Desain Bak Penampungan Air Beton 10 Ton DWG

Table of Contents

Desain Bak Penampungan Air Beton Kapasitas 10 Ton DWG

Struktur bak penampungan air (water reservoir) merupakan komponen vital dalam sistem penyediaan air bersih yang dirancang untuk menjaga ketersediaan debit dan tekanan air. Dokumen teknis ini menguraikan desain bak penampungan air beton kapasitas 10 ton (±10 meter kubik) yang menggunakan sistem konstruksi Confined Masonry (dinding pasangan batu terkekang). Desain ini mengintegrasikan elemen struktur utama berupa dinding batako yang diperkuat oleh bingkai beton bertulang (sloof, kolom praktis, dan ring balok) serta pondasi menerus batu kali. Konfigurasi dimensi planar 3,00 x 3,00 meter dengan elevasi dinding efektif dirancang untuk menahan beban hidrostatis air sekaligus menjamin kekedapan (watertightness) melalui aplikasi plesteran dan acian kedap air. Analisis ini menyajikan spesifikasi teknis mendalam guna memastikan stabilitas struktur, durabilitas material, dan kemudahan pemeliharaan sistem sanitasi.

Informasi Umum File

Dokumen gambar kerja ini menyajikan detail rekayasa sipil untuk pembangunan reservoir air permukaan (non-elevated). Gambar mencakup proyeksi ortogonal (denah, tampak) dan detail potongan struktural yang diperlukan untuk fabrikasi dan konstruksi di lapangan.

  • Identifikasi Berkas Gambar Kerja
    Dokumen memuat Denah, Tampak Depan, Tampak Samping, serta Detail Penulangan (Sloof, Kolom, Ring Balok) dengan skala 1:20 dan 1:10.
  • Dimensi & Kapasitas Penampungan
    Struktur memiliki dimensi luar 300 cm x 300 cm dengan ketinggian dinding total dari muka lantai +1.50 meter (elevasi -0.20 s.d +1.30), menghasilkan volume tampung efektif mendekati 10 m³.
  • Spesifikasi Material Struktur & Arsitektur
    Menggunakan pasangan batako dengan mortar 1:2, struktur beton bertulang, dan lantai kerja cor beton 1:2:3 setebal 10 cm.
  • Kelengkapan Detail Penulangan
    Menyertakan skema pembesian untuk elemen pengaku (stiffeners) menggunakan tulangan utama diameter 10 mm dan sengkang diameter 6 mm.

Uraian Teknis Per Komponen


Ilustrasi denah teknis bak air 3x3 meter menampilkan struktur dinding batako terkekang dan jalur pipa drainase dasar 2 inci.

1. Tata Letak dan Geometri Struktur (Denah & Tampak)

Berdasarkan analisis visual pada Denah dan Tampak, reservoir ini didesain dengan bentuk bujur sangkar simetris 300 x 300 cm. Tata letak utilitas perpipaan diposisikan secara strategis untuk efisiensi operasional; pipa outlet berdiameter 3/4 inci dipasang pada ketinggian tertentu untuk mendistribusikan air bersih, sedangkan pipa drain (penguras) berdiameter 2 inci diletakkan di dasar untuk memfasilitasi pembuangan sedimen saat pemeliharaan (washout). Elevasi puncak dinding berada pada level +1.30 dari muka tanah rata-rata (±0.00), memberikan freeboard yang cukup untuk mencegah meluapnya air akibat gelombang permukaan.

  • Dimensi Planar Efektif
    Area tampungan internal didesain seluas 9 m² (3x3 m) untuk memaksimalkan volume penyimpanan pada lahan terbatas.
  • Elevasi Dinding Penahan
    Tinggi dinding struktur mencapai level +1.30 m, berfungsi sebagai retaining wall terhadap tekanan hidrostatis air dari dalam.
  • Spesifikasi Pipa Outlet
    Menggunakan pipa diameter 3/4" yang kompatibel dengan standar perpipaan distribusi rumah tangga.
  • Sistem Drainase Pemeliharaan
    Integrasi pipa drain Ø2" memungkinkan pengurasan cepat (flushing) endapan lumpur di dasar bak.
  • Posisi Elevasi Lantai
    Lantai bak diposisikan pada elevasi -0.20 m, memberikan kedalaman total efektif air sekitar 1,5 meter dari dasar hingga bibir atas.
  • Kedalaman Galian Struktur
    Galian tanah diperlukan hingga elevasi -0.60 m untuk mengakomodasi struktur pondasi batu kali.
  • Dukungan Perkuatan Dinding
    Terdapat penebalan atau kolom praktis pada setiap sudut dan tengah bentang dinding sepanjang 300 cm untuk mereduksi momen lentur dinding.

