Memayu Hayuning Bawono Falsafah Budi Luhur

Table of Contents

Memayu Hayuning Bawono

Filosofi Jawa Memayu Hayuning Bawono tentang Harmoni Alam dan Kehidupan Manusia

Memayu Hayuning Bawono adalah ajaran luhur yang bermakna usaha manusia untuk memperindah, memperbaiki, dan menjaga keharmonisan dunia agar tercipta kebahagiaan bersama. Falsafah ini menuntun manusia agar hidup selaras dengan kehendak Tuhan, berbuat baik kepada sesama, serta menjaga keseimbangan alam semesta.

Dalam makna terdalamnya, memayu hayuning bawono bukan sekadar nasihat moral, melainkan wujud nyata dari pengamalan ilmu dan kebijaksanaan berdasarkan keadilan, kebenaran, dan ketulusan hati. Seseorang yang benar-benar memahami ajaran ini akan menempatkan dirinya bukan sebagai pusat dunia, tetapi sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang berkewajiban menebar manfaat bagi kehidupan.

Makna Filosofis

Manusia hidup sesuai dengan isi pikirannya. Ketika seseorang berpikir baik, ia menebar kebaikan. Sebaliknya, ketika pikirannya gelap, hidupnya pun menjadi suram. Oleh sebab itu, falsafah ini mengajarkan agar manusia selalu menjaga kejernihan hati dan ketenteraman batin.

Hidup bahagia tidak datang dari melihat penderitaan orang lain, melainkan dari rasa ikut bahagia ketika melihat orang lain berbahagia. Ketika hati tenteram, doa akan mudah terkabul. Karena itu, memayu hayuning bawono mengandung pesan agar manusia menanamkan pikiran baik, menjaga batin dari iri hati, dan tidak tergoda untuk menindas sesama.

Laku Seorang Insan Setia Hati

Dalam ajaran Setia Hati Terate (SH Terate), nilai memayu hayuning bawono menjadi pedoman hidup untuk membentuk kepribadian yang seimbang antara olah raga, olah rasa, dan olah budi. Seorang warga SH Terate yang benar-benar memahami makna ini akan menampakkan tiga tanda utama dalam dirinya, yaitu:
  1. Menghilangkan keakuan (ego pribadi), artinya tidak menempatkan diri di atas orang lain.
  2. Menghapus rasa iri dan dengki, karena iri hanya memutus jalan ketenangan.
  3. Siap menjalankan kewajiban hidup, dengan bekerja tulus demi kemaslahatan bersama.

Tiga sikap ini melahirkan pribadi yang kuat secara lahir dan batin, serta mampu menjadi peneduh di lingkungannya.

Harapan bagi Siswa

Ajaran memayu hayuning bawono bukan hanya untuk dihafalkan, melainkan untuk dilatih dan dihidupi. Seorang siswa PSHT yang memahami nilai ini diharapkan mampu:
  • Membiasakan diri membuat orang lain senang dengan kejujuran.
  • Menumbuhkan kerja sama yang sehat, berkompetisi tanpa menjatuhkan.
  • Menjaga persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Memiliki kepekaan sosial tinggi, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan.
  • Menjauhi kebiasaan buruk seperti ngrasani (menggunjing), menjatuhkan martabat orang lain, atau berprasangka buruk.
  • Bertindak dengan kerendahan hati yang mengundang simpati dan kepercayaan dari orang lain.

Dengan demikian, seorang siswa tidak hanya menjadi pribadi yang kuat secara fisik, tetapi juga bijak dan teduh dalam perilaku.

Nilai-nilai Penguat Ajaran

Makna memayu hayuning bawono diperkuat dengan beberapa ungkapan luhur dalam budaya Jawa yang menjadi pedoman moral kehidupan, di antaranya sebagai berikut:
  1. Ora waton omong, yen omong nganggo waton, berbicaralah bukan asal bicara, tetapi dengan dasar kebenaran dan pertimbangan bijak.
  2. Leladi sesamaning dumadi, layani dan hormati sesama makhluk hidup, sebab semua diciptakan dengan tujuan yang sama.
  3. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, saiyek saeko kapti, pantang menyerah dan bersatu dalam niat serta tekad untuk mencapai kebaikan.
  4. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti, kekuatan dan keangkaramurkaan akan luluh oleh kelembutan hati serta kasih sayang.
  5. Ojo kuingaun, awit kito amung titah sawantah, janganlah sombong, sebab manusia hanyalah makhluk ciptaan yang fana.

Kelima pepatah ini membentuk landasan etika bagi manusia yang ingin hidup selaras dengan alam dan sesamanya.

Kesimpulan

Memayu hayuning bawono adalah cermin kehidupan yang mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari keseimbangan antara pikiran, perbuatan, dan niat yang suci. Dalam pandangan falsafah Jawa dan ajaran PSHT, manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memperindah kehidupan di sekitarnya.

Dengan menanamkan nilai ini, setiap insan diharapkan menjadi bagian dari harmoni dunia, menciptakan kedamain, menebar kebahagiaan, serta menjaga keindahan alam semesta sebagaimana kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Post a Comment