Ke SH an PSHT
Table of Contents
Ke SH an PSHT
Ke SH an PSHT merupakan materi panduan resmi yang digunakan untuk mempelajari Ilmu Setia Hati Terate, dan secara khusus diperuntukkan bagi anggota Warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), terutama pada jenjang Warga Tingkat 1. Saat ini, beredar berbagai versi materi KeSHan PSHT, namun sebagian besar di antaranya merupakan hasil adaptasi atau daur ulang dari sumber yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan organisasi PSHT. Oleh karena itu, penting untuk dipahami bahwa materi KeSHan PSHT ini hanya berlaku sebagai acuan pembelajaran bagi Warga Tingkat 1, dan tidak tersedia panduan serupa untuk Warga Tingkat 2 maupun Tingkat 3, meskipun sekadar dalam bentuk definisi ataupun pengantar.
Padepokan Agung Persaudaraan Setia Hati Terate
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Segala puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran dan keberkahan.
Sebagai bentuk pengabdian dan upaya memperkenalkan lebih luas kepada masyarakat, dengan penuh rasa bangga kami mempersembahkan Padepokan Agung Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), yang berlokasi di Nambangan Kidul, Kota Madiun, Jawa Timur (kode lokasi: 9G28+W3). Padepokan ini merupakan pusat kegiatan sekaligus sarana latihan resmi bagi anggota PSHT, sebuah organisasi pencak silat yang telah berkembang pesat di seluruh Indonesia dan mendapat pengakuan di tingkat internasional.
Di Padepokan Agung PSHT, para anggota dibimbing dalam mendalami berbagai ilmu, falsafah, dan keterampilan pencak silat. Selain itu, padepokan ini dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti aula, lapangan, dan perpustakaan, yang bertujuan untuk menunjang proses pembelajaran secara optimal.
Kehadiran Padepokan Agung PSHT di Madiun diharapkan dapat mempererat persaudaraan antaranggota, sekaligus menjadi wadah yang memperkuat nilai-nilai persatuan dan kebersamaan dengan masyarakat luas. Lebih dari itu, padepokan ini juga berfungsi sebagai pusat pengembangan budaya dan sarana untuk menumbuhkan semangat kebangsaan melalui seni bela diri pencak silat.
Sebagai pelengkap informasi, kami sertakan pula dokumentasi visual dari Google Maps yang menggambarkan suasana Padepokan Agung PSHT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Falsafah Persaudaraan Setia Hati Terate
Pengertian Umum
Falsafah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan pandangan hidup dan nilai-nilai kepercayaan yang menjadi landasan utama bagi penyelenggaraan organisasi pencak silat PSHT. Falsafah ini berfokus pada dua hal pokok:
- Nilai individual, yang meliputi kepercayaan diri, kesetiaan, kebersamaan, serta ketaatan terhadap hati nurani.
- Visi kolektif jangka panjang, yang bertujuan memperkuat persatuan dan kesatuan antaranggota serta menghadirkan manfaat positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Isi Falsafah PSHT
- "Manusia dapat dihancurkan, manusia dapat dimatikan; akan tetapi manusia tidak dapat dikalahkan, selama manusia itu masih setia pada hatinya sendiri atau ber-SH pada dirinya."
- "Selama matahari terbit dari timur, selama bumi masih dihuni manusia, selama itu pula Persaudaraan Setia Hati Terate akan kekal, abadi, dan jaya selamanya."
Makna Falsafah
Falsafah PSHT menegaskan bahwa kekuatan sejati manusia bersumber dari kesetiaan pada hati nuraninya. Selama seseorang tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Setia Hati, maka ia tidak akan pernah dikalahkan. Prinsip ini menumbuhkan keyakinan bahwa kekuatan terbesar manusia tidak hanya berasal dari fisik, melainkan dari keteguhan jiwa dan keluhuran budi.
Lebih jauh, keyakinan akan keabadian Persaudaraan Setia Hati Terate, yang dinyatakan melalui ungkapan “selama matahari masih terbit dari timur dan bumi tetap dihuni manusia”, menunjukkan bahwa PSHT memiliki komitmen dan visi jangka panjang. Falsafah ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman hidup bagi setiap anggota, tetapi juga sebagai landasan untuk memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas serta bangsa Indonesia.
Kata Pengantar
Salam Persaudaraan – PSHT JAYA
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan materi Ke-SH-an ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, khususnya para guru dan pelatih Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang telah membimbing dengan ilmu, pengalaman, dan keteladanan yang sangat berharga.
Materi Ke-SH-an ini memuat uraian mengenai sejarah dan perkembangan pencak silat di Indonesia, khususnya perjalanan Setia Hati (SH) serta sejarah singkat berdirinya Setia Hati Terate (SHT). Selain itu, di dalamnya juga terdapat penjelasan mengenai falsafah, pedoman, serta syarat-syarat dalam pengembangan ilmu SH Terate.
Lebih lanjut, materi ini mencakup pembahasan tentang retorika, kepemimpinan organisasi, serta aspek-aspek penting yang perlu dipahami oleh pelatih dan warga PSHT. Tersedia pula penjelasan mengenai makna lambang, pedoman organisasi, serta pepacuh larangan dalam Setia Hati Terate, yang menjadi bagian integral dari tata nilai PSHT.
Harapan kami, materi ini dapat memberikan pengetahuan, pemahaman, serta motivasi bagi para pelatih dan warga PSHT dalam mengembangkan ilmu, meningkatkan kualitas diri, serta menumbuhkan semangat persaudaraan sejati.
Akhirnya, kami menyadari sepenuhnya bahwa materi ini masih memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati kami memohon maaf atas segala kekurangan yang mungkin terdapat dalam penyusunan ini. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan manfaat yang luas bagi siapa pun yang ingin mengenal dan mendalami Setia Hati Terate.
Persaudaraan Setia Hati Terate – PSHT JAYA
Abstrak
Materi Ke-SH-an ini secara komprehensif membahas sejarah pencak silat dan asal-usul berdirinya organisasi Setia Hati (SH), yang merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan pencak silat di Indonesia. Pembahasan meliputi berbagai aspek, antara lain: penggunaan pakaian hitam, nilai-nilai kebatinan, perjalanan sejarah Setia Hati Tunggal Kecer (STK), dinamika sosial seperti perkawinan kedua, aktivitas di Surabaya, peran dalam Pasar Malam Madiun, hingga masa purna tugas pada tahun 1933. Selain itu, dijabarkan pula daftar jurus Setia Hati (SH) secara rinci sebagai bagian dari warisan keilmuan pencak silat.
Materi ini juga memuat sejarah singkat Setia Hati Terate (SHT), dasar dan asas Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), serta penjelasan mengenai makna lambang organisasi, sifat-sifat warga, dan arti kesetiaan dalam Setia Hati. Lebih jauh, diuraikan pula falsafah-falsafah SH, wasiat SH Terate, serta pedoman organisasi yang menjadi fondasi dalam pengembangan ilmu dan pembinaan anggota.
Aspek retorika dan kepemimpinan mendapat perhatian khusus dalam materi ini, mencakup struktur pidato, fungsi kepemimpinan, serta karakteristik pemimpin yang baik. Selanjutnya, pembahasan diperluas pada pengertian gerakan tubuh, pola langkah, arti mori pengesahan dalam PSHT, serta nilai simbolis yang terkandung di dalamnya.
Tidak hanya itu, materi ini juga menyajikan uraian tentang piagam, tujuan organisasi, arti lambang, falsafah, pedoman, serta pepacuh larangan PSHT. Bagian lain menyoroti hal-hal yang perlu diketahui oleh warga dan pelatih, termasuk riwayat Setia Hati Terate, Sospel, rahasia pukulan, ilmu kebatinan, syarat menjadi pendekar tingkat I, manfaat latihan, hingga tata cara dan syarat dalam mengembangkan ilmu SH Terate.
Sebagai penutup, materi ini dilengkapi dengan pembahasan mengenai ketua umum Persaudaraan Setia Hati Terate, sehingga diharapkan dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai sejarah, falsafah, dan sistem keilmuan PSHT, sekaligus menjadi panduan bagi anggota dalam menghayati nilai-nilai persaudaraan Setia Hati Terate.
Sejarah dan Falsafah Awal Pencak Silat
Pencak Silat adalah seni bela diri warisan budaya asli Indonesia yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Kelahirannya didasari oleh kebutuhan fundamental manusia untuk bertahan hidup di tengah alam liar yang penuh tantangan.
Asal-Usul: Kelemahan Fisik dan Keunggulan Intelektual
Pada era purba, manusia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Secara fisik, mereka jauh lebih lemah dibandingkan hewan buas yang dibekali senjata alami seperti taring tajam (singa, harimau), kuku yang kuat, tanduk yang kokoh (kerbau, banteng), serta kekuatan yang luar biasa (beruang). Sebaliknya, manusia memiliki keterbatasan fisik, yaitu kuku yang rapuh, gigi yang tumpul, dan tenaga yang relatif kecil.
Namun, manusia dianugerahi keunggulan yang paling menentukan: akal dan kemampuan berpikir. Anugerah inilah yang memungkinkan manusia untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga membalikkan keadaan dari makhluk yang terancam menjadi pemegang kendali. Tanpa kemampuan menyusun strategi, manusia dipastikan akan punah.
Evolusi Teknik: Inspirasi dari Gerakan Alam
Kesadaran akan kelemahan fisik mendorong manusia untuk beralih dari pertarungan mengandalkan tenaga semata (yang sering berujung pada kekalahan atau luka parah) menuju penggunaan strategi.
- Observasi dan Imitasi: Manusia mulai mengamati secara saksama bagaimana hewan bertarung. Mereka mempelajari pola gerakan menyerang, bertahan, menghindar, dan melompat. Proses meniru gerakan alam (biomimikri) ini menjadi cikal bakal lahirnya berbagai jurus dalam Pencak Silat.
- Contoh dalam Tradisi SH Terate: Pengaruh observasi alam ini tercermin secara spesifik dalam beberapa gerakan di Persaudaraan Setia Hati Terate, antara lain:
- Gerakan Harimau: Menginspirasi keganasan dan kekuatan serangan pada Jurus 1, 2, dan 13.
- Gerakan Burung Merak: Menjadi dasar teknik menyerang yang indah namun mematikan pada Jurus 11.
- Gerakan Katak: Mengilhami teknik lompatan untuk menghindar dari sergapan, yang diadopsi dalam Jurus 20.
- Gerakan Kera: Mengajarkan kelincahan, kecepatan menghindar, dan lompatan tak terduga yang menjadi fondasi Jurus Dasar 1 hingga 4.
Pengembangan Senjata dan Formalisasi Keilmuan
Setelah menguasai teknik bela diri tanpa senjata, manusia terus berinovasi untuk meningkatkan efektivitas pertarungan. Mereka mulai menciptakan dan menggunakan senjata, yang berevolusi dari alat-alat sederhana seperti pentungan kayu dan batu runcing menjadi senjata yang lebih kompleks dan efektif seperti toya, belati (glati), dan trisula.
Seiring waktu, kumpulan teknik dan strategi ini disempurnakan dan distandarisasi, kemudian dikenal dengan nama Pencak Silat. Para praktisi ahli selanjutnya mendirikan berbagai perguruan untuk menyebarkan dan mengajarkan ilmu ini secara sistematis kepada generasi berikutnya.
Peran Pencak Silat dalam Sejarah Kerajaan Nusantara
Pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara, Pencak Silat memegang peranan krusial. Ilmu bela diri ini menjadi bagian dari kurikulum wajib bagi para bangsawan dan kesatria, dipelajari setara dengan ilmu tata negara dan kesusastraan. Kemahiran tinggi dalam Pencak Silat menjadi salah satu pilar utama pertahanan kerajaan, yang terbukti membuat kerajaan-kerajaan di Nusantara disegani dan sulit ditaklukkan oleh kekuatan asing. Hal ini menunjukkan bahwa Pencak Silat telah mencapai tingkat kematangan yang sangat tinggi dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kedaulatan bangsa.
Kajian Asal-Usul, Karakteristik, dan Filosofi Pencak Silat
Pencak Silat merupakan seni bela diri yang berakar kuat dalam budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Untuk memahaminya secara utuh, perlu dilakukan kajian dari berbagai aspek, mulai dari etimologi, karakteristik gerakan, hingga nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Etimologi dan Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa pakar telah mengemukakan pandangannya mengenai asal-usul istilah dan definisi Pencak Silat, yang memberikan wawasan tentang dualisme antara aspek seni dan aspek bela diri.
- Perspektif Kebangsaan: Menurut Prof. Dr. Purbo Caroko, Pencak Silat perlu dipahami dari sudut pandang kebangsaan Indonesia, yang menegaskan posisinya sebagai identitas bangsa.
- Analisis Etimologis: Jumali menguraikan istilah "Pencak" berasal dari kata dasar "cak" (injak). Kata ini berkembang menjadi makna gerakan menginjak yang dilakukan berulang-ulang secara lincah. Istilah "macak" (menghias diri) dan "pancak" (mengatur baris) juga diasosiasikan dengan "Pencak", yang menunjukkan adanya unsur keindahan, keteraturan, dan ekspresi diri dalam gerakannya.
- Definisi "Pencak" dan "Silat":
- Wongso Negoro mendefinisikan Pencak sebagai "gerak serang dan bela yang berupa tari berirama" dan terikat pada peraturan adat kesopanan, sehingga layak dipertunjukkan di depan umum.
- Sementara itu, Silat diartikan sebagai inti sari dari Pencak yang fokus utamanya adalah pertarungan untuk pembelaan diri secara total. Karena sifatnya yang praktis dan mematikan, Silat sesungguhnya tidak untuk dipertontonkan.
Karakteristik Umum Gerakan Pencak Silat
Meskipun terdapat ribuan aliran di seluruh Indonesia, Pencak Silat pada dasarnya memiliki ciri-ciri umum yang membedakannya dari bela diri lain. Gerakannya merupakan manifestasi dari budaya dan adat istiadat suku bangsa Indonesia. Ciri-ciri tersebut antara lain:
- Fleksibilitas Gerakan: Gerakan bersifat luwes, halus, dan lemas, namun dapat menghasilkan tenaga secara eksplosif pada momen yang tepat.
- Efisiensi Ruang: Tidak memerlukan area yang luas untuk berlatih atau bertarung secara efektif.
- Prinsip Mengalah untuk Menang: Lebih mengutamakan teknik elakan, memindahkan arah serangan lawan, dan kuncian daripada beradu tenaga secara langsung.
- Pemanfaatan Tenaga Lawan: Menggunakan kekuatan lawan dengan cara mengacaukan keseimbangannya, sehingga memungkinkan praktisi untuk menghemat tenaga. Posisi tangan cenderung selalu dekat dengan badan untuk proteksi maksimal.
- Fokus Gerakan Bawah dan Menengah: Angkatan kaki dan tendangan umumnya tidak terlalu tinggi; permainan banyak berfokus pada posisi menengah dan bawah.
- Pernapasan Alami: Teknik pernapasan dijaga agar tetap wajar dan tidak disertai teriakan keras saat menyerang atau menangkis.
- Langkah yang Ringan: Gerakan sering kali mengandung unsur tarian dengan langkah kaki yang ringan dan efisien.
- Sikap Tenang dan Waspada: Seorang pesilat senantiasa menjaga sikap yang tenang dan rileks namun tetap waspada sepenuhnya terhadap lingkungan sekitar.
- Trinitas Keunggulan: Selalu mengandalkan kombinasi antara kecepatan, ketepatan, dan kelincahan dalam setiap aksi.
Variasi Aliran dan Pengaruh Modern
Keragaman budaya dan geografi di Indonesia melahirkan ciri khas pada setiap aliran. Aliran di daerah pesisir akan memiliki karakteristik yang berbeda dengan aliran dari daerah pegunungan. Namun, di era modern, khususnya di perkotaan, banyak aliran telah menyerap unsur bela diri dari luar negeri. Hal ini terkadang menyebabkan pergeseran karakteristik, di mana gerakan menjadi lebih kaku, patah-patah, dan lebih mengutamakan kekuatan fisik, sehingga beberapa ciri khas kelembutan Pencak Silat asli menjadi kurang terlihat.
Aspek Filosofis dalam Pencak Silat
Di tingkat yang lebih dalam, Pencak Silat mengajarkan filosofi menghadapi kehidupan. Tantangan dan masalah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi manusia. Seorang praktisi sejati, seperti yang diajarkan dalam falsafah luhur (misalnya pada tradisi SH), harus menghadapi setiap masalah dengan jiwa yang besar, tenang, dan menyelesaikannya dengan bijaksana. Sikap tanggap (responsif), tangguh (kuat), dan tanggon (dapat diandalkan) menjadi cerminan dari seorang pesilat dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Biografi Ki Ngabehi Soero Diwirjo dan Sejarah Awal Setia Hati (SH)
Organisasi Setia Hati (SH) merupakan salah satu perguruan pencak silat bersejarah di Indonesia yang berakar dari pemikiran dan perjalanan spiritual pendirinya, Ki Ngabehi Soero Diwirjo. Sejarahnya dimulai dengan pendirian perkumpulan Sedulur Tunggal Kecer (STK) pada tahun 1903 di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya.
Latar Belakang Keluarga dan Masa Muda
Ki Ngabehi Soero Diwirjo lahir dengan nama Mas Dan pada hari Sabtu Pahing tahun 1869. Beliau merupakan keturunan bangsawan dari garis keturunan Bupati Gresik. Ayahnya, Ki Ngabehi Soero Miharjo, adalah seorang Mantri Cacar di Ngimbang, Jombang. Mas Dan adalah anak sulung dari lima bersaudara:
- Mas Dan (Ki Ngabehi Soero Diwirjo)
- Noto (Gunadi), menetap di Surabaya
- Suradi (Adi), menetap di Aceh
- Wongso Harjo, menetap di Madiun
- Karto Diwirjo, menetap di Jombang
Garis keturunan ningratnya juga diperkuat dari silsilah keluarga besarnya. Paman beliau, Ki Ngabehi Soero Amiprojo, menjabat sebagai Wedono di Wonokromo, Surabaya, sementara sepupunya, Raden Mas Kusumo Dinoto, adalah Bupati Kediri. Seluruh keluarganya merupakan keturunan dari Bathoro Kathong di Ponorogo (Wengker), yang merupakan putra dari Raja Brawijaya dari Kerajaan Majapahit.