2. Konstruksi Dinding dan Pondasi (Potongan & Detail)

Integritas kekedapan air (watertightness) menjadi prioritas utama pada desain ini. Dinding dibangun menggunakan pasangan batako dengan adukan spesi 1:2 (1 semen : 2 pasir), yang merupakan rasio campuran kedap air (transram) untuk mencegah rembesan. Sisi dalam dinding dilapisi plesteran dan acian dengan rasio 1:2 untuk menciptakan water barrier sekunder. Beban vertikal dari dinding dan beban air disalurkan ke tanah melalui pondasi menerus batu kali dengan campuran spesi 1:4. Di bawah lantai kerja, terdapat lapisan pasir urug setebal 5 cm yang berfungsi meratakan tegangan tanah dan mencegah uplift pressure kapiler.

  • Spesifikasi Mortar Kedap Air
    Penggunaan spesi 1:2 pada pasangan batako dan plesteran dinding menjamin resistensi tinggi terhadap penetrasi air.
  • Konstruksi Lantai Beton
    Lantai dasar menggunakan beton cor mutu taktis (campuran 1:2:3) dengan ketebalan 10 cm di atas tanah padat.
  • Stabilitas Pondasi Batu Kali
    Pondasi tipe menerus menggunakan batu kali dengan mortar 1:4, cocok untuk menahan beban linier dinding batako.
  • Lapisan Pasir Urug (Sand Bedding)
    Ketebalan 5 cm pasir urug di bawah pondasi dan lantai berfungsi sebagai stabilizer tanah dasar.
  • Elevasi Dasar Pondasi
    Dasar pondasi diletakkan pada kedalaman -0.60 m untuk mencapai lapisan tanah keras dan menghindari gerusan permukaan.
  • Balok Pengikat Bawah (Sloof)
    Sloof beton bertulang dimensi 15x20 cm berfungsi meratakan beban dinding ke pondasi dan mencegah penurunan diferensial.
  • Perlindungan Acian
    Lapisan acian halus pada permukaan dalam dinding meminimalkan gesekan fluida dan mencegah pertumbuhan alga pada pori-pori dinding.

3. Detail Penulangan Struktur Pengaku (Sloof, Kolom, Ring Balok)

Sistem struktur Confined Masonry mengandalkan elemen beton bertulang untuk mengekang dinding pasangan batu. Detail penulangan menunjukkan penggunaan besi tulangan utama 4 buah berdiameter 10 mm (4 Ø10) pada seluruh elemen balok dan kolom. Sengkang (begel) menggunakan besi polos diameter 6 mm dengan jarak pemasangan 150 mm (Ø6-150). Sloof berukuran 15x20 cm, sedangkan kolom praktis dan ring balok didesain dengan dimensi 12x12 cm (atau menyesuaikan ketebalan dinding). Ring balok berfungsi sebagai tie beam pada bagian atas dinding untuk menahan gaya lateral akibat tekanan air yang mendorong dinding ke arah luar.

  • Konfigurasi Tulangan Utama
    Menggunakan 4 batang besi diameter 10 mm (4 Ø10) sebagai tulangan tarik dan tekan utama pada sloof, kolom, dan ring balok.
  • Fungsi Sengkang Penggeser
    Sengkang diameter 6 mm dipasang setiap jarak 150 mm (Ø6-150) untuk menahan gaya geser (shear force) dan mengekang tulangan utama.
  • Dimensi Sloof Struktural
    Penampang sloof 15x20 cm memberikan kekakuan (stiffness) yang cukup sebagai balok landasan dinding.
  • Kolom Praktis Pengaku
    Kolom dengan detail tulangan 4 Ø10 mm berfungsi memperpendek bentang dinding batako agar tidak mengalami tekuk (buckling).
  • Peran Ring Balok (Ring Beam)
    Elemen balok atas mengikat seluruh dinding menjadi satu kesatuan kotak yang kaku (rigid) melawan tekanan hidrostatis.
  • Selimut Beton (Concrete Cover)
    Detail gambar mengindikasikan perlindungan beton yang memadai terhadap tulangan untuk mencegah korosi akibat kelembaban tinggi.
  • Kontinuitas Penulangan
    Sambungan antara tulangan kolom, sloof, dan ring balok harus monolit untuk menjamin penyaluran momen yang efektif antar elemen struktur.

File DWG

Untuk keperluan analisis lebih lanjut, modifikasi desain, atau referensi gambar kerja teknis (shop drawing), file asli dalam format CAD dapat diakses melalui tautan berikut. Pastikan penggunaan file ini disesuaikan dengan kondisi tanah dan beban lingkungan setempat sebelum implementasi konstruksi.

Tito Reista
Tito Reista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Newer Posts Older Posts

Post a Comment