Konsep kosmologi Jawa tentang harmoni. Empat arah mata angin (timur, selatan, barat, utara) sebagai "kiblat" dan diri manusia sebagai pusatnya ("pancer").
  • ¹⁰ Syuro/Muharram: Bulan pertama dalam kalender Jawa (Sura) dan kalender Islam (Muharram). Dianggap sebagai bulan yang sakral dan penuh dengan peristiwa penting dalam sejarah spiritual.
  • ¹¹ Suruh Temu Rose: Daun sirih (suruh) yang memiliki ciri khas di mana urat atau serat daunnya saling bertemu (temu rose atau temu ruas). Daun dengan keistimewaan ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual lebih tinggi dan digunakan sebagai sarana penyucian.
  • ¹² Maron/Kuali/Ember Plastik: Berbagai jenis wadah atau tempat air. Maron dan kuali adalah wadah tradisional dari tanah liat.
  • ¹³ Kembang Setaman: Bunga tujuh rupa (atau berbagai jenis bunga harum lainnya) yang biasa digunakan dalam berbagai ritual adat dan spiritual di Jawa sebagai sarana pembersihan, tolak bala, atau sesaji. Jenis bunga yang umum digunakan antara lain Melati, Mawar Merah, Mawar Putih, Kenanga, Kantil (Cempaka Putih), Sedap Malam, Melati Gambir, dan Manggar Kelapa.
  • ¹⁴ Ya Ghafur: Salah satu Asmaul Husna yang berarti "Wahai Yang Maha Pengampun".
  • ¹⁵ Sabuk Tarikat: Sabuk yang dikenakan di pinggang, bukan sebagai aksesori, melainkan sebagai bagian dari laku spiritual (tirakat) untuk tujuan tertentu, seperti perlindungan atau kekuatan.
  • ¹⁶ Panglimunan: Sebuah ajian atau ilmu dalam tradisi Jawa yang bertujuan untuk membuat diri tidak terlihat atau luput dari pandangan orang lain, biasanya digunakan dalam keadaan terdesak.
  • ¹⁷ Moto Picek, Kuping Budek: "Mata buta, telinga tuli". Ini adalah kalimat kiasan dalam doa yang bertujuan memohon agar pandangan dan pendengaran musuh atau orang yang berniat jahat "ditutup" atau dialihkan oleh Tuhan.

Post a Comment