Pada usia 15 tahun (1884), beliau memulai kariernya sebagai juru tulis magang di kantor seorang Kontrolir di Jombang. Di sinilah, sambil belajar ilmu agama, beliau mulai mendalami pencak silat yang menjadi kegemaran utamanya.
Perjalanan Intelektual dalam Dunia Pencak Silat
Dedikasinya yang tinggi mendorong beliau untuk merantau ke berbagai daerah di Nusantara guna mempelajari dan menyerap berbagai aliran pencak silat terkemuka langsung dari para pendekar ahli.
📍 Priangan, Jawa Barat (1885)
Pindah ke Bandung untuk bekerja sekaligus memperdalam ilmu pencak silat. Di sini, beliau berhasil menghimpun dan menguasai beberapa aliran utama Priangan, di antaranya:
- Cimande
- Cikalong
- Cipete
- Cibeduyut
- Cimalaya
- Ciampas
- Sumedangan
📍 Betawi, Jakarta (1886)
Karier membawanya pindah ke Batavia (Jakarta). Beliau memanfaatkan waktunya di sana untuk memperkaya khazanah keilmuannya dengan mempelajari aliran khas Betawi, seperti:
- Betawen
- Kwitang
- Monyetan
- Permainan Toya
📍 Minangkabau, Sumatra Barat (1887)
Perjalanan berikutnya adalah ke Padang, di mana beliau menetap selama 10 tahun untuk berguru secara intensif kepada seorang mahaguru legendaris, Datuk Raja Baduo, di Ampangale, Kecamatan Pauh. Setelah Datuk Raja Baduo wafat, ilmunya dilanjutkan oleh adiknya, Datuk Baduo. Dari tanah Minangkabau, beliau menyerap ilmu bela diri yang sangat berpengaruh, meliputi:
- Bungus
- Sport de Kock (Silat Pauh)
- Alang Lawas
- Klinto
- Alang Lipe
- Sterlak
Perjalanan panjang dan proses menyerap berbagai ilmu inilah yang kemudian menjadi dasar dari jurus-jurus dan falsafah agung yang diajarkan dalam organisasi Setia Hati.
Perjalanan Spiritual, Keilmuan, dan Perintisan Perguruan Setia Hati
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Padang, Ki Ngabehi Soero Diwirjo melanjutkan perjalanannya untuk memperdalam ilmu lahir dan batin, yang menjadi fondasi bagi berdirinya perguruan Setia Hati.
Pendalaman Ilmu Kebatinan di Padang
Setelah menamatkan ilmu pencak silatnya di Padang pada abad ke-19, Ki Ngabehi Soero Diwirjo memberikan satu set pakaian serba hitam kepada gurunya sebagai simbol kelulusan dan rasa hormat.
Di kota inilah beliau bertemu dengan Nyoman Ida Gempol, seorang guru spiritual (kebatinan) asal Bali yang diasingkan ke Padang oleh pemerintah kolonial Belanda. Dari Nyoman Ida Gempol, Ki Ngabehi Soero Diwirjo menyerap ilmu kebatinan yang mendalam, sebuah pengetahuan spiritual yang juga diajarkan kepada murid-murid lainnya.
Pernikahan dan Perguruan di Aceh (1897-1898)
Pada tahun 1897, Ki Ngabehi Soero Diwirjo menikah dengan seorang gadis di Padang. Setahun kemudian, pada 1898, beliau bersama istri dan adiknya pindah ke Aceh. Tujuannya adalah untuk memperkaya khazanah ilmu pencak silatnya dengan berguru kepada Tengku Achmad Ibrahim. Di Aceh, beliau berhasil menguasai beberapa aliran (jurus) penting, di antaranya:
- Langsa
- Simpangan
- Kucingan
- Ginjai
- Taruntung
Karier, Perintisan Perguruan, dan Kehidupan Pribadi (1902-1912)
Setelah dari Sumatra, Ki Ngabehi Soero Diwirjo kembali ke Jawa dan memulai babak baru dalam hidupnya.
- Awal Karier di Jawa (1902): Beliau sempat bekerja sebagai masinis stoomwals (mesin gilas uap) di Jakarta sebelum pindah ke Bandung. Pada tahun yang sama, beliau pindah ke Surabaya dan memulai kariernya sebagai Polisi Dinnar.
- Pendirian Aliran (1903): Di tengah kesibukannya, beliau mendirikan sebuah aliran pencak silat bernama "Joyo Gendilo Cipto Mulyo" di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya. Kelompok ini dimulai dengan delapan siswa, yang dipelopori oleh adiknya, Noto/Gunadi, dan seorang warga Belanda bernama Kenevel.
- Kehidupan Pribadi: Pada tahun 1905, beliau bercerai dengan istrinya yang berasal dari Padang. Pada tahun yang sama, beliau menikah untuk kedua kalinya dengan Ibu Sariati. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai lima orang putra, namun takdir berkata lain dan kelimanya meninggal dunia saat masih kecil.
- Puncak Karier Kepolisian (1902-1912): Selama satu dekade mengabdi sebagai polisi, beliau menunjukkan keberanian yang luar biasa dan reputasinya terkenal, terutama karena sering terlibat dalam perkelahian dengan pelaut-pelaut asing. Kariernya menanjak hingga mencapai pangkat Sersan Mayor. Pada tahun 1912, beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dari dinas kepolisian untuk fokus pada pengembangan perguruannya.
Transformasi Menjadi "Setia Hati" dan Akhir Hayat Sang Pendiri
Periode di Madiun menjadi babak transformatif bagi perguruan yang dirintis oleh Ki Ngabehi Soero Diwirjo, yang berpuncak pada peresmian nama "Setia Hati" dan menjadi warisan abadi sang pendiri hingga akhir hayatnya.
Titik Balik di Madiun (1917)
Pada tahun 1917, Ki Ngabehi Soero Diwirjo dipindahtugaskan dari pekerjaannya di DKA (Djawatan Kereta Api) Surabaya ke Madiun, dan kemudian menetap di Desa Winongo. Di kota inilah perguruannya mengalami titik balik yang signifikan.
Sebuah demonstrasi pencak silat yang ditampilkan oleh para siswa dari aliran "Joyo Gendilo Cipto Mulyo" di alun-alun saat pasar malam Madiun berhasil memukau masyarakat. Gerakan yang indah dan efektif tersebut mengundang kekaguman, yang berimbas pada meningkatnya popularitas aliran dan lonjakan jumlah siswa yang ingin bergabung.
Melihat perkembangan ini, beberapa tokoh seperti Osvia dan Mulo menyarankan agar nama "Joyo Gendilo Cipto Mulyo" diganti menjadi "Setia Hati". Ki Ngabehi Soero Diwirjo menyetujui usulan ini karena nama "Setia Hati" dianggap lebih selaras dengan visi dan misi perguruan yang menekankan nilai-nilai persaudaraan, keluhuran budi, dan kemanusiaan. Sejak saat itu, dengan semangat baru, Setia Hati berkembang pesat.
Filosofi dan Warisan Luhur Setia Hati
Setia Hati dikenal dengan karakteristik gerakannya yang lincah, elegan, dan indah. Namun, di balik keindahan fisik tersebut, ajaran utamanya lebih mengedepankan pembentukan karakter luhur yang berlandaskan pada:
- Nilai-nilai kekeluargaan dan persaudaraan.
- Kesederhanaan dalam hidup.
- Kepercayaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Warisan ini terbukti berhasil mencetak banyak pendekar handal. Di kemudian hari, perguruan Setia Hati terus berpartisipasi aktif dalam berbagai kompetisi di tingkat nasional maupun internasional, meraih berbagai prestasi yang membuktikan pengakuan terhadap kualitas alirannya.
Pensiun, Wafat, dan Wasiat Terakhir
Setelah mengabdikan hidupnya untuk mengembangkan Setia Hati, Ki Ngabehi Soero Diwirjo pensiun pada tahun 1933.
Beliau wafat pada usia 75 tahun di kediamannya di Desa Winongo, Madiun. Berdasarkan catatan yang ada, beliau mangkat pada hari Jumat Legi, tanggal 10 November 1944, sekitar pukul 14:00 WIB.
Sebelum wafat, Ki Ngabehi Soero Diwirjo meninggalkan sebuah wasiat penting, yaitu mewakafkan (menghibahkan) rumah beserta pekarangannya kepada organisasi Setia Hati. Namun, dalam wasiat tersebut ditetapkan bahwa mendiang istrinya, Ibu Ngabehi Soero Diwirjo, berhak untuk tetap tinggal di kediaman tersebut seumur hidupnya.
Jenazah Almarhum Ki Ngabehi Soero Diwirjo dikebumikan di pemakaman Desa Winongo. Makamnya ditandai dengan sebuah nisan dari batu granit, dikelilingi oleh tanaman bunga melati dan kamboja sebagai tanda kehormatan.
Daftar 36 Jurus Setia Hati (SH) dan Tinjauan Khususnya
Kurikulum inti dari Pencak Silat Setia Hati terdiri dari rangkaian 36 jurus yang dihimpun oleh Ki Ngabehi Soero Diwirjo dari berbagai aliran terkemuka di Nusantara. Setiap jurus memiliki karakteristik unik, namun diajarkan dalam sebuah sistem yang terpadu.
Rangkaian 36 Jurus Warisan Setia Hati
Berikut adalah daftar 36 jurus yang menjadi materi fundamental dalam ajaran Setia Hati:
| No. | Nama Jurus | No. | Nama Jurus | No. | Nama Jurus |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Betawen I | 13 | Cimande V | 25 | Minangkabau I (Kucingan) |
| 2 | Betawen II | 14 | Cibeduyut / Toya | 26 | Solok Minangkabau |
| 3 | Cimande I | 15 | Padang Panjang I | 27 | Cipecut |
| 4 | Cimande II | 16 | Padang Panjang II | 28 | Cimande VII |
| 5 | Cikalong | 17 | Cipete | 29 | Sterlak |
| 6 | Ciampas I | 18 | Padang Siranti | 30 | Padang Ale I |
| 7 | Ciampas II | 19 | Sumedangan I | 31 | Padang Ale II |
| 8 | Tanah Baru I | 20 | Sumedangan II | 32 | Fort De Kock (Silat Bukittinggi) |
| 9 | Tanah Baru II | 21 | Kinlho | 33 | Padang Ale III |
| 10 | Tionghoa Minangkabau | 22 | Cimande VI | 34 | Padang Ale IV |
| 11 | Cimande III | 23 | Alang Lawas I | 35 | Kuda Batak |
| 12 | Cimande IV | 24 | Alang Lawas II | 36 | Sipai Minangkabau III |
Jurus ke-29 (Sterlak): Sebuah Pengecualian Khusus
Dari seluruh rangkaian jurus di atas, Jurus ke-29 (Sterlak) tidak diajarkan secara umum. Kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan matang sang pendiri karena beberapa alasan fundamental:
- Eksklusivitas Ajaran: Jurus ini hanya diwariskan secara khusus kepada Noto/Gunadi, adik kandung dari Ki Ngabehi Soero Diwirjo.
- Tingkat Bahaya yang Sangat Tinggi: Jurus Sterlak memiliki potensi destruktif yang sangat besar. Tingkat bahayanya tidak hanya berlaku bagi lawan, tetapi juga bagi praktisi itu sendiri, baik selama proses latihan maupun setelah menguasainya secara penuh.
- Syarat Spiritual dan Ritual yang Berat: Untuk mempelajari jurus ini, seorang siswa diwajibkan melalui prosesi sumpah atau baiat khusus. Selain itu, terdapat syarat untuk menyediakan mahar berupa hewan Kukang. Menurut kepercayaan spiritual, bagian tubuh Kukang dapat disalahgunakan untuk tujuan yang tidak baik, sehingga syarat ini menjadi filter etis yang sangat ketat bagi calon penerima ilmu.
Syarat berat ini menegaskan bahwa penguasaan jurus-jurus Setia Hati tidak hanya bergantung pada latihan fisik, tetapi juga harus diimbangi dengan laku spiritual seperti berpuasa dan memenuhi mahar tertentu sebagai wujud kesungguhan dan komitmen.
Falsafah Luhur Seorang Pesilat
Pada akhirnya, ajaran Setia Hati bertujuan untuk membentuk individu yang berbudi luhur. Siapapun, baik pria maupun wanita, yang ingin menempuh jalan ini harus membekali diri dengan kesabaran, kemampuan introspeksi diri (eling lan waspada), serta keikhlasan (legowo) dalam menerima setiap keadaan yang dihadapi selama menjalani kehidupan di dunia.
Filosofi S.H. Sinandi: Pedoman Karakter Luhur
S.H. Sinandi merupakan sebuah akronim dan sandi filosofis (sinandi berarti tersembunyi atau simbolik) yang memuat lima pilar pengembangan diri. Filosofi ini menekankan pembentukan karakter yang didasari oleh kesetiaan pada keluhuran budi yang terintegrasi secara kokoh (Setyo Budyo, Sinupeket Singset). Setiap tindakan yang diambil haruslah melalui proses pengamatan dan pertimbangan yang cermat (Tiniti Aliring Tindak Tinati). Tujuannya adalah untuk senantiasa berusaha meraih kebijaksanaan demi mencapai kemuliaan sejati (Hanggayun Pandene Ngawiryo), yang ditempuh dengan cara tekun mempelajari dan mendalami esensi ajaran kebajikan (Haharsudi Handaraning Wiwiho). Pada puncaknya, seorang individu yang memegang teguh prinsip ini diharapkan mampu menjadi teladan dalam jalan pengabdian dan ketaatan (Tinulato Eng Reh Mengestuti).
Sejarah Singkat Setia Hati Terate (SHT)
Setia Hati Terate didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Desa Pilangbangu, Kota Madiun. Secara empiris, kiprah beliau telah terbukti sebagai salah satu perintis kemerdekaan Republik Indonesia. Riwayat hidup dan perjuangan beliau memperlihatkan dedikasi besar dalam bidang sosial, pendidikan, serta perlawanan terhadap penjajahan.
Kisah Perjalanan Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Pendidikan Awal dan Pengalaman Pertama (1905–1906)
Pada tahun 1905, Ki Hadjar Hardjo Oetomo berhasil menamatkan pendidikan di Sekolah Rakyat atau Kelas Dua di Hollandsch Inlandsche School (HIS). Setelah lulus, beliau menjalani masa magang sebagai guru di daerah Bateng, Kota Madiun. Namun, karena merasa tidak cocok dengan bakat dan panggilan jiwanya, beliau kemudian beralih ke pekerjaan lain dengan bergabung di SS (Staats Spoorwegen/PJKA) sebagai Leering Bempte di Bondowoso, Panarukan, dan Tapen. Ketidakpuasan beliau terhadap ketimpangan sosial di lingkungan kerja tersebut menimbulkan perselisihan dengan atasannya, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk mengundurkan diri dan kembali ke tanah kelahiran di Madiun.
Menjadi Mantri Pasar (1906–1910)
Pada tahun 1906, beliau dipercaya menjadi Mantri Pasar di Kota Madiun. Empat tahun kemudian, beliau dipindahkan ke Pasar Mlilir. Di tempat ini, beliau menunjukkan integritas dengan menertibkan sistem pemungutan pleser (pajak transaksi), terutama dalam perdagangan kayu. Usahanya tersebut membuahkan promosi menjadi Ajuned Opsioner di Pasar Dolopo, Mlilir, dan Pagotan (Pabrik Tebu). Namun, jabatan itu hanya dijalaninya dalam beberapa bulan sebelum akhirnya beliau mengundurkan diri.
Pernikahan dan Karier Baru (1916–1917)
Tahun 1916, beliau menikah dan bekerja di Pabrik Gula Redjo Agung, Madiun. Setahun kemudian, beliau mengikuti ujian Beambte Rumah Gadai dan dinyatakan lulus. Setelah keluar dari pabrik gula, beliau menunggu panggilan kerja di rumah gadai sambil bekerja sebagai buruh harian di Stasiun Kereta Api Madiun. Pada masa ini pula, beliau mendirikan perkumpulan HARTA JAYA dengan tujuan memberantas praktik rentenir. Beliau juga berguru (nyantrik) kepada Ki Ngabehi Soero Diwirjo, di mana beliau diterima sebagai murid kesayangan.
Mendirikan Pencak Sport Club (1922)
Tahun 1922, atas restu gurunya, beliau mendirikan Pencak Silat Setia Hati di Pilangbangu, Madiun, dengan nama Pencak Sport Club (PSC). Tujuan utama dari pendirian PSC adalah melawan penjajahan Belanda. Beliau aktif melakukan perjalanan ke Kediri, Nganjuk, Kertosono, Lamongan, Jombang, dan Solo. Karena aktivitasnya, PSC dicurigai Belanda sebagai tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan, sehingga beliau kerap ditangkap dan ditahan. Untuk menghindari pengawasan Belanda, nama SH diganti menjadi Pemuda Sport Club (PSC). Meski demikian, beliau tetap ditangkap dan ditahan di Madiun.
Aktivitas Politik dan Penahanan (1923–1932)
Tahun 1923, beliau bergabung dengan Serikat Islam dan aktif dalam politik, yang kembali mengakibatkan beliau ditangkap dan dipenjara. Pada saat yang sama, ayah beliau wafat. Tahun 1925, setelah bebas dari tahanan, beliau harus menghadapi cobaan berat dengan meninggalnya putri beliau, Harsini, pada usia 1 tahun 6 bulan. Tahun 1926, beliau kembali ditangkap karena keterlibatannya dalam pemberontakan di penjara Madiun, sehingga masa tahanannya diperpanjang menjadi 5 tahun. Selama itu, beliau sempat dipindahkan ke Penjara Cipinang, Jakarta, selama 2 bulan, lalu ke Penjara Pandang Panjang, Sumatera. Setelah dibebaskan pada tahun 1932, kehidupan keluarga beliau penuh penderitaan. Sejak saat itu, beliau hanya mengajar pencak silat di Pilangbangu dan tidak lagi berkeliling.
Masa Pendudukan Jepang (1942)
Tahun 1942, atas usulan saudara seperguruan SH PSC yaitu Suratno Surengpati, nama PSC diubah menjadi Setia Hati Terate (SHT). Nama ini bertahan hingga kini, meskipun saat itu organisasi belum berbadan resmi.
Konferensi Setia Hati Terate (1948)
Tahun 1948, atas prakarsa Soetomo Mangku Joyo, Jendro Darsono, dan Soemaji, diadakan konferensi di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Pilangbangu, Madiun. Hasil konferensi tersebut adalah terbentuknya organisasi Setia Hati Terate dengan struktur kepengurusan formal:
- Ketua Pusat: Soetomo Mangku Jaya
- Wakil Ketua: Jendro Darsono
- Sekretaris: Soemaji
Pada tahun 1950, ketika Soetomo Mangku Joyo pindah ke Surabaya dan Jendro Darsono ke Kediri, kepemimpinan pusat dialihkan kepada Ersad, dengan sekretaris Bambang Soedarsono.
Akhir Riwayat (1952)
Tahun 1952, Ki Hadjar Hardjo Oetomo wafat karena sakit darah tinggi. Seusai kepergian beliau, tonggak perjuangan diteruskan oleh para penerusnya. Sdr. Ersad kemudian dikenal sebagai pencipta Senam Toya 1-25 dan Senam Dasar 1-90.
Jurus-Jurus Lama Setia Hati Terate (SHT)
Dalam tradisi awal Setia Hati Terate (SHT), jurus-jurus yang diajarkan memiliki makna filosofis dan teknik tertentu yang mencerminkan aliran seni bela diri nusantara serta pengaruh lintas budaya. Berikut adalah daftar jurus lama SHT beserta sebutannya:
| Nomor Jurus | Nama Permainan | Deskripsi |
|---|---|---|
| 1–4 | Kera (Kaukun) | Menirukan kelincahan kera; fokus pada kecepatan, kelenturan, dan kelincahan. |
| 5–8 | Cimande | Terinspirasi aliran Cimande; menekankan kekuatan, tangkisan keras, dan ketahanan fisik. |
| 9–10 | Gunting | Serangan menjepit layaknya gunting untuk melumpuhkan lawan secara cepat. |
| 11 | Merak | Gerakan anggun namun tajam; menekankan keseimbangan, keluwesan, dan keindahan. |
| 12–13 | Harimau | Teknik posisi rendah dengan serangan mendadak; mencerminkan kekuatan dan keberanian. |
| 14–15 | Tinju Thailand | Dipengaruhi Muay Thai; fokus pada pukulan keras, siku, dan serangan tangan. |
| 16–20 | Dobel | Serangan ganda bertubi-tubi; kombinasi pukulan dan tendangan secara simultan. |
| 21–24 | Pedangan | Teknik bertarung seperti menggunakan pedang; serangan tajam dan memotong lawan. |
| 25 | Bawah | Serangan rendah, efektif menjatuhkan lawan dan menyerang titik lemah. |
| 26 | B Dobel | Variasi serangan ganda dengan kombinasi yang lebih kompleks. |
| 27 | Buat | Jurus yang menekankan kreativitas dalam serangan dan pertahanan. |
| 28–34 | Katak | Gerakan loncatan menyerupai katak; menekankan kelincahan dan serangan mendadak. |
| 35 | Ular (Liongkun) | Gerakan luwes seperti ular; menekankan kelicinan, kecepatan, dan serangan mengejutkan. |
Dasar dan Azaz Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)
Pendidikan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan pendidikan budi pekerti dan kerohanian yang mencakup dua aspek utama, yakni pendidikan jasmani dan rohani.
- Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani berfokus pada pelajaran pencak silat, yang diajarkan melalui:
- Senam
- Jurus
- Kripen
- Toya
- Pendidikan Rohani Pendidikan rohani mencakup pengajaran tentang nilai-nilai ke-SH-an, yang menekankan pembinaan moral, spiritual, dan persaudaraan.
Ajaran Mengenai Persaudaraan Setia Hati Terate
- PSHT didirikan pada tahun 1922 di Madiun sebagai pusat organisasi.
- Selanjutnya, cabang-cabang dan ranting PSHT berkembang di berbagai daerah di Indonesia.
Dasar dan Azaz PSHT
PSHT berpegang pada prinsip fundamental atau panca dasar berikut:
- Dasar: Berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik Indonesia.
- Azaz:
- Persaudaraan atau kekeluargaan yang kekal
- Keolahragaan
- Kesenian
- Bela diri pencak silat
- Kerohanian
- Sikap organisasi: Tidak berafiliasi atau memihak pada aliran politik manapun.
Pengaruh dan Aliran Pencak Silat
Hampir seluruh aliran pencak silat di Jawa terinspirasi oleh ajaran SH. Gerakan pencak silat di Nusantara juga banyak dipengaruhi oleh Ki Ageng Suro, pendiri SH, yang sebelumnya telah menimba ilmu pencak silat dari berbagai daerah, antara lain:
- Cimande dengan jurus 9
- Banten dengan senam 50
Makna Persaudaraan
Persaudaraan dalam PSHT adalah ikatan batin yang kuat tanpa membedakan status sosial, baik kaya maupun miskin.
Tujuan Persaudaraan Setia Hati Terate
PSHT memiliki tujuan luhur, yaitu:
- Meningkatkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Mengembangkan seni budaya pencak silat berlandaskan ajaran dan wasiat PSHT.
- Memperkuat rasa kasih sayang antar sesama (Asih sepadha padhane tumitah).
- Menanamkan jiwa kesatria, cinta tanah air, dan bangsa.
- Meningkatkan aspek mental, spiritual, dan fisik bangsa Indonesia secara umum, serta warga PSHT secara khusus.
- Menumbuhkan kepercayaan diri yang didasarkan pada kebenaran.
- Membentuk manusia yang berkepribadian luhur, mengetahui benar dan salah, serta berjiwa Pancasila.
Manusia yang Berbudi Luhur
Menurut ajaran PSHT, manusia yang berbudi luhur memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Mengenal dan beriman kepada Tuhan.
- Mengutamakan kepentingan orang lain dan kepentingan umum.
- Rela mengalah dalam hal-hal kecil, tetapi tegas dalam hal prinsip.
- Menjunjung tinggi nilai Memayu Hayuning Bawana (mewujudkan kedamaian dan keharmonisan dunia).
- Mengamalkan sikap Empan Papan (tahu menempatkan diri dengan bijaksana).
Setia Hati (SH)
SH merupakan singkatan dari Setia Hati, yang secara tersurat berarti setia pada hati nurani sendiri atau percaya pada diri sendiri, dengan keyakinan bahwa kekuatan tertinggi berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan pada diri sendiri menjadi hal yang mendasar, sebab tanpa keyakinan tersebut manusia akan kesulitan dalam mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya.
Dalam ajaran SH, terdapat pepatah yang berbunyi:
- "Manusia bisa dihancurkan, bisa dimatikan, tetapi tidak dapat dikalahkan selama ia tetap berpegang teguh pada hatinya atau setia pada hati nuraninya sendiri."
Makna pepatah tersebut adalah lebih baik mati daripada menyerah pada kekalahan.
Semboyan dalam Menghadapi Lawan
Beberapa semboyan khas SH antara lain:
- "Cilik ora kurang bakal gede ora turah bakal, waton keno dak ingeti ora ilang tak kedhepi, isih ujud manungso ora bakal mundur."
- Terjemahan: Kecil tidak kurang, besar tidak berlebihan, usia tidak boleh dilupakan, tidak hilang dalam ingatan, selama masih berwujud manusia tidak akan mundur.
- "Kewan gelut, kalah gede kalalah, nanging manungso gelut kalah gede durung mesti yen kalah amarga manungso iku duwe akal lan budi."
- Terjemahan: Hewan berkelahi, kalah besar berarti kalah. Namun, manusia berkelahi kalah besar belum tentu kalah, karena manusia memiliki akal dan budi.
Azas Setia Hati Terate (SH Terate)
Azas yang dianut dalam Setia Hati Terate (SH Terate) mencakup lima pokok utama, yaitu:
- Persaudaraan
- Olahraga
- Kesenian
- Bela Diri
- Kerohanian
1. Persaudaraan
Persaudaraan dalam SH Terate dimaknai sebagai ikatan batin yang kuat antarwarga, sehingga hubungan yang terjalin menyerupai saudara kandung. Persaudaraan ini meniadakan perbedaan status sosial, ekonomi, maupun kedudukan; baik kaya maupun miskin, berpangkat atau tidak, semua dianggap sama sebagai keluarga besar SH Terate.
Agar rasa persaudaraan tersebut tetap kokoh, guyub, dan abadi, harus dilandasi oleh:
- Saling pengertian antarwarga,
- Saling menyayangi satu sama lain,
- Saling bertanggung jawab dalam menjaga nama baik organisasi maupun antaranggota.
2. Olahraga
Olahraga dalam SH Terate dipahami sebagai serangkaian gerakan tubuh yang teratur dan terencana, dengan tujuan memperkuat otot, meningkatkan kebugaran fisik, dan menyehatkan jiwa. Dengan demikian, setiap anggota diharapkan memperoleh tubuh yang bugar sekaligus jiwa yang sehat dan seimbang.
3. Kesenian
Kesenian di SH Terate terutama diwujudkan melalui seni tari dan seni gerak. Tari dipandang sebagai ekspresi keindahan gerak yang teratur, berirama, dan sering diiringi musik tradisional seperti gamelan. Dalam konteks Terate, kesenian mencakup penguasaan senam, jurus, serta gerakan pencak silat yang tidak hanya berfungsi sebagai olahraga, melainkan juga sebagai bentuk seni pertunjukan.
Pertunjukan pencak silat sebagai seni tari bela diri dipentaskan untuk umum dengan tetap menjunjung tinggi adat, etika, dan kesopanan.
4. Bela Diri
Bela diri dalam SH Terate adalah usaha mempertahankan diri dari ancaman bahaya. Pencak silat yang diajarkan bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk melindungi diri secara bijaksana.
Falsafah SH Terate menegaskan:
- “Kami tidak mencari pedang bermerah darah, tetapi bila datang kami tidak akan lari meninggalkannya.”
- “Musuh tidak dicari, tetapi jika datang jangan dihindari dengan pengecut.”
Dengan demikian, seni bela diri yang dimiliki seorang anggota SH Terate harus digunakan secara terhormat, bukan untuk kesombongan atau permusuhan.
5. Kerohanian
Kerohanian dalam SH Terate adalah pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia. Tujuannya adalah membentuk anggota agar memiliki kepribadian yang baik, memahami benar dan salah, serta berperilaku luhur dalam kehidupan bermasyarakat.
Prinsip yang dijunjung adalah:
- “Lebih baik menjadi warga SH yang matang ke-SH-annya tetapi mentah pencaknya, daripada matang pencaknya tetapi mentah ke-SH-annya.”
Ke-SH-an berfungsi sebagai pagar moral dan pengendali diri, ibarat senjata yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab. Pencak silat diibaratkan seperti pistol:
- Jika berada di tangan orang yang salah, dapat membahayakan orang lain.
- Namun jika berada di tangan yang benar, akan menjadi alat untuk melindungi dan menegakkan kebaikan.
Konsep Penilaian Benar dan Salah Menurut SH Terate
Dalam ajaran Setia Hati Terate (SH Terate), penilaian terhadap benar-salah maupun baik-buruk perilaku manusia memiliki ukuran yang jelas dan sistematis. Prinsip tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Penilaian Baik dan Buruk
- Seseorang dianggap baik apabila perilaku baiknya lebih banyak daripada perilaku buruknya.
- Sebaliknya, seseorang dianggap buruk apabila perilaku buruknya lebih dominan dibandingkan perilaku baiknya.
- Pola Hubungan Pergaulan Manusia
- Pola pergaulan antarmanusia dalam pandangan SH Terate dapat digambarkan melalui empat kemungkinan hubungan:
- Saya baik, dia baik.
- Saya baik, dia jelek.
- Saya jelek, dia baik.
- Saya jelek, dia jelek.
- Dari pola-pola tersebut, yang dianggap benar adalah sikap “benarnya sendiri” sepanjang tidak bertentangan dengan benarnya umum yang berlaku dalam masyarakat.
- Definisi Benar, Salah, dan Adil
- Benar adalah segala sesuatu yang memenuhi syarat, ketentuan, atau norma tertentu pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan.
- Salah adalah setiap tindakan yang melanggar syarat, ketentuan, atau norma tertentu pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan.
- Adil adalah keadaan di mana setiap orang memperoleh haknya masing-masing secara sah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Berbudi Luhur Menurut Setia Hati (SH)
Berbudi luhur dalam pandangan Setia Hati (SH) merupakan tujuan utama yang harus dicapai oleh setiap insan. Untuk mewujudkannya, SH menetapkan sejumlah prinsip fundamental sebagai pedoman hidup, yaitu:
- Keimanan kepada Tuhan
- Keyakinan dan pengabdian kepada Tuhan merupakan hal yang mutlak dan tidak dapat ditawar. Keimanan ini harus senantiasa menjadi prioritas utama dalam kehidupan. Namun demikian, SH menekankan pentingnya penghormatan terhadap kebebasan setiap individu dalam memilih agama dan keyakinannya. Perbedaan keyakinan hendaknya menjadi dasar untuk saling menghormati, bukan memecah belah.
- Mendahulukan Kepentingan Umum
- Kepentingan bersama harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi, demi menjaga kesejahteraan dan keadilan sosial. Meski demikian, keseimbangan perlu dijaga agar kepentingan pribadi tidak terabaikan secara tidak adil. Dengan prinsip ini, terwujud masyarakat yang harmonis, adil, dan saling mendukung.
- Berbudi Bahasa dan Kebijaksanaan
- Kesediaan untuk mengalah dalam hal-hal kecil mencerminkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Namun, ketika berhadapan dengan persoalan yang menyangkut prinsip atau hal-hal mendasar, seseorang harus teguh mempertahankan pendiriannya serta berani mengambil langkah yang diperlukan demi kebenaran.
- Asih Sepadha Phudane Tumithah (Cinta Kasih kepada Sesama)
- Rasa cinta kasih terhadap sesama manusia merupakan nilai luhur yang harus dijunjung tinggi. Dalam praktiknya, setiap individu dianjurkan untuk menolong, menghormati, dan menyayangi sesama tanpa membedakan suku, agama, maupun status sosial.
- Memayu Hayuning Bawana (Menjaga Keharmonisan Dunia)
- Setiap insan SH didorong untuk berperan aktif dalam menciptakan kehidupan yang baik, damai, dan harmonis. Hal ini mencakup menjaga kelestarian lingkungan, memperjuangkan hak asasi manusia, serta mendukung berbagai upaya yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
- Empan Papan (Kesederhanaan dan Kerendahan Hati)
- Prinsip ini mengajarkan pentingnya hidup sederhana, bersyukur, dan tidak terjebak pada kesombongan atau ambisi berlebihan terhadap harta maupun status sosial. Kebahagiaan sejati tidak terletak pada materi, melainkan pada ketulusan, rasa syukur, dan kepuasan batin dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tingkatan Keimanan
Keimanan merupakan keyakinan yang bersemayam dalam hati manusia mengenai ke-Esaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini tidak hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan yang baik. Untuk memahami seberapa kuat iman seseorang, terdapat empat tingkatan keimanan yang dapat dijadikan tolok ukur, yaitu:
- Tingkatan Pertama
- Seseorang yang melaksanakan seluruh perintah Tuhan dan tidak sekalipun melanggar larangan-Nya. Individu pada tingkatan ini mencerminkan kesetiaan, kepatuhan, serta ketaatan yang tinggi terhadap syariat dan perintah Ilahi.
- Tingkatan Kedua
- Seseorang yang melaksanakan semua perintah Tuhan, namun masih melakukan beberapa pelanggaran terhadap larangan-Nya. Meskipun demikian, individu pada tingkatan ini memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri, menyesali kesalahan, dan senantiasa memohon ampunan atas kekhilafan yang dilakukan.
- Tingkatan Ketiga
- Seseorang yang tidak melaksanakan seluruh perintah Tuhan, tetapi juga tidak melanggar larangan-Nya. Tingkatan ini menggambarkan sikap ketidakpedulian atau keengganan dalam menjalankan kewajiban agama, tanpa adanya upaya pelanggaran yang disengaja.
- Tingkatan Keempat
- Seseorang yang tidak melaksanakan perintah Tuhan, namun pada saat yang sama juga tidak melanggar larangan-Nya. Individu pada tingkatan ini memperlihatkan sikap ketidaksetujuan atau penolakan terhadap kewajiban yang diperintahkan, meskipun ia tidak secara langsung melakukan perbuatan yang dilarang.
Dalam mengukur tingkat keimanan, perlu disadari bahwa setiap individu memiliki standar spiritual dan pengalaman religius yang berbeda-beda. Semakin tinggi tingkatan iman yang dicapai, semakin kokoh keyakinan seseorang, dan semakin baik pula amal perbuatan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai seorang Setia Hati (SH), terdapat sejumlah prinsip dan kualitas yang harus dimiliki agar dapat melaksanakan tugas serta pengabdian dengan baik. Prinsip-prinsip tersebut meliputi:
- Ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Seorang SH wajib meneguhkan keyakinannya kepada Tuhan sebagai landasan utama dalam setiap sikap dan keputusan. Dengan berpegang pada nilai spiritual, setiap tindakan akan mencerminkan keadilan, kebijaksanaan, serta ketulusan hati.
- Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
- Seorang SH dituntut untuk selalu menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama. Hal ini bertujuan membangun suasana pergaulan yang harmonis, penuh kebersamaan, serta saling menghargai.
- Menjunjung tinggi prinsip dan keberanian bertindak.
- Dalam memegang amanah menegakkan kebenaran dan keadilan, seorang SH harus memiliki keteguhan sikap. Keberanian mengambil keputusan yang tepat, termasuk langkah tegas bila diperlukan, menjadi cerminan integritas dan konsistensi.
- Menghindari tindakan yang menimbulkan penderitaan.
- Kepekaan sosial merupakan nilai utama bagi seorang SH. Oleh karena itu, setiap tindakan harus diarahkan untuk tidak menimbulkan penderitaan maupun ketidaknyamanan bagi orang lain, melainkan menghadirkan manfaat dan ketenteraman.
- Menjaga ketenteraman dan kelestarian lingkungan.
- Seorang SH harus aktif menjaga ketertiban, keamanan, serta keharmonisan lingkungan. Upaya menjaga kelestarian alam juga menjadi wujud tanggung jawab moral terhadap kehidupan bersama.
- Bersikap fleksibel dan bijaksana dalam menghadapi permasalahan.
- Dalam menghadapi persoalan, seorang SH dituntut untuk mampu menempatkannya secara proporsional. Keterbukaan menerima perbedaan pendapat menjadi dasar untuk mencapai penyelesaian yang adil dan bijak.
Dengan memegang teguh nilai-nilai tersebut, seorang Setia Hati (SH) tidak hanya mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, tetapi juga menjadi teladan dalam menegakkan keadilan, menjaga kebenaran, serta membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Arti Lambang Persaudaraan Setia Hati Terate
Lambang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sarat dengan filosofi mendalam yang mencerminkan nilai-nilai luhur, kepribadian, serta pedoman hidup setiap anggotanya. Setiap unsur dalam lambang ini memiliki makna simbolis yang mengajarkan keseimbangan, keabadian, kesucian, kasih sayang, persaudaraan, dan identitas budaya bangsa Indonesia. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
- Segi Empat Panjang
- Bermakna Perisai.
- Selain itu, segi empat melambangkan empat kiblat dan lima pancer dalam diri manusia, yaitu:
- cipta (daya pikir),
- rasa (perasaan),
- karsa (kemauan),
- jiwa (rohani),
- dan badan (jasmani).
- Apabila kelima unsur tersebut seimbang, maka manusia akan mampu berkarya secara optimal dalam kehidupan.
- Dasar Hitam
- Bermakna kekal dan abadi.
- Hal ini mencerminkan bahwa persaudaraan di dalam Setia Hati Terate bersifat abadi, sebagaimana ikatan darah dalam keluarga kandung.
- Hati Putih Bertepi Merah
- Bermakna cinta kasih ada batasnya.
- Putih melambangkan kesucian hati, yaitu menolak segala sesuatu yang tidak halal. Sedangkan tepi merah melambangkan kasih sayang yang luas, namun tetap dalam batas nilai dan kebenaran.
- Merah Melingkari Hati Putih
- Bermakna berani mengatakan yang ada di hati/kata hati.
- Hal ini juga mengandung makna keberanian dalam menjunjung nilai kejujuran dan keteguhan hati dalam menyampaikan kebenaran.
- Sinar
- Bermakna jalannya hukum alam/hukum kelimpahan.
- Sinar tersebut melambangkan pancaran kasih sayang yang harus dipancarkan oleh setiap anggota PSHT. Filosofi ini sejalan dengan semboyan “sepadha padhane tumitah” (saling membantu tanpa pamrih) dan keyakinan pada hukum karma. Sebagaimana pepatah “Manunggaling Kawula Gusti”, manusia akan menuai hasil dari perbuatannya sendiri.
- Bunga Terate
- Bermakna kepribadian yang luhur.
- Bunga Terate tumbuh di segala tempat, melambangkan bahwa seorang anggota PSHT harus mampu menyesuaikan diri di semua lapisan masyarakat tanpa kehilangan jati dirinya.
- Bunga Terate Mekar, Setengah Mekar, dan Kuncup
- Bermakna dalam bersaudara tidak membeda-bedakan latar belakang.
- Tiga tahapan tersebut mencerminkan keragaman anggota yang berasal dari berbagai kalangan, namun tetap bersatu dalam ikatan persaudaraan.
- Senjata Silat
- Bermakna Pencak Silat sebagai benteng Persaudaraan.
- Pencak Silat dipilih karena merupakan seni bela diri asli Indonesia sekaligus warisan budaya bangsa. Sesuai pepatah PSHT, “Bangsa yang kehilangan kebudayaannya adalah bangsa yang terjajah jiwanya.”
- Garis Putih Tegak Lurus di Tengah-tengah Merah
- Bermakna berani karena benar, takut karena salah.
- Garis ini menggambarkan sikap anggota PSHT untuk selalu tegak berdiri di atas prinsip keadilan dan kebenaran.
- Persaudaraan Setia Hati Terate
- Bermakna mengutamakan hubungan antar sesama yang tumbuh dari hati yang tulus, ikhlas, dan bersih.
- Apa yang dikatakan harus keluar dari hati yang tulus. Di samping itu, persaudaraan juga menjadi nilai tertinggi dalam PSHT, sedangkan Pencak Silat berfungsi sebagai pengikat yang memperkokoh persaudaraan tersebut.
- Hati Putih Bertepi Merah Terletak di Tengah-tengah Lambang
- Bermakna netral.
- Posisi ini melambangkan keseimbangan hati seorang anggota PSHT dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Janji Setia Anggota PSHT
Dengan hati yang tulus dan penuh kesadaran kami berjanji:
- Sebagai anggota Persaudaraan Setia Hati Terate, saya akan senantiasa berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang tua, dan guru.
- Persaudaraan Setia Hati Terate bagiku adalah sarana untuk mendewasakan jasmani maupun rohani, oleh karena itu perlu dijaga dan dilestarikan keharuman namanya.
- Sebagai anggota Persaudaraan Setia Hati Terate, kami akan senantiasa berdisiplin, patuh, dan setia kepada peraturan, tata tertib dan kewajiban-kewajiban yang diinstruksikan oleh pimpinan.
- Sebagai anggota Persaudaraan Setia Hati Terate, kami akan saling kasih-mengasihi antara anggota dengan penuh rasa persaudaraan.
- Sebagai anggota Persaudaraan Setia Hati Terate, kami akan patuh dan berdisiplin dalam berlatih.
- Sebagai anggota Persaudaraan Setia Hati Terate, kami akan memupuk rasa rendah hati dan penuh cinta kasih terhadap sesama manusia umumnya dan kepada Persaudaraan Setia Hati Terate khususnya.
- Kami tidak akan bersikap sombong dan mempergunakan pengetahuan Persaudaraan Setia Hati Terate disembarang tempat.
- Demikianlah janji kami, biarlah saudara-saudara tua kami yang hadir pada saat ini menjadi saksi, dan biarlah Tuhan Yang Maha Esa memberkati serta memberikan tuntunan.
Amin
Lagu Mars PSHT
Lagu Mars PSHT merupakan simbol semangat dan persaudaraan bagi seluruh warga Persaudaraan Setia Hati Terate. Melalui lantunan nada dan lirik yang penuh makna, lagu ini menggambarkan perjuangan, kesetiaan, serta filosofi luhur perguruan. Dalam perjalanan panjang menuju satu abad kebesaran Terate, berbagai karya musik seperti Terate Emas Satu Abad PSHT hingga lagu yang menggambarkan Mekarlah Bunga Terate di Jiwaku, menjadi wujud kecintaan para warga terhadap ajaran budi pekerti dan persaudaraan sejati. Setiap harmoni dan chord yang dimainkan membawa pesan bahwa di mana pun langkah dijalankan, jiwa Setia Hati tetap berpadu dalam satu irama perjuangan, dari Terate Jalanan hingga ke panggung kehidupan.
- Cipta: Kang Mas Adi Pracihno/ Adi Jasco
Setia Hati Terate Pembina Persaudaraan
Semboyan Kami Bersama Bersatu Teguh Jaya
Mengabdi Nusa dan Bangsa Dengan Tulus Ikhlas
Menjunjung Tinggi Pancasila Demi Indonesia Raya
Jayalah Setia Hati Terate Sepanjanglah Masa
Jayalah Setia Hati Terate Sepanjanglah Masa
Memelihara Persaudaraan
Persaudaraan adalah ikatan pergaulan antar sesama manusia yang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang rukun, saling bahu-membahu, serta mendukung satu sama lain. Dalam ikatan persaudaraan, diperlukan sikap tanpa pamrih dengan pandangan yang sejajar, tanpa merasa lebih unggul, serta mengutamakan nilai-nilai luhur berupa:
- Saling mempercayai,
- Saling membutuhkan,
- Saling menghargai, dan
- Saling mengutamakan kebersamaan yang bermakna, bukan sekadar pertemuan tanpa tujuan.
Dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), prinsip tersebut dijalankan berdasarkan penghayatan dan pengamalan ajaran Setia Hati. Pepacuh dan wasiat dijunjung tinggi, serta tidak boleh dilanggar. PSHT bukanlah persaudaraan tanpa aturan, melainkan memiliki tata tertib, kaidah, dan disiplin yang harus dipatuhi. Beberapa ketentuan yang menjadi landasan antara lain:
- Warga senior tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap warga yunior.
- Warga yunior tidak diperkenankan bertindak semaunya terhadap warga senior.
- Persaudaraan tidak boleh mengabaikan ketertiban organisasi maupun administrasi.
- Persaudaraan tidak boleh meninggalkan prinsip disiplin.
Dengan demikian, persaudaraan dalam PSHT adalah persaudaraan yang menjunjung tinggi martabat setiap anggotanya, berlandaskan ketulusan hati untuk saling membantu, menolong, dan menguatkan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Namun demikian, dalam perjalanan organisasi tentu terdapat hambatan-hambatan yang dapat mengganggu keharmonisan persaudaraan. Beberapa di antaranya adalah:
- Adanya warga yang merasa hebat sendiri, sehingga menghendaki warga lain tunduk pada kehendaknya.
- Terganggunya persaudaraan ketika seorang pemimpin kurang memiliki kedewasaan pribadi dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Sifat-Sifat Warga Setia Hati
Seorang warga Setia Hati Terate (PSHT) dituntut untuk memiliki sifat-sifat luhur yang mencerminkan kepribadian, pengendalian diri, serta keteguhan dalam menjalani kehidupan. Adapun sifat-sifat tersebut adalah sebagai berikut:
- Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Setiap warga PSHT harus menempatkan ketakwaan kepada Tuhan sebagai landasan utama dalam setiap ucapan, perbuatan, dan pengambilan keputusan.
- Berbudi Luhur, Pemberani, dan Teguh pada Prinsip
- Warga PSHT dikenal memiliki sifat berani, tidak takut mati, dan senantiasa menjunjung tinggi prinsip kebenaran. Mereka diajarkan untuk mengalah dalam hal-hal kecil dengan jalan memberi maaf kepada sesama, namun dalam perkara besar yang menyangkut prinsip dan tanggung jawab, warga PSHT akan tetap teguh, tegas, dan tidak tergoyahkan.
- Kesederhanaan dan Memayu Hayuning Bawana
- Kesederhanaan berarti menyesuaikan sikap dan tingkah laku dengan situasi yang dihadapi. Contohnya:
- Saat menghadiri pemakaman, warga menunjukkan rasa belasungkawa dengan penuh ketulusan.
- Saat mengunjungi orang yang kurang mampu, warga menjaga sikap rendah hati tanpa menonjolkan kemewahan.
- Saat berbicara, warga menghindari sikap berlebihan atau membesar-besarkan sesuatu yang dapat menimbulkan kesombongan.
- Sedangkan sikap memayu hayuning bawana bermakna menciptakan dan menjaga keharmonisan kehidupan, dengan turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain.
- Sifat-Sifat Penunjang
- Dari uraian di atas, sifat seorang warga PSHT dapat disarikan menjadi tiga hal pokok:
- Mampu menghilangkan sifat egois,
- Mampu menghilangkan rasa iri, dan
- Siap menjalankan tugas serta kewajiban dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu Setia Hati Terate pada hakikatnya merupakan pondasi dalam cara berpikir, bersikap, bertindak, dan mengambil keputusan. Dari dasar inilah, PSHT membangun persaudaraan yang harmonis dan abadi, yang dilandasi oleh sikap saling pengertian, saling menyayangi, dan penuh tanggung jawab.
Prinsip persaudaraan tersebut diwujudkan melalui:
- Saling menghargai,
- Saling membutuhkan, dan
- Saling mempercayai.
Oleh karena itu, setiap warga PSHT wajib menjaga keluhuran persaudaraan dengan terlebih dahulu mengenal diri pribadi. Sebab, siapa yang mampu mengenal dirinya dengan baik, akan lebih mudah memahami orang lain. Demikian pula, siapa yang dapat menasihati dirinya sendiri, tidak akan sulit untuk menasihati orang lain.
Arti Kesetiaan dalam Setia Hati
Kesetiaan dalam ajaran Setia Hati (SH) lahir setelah seseorang memahami arti persaudaraan serta makna mendalam dari ilmu SH itu sendiri. Kesetiaan ini disebut setia hati, yaitu sikap yang menumbuhkan keselarasan antara hati dan perbuatan, sebagaimana makna dari ungkapan “jumbuh njobo njerono”. Artinya, apabila hati seseorang bersih, maka perilakunya juga akan memancarkan kebersihan tersebut, dan sebaliknya. Dengan demikian, seorang yang benar-benar menghayati ilmu SH tidak akan bersifat munafik.
Dalam lingkungan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), kesetiaan diwujudkan melalui pertemuan hati ke hati yang melahirkan kecocokan perasaan. Hal ini tercermin dalam ajaran “suruh temu rose”, yaitu konsep bahwa kenyamanan dalam bergaul hanya dapat tercapai apabila hati kita telah bertemu dan selaras dengan hati orang lain.
Seseorang yang terbebas dari sifat munafik adalah orang yang tidak menipu dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang menipu dirinya berarti telah mengkhianati kepribadiannya sendiri. Dalam ajaran SH, pribadi yang teguh dan berpendirian kuat adalah pribadi yang kokoh, tidak mudah dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk, bahkan mampu mengarahkan lingkungannya menuju kebaikan dengan pemahaman jelas tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Manusia yang memahami kebenaran adalah manusia yang mengerti makna dari setiap perbuatannya. Oleh karena itu, setiap anggota PSHT dituntut untuk berperan aktif dalam persaudaraan yang dicintainya. Rasa keterlibatan ini harus diwujudkan dalam keberanian mengambil tanggung jawab, melaksanakan tugas, serta menempatkan diri secara tepat sesuai kewajiban yang diemban. Ilmu yang baik tidak akan memberi manfaat apabila tidak diamalkan, sehingga penghindaran terhadap dosa menjadi keharusan.
Dalam ajaran SH, seseorang dapat berdosa bahkan tanpa melakukan tindakan, yakni ketika ia menyia-nyiakan ilmunya. Karena itu, ilmu SH harus diamalkan dan disebarkan demi kemaslahatan masyarakat. Mengabaikan pengamalan tersebut sama artinya dengan turut serta dalam kerusakan yang menimpa lingkungan. Oleh sebab itu, keberlangsungan dan perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate harus senantiasa dijaga.
Sebagaimana pepatah mengatakan, “Kardiyo Westro lungset ing sampiran”, yang bermakna bahwa orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengembangkannya diibaratkan seperti daun telinga yang tidak pernah bergerak, sehingga tidak memberi manfaat dan tidak bermakna.
Lebih lanjut, ajaran SH juga menegaskan bahwa seorang warga SH tidak boleh terlarut dalam kesedihan berlebihan. Kesedihan yang mendalam biasanya berkaitan dengan dua hal, yaitu kegagalan dalam mencapai cita-cita dan kehilangan sesuatu yang dicintai.
- Kegagalan dalam mencapai cita-cita
- Tidak semua cita-cita manusia dapat tercapai; jika semua keinginan manusia terpenuhi, keseimbangan dunia akan terganggu.
- Cita-cita harus disesuaikan dengan kemampuan serta usaha yang sungguh-sungguh.
- Jika suatu cita-cita gagal diraih, segeralah beralih kepada cita-cita lain yang realistis.
- Kehilangan sesuatu yang dicintai
- Segala sesuatu yang dimiliki pasti suatu saat akan hilang; bila sesuatu tidak dimiliki, maka ia tidak akan hilang.
- Kehilangan adalah bagian dari hukum kehidupan; oleh sebab itu, keterikatan berlebihan pada harta atau benda justru akan menimbulkan penderitaan.
- Barang yang dicintai pada hakikatnya hanya titipan Tuhan; maka saat kehilangannya terjadi, yang terbaik adalah menerimanya dengan lapang dada dan menjadikannya pelajaran untuk lebih ikhlas.
- Rasa sedih atas kehilangan harus diubah menjadi kekuatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sebab kesedihan yang berlarut-larut hanya akan melemahkan jiwa dan menghalangi perkembangan diri.
Dengan pemahaman tersebut, seorang warga Setia Hati Terate diajarkan untuk senantiasa menjaga keseimbangan batin, tidak terikat secara berlebihan pada kegagalan maupun kehilangan, serta menjadikan setiap peristiwa sebagai sarana untuk memperkuat kesetiaan hati, memperteguh kepribadian, dan memperluas manfaat bagi sesama.
Mutiara dan Falsafah Setia Hati (SH)
Dalam perjalanan hidup, manusia sering berhadapan dengan situasi yang menuntut kebijaksanaan, keteguhan prinsip, serta keberanian dalam mengambil keputusan. Dalam konteks tersebut, kata-kata mutiara dan falsafah Setia Hati (SH) hadir sebagai sumber inspirasi sekaligus pedoman moral. Falsafah SH diwariskan oleh para pendekar dan tokoh yang memiliki pribadi kuat, tegas, berkarakter, serta penuh semangat perjuangan. Nilai-nilai luhur tersebut mengajarkan keberanian, kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian yang mendalam terhadap sesama, bangsa, serta negara.
Dengan mengamalkan falsafah SH dalam kehidupan sehari-hari, diharapkan seseorang tidak hanya mampu memperbaiki diri, tetapi juga menjadi teladan yang memberi manfaat bagi lingkungan dan menginspirasi orang lain. Berikut adalah beberapa mutiara dan falsafah SH yang patut direnungkan:
- "Menangis dalam kebahagiaan itu banyak, tetapi orang yang mampu tertawa dalam penderitaan jumlahnya sedikit. Siapa yang dapat menyelesaikan penderitaannya dengan hati yang lapang adalah orang hebat."
- "Menunda pekerjaan berarti memperpanjang pekerjaan."
- "Tidak ada keberhasilan tanpa didahului oleh disiplin."
- "Lebih baik datang lebih awal tiga jam daripada terlambat tiga menit."
- "Orang bodoh masih dapat diajari menjadi pintar, tetapi orang yang malas akan sulit diajak maju."
- "Orang cerdas belum tentu cerdik, tetapi orang cerdik pasti cerdas."
- "Ketinggian ilmu bukan jaminan kemenangan, begitu pula keberanian. Kemenangan lahir dari perpaduan antara keberanian, ilmu, ketabahan, dan strategi."
- "Seorang pendekar harus memiliki jiwa yang kuat, ulet, dan tangguh dalam menghadapi cobaan, laksana batu karang di tengah samudra yang tidak runtuh dihantam ombak, tetapi justru semakin kokoh."
- "Sepiro gedhene sengsoro yen tinompo amung dadi coba."
- Falsafah ini mengajak seseorang untuk tidak larut dalam kesedihan dan keputusasaan saat ditimpa musibah atau penderitaan. Penderitaan (sengsoro) yang datang silih berganti, sebesar dan seberat apapun itu, pada hakikatnya adalah sebuah ujian (cobo) dari Tuhan Yang Maha Esa. Cara seseorang menyikapi penderitaan itulah yang akan menentukan nilainya.
- Kunci utama dari falsafah ini terletak pada kata tinompo, yang berarti "diterima". Penerimaan di sini bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sebuah sikap batin yang lapang dada, sabar, dan ikhlas. Dengan menerima kenyataan pahit sebagai bagian dari perjalanan hidup, beban penderitaan tersebut akan terasa lebih ringan.
- "Cik ocak acik, Mrico Polo tak gawe dakon karepku tak gawe becik; dene mbok tampa ala, mangga sak kersa."
- Saya tidak gentar menghadapi siapapun, sekalipun ia hebat, karena seperti permainan dakon, saya akan berusaha menjalani segala sesuatu dengan cara yang baik dan bijak. Jika kemudian ada pihak yang menilainya buruk, maka itu kembali pada pandangan mereka masing-masing.
- "Cilik ora kurang bakal, gede ora turah bakal, waton keno dak ingeti ora ilang tak kedhepi isih ujud manungso jalok opo bakal tag ladeni."
- Sejak kecil manusia telah dibekali dengan potensi yang cukup, tidak kurang dan tidak berlebih. Selama masih mampu diingat dan dijaga dalam kesadaran, pengalaman tersebut tidak akan hilang. Oleh karena itu, selama seseorang masih berwujud manusia, segala bentuk permintaan yang baik akan selalu diusahakan untuk dipenuhi.
- "Kewan gelut kalah gedhe kalah, manungsa gelut kalah gedhe durung karuan."
- (Hewan besar bisa kalah dalam pertarungan, tetapi manusia kecil belum tentu kalah).
- "Sing sopo menang sawenang-wenang ora bakal lestari anggone menang."
- (Siapa yang menang dengan kesewenang-wenangan, kemenangannya tidak akan bertahan lama).
- "Sing sopo salah ora ngakoni kalah bakal lestari anggone salah."
- (Siapa yang tidak mau mengakui kesalahan, akan terjebak dalam kesalahannya sendiri).
- "Manungsa iku bakal ngunduh wohing pakerti."
- (Manusia akan menuai hasil dari perbuatannya).
- "Klabang iku wisane ana ing endase, kalajengking iku ana ing buntute, ula ana ing untune, nanging wong munafik racune ana ing sak awake."
- (Binatang berbisa memiliki racunnya di bagian tertentu, tetapi orang munafik menyebarkan racunnya di seluruh tubuh dan kehidupannya).
- Seorang pendekar SH Terate harus mampu:
- "Menang tanpa ngasorake" (menang tanpa merugikan pihak lain),
- "Ngluruk perang tanpa bala" (menyelesaikan masalah tanpa kekerasan),
- "Sugih tanpa bandha" (makmur tanpa merugikan orang lain),
- "Dekdaya tanpa aji-aji" (berprestasi tanpa mengandalkan kekuatan gaib).
- "Yen siro dibeciki dening liyan, tulisen ing watu supaya ora ilang lan tansah kelingan; yen siro gawe kabecikan, tulisen ing lemah supaya ilang lan ora kelingan."
- (Jika menerima kebaikan orang lain, abadikan dalam ingatan; tetapi jika berbuat baik, biarkan terlupakan agar tidak menjadi kesombongan).
- "Wong linuwih iku sugih welas lan cekak pengapurane."
- (Orang berbudi luhur kaya akan kasih sayang dan mudah memaafkan).
- "Wong kang ora gelem ngudi kabecikan iku sipating demit."
- (Orang yang tidak mau menempuh jalan kebaikan disamakan dengan setan).
- "Ojo seneng gawe gendro jalaran iku sipating demit."
- (Jangan senang berbuat kejahatan, karena itu watak makhluk jahat).
- "Ojo pisan-pisan nyacat dening liyan, amarga ora ana wong kang tanpa cacat."
- (Jangan suka merendahkan orang lain, karena tidak ada manusia yang sempurna).
- "Wong linuwih iku kudu biso ngepek ati lan ngepenakake liyan."
- (Orang yang berbudi luhur harus bisa memahami dan menenangkan hati orang lain).
- "Wong golek iku yen wis oleh weweh, yen wis weweh kudu ngengeh."
- (Orang yang telah menerima sesuatu harus mampu memberi kembali dan menyisakan untuk orang lain; falsafah ini menegaskan pentingnya berbagi dan tidak bersikap egois).
Wasiat dan Kode Etik Persaudaraan Setia Hati Terate
Wasiat Persaudaraan Setia Hati Terate, yang juga dikenal sebagai Pepacuh (Larangan), merupakan landasan moral dan etika yang wajib dipegang teguh oleh setiap warga. Wasiat ini mencakup kewajiban, prinsip, serta larangan yang menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak.
Pasal 1: Kewajiban Dasar Warga
Setiap warga Persaudaraan Setia Hati Terate diwajibkan untuk:
- Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang tua, dan guru.
- Menjaga dan menjunjung tinggi kehormatan organisasi SH Terate.
- Berjiwa ksatria dan teguh dalam pendirian yang berdasarkan kebenaran.
- Menegakkan keadilan dan kebenaran secara objektif tanpa keberpihakan.
- Berani bertindak atas dasar kebenaran dan menghindari perbuatan yang salah.
- Bertanggung jawab penuh atas segala tindakan yang dilakukan.
- Berperan aktif dalam menjaga ketenteraman serta menjunjung tinggi nusa dan bangsa.
- Mewujudkan semangat kemerdekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
- Memelihara persaudaraan yang abadi dan memperkuat semangat solidaritas serta tolong-menolong, baik di lingkungan internal SH Terate maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Pasal 2: Larangan Umum
Warga Persaudaraan Setia Hati Terate tidak diperkenankan untuk:
- Memberikan materi atau pelajaran pencak silat tanpa memiliki mandat resmi (surat kuasa) dari Pengurus Pusat atau Cabang.
- Bersikap arogan, sombong, atau melakukan tindakan yang dapat menyinggung perasaan sesama.
- Memamerkan kemampuan di hadapan umum dengan tujuan kesombongan atau untuk merendahkan orang lain.
- Menggunakan keilmuan pada tempat dan kondisi yang tidak semestinya.
- Menerima atau memperoleh sesuatu melalui cara-cara yang tidak sah atau melanggar hukum.
Pasal 3: Larangan Khusus
Warga Persaudaraan Setia Hati Terate secara tegas dilarang untuk:
- Terlibat dalam perselisihan atau pertengkaran dengan sesama warga.
- Melakukan tindakan merusak terhadap "Pager Ayu".
- Melakukan tindakan merusak terhadap "Purus Hijau".
- Merampas atau mengambil hak yang bukan miliknya.
Pasal 4: Komitmen dan Kepatuhan
Setiap warga Persaudaraan Setia Hati Terate harus senantiasa memegang teguh dan mengamalkan seluruh isi Wasiat ini sebagai pedoman hidup.
Retorika: Seni Berbicara di Hadapan Publik
Retorika adalah seni atau teknik berbicara di hadapan publik secara terstruktur dan persuasif. Tujuan utamanya adalah untuk menyampaikan informasi, gagasan, atau pesan dengan efektif sehingga mampu memengaruhi dan meyakinkan audiens. Pidato yang berhasil tidak hanya bergantung pada isi materi, tetapi juga pada kualitas orator dan strategi penyampaiannya.
Struktur Pidato
1. Kualifikasi Fundamental Seorang Orator (Pembicara)
Seorang orator yang andal harus memiliki perpaduan kompetensi intelektual, integritas personal, dan keterampilan praktis.
- Kompetensi Intelektual:
- Pengetahuan Luas: Menguasai topik yang dibicarakan secara mendalam.
- Perbendaharaan Kata (Diksi): Memiliki kekayaan kosakata untuk menyampaikan gagasan secara presisi dan menarik.
- Analisis Audiens: Mampu menyesuaikan tema, gaya bahasa, dan isi pidato dengan latar belakang audiens (tingkat pendidikan, usia, profesi, dll.).
- Integritas dan Karakter:
- Moralitas: Memiliki rekam jejak dan moral yang baik untuk membangun kepercayaan pendengar.
- Keyakinan Diri: Menunjukkan keyakinan yang tulus terhadap kebenaran dan pesan yang disampaikannya.
- Sikap Profesional: Tampil dengan keramahan dan kerendahan hati, menghindari arogansi.
- Keterampilan Penyampaian:
- Latihan Terstruktur: Disiplin dalam berlatih untuk menguasai materi dan teknik penyampaian.
- Gaya Bahasa Menarik: Menggunakan kalimat yang efektif, jelas, dan sesekali diselingi humor yang relevan untuk menjaga keterlibatan audiens.
- Penampilan Fisik: Menjaga kesehatan fisik dan berbusana dengan sopan, rapi, dan sesuai dengan konteks acara.
2. Anatomi Pidato yang Efektif
Setiap pidato harus memiliki alur yang sistematis agar pesan dapat diterima dengan baik.
- Pembukaan (Introduction):
- Salam Pembuka: Sapaan formal seperti "Assalamualaikum," "Selamat Pagi," atau salam kehormatan lainnya.
- Pendahuluan: Ucapan syukur, terima kasih atas kehadiran audiens, dan pengantar singkat untuk membangun koneksi awal serta menyatakan tujuan pidato.
- Isi Pidato (Body):
- Penyampaian Materi Pokok: Uraian utama yang disampaikan secara jelas, logis, terstruktur, dan mudah diikuti oleh pendengar.
- Penutup (Conclusion):
- Kesimpulan: Ringkasan singkat dari poin-poin utama yang telah disampaikan untuk memperkuat pesan.
- Ajakan atau Harapan (Call to Action): Mendorong audiens untuk berpikir, bertindak, atau menanamkan harapan terkait isi pidato.
- Salam Penutup: Mengakhiri pidato secara resmi.
3. Faktor Eksternal Penunjang Keberhasilan
Keberhasilan sebuah pidato juga dipengaruhi oleh faktor teknis dan lingkungan.
- Sarana dan Prasarana:
- Waktu dan Tempat: Pemilihan jadwal dan lokasi yang kondusif.
- Perangkat Audio: Kualitas pengeras suara yang memadai untuk menjangkau seluruh audiens.
- Fasilitas Panggung: Kondisi podium dan panggung yang layak dan mendukung.
- Manajemen Audiens dan Durasi:
- Volume Suara: Menyesuaikan volume dan intonasi suara dengan jumlah audiens dan akustik ruangan.
- Penguasaan Situasi: Kemampuan untuk membaca kondisi audiens dan melakukan penyesuaian jika diperlukan.
- Manajemen Waktu: Menyampaikan pidato dalam durasi yang efektif untuk menjaga fokus dan menghindari kebosanan.
Prinsip Kunci untuk Diingat
- Fondasi Persiapan: "Siapa pun yang naik ke podium tanpa persiapan matang, akan turun dari podium tanpa penghormatan yang pantas."
- Fondasi Moralitas: "Integritas seorang pembicara adalah modal utamanya. Tanpa moralitas dan kejujuran, pesan sehebat apa pun tidak akan pernah sampai ke hati pendengar."
Analisis Konsep Kepemimpinan: Definisi, Esensi, dan Spektrum Pengaruh
Kepemimpinan secara fundamental adalah proses memengaruhi, membina, dan mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Konsep ini melampaui sekadar manajemen, karena ia menyentuh aspek seni dalam membimbing orang lain. Menurut pandangan Dewan Pusat Setia Hati Terate (oleh Mas Imam), kepemimpinan didefinisikan sebagai seni mempengaruhi dengan cara yang tulus untuk meraih dukungan dan kerja sama. Senada dengan itu, Mas Bambang menekankan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk membuat orang lain mengikuti kehendak pemimpin demi tercapainya sasaran bersama.
Inti dari semua definisi tersebut adalah kemampuan untuk memobilisasi orang lain. Untuk menjadi pemimpin yang efektif, seseorang harus terlebih dahulu memiliki kesadaran diri yang tinggi, yaitu kemampuan untuk mengenal karakter pribadi, memahami dinamika tim, serta situasi dan lingkungan di mana organisasi beroperasi.
Spektrum Teknik Mempengaruhi dalam Kepemimpinan
Seorang pemimpin menggunakan berbagai metode untuk memengaruhi sikap dan perilaku timnya. Metode-metode ini dapat dipetakan dalam sebuah spektrum, dari yang paling inspiratif hingga yang paling direktif.
1. Keteladanan (Leading by Example)
Teknik ini beroperasi dengan menjadikan pemimpin sebagai panutan atau role model. Pemimpin tidak hanya memberi perintah, tetapi secara konsisten menunjukkan perilaku, etika kerja, dan nilai-nilai yang diharapkan dari orang lain.
- Pengaruh terjadi secara tidak langsung melalui proses peniruan (imitasi). Anggota tim menginternalisasi sifat-sifat unggul yang ditampilkan pemimpin, seperti keberanian, integritas, dan profesionalisme; sifat-sifat inilah yang dicontohkan oleh tokoh ksatria Werkudoro dalam filosofi pewayangan.
- Membangun budaya organisasi yang kuat dan perubahan perilaku yang berkelanjutan.
2. Sugesti (Suggestion)
Sugesti adalah seni menanamkan ide atau gagasan secara halus dan meyakinkan, sehingga individu atau kelompok menerimanya tanpa merasa dipaksa. Teknik ini bekerja pada level psikologis untuk membangkitkan motivasi internal.
- Pemimpin menyajikan visi atau argumennya sedemikian rupa sehingga audiens secara sukarela mengadopsinya sebagai pemikiran mereka sendiri.
- Mendorong inisiatif dan komitmen dari dalam diri anggota tim.
3. Persuasi (Persuasion)
Persuasi merupakan pendekatan yang lebih aktif dan terstruktur dibandingkan sugesti. Di sini, pemimpin secara sadar menggunakan argumen logis, daya tarik emosional, serta insentif untuk meyakinkan orang lain agar melakukan tindakan tertentu.
- Pengaruh dibangun melalui dialog, negosiasi, dan penawaran timbal balik yang positif, seperti pujian, pengakuan (recognition), atau janji imbalan (reward).
- Mampu mengubah perilaku secara langsung dan meningkatkan produktivitas secara signifikan, yang tercermin dari semangat kerja dan disiplin tim.
4. Koersi (Coercion/Paksaan)
Ini adalah metode pengaruh yang paling keras, yang mengandalkan tekanan atau ancaman untuk memaksakan kepatuhan. Pemimpin menggunakan otoritasnya secara mutlak untuk memastikan perintahnya diikuti.
- Pengaruh dicapai melalui penerapan sanksi, aturan yang kaku, atau bentuk tekanan lain yang membuat individu tidak memiliki pilihan selain patuh.
- Efektif untuk hasil jangka pendek atau dalam situasi krisis, namun berisiko merusak moral, kreativitas, dan loyalitas jangka panjang.
Pemimpin yang bijaksana tidak bergantung pada satu metode saja, melainkan mampu secara fleksibel memilih dan mengombinasikan keempat teknik di atas sesuai dengan situasi, tingkat kedewasaan tim, dan tujuan yang ingin dicapai.
Tipologi Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi
Gaya kepemimpinan seorang manajer atau pimpinan secara signifikan memengaruhi budaya, produktivitas, dan dinamika sebuah organisasi. Memahami berbagai tipe kepemimpinan menjadi esensial untuk mengidentifikasi pendekatan yang paling efektif dalam situasi tertentu. Berikut adalah analisis dari tiga gaya kepemimpinan yang umum dijumpai: otokratis, militeristis, dan paternalistis.
1. Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya kepemimpinan otokratis ditandai oleh sentralisasi kekuasaan mutlak pada pemimpin. Pemimpin dengan tipe ini bertindak sebagai penguasa tunggal dalam pengambilan keputusan dan memiliki kontrol yang sangat ketat terhadap bawahan.
Ciri-ciri utamanya meliputi:
- Sentralisasi Kekuasaan: Cenderung memandang organisasi sebagai properti pribadi dan menyamakan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
- Pandangan Instrumental: Memperlakukan bawahan sebagai instrumen atau alat semata untuk mencapai tujuan, bukan sebagai individu yang berkontribusi.
- Resistensi terhadap Masukan: Menolak atau tidak bersedia menerima kritik, saran, dan pendapat konstruktif dari bawahan.
- Pendekatan Koersif: Mengandalkan metode paksaan dan sanksi (hukuman) sebagai alat utama untuk menggerakkan dan mendisiplinkan tim.
2. Gaya Kepemimpinan Militeristis
Meskipun sering disamakan dengan otokratis, tipe militeristis memiliki penekanan yang khas pada struktur, hierarki, dan disiplin formal. Gaya ini mengadopsi sistem komando yang kaku dalam operasionalnya.
Ciri-ciri utamanya meliputi:
- Sistem Komando: Menggunakan instruksi dan perintah langsung sebagai metode utama dalam menggerakkan bawahan.
- Penekanan pada Formalitas: Sangat menjunjung tinggi formalitas, prosedur, serta status yang melekat pada pangkat dan jabatan.
- Tuntutan Kepatuhan Absolut: Mengharapkan disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak tanpa pertanyaan dari seluruh anggota tim.
- Tertutup terhadap Kritik: Serupa dengan tipe otokratis, pemimpin ini sulit menerima kritik atau masukan yang datang dari bawahan.
3. Gaya Kepemimpinan Paternalistis
Gaya paternalistis memosisikan pemimpin sebagai figur "bapak" yang membimbing dan melindungi bawahannya. Pendekatan ini bersifat direktif namun dilandasi oleh kebajikan dan perhatian terhadap kesejahteraan tim.
Ciri-ciri utamanya meliputi:
- Pendekatan Humanis: Berlandaskan pada pandangan bahwa setiap individu adalah makhluk mulia yang hak-haknya harus dihargai.
- Harmonisasi Tujuan: Selalu berusaha menyelaraskan tujuan organisasi dengan kepentingan dan aspirasi pribadi para bawahan.
- Keterbukaan terhadap Saran: Bersedia dan senang menerima saran serta masukan dari anggota tim dalam proses pengambilan keputusan.
- Fokus pada Kolaborasi: Mengutamakan kerja sama tim sebagai fondasi untuk mencapai tujuan bersama.
- Mendukung Pengembangan: Memberikan kebebasan dan toleransi terhadap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, kemudian secara aktif membimbing bawahan untuk perbaikan.
- Pemberdayaan Kapasitas: Berusaha untuk secara kontinu mengembangkan potensi dan kapasitas, baik pada dirinya sendiri maupun pada setiap anggota timnya.
Asas dan Fungsi Kepemimpinan
Asas kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang berlandaskan kebenaran fundamental yang digali dari kepribadian serta kebudayaan bangsa. Oleh karena itu, asas kepemimpinan di Indonesia seyogianya berlandaskan pada falsafah bangsa, yakni Panca SH yang mencerminkan nilai-nilai luhur Panca Dasar Setia Hati. Kepemimpinan yang demikian tidak hanya menegaskan karakter bangsa, tetapi juga membangun arah moral dan etika bagi para pemimpin dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Sebelas Asas Kepemimpinan
Manifestasi kepemimpinan yang selaras dengan nilai Pancasila tercermin dalam 11 asas kepemimpinan, yaitu:
- Taqwa
- Pemimpin harus bertaqwa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan Yang Maha Esa, ikhlas dalam menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Taqwa melahirkan ketentraman, kesabaran, tawakal, dan keteguhan hati sehingga pemimpin dapat menjadi teladan dan menjalankan amanah dari Allah serta kepercayaan dari manusia.
- Ing Ngarso Sung Tulodho
- Pemimpin harus berdiri di depan untuk memberi suri teladan yang baik, menjauhkan diri dari perilaku tercela, serta menunjukkan integritas dalam setiap tindakan.
- Ing Madyo Mangun Karso
- Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat anak buah melalui hubungan yang akrab, terbuka, kekeluargaan, obyektif, dan penuh saling pengertian.
- Tut Wuri Handayani
- Pemimpin perlu memberikan dorongan dan motivasi agar bawahan berprestasi tanpa bertindak sewenang-wenang.
- Waspodho Purbawasesa
- Pemimpin wajib senantiasa waspada, berani memberi koreksi yang benar, mencegah pengaruh negatif yang dapat merusak mental, moral, dan disiplin anggota, serta mampu mengapresiasi dedikasi dan prestasi bawahan.
- Ambek Parumarto
- Pemimpin harus mampu menentukan prioritas tindakan secara tepat dengan prinsip ekonomis, efektif, dan efisien demi mengurangi risiko dan meningkatkan hasil kerja.
- Prasojo
- Pemimpin harus memiliki sikap sederhana, kreatif dalam berpikir, serta mampu menyelesaikan permasalahan dengan kritis dan inovatif.
- Setia
- Pemimpin dituntut memiliki loyalitas tinggi dan rela berkorban demi kepentingan bawahan serta organisasi. Sikap ini memperkuat kepercayaan dan membangun hubungan yang harmonis.
- Gemi Nastiti
- Pemimpin harus bijaksana dalam mengelola keuangan organisasi, mengutamakan kepentingan yang benar-benar mendesak, dan menjaga pengeluaran secara hemat.
- Bloko
- Pemimpin wajib berani bertanggung jawab atas segala tindakannya, mengakui kesalahan, dan menunjukkan jiwa ksatria tanpa menutup-nutupi kekurangan.
- Legowo
- Pemimpin harus memiliki kerendahan hati untuk merelakan jabatannya pada saat yang tepat serta mempersiapkan regenerasi kepemimpinan demi keberlangsungan organisasi.
Norma dan Ciri-Ciri Pemimpin yang Baik
Seorang pemimpin yang baik harus memiliki keunggulan dalam sikap, pemikiran, serta kepribadian, baik rohani maupun jasmani, dibandingkan mereka yang dipimpin. Adapun norma dan ciri-ciri kepemimpinan yang baik antara lain:
- Berwibawa,
- Jujur dan terpercaya,
- Bijaksana dalam mengambil keputusan,
- Mengayomi bawahan,
- Berani mawas diri dan korektif,
- Visioner serta mampu melihat ke depan,
- Berani dan mampu menghadapi kesulitan,
- Tegas, wajar, dan bertanggung jawab,
- Sederhana namun penuh pengabdian,
- Mempunyai rasa ingin tahu dan dorongan untuk belajar, serta terbuka terhadap masukan dari bawahan demi tercapainya tujuan organisasi.
Hakikat kepemimpinan terletak pada kemampuan mengambil keputusan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus senantiasa berhati-hati, penuh pertimbangan, serta berani mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil dengan segala risiko yang mungkin timbul.
Arti Pembukaan PSHT
Makna Pembukaan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate adalah rangkaian gerakan persiapan sebelum memulai sambung (latihan tanding) yang sarat akan makna filosofis dan berfungsi sebagai "salam pembuka" khas perguruan. Diawali dengan jabat tangan yang melambangkan persaudaraan abadi dengan prinsip "tega larane ora tega patine," rangkaian gerak ini menunjukkan bahwa pertandingan semata-mata untuk menguji keahlian, bukan dilandasi dendam.
Gerakannya dimulai dari sikap hormat dengan kedua telapak tangan menyatu di depan ulu hati, kemudian berlanjut dengan menggeser kaki kanan sambil mengacungkan dua jari (telunjuk dan tengah) yang menyentuh tanah (simbol ibu pertiwi), mengarah ke atas (simbol bapak angkasa), menempel di pelipis (simbol berpikir), lalu mengepal untuk memukul ke arah lawan sambil diimbangi tangkisan tangan kiri.
Urutan gerakan yang sama kemudian diulangi pada sisi kiri, dan diakhiri dengan kembali ke sikap hormat semula, yang secara keseluruhan mencerminkan penghormatan kepada sesama, alam semesta, dan penggunaan akal pikiran sebelum kekuatan fisik.
Makna Mori PSHT
Mori PSHT adalah sabuk sakral berwarna putih yang dikenakan oleh anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sebagai simbol kesucian, kepasrahan kepada Tuhan, dan pengingat akan kefanaan hidup.
Piagam Hakikat Hidup
Sesungguhnya, hakikat hidup berkembang sesuai dengan kodrat dan iramanya masing-masing menuju kesempurnaan. Kehidupan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan pada akhirnya bermuara kepada keabadian, yakni kembali kepada Causa Prima sebagai asal mula segala sesuatu.
Segala yang ada di dunia ini bergerak melalui tahapan demi tahapan. Namun, tidak semua manusia menyadari bahwa apa yang selama ini dikejar sesungguhnya telah tersimpan di lubuk hati nurani.
Setia Hati menyadari dan meyakini hakikat kehidupan tersebut, serta mengajak warganya untuk menyingkap tabir hati nurani, tempat "sang mutiara hidup" bertahta.
Pencak Silat dalam Ajaran Setia Hati
Pada tahap awal, Pencak Silat menjadi salah satu ajaran utama dalam Setia Hati. Pencak Silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan olahraga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk menjaga kehormatan, keselamatan, serta kebahagiaan dengan berlandaskan kebenaran terhadap setiap bentuk ancaman.
Namun, Setia Hati menegaskan bahwa sumber utama dari segala rintangan, malapetaka, dan lawan sejati dari kebenaran hidup bukanlah manusia atau kekuatan dari luar diri, melainkan berasal dari dalam diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu, Pencak Silat hanyalah sarana untuk mempertebal kepercayaan pada diri sendiri serta jalan untuk mengenal jati diri.
Hakikat ajaran Setia Hati tidak berhenti pada dimensi jasmani atau keduniawian semata. Lebih dari itu, ia merupakan pendidikan kejiwaan yang mengantarkan manusia menuju kepuasan hidup abadi, terbebas dari pengaruh duniawi yang bersifat sementara.
Sebagai bentuk lahiriah dan sarana pengikat persaudaraan, dibentuklah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sebagai wadah pemersatu saudara-saudara Setia Hati sekaligus lembaga yang menjadi pembawa serta pemancar cita-cita luhur.
Nilai dan Karakter Setia Hati
- Manusia yang berjiwa kuat adalah mereka yang tidak mudah mencari alasan, tetapi tegas dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan.
- Berbudi luhur menurut Setia Hati berarti mampu membedakan antara benar dan salah, serta senantiasa memilih jalan kebenaran dengan akal sehat.
Pedoman Setia Hati Terate
- "Nandur telo thukul telo, nandur becik thukul becik, nandur olo thukul olo."
- Artinya: siapa menanam kebaikan akan menuai kebaikan, siapa menanam keburukan akan mendapat balasan keburukan.
- Orang Setia Hati bersifat mengalah, tetapi mengalah ada batasnya. Segala persoalan diselesaikan secara baik dan damai, namun jika kebaikan dianggap kelemahan, maka Setia Hati akan menghadapinya dengan keberanian.
- Musuh tidak perlu dicari, tetapi bila ada musuh jangan lari.
- Filosofi ini bermakna:
- Ora wani artinya tidak berani menyerang lebih dahulu.
- Ora wedi artinya berani jika ada pihak yang berusaha menghancurkan diri kita.
- "Sing sopo menang sewenang ora bakal lestari, nanging sing sopo kalah ora ngakoni kalah, bakal lestari anggone kalah."
- Maknanya: kemenangan yang diperoleh dengan kesewenang-wenangan tidak akan langgeng, begitu pula kekalahan yang tidak disadari akan terus membelenggu.
- Seorang pendekar tidak harus berbadan besar. Kekuatan sejati terletak pada kepribadian, pengendalian diri, dan keteguhan hati.
- "Gono lan lopo kalah kalawan sabar lan narimo."
- Artinya: segala bentuk kesulitan dapat dikalahkan dengan kesabaran dan penerimaan yang tulus.
- "Suro Dhiro Joyo Ningrat, Lebur Dening Pangastuti."
- Artinya: segala bentuk kekuatan dan kesaktian dapat luluh oleh kasih sayang dan ketulusan.
- "Sopo suci adoh beboyo pati, sopo kakehan milik bakal kaliren wekhasane."
- Maknanya: orang yang menjaga kesucian diri akan terhindar dari bahaya kematian, sedangkan orang yang tamak pada akhirnya akan sengsara.
Pepacuh Larangan Setia Hati Terate
Larangan Menyerang Terlebih Dahulu
Seorang warga Setia Hati Terate (SH Terate) dilarang untuk menyerang lebih dahulu. Hal ini sesuai dengan wejangan Ki Ageng Suro yang menyatakan:
"Wong sing ora gelem nyerang dhisik iku akeh selamete tinimbang cilakhane."
(Orang yang tidak menyerang lebih dahulu akan lebih banyak memperoleh keselamatan dibandingkan celaka).
Alasan Larangan Menyerang Dahulu
Orang yang berniat menyerang lebih dahulu pada hakikatnya menyimpan niat untuk menghancurkan. Padahal, hukum menghancurkan adalah hak mutlak Allah SWT, Sang Pemilik kehidupan. Allah tidak akan merelakan ciptaan-Nya dirusak, terlebih apabila ciptaan itu memberi banyak manfaat di dunia. Oleh sebab itu, orang yang menahan diri untuk tidak menyerang lebih dahulu akan mendapatkan lebih banyak keselamatan dibandingkan celaka.
Namun demikian, jika seseorang diserang atau dipukul terlebih dahulu, maka ia berhak membela diri. Akan tetapi, sikap yang lebih utama adalah memaafkan.
Ungkapan Jawa menyatakan:
"Awakku iki titipane sing gawe urip, yaiku Gusti Allah SWT."(Tubuh ini adalah titipan dari Sang Pencipta, yakni Allah SWT).
Maka, kewajiban seorang manusia adalah menjaga, merawat, dan memelihara titipan tersebut. Apabila tubuh kita hendak dirusak orang lain, maka sejatinya yang murka bukan hanya diri kita, melainkan Allah SWT sebagai Pemilik kehidupan. Oleh karena itu, seorang warga SH harus senantiasa menjaga diri dan tidak boleh bertindak merusak.
Larangan Merusak "Pager Ayu / Pager Bagus"
Warga SH dilarang merusak Pager Ayu atau Pager Bagus, yang tidak hanya bermakna larangan untuk berkelahi secara fisik, tetapi juga mencakup larangan bertengkar, berselisih, atau menimbulkan dendam sesama warga SH.
Makna lain dari "Pager Ayu" adalah menjaga kehormatan rumah tangga orang lain. Seorang warga SH dilarang mengganggu atau menggoda pasangan yang sudah menikah. Misalnya, mengetahui bahwa seseorang telah berkeluarga tetapi tetap berusaha merayu atau mendekatinya. Tindakan semacam ini hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan, keretakan, dan pelanggaran nilai luhur persaudaraan.
Larangan "Kupus Ijo" (Merusak Gadis Perawan)
Warga SH juga dilarang melakukan tindakan yang disebut "Kupus Ijo", yaitu merusak kehormatan seorang gadis remaja atau wanita yang masih perawan. Larangan ini mengajarkan bahwa hubungan pertemanan atau percintaan harus dijaga dalam batas-batas yang sehat, bermartabat, dan bertanggung jawab, tanpa melibatkan perilaku seksual yang merugikan dan tidak bermoral.
Larangan Berkelahi Antar Sesama Warga SH
Warga SH dilarang berkelahi dengan sesama anggotanya. Larangan ini tidak hanya terbatas pada perkelahian fisik, tetapi juga mencakup pertengkaran, perdebatan, dan perselisihan yang dapat menimbulkan dendam, perpecahan, dan perasaan tidak nyaman di antara saudara seperguruan.
Inti Larangan
Prinsip dasar larangan-larangan SH Terate adalah menjaga keselamatan diri, kehormatan, dan persaudaraan. Seorang warga SH harus mampu menahan diri, mengendalikan emosi, serta menjaga sikap dalam pergaulan, baik dengan sesama warga maupun dengan masyarakat luas. Dengan demikian, nilai luhur Setia Hati Terate dapat terwujud dalam bentuk persaudaraan sejati yang damai, bermartabat, dan diridai Tuhan Yang Maha Esa.
Arti Persaudaraan dan Setia
Arti Kata Persaudaraan dan Setia
Persaudaraan
Persaudaraan adalah suatu ikatan batin antara sesama manusia yang memiliki sifat layaknya saudara sekandung, meskipun tidak terhubung melalui darah atau garis keturunan.
Setia
Setia adalah kesanggupan jiwa manusia untuk menanggung bersama segala cobaan kehidupan. Kesetiaan tidak bergantung pada hubungan kekerabatan, melainkan pada komitmen batin untuk saling menopang, baik kepada yang bersaudara maupun kepada sesama manusia lainnya.
Persaudaraan dalam Setia Hati (SH)
Dalam lingkungan Setia Hati, persaudaraan dijalankan berdasarkan hukum kebenaran dan kesalahan, yaitu:
- Apabila kebenaran seseorang lebih banyak daripada kesalahannya, maka orang tersebut dianggap benar.
- Apabila kesalahannya lebih banyak daripada kebenarannya, maka orang tersebut dianggap salah.
- Setiap laporan atau berita yang diterima harus dipertimbangkan dengan bijaksana; diterima sebagai informasi, namun tidak serta-merta dijadikan keyakinan sebelum terbukti kebenarannya.
Bukti Persaudaraan
Persaudaraan dalam SH tercermin melalui:
- Adanya sambung Antar Siswa dan Antar Warga / (hubungan batin yang erat).
- Saling mong tinemong (saling menemukan dan memahami).
- Saling tolong-menolong.
- Tidak adanya sikap sentimen atau permusuhan.
Cara Memelihara Persaudaraan
Untuk menjaga kelestarian persaudaraan, warga SH wajib memperhatikan hal-hal berikut:
- Jangan memutuskan persaudaraan hanya karena kesalahan yang sepele.
- Kesalahan kecil sebaiknya dimaafkan demi menjaga keharmonisan.
- Orang yang berbudi luhur akan mengalah dalam persoalan kecil, namun rela berkorban hingga titik darah penghabisan untuk persoalan besar yang menyangkut prinsip dan tidak dapat digantikan oleh apapun.
- Orang yang dekat dengan Tuhan adalah orang yang juga disenangi oleh banyak orang.
- Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap kekurangan dan kelemahannya.
- Semakin banyak ia menghadapi cobaan, semakin besar pula peluang mendapatkan pahala dan semakin dekat dengan Tuhannya.
Ciri-Ciri Warga SH dan Kewajibannya
Ciri khas seorang warga SH sekaligus kewajiban yang melekat pada dirinya antara lain:
- Ora nggumunan : tidak mudah terkejut atau heran.
- Bijaksana : mampu bertindak dengan adil dan tepat.
- Ora dahuen : tidak mudah mengeluh.
- Melatih, yang berarti:
- Ikut membimbing orang lain.
- Ikut mempertahankan kebenaran.
- Ikut menciptakan manusia baru yang berkarakter luhur.
- Berbicara : menyampaikan kata-kata yang menyejukkan dan mendidik.
- Memberi contoh : menjadi teladan nyata bagi orang lain.
- Dalam masyarakat, menjunjung prinsip: "Olo tanpa rupa yen lumandang umung sedelo" (segala keburukan tanpa dasar hanya bersifat sementara dan akan sirna dengan sendirinya).
Etika SH Terate
Etika yang harus dijunjung tinggi oleh setiap warga SH Terate adalah:
- Saling menghormati antar sesama.
- Saling bertanggung jawab terhadap diri, organisasi, dan masyarakat.
- Saling mencintai dalam semangat persaudaraan yang tulus dan murni.
Hal-hal yang Perlu Diketahui dalam SH Terate
Mengapa pembelaan diri di SH Terate dianjurkan melalui Pencak Silat dan bukan yang lain?
Hal ini dikarenakan Pencak Silat dalam SH Terate merupakan bentuk pembelaan diri yang diwariskan langsung oleh para pini sepuh sebagai pegangan hidup bagi warganya. Selain itu, Pencak Silat SH Terate adalah warisan budaya asli bangsa Indonesia, sehingga memiliki nilai luhur, identitas, dan filosofi yang mendalam.
Adapun prinsip-prinsip yang harus dipahami seorang warga SH Terate antara lain:
- Seorang SH Terate tidak memiliki niat untuk mengalahkan orang lain, namun juga tidak perlu merasa khawatir jika suatu saat menghadapi lawan yang lebih kuat.
- Seorang SH Terate berpegang pada prinsip “tega larane, ora tega patine” (berani menyakiti jika diperlukan untuk membela diri, tetapi tidak sampai berniat menghilangkan nyawa).
- Seorang SH Terate tidak pernah merasa kesepian, karena persaudaraan menjadi sumber kekuatan batin.
- Dalam menghadapi kesulitan, seorang SH Terate tidak mengenal jalan buntu. Tantangan yang berat justru dianggap sebagai bagian dari pembelajaran dan kebiasaan hidup.
- Salah satu sarana mempererat persaudaraan dalam SH Terate adalah melalui latihan jasmani, khususnya Pencak Silat.
- Seorang SH Terate tidak boleh cepat marah; setiap tindakan harus dipertimbangkan secara matang.
- Dalam situasi sulit, seorang SH Terate harus mampu bersikap bijak dan menjadi pelopor penyelesaian masalah.
- Segala bentuk berita atau laporan sebaiknya didengarkan terlebih dahulu, tetapi tidak langsung ditelan mentah-mentah. Semua informasi perlu diverifikasi dengan bukti empiris agar tidak mudah terombang-ambing (kabur kanginan).
- Seseorang dapat terjerumus dalam dosa bukan hanya karena berbuat sesuatu, tetapi juga karena lalai atau abai.
- Falsafah Jawa mengajarkan: “Wong iku yen diwenehi patine ketemu uripe, diwenehi rekasane ketemu bejone, yen sing digoleki kesalahane malah ketemu cilakane.” (Manusia yang sabar dalam menghadapi penderitaan pada akhirnya akan menemukan keberkahan; sebaliknya, yang hanya mencari kesalahan orang lain justru menemukan celakanya sendiri).
- Pada umumnya manusia memiliki empat macam rasa takut:
- Takut malu
- Takut salah
- Takut sakit
- Takut mati
- Namun sebenarnya, ketakutan itu tidak perlu mendominasi, sebab:
- Rasa malu adalah hal yang wajar dan pasti pernah dialami setiap orang.
- Kesalahan adalah bagian dari perjalanan hidup manusia.
- Sakit merupakan pengalaman yang pasti dialami setiap manusia.
- Kematian adalah kepastian yang akan dialami semua makhluk hidup.
- Sakit sendiri terbagi menjadi tiga macam:
- Sakit karena faktor alamiah (kodrati), dapat disembuhkan.
- Sakit karena ulah orang lain, juga dapat disembuhkan.
- Sakit akibat perilaku dan perbuatan sendiri (ngundhuh wohing pakarti), tidak dapat disembuhkan.
- Agar sambung (latihan tanding) dapat berlangsung dengan baik, maka harus diperhatikan:
- Penguasaan dasar (senam dan jurus).
- Teknik praktek yang benar.
- Keteguhan hati (tatak ing ati), yaitu mantap dalam keyakinan, perkataan, dan perbuatan.
- Dalam SH Terate tidak dikenal sistem seperti bapakisme, sentralisme, kyaiisme, dan sejenisnya.
- Contoh: Dalam sistem bapakisme, apabila pemimpin kalah maka semua dianggap kalah. Sedangkan dalam SH Terate, kekalahan satu orang tidak serta-merta berarti kekalahan seluruhnya. Filosofi yang dipegang adalah:
- “Menang kowe bejo kowe, ciloko aku; dene yen kowe kalah yo ojo alok” (Jika engkau menang itu keberuntunganmu, jika aku celaka itu risikoku; tetapi jika engkau kalah, janganlah menyalahkan orang lain).
- Persaudaraan SH Terate bersifat kekal dan abadi karena dibangun atas dasar:
- Kesabaran dalam menghadapi setiap ujian.
- Kemampuan mengenal ukuran antara benar dan salah.
- Tidak adanya istilah “pensiun” dalam berlatih Pencak Silat.
- Sikap musyawarah yang terbuka, di mana setiap laporan diterima dengan baik, namun tidak semua harus dimasukkan dalam hati.
- Upaya menghilangkan rasa bosan dengan terus memperkaya pengalaman hidup.
- Pencak Silat diibaratkan seperti senjata api. Jika berada di tangan orang yang salah, misalnya penjahat, maka akan digunakan untuk perbuatan tercela. Namun, bila berada di tangan pihak yang benar, seperti aparat keamanan, maka akan menciptakan ketertiban dan rasa aman.
- Konsep karma tidak berlaku dalam kewajiban. Sebagai contoh, tindakan membunuh dalam konteks perang bukanlah perbuatan tercela, melainkan pelaksanaan kewajiban demi kebenaran dan keadilan.
- Orang yang berjiwa besar biasanya mampu mengalah dalam hal-hal kecil, karena ia menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas ego pribadi.
- Kesempurnaan hidup manusia seringkali digambarkan dalam tokoh-tokoh pewayangan, seperti:
- Janaka
- Pandhawa
- Kresna
- Ciri-ciri orang yang telah sempurna ilmunya antara lain:
- Tidak mudah terpesona (ora nggumunan).
- Tidak mudah terkejut atau panik (ora kagetan).
- Bersikap pendiam, namun penuh perenungan.
- Memiliki keyakinan yang mantap dan keberanian untuk menjalani prinsip hidupnya (yakin lan wani ngelakoni).
- Syarat-syarat hidup manusia digambarkan melalui tiga ciri utama:
- Wiryo (kehormatan diri).
- Arto (kemampuan mengelola harta benda).
- Winasih (kasih sayang atau cinta dari sesama).
- Namun demikian, semua hal tersebut tidaklah langgeng. Yang abadi hanyalah perbuatan manusia itu sendiri.
- Keterangan:
- Dalam ajaran SH Terate disebutkan bahwa manusia tidak akan menderita apabila hidup selaras dengan panggilan hidup dan kehendak alam. SH memiliki ukuran pandangan hidup yang mendalam, yakni “kenalilah dirimu sendiri.” Dengan mengenal diri, seseorang akan memahami tempat, fungsi, dan perannya di dunia.
- Setiap manusia berhak hidup bahagia dan sejahtera. Bila seseorang tidak merasakan kebahagiaan, maka ia belum menempati tempat hidupnya secara benar. SH Terate didirikan bukan hanya untuk mencapai kebahagiaan duniawi, tetapi juga kebahagiaan akhirat.
- Dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang dianggap baik bila mampu berbagi dalam kebersamaan. Namun, jika ia telah disahkan menjadi warga SH Terate tetapi tidak mengembangkan ilmunya, maka ia dianggap lalai dan berdosa. Kegagalan terbesar adalah ketika seseorang tidak berani memperjuangkan dan mengulangi cita-citanya sendiri.
- Kesabaran dalam perspektif SH adalah keyakinan penuh terhadap diri sendiri, dan yakin bahwa setiap cita-cita dapat tercapai bila diperjuangkan dengan tekad yang konsisten.
- SH Terate didirikan dengan tujuan yang luhur. Organisasi ini tidak hanya berfokus pada mempelajari Pencak Silat, melainkan juga pada pembentukan jati diri. Melalui Pencak Silat, anggota SH Terate diajarkan untuk memiliki rasa percaya diri, jiwa yang sehat, serta fisik yang kuat.
- Ajaran SH Terate menegaskan bahwa manusia tidak akan benar-benar menderita selama ia memenuhi panggilan hidupnya. Dengan demikian, jelas bahwa SH Terate berdiri dengan tujuan utama untuk mengamalkan kebaikan dalam kehidupan.
- Persatuan menjadi fondasi penting SH Terate. Dengan bersatu, manusia dapat merasakan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Karena manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya, maka diharapkan ia dapat menjalani hidup dengan kebahagiaan dan keberkahan.
- Manusia diyakini mampu mengubah nasibnya sendiri, asalkan:
- Memiliki pola pikir yang sehat.
- Memiliki intuisi dan perasaan yang jernih (good feeling).
- Menyadari bahwa di SH Terate tidak dikenal istilah “ndisiki kersaning Allah SWT” (mendahului kehendak Allah), sebab kehendak Allah tidak pernah bisa didahului.
- Manusia berbudi luhur adalah manusia yang menjauhi kesalahan serta mampu berbakti kepada:
- Tuhan Yang Maha Esa.
- Kedua orang tua.
- Guru dan sesamanya.
- Hukum manusia berlaku ketika seseorang melanggar tata tertib yang telah ditetapkan oleh pemimpin. Pelanggaran tersebut akan berakibat pada hukuman atau sanksi yang sesuai.
- Hukum Tuhan Yang Maha Esa berlaku ketika seseorang menegakkan agama. Barang siapa menaati perintah-Nya akan mendapatkan pahala, sedangkan yang melanggar perintah-Nya akan menanggung dosa.
- Larangan bagi warga SH Terate antara lain:
- Tidak diperbolehkan menyerang lebih dahulu dalam perkelahian.
- Tidak diperbolehkan merusak pager ayu atau batas kesopanan.
- Tidak diperbolehkan merusak poros ijo (tatanan atau keseimbangan hidup).
- Tercapainya suatu tujuan luhur dalam SH Terate mensyaratkan:
- Resik ing ati (hati yang bersih).
- Manteb ing tekad (kemantapan dalam niat).
- Menenging ing budi (kejernihan budi).
- Kareping laku (kebenaran dalam tindakan).
- Falsafah Jawa dalam SH Terate mengajarkan:
- “Wong urip iku mesti kelangan, lan kudu keno kanggo memayu hayuning bawono.” Artinya, hidup manusia pasti mengalami kehilangan, namun harus dimaknai untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
- Filosofi SH Terate juga tercermin dalam lambang bunga terate:
- “Kumpul ora awor, cedak ora sanggolan” (berkumpul tanpa melebur, dekat tanpa saling bertabrakan). Maknanya adalah menjaga keharmonisan dalam kebersamaan tanpa menghilangkan jati diri.
- Pencak Silat kerap dipertunjukkan sebagai bentuk pelestarian budaya. Hal ini untuk mengingatkan bahwa Pencak Silat tidak sekadar bela diri, melainkan juga mengandung nilai kesenian serta mencerminkan kepribadian luhur bangsa Indonesia.
- SH Terate tidak bergantung pada satu agama tertentu. Sebaliknya, SH mengakui seluruh agama yang baik, selama agama tersebut mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.
- Kepercayaan tanpa pengertian tidaklah kokoh. Tanpa pemahaman, kepercayaan akan mudah goyah dan tidak memberikan pijakan yang benar.
- Segala sesuatu yang menimpa manusia bersumber dari dirinya sendiri. Setiap orang akan menempati posisi sesuai dengan keyakinan, tindakan, serta pandangan hidup yang ia anggap benar untuk dirinya.
Hal Penting untuk Pelatih
- Peran Pelatih
- Seorang pelatih harus mampu membimbing dan mengarahkan siswanya dengan baik. Apabila seorang pelatih tidak kompeten, maka ia dapat dimanfaatkan atau dipengaruhi oleh siswa yang kurang disiplin.
- Kepatuhan dan Pengesahan Warga
- Seorang warga yang telah disahkan dan diakui memiliki nilai kegunaan serta tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan seribu siswa yang belum disahkan.
- Ekonomi Gerakan
- Gerakan yang efisien adalah gerakan yang tidak menghabiskan tenaga secara berlebihan. Contohnya ialah gerakan yang dilakukan tanpa mengeluarkan nafas berlebih sehingga tidak cepat menimbulkan kelelahan.
- Sikap Siswa dalam Latihan
- Siswa yang sering gelisah, pandangannya berpindah-pindah, atau hanya bergurau selama latihan menunjukkan sikap yang tidak serius. Sikap demikian tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam lingkungan SH Terate, sehingga pelatih harus menekankan pembinaan disiplin.
Taktik Menghadapi Lawan Lebih dari Satu Orang
Beberapa prinsip dasar yang harus dipahami ketika menghadapi lebih dari satu lawan adalah sebagai berikut:
- Hindari kondisi terkepung dan usahakan selalu memiliki ruang untuk bergerak.
- Manfaatkan medan pertempuran atau lingkungan sekitar untuk keuntungan taktis.
- Netralisir lawan yang paling lemah terlebih dahulu agar jumlah lawan berkurang.
- Hindari melakukan gerakan bawah yang dapat merugikan posisi sendiri.
- Lakukan tangkisan dengan menggunakan lengan agar keseimbangan tetap terjaga.
- Apabila musuh berada di depan gunakan tendangan depan (disebut tendangan “A”), sedangkan apabila musuh berada di samping gunakan tendangan samping (disebut tendangan “T”).
- Lakukan gerakan berputar untuk menjaga momentum sekaligus memberi kesempatan mengambil nafas.
- Hemat penggunaan tenaga dan jangan terburu-buru mengeluarkan tenaga secara berlebihan.
Apabila Menghadapi Tamu yang Mencurigakan (lebih dari satu orang) dalam Keadaan Duduk di Kursi
- Pilihlah kursi yang berada di sudut atau pojok ruangan sehingga memiliki posisi yang lebih aman.
- Jika terpaksa menyerang sendirian, kursi dapat dimanfaatkan sebagai pelindung sekaligus alat bantu. Pegang kursi dengan kuat, ayunkan sebagai penghalang, sementara kaki dapat digunakan untuk menyerang lawan.
- Jika lawan menyerang secara bersamaan, lakukan loncatan sambil berdiri di atas kursi untuk menciptakan ruang gerak. Dari posisi ini, lawan dapat dihadapi dengan tendangan yang lebih efektif.
Catatan untuk Pelatih:
Semua teknik pertahanan maupun penggunaan benda sekitar, seperti kursi, harus diajarkan dengan penuh tanggung jawab. Latihan perlu dilakukan dalam situasi terkontrol, dengan pengawasan, serta menggunakan perlindungan yang memadai. Dalam setiap keadaan, keselamatan dan pencegahan tetap menjadi prioritas utama.
Sospel
- Tujuan
- Sospel bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat teknik pencak silat melalui gerakan yang utuh dan terarah. Selain itu, latihan ini juga berfungsi untuk mempertahankan prestasi sekaligus mempertajam kepekaan dalam menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
- Prinsip Kerahasiaan
- Dalam pelaksanaan sospel, setiap gerakan tidak boleh dilakukan secara berlebihan atau dengan pikiran yang menganggap diri paling benar dan gagah. Semua gerakan harus mengalir secara alami, tanpa kesan dipaksakan.
- Makna Isi Gerakan
- Rangkaian gerakan dalam sospel menggambarkan situasi saat menghadapi lawan, sehingga diperlukan penghayatan agar pesan yang ingin disampaikan melalui gerakan dapat tersampaikan dengan jelas.
- Ekspresi dan Mimik
- Seorang pesilat harus menjaga ekspresi wajah agar terlihat berwibawa, menghindari gerakan melelet atau plilikan yang dapat mengurangi kesan. Apabila ada irama pengiring, gerakan harus disesuaikan dengan alunan irama tersebut. Selain itu, setiap pukulan sebaiknya diakhiri dengan penekanan pada bunyi gong sebagai tanda penutup yang tegas.
- Penguasaan Tingkatan Permainan
- Dalam sospel, seorang pesilat dituntut untuk menguasai tiga tingkatan permainan, yaitu:
- Permainan atas
- Permainan tengah
- Permainan bawah
Analisis Mekanisme Pukulan Efektif
Efektivitas sebuah pukulan dalam melumpuhkan lawan tidak semata-mata bergantung pada kekuatan fisik. Faktor krusial yang sering kali lebih menentukan adalah elemen kejutan dan ketidaksiapan target. Seseorang dapat jatuh bukan hanya karena kerasnya benturan, tetapi karena serangan tersebut datang dari arah yang tidak terduga, sehingga tubuh tidak memiliki kesempatan untuk mempersiapkan pertahanan atau menyerap dampaknya.
Untuk mengilustrasikan prinsip ini, pertimbangkan dua analogi berikut:
- Antisipasi Dampak: Seseorang yang secara sadar melompati rintangan telah mempersiapkan fisiknya untuk mendarat. Sebaliknya, jika orang yang sama melompat tanpa mengantisipasi kondisi pendaratan, risiko cedera akan meningkat secara signifikan. Kesiapan mental dan fisik menjadi kunci untuk mitigasi dampak.
- Kesadaran Situasional: Seorang atlet yang waspada terhadap bola berkecepatan tinggi dapat menghindar atau menahannya dengan teknik yang benar. Namun, jika bola yang sama mengenai orang awam yang tidak menyadari kehadirannya, dampaknya akan jauh lebih besar dan berpotensi menyebabkan disorientasi atau cedera.
Prinsip Serangan dan Bertahan
Berdasarkan pemahaman di atas, kunci untuk melancarkan pukulan yang efektif adalah dengan menghilangkan gerakan awal (awalan) yang dapat dibaca oleh lawan. Serangan yang tidak terduga memiliki daya lumpuh yang lebih tinggi.
Dalam konteks pertahanan, terdapat tiga tingkatan strategi tangkisan yang dapat diaplikasikan secara hierarkis:
- Tangkisan dengan Menghindar: Merupakan bentuk pertahanan paling ideal, karena menghilangkan seluruh potensi dampak serangan.
- Tangkisan dengan Bantuan (Blok/Parry): Digunakan ketika menghindar sepenuhnya tidak memungkinkan. Tujuannya adalah menahan atau membelokkan serangan.
- Tangkisan dengan Mengalihkan Energi: Teknik lanjutan yang digunakan saat dua opsi pertama gagal. Caranya adalah dengan mengikuti arah serangan untuk mengurangi daya rusaknya.
Indikator Penguasaan Teknik
Seseorang yang telah menguasai prinsip-prinsip ini akan menunjukkan dua indikator utama:
- Akurasi Serangan: Setiap serangan, baik pukulan maupun tendangan, dilancarkan dengan presisi tinggi ke titik vital.
- Ketajaman Pengamatan: Kemampuan untuk membaca situasi, mengantisipasi gerakan lawan, dan mengidentifikasi celah pertahanan meningkat secara signifikan.
Sinergi antara Teori dan Praktik
Pencapaian tingkat kemahiran ini memerlukan disiplin, latihan rutin, dan keyakinan yang kuat. Namun, penting untuk memahami hubungan fundamental antara teori dan praktik:
- Teori tanpa praktik adalah sia-sia. Pengetahuan konseptual tidak akan berguna tanpa aplikasi nyata.
- Praktik tanpa teori adalah tidak terarah. Latihan tanpa landasan pengetahuan yang benar dapat menghasilkan teknik yang salah dan berbahaya.
Seorang praktisi harus terlebih dahulu memahami teori sebagai fondasi, kemudian menginternalisasikannya melalui praktik yang konsisten. Latihan berulang akan membangun memori otot (refleks), memungkinkan tubuh untuk bereaksi secara instan dan tepat sesuai perintah pikiran.
Aplikasi Taktis
Dalam aplikasi pertarungan, target utama yang paling efektif untuk dilumpuhkan adalah area badan. Pukulan yang mendarat dengan tepat di bagian tubuh akan menimbulkan rasa sakit yang signifikan dan mengganggu keseimbangan lawan. Oleh karena itu, setiap gerakan dan serangan harus dilakukan dalam keadaan seimbang, dengan terus-menerus menganalisis dan memanfaatkan kelemahan pada sisi kanan dan kiri lawan untuk menjatuhkannya secara efisien.
Konsep Dasar dan Praktik Ilmu Kebatinan
Definisi
Ilmu Kebatinan adalah suatu ajaran spiritual yang berlandaskan pada prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa. Tujuan utama dari ajaran ini adalah untuk membina dan mencapai budi pekerti yang luhur, sebagai jalan untuk meraih kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.
Klasifikasi Ilmu Kebatinan
Secara garis besar, Ilmu Kebatinan dapat dibedakan menjadi dua kategori utama:
- Kebatinan Asli: Merupakan ilmu yang bersumber langsung dari pemahaman dan penyelarasan diri dengan energi alam semesta.
- Kebatinan Karangan: Merupakan ilmu yang dianggap sebagai rekaan atau ciptaan manusia yang menyimpang dari sumber aslinya, sehingga dianjurkan untuk dihindari.
Prinsip dan Praktik Kebatinan Asli
A. Sumber Energi Alam Semesta
Dasar dari Kebatinan Asli adalah keyakinan bahwa seluruh makhluk hidup dihidupi oleh dua unsur utama alam, yaitu:
- Ibu Bumi (Ibu Pertiwi): Merepresentasikan energi dan kekuatan yang berasal dari bumi.
- Bopo Angkoso (Bopo Kuwoso): Merepresentasikan energi dan kekuatan yang berasal dari langit atau alam semesta.
Manusia dapat menyerap energi murni dari alam ini (disebut Zat Resik) melalui teknik olah pernapasan yang dilakukan secara sadar.
B. Perbedaan Esensi Makhluk
Untuk memahami posisi manusia, perlu dikenali perbedaan mendasar antara tiga jenis makhluk:
- Manusia: Memiliki tiga unsur, yaitu jasad (fisik), roh (jiwa), dan nafsu.
- Hewan: Memiliki dua unsur, yaitu roh dan nafsu.
- Malaikat: Hanya memiliki satu unsur, yaitu roh.
C. Tujuan dan Manfaat Praktik
Praktik dasar Kebatinan Asli melalui olah pernapasan bertujuan untuk:
- Meningkatkan wibawa dan kekuatan pribadi.
- Membangun ketenangan batin serta menghilangkan rasa cemas, takut, dan kegelisahan (seperti jantung berdebar atau gemetar).
D. Panduan Dasar Meditasi Pernapasan (Bersemedi)
Untuk menjalankan olah pernapasan, berikut adalah sikap dan posisi dasar yang perlu diperhatikan:
- Alas: Duduklah di atas alas yang bersih dan nyaman.
- Pakaian: Kenakan pakaian yang longgar untuk memastikan sirkulasi udara dan energi tidak terhambat.
- Posisi Tangan: Letakkan kedua telapak tangan di atas lutut dengan posisi terbuka ke atas, seperti sikap seseorang yang sedang memohon atau menerima anugerah.
- Postur Dasar: Duduklah dengan posisi punggung yang tegak namun tetap rileks untuk menjaga kelancaran aliran energi.
- Kondisi dan Fokus: Pastikan tubuh tidak bersentuhan dengan orang lain untuk menjaga konsentrasi. Pejamkan mata dengan lembut untuk memusatkan seluruh perhatian ke dalam diri dan pada aliran napas.
- Penyesuaian Postur (jika diperlukan): Apabila Anda merasa kurang bertenaga atau sulit menjaga kewaspadaan, postur dada dapat dibusungkan secara perlahan. Tindakan ini bertujuan untuk membantu membuka aliran napas secara maksimal, namun pastikan untuk tidak memaksakannya hingga menimbulkan ketegangan.
E. Metode dan Tahapan Olah Pernapasan
Bagian ini merinci teknik pernapasan yang dilakukan setelah mengambil posisi duduk (semedi) atau berbaring.
Teknik Pernapasan Perut-Dada
- Menarik Napas
- Tarik napas secara perlahan dan dalam, kemudian simpan dan tahan di dalam rongga dada.
- Sirkulasi Napas
- Pindahkan napas yang ditahan secara berirama dan bergantian antara perut dan dada. Siklusnya adalah: dari dada turun ke perut, lalu naik kembali ke dada. Lakukan pergerakan ini secara berulang.
- Metode Hitungan
- Setiap siklus perpindahan (dari dada ke perut dan kembali ke dada) dihitung sebagai dua hitungan. Latihan dilakukan dalam set hitungan genap yang bertambah secara bertahap, misalnya: 2 hitungan, 4 hitungan, 6 hitungan, 8 hitungan, dan seterusnya sesuai kemampuan.
- Teknik Penenangan (Cooldown)
- Jika Anda merasa tidak kuat untuk melanjutkan pada set hitungan yang tinggi (misalnya 8), jangan berhenti mendadak. Kurangi hitungan secara bertahap (turun ke 6, lalu 4, lalu 2). Setelah menyelesaikan set terakhir, hembuskan napas perlahan. Beristirahatlah dengan napas normal selama beberapa menit untuk menstabilkan kondisi tubuh sebelum bangun atau bergerak.
F. Posisi Latihan Alternatif: Berbaring Terlentang (Ngogo Sukmo)
Selain duduk, latihan olah napas juga dapat dilakukan dengan posisi berbaring.
Panduan Posisi:
- Posisi Tubuh: Berbaring telentang dengan nyaman dan seluruh tubuh dalam keadaan rileks.
- Pakaian: Pastikan pakaian dalam kondisi longgar agar tidak menghambat pernapasan.
- Posisi Tangan: Letakkan tangan di samping tubuh atau di atas perut dengan jari-jari menghadap ke atas.
- Posisi Kepala: Pastikan bagian belakang kepala (tengkuk) menyentuh alas dengan nyaman untuk menjaga leher tetap lurus dan rileks.
- Posisi Kaki: Rapatkan kedua ibu jari kaki. Jika terasa tegang atau tidak kuat, posisi ini boleh disesuaikan demi kenyamanan.
- Fokus: Pejamkan mata untuk membantu memusatkan perhatian ke dalam diri.
G. Panduan Waktu dan Kondisi Latihan
Untuk mencapai hasil yang optimal dan menjaga keseimbangan tubuh serta spiritual, latihan olah pernapasan perlu memperhatikan waktu dan kondisi tertentu.
- Kondisi dan Waktu yang Dihindari (Larangan)
- Latihan sebaiknya tidak dilakukan dalam kondisi berikut:
- Di tengah hari, saat matahari sedang terik.
- Menjelang petang atau pada waktu Magrib.
- Saat tubuh dalam kondisi sakit atau tidak bugar.
- Saat sedang berpuasa atau dalam keadaan terlalu kenyang.
- Waktu yang Dianjurkan
- Waktu yang dianggap paling baik untuk menjalankan olah pernapasan dan menyerap energi alam (Zat Resik) adalah:
- Pagi hari: Sekitar pukul 03:30 (dini hari) atau setelah Subuh.
- Sore hari: Antara pukul 15:00 hingga 16:00.
Catatan: Latihan harus selalu dilakukan dalam keadaan sadar, tenang, dan fokus.
H. Pembedaan dengan "Ilmu Karangan" (Ilmu Kesaktian)
Ajaran Setia Hati (SH) secara tegas membedakan antara ilmu kebatinan untuk keluhuran budi dengan praktik yang berorientasi pada kesaktian, yang disebut sebagai "Ilmu Karangan".
- Definisi dan Ciri-Ciri "Ilmu Karangan"
- "Ilmu Karangan" adalah jenis ilmu yang tujuannya berfokus pada pencapaian kemampuan supernatural atau atraksi yang menentang hukum alam. Contohnya meliputi:
- Kekebalan terhadap senjata tajam (ora tatas dibacok).
- Kemampuan memakan benda-benda berbahaya (seperti kaca atau beling).
- Atraksi lain yang menunjukkan kekuatan fisik di luar nalar.
- Pandangan Filosofis Mengenai "Ilmu Karangan"
- Sifat Permintaan: Praktik ini seringkali didasari oleh keinginan yang memaksa kehendak dengan keyakinan mutlak (madep mantep) untuk meminta sesuatu yang berada di luar kodrat manusia. Sikap ini dapat mencerminkan kesombongan batin yang seolah-olah menantang kekuasaan Tuhan.
- Sifat Pengabulan Tuhan: Tuhan memiliki sifat Maha Pengasih (Ar-Rohman) dan Maha Penyayang (Ar-Rohim). Karena sifat-Nya ini, permintaan yang sangat kuat dari seorang manusia bisa saja dikabulkan. Namun, pengabulan ini bukanlah bentuk restu, melainkan sebuah ujian. Tuhan memberikan apa yang diminta, namun segala risiko dan konsekuensi dari penyimpangan kodrat tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu itu sendiri.
- Risiko dan Konsekuensi: Manusia yang memperoleh kemampuan tersebut pada hakikatnya telah menentang hukum alam yang ditetapkan Tuhan. Akibatnya, mereka akan menanggung risiko dari perbuatannya. Seringkali, akhir hidup mereka bersifat ironis dan tragis, sesuai dengan apa yang mereka banggakan (misalnya, yang kebal senjata justru meninggal karena senjata).
Tujuan utama ajaran SH adalah mencapai kesempurnaan akhlak dan budi pekerti, bukan untuk mencari kesaktian yang bersifat sementara dan berisiko.
I. Prinsip-Prinsip Filosofis dan Laku Lanjutan
Bagian ini membahas prinsip dasar, takdir, serta laku spiritual yang lebih spesifik bagi para praktisi tingkat lanjut.
- Prinsip Kesederhanaan Ilmu
- Sebagai sebuah pedoman, perlu diingat falsafah berikut:
- "Ilmu yang benar ialah ilmu yang sederhana, sedangkan ilmu yang sederhana itulah ilmu yang asli."
- Prinsip ini menegaskan bahwa kebenaran spiritual tidak terletak pada kerumitan, melainkan pada kemurnian dan kesederhanaan hakiki.
- Laku Spiritual Tingkat Lanjut (Bagi Guru) Bagi praktisi yang telah mencapai tingkatan lebih tinggi (misalnya, menjadi seorang pembimbing atau guru), terdapat laku khusus untuk memohon petunjuk atau wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa.
- Waktu Pelaksanaan: Waktu yang dianggap paling tepat adalah tengah malam, sekitar pukul 24:00.
- Panduan Pelaksanaan:
- Tempat: Dilakukan di alam terbuka, tanpa atap atau peneduh (tanpa payon).
- Kondisi Diri: Tidak mengenakan alas kaki sebagai simbol kerendahan hati di hadapan alam dan Sang Pencipta.
- Arah Menghadap: Arah disesuaikan dengan tujuan atau niat permohonan:
- Utara: Apabila memohon Ilmu dan pengetahuan.
- Timur: Apabila memohon Kewibawaan dan kharisma.
- Selatan: Apabila memohon Harta dan kelancaran rezeki.
- Barat: Apabila memohon Pangkat dan kedudukan.
- Konsep Takdir Dalam konteks ini, takdir dipahami sebagai sebuah ketetapan Tuhan yang berada di luar jangkauan dan batas usaha manusia.
J. Hakikat dan Aliran Dalam Kebatinan
- Hakikat Ajaran Kebatinan
- Kebatinan adalah sebuah ilmu spiritual yang pengajarannya bersifat khusus dan tidak disiarkan secara umum. Tujuan utamanya adalah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, yang diajarkan oleh para sesepuh atau orang yang dituakan dalam suatu komunitas. Tujuan luhur dari praktik ini adalah untuk turut serta dalam menjaga dan memperindah keharmonisan dunia, yang dikenal dengan istilah falsafah Jawa "memayu hayuning bawana".
- Dua Aliran Utama Secara umum, dalam dunia spiritualisme terdapat dua aliran kekuatan yang berlawanan:
- Kekuatan Putih (Aliran Kanan): Menggunakan kekuatan batin yang selaras dengan kehendak Tuhan untuk tujuan kebaikan dan kebajikan.
- Kekuatan Hitam (Aliran Kiri): Menggunakan kekuatan batin untuk tujuan yang menyimpang dari norma kebaikan, seringkali didasari oleh kepentingan pribadi yang negatif.
K. Latihan Spiritual Lanjutan dan Konsep Tenaga Dalam
Bagian ini membahas pemahaman antar aliran dan berbagai jenis latihan spiritual untuk menempa diri.
- Pemahaman Lintas Aliran
- Dalam dunia spiritual, praktisi dari aliran Putih dan Hitam seringkali dapat saling mengenali dan memahami kekuatan satu sama lain. Mempelajari ilmu dari aliran yang berlawanan dimungkinkan sebatas untuk pengetahuan, bukan untuk diamalkan.
- Ragam Latihan Spiritual (Laku) Berikut adalah beberapa bentuk latihan untuk menempa aspek-aspek batiniah:
- Latihan Wibawa (melalui Tirakat Jaga/Melek): Latihan menahan kantuk atau tidak tidur semalaman. Syarat utamanya adalah menjaga pikiran agar senantiasa jernih dan tidak memikirkan hal-hal buruk. Pola makan tetap berjalan seperti biasa.
- Latihan Puasa: Latihan menahan lapar dan dahaga untuk membersihkan jiwa dan raga.
- Latihan Kepekaan Rasa (Olah Rasa): Latihan untuk mempertajam intuisi dan kepekaan batin. Syaratnya adalah menghindari pekerjaan fisik yang terlalu berat dan menjaga waktu istirahat (tidak terlalu banyak begadang).
- Konsep Tenaga Dalam
- Tenaga Dalam dipahami sebagai energi vital terpendam yang ada di dalam diri manusia. Dipercaya bahwa hanya sebagian kecil dari energi ini yang aktif digunakan sehari-hari, sementara sebagian besarnya masih bersifat laten atau "tidur". Energi ini dihidupi oleh esensi pernapasan (Zat Kesah) yang menopang aspek rohani, berbeda dengan energi fisik yang ditopang oleh metabolisme tubuh (Zat Pembakar).
L. Falsafah Keseimbangan dan Kesiapan Mental
- Keseimbangan dalam Berlatih
- Dalam menjalankan laku spiritual, seseorang dianjurkan untuk tidak hanya mengandalkan satu jenis latihan saja (misalnya puasa) sebagai satu-satunya keunggulan (agul-agul). Keseimbangan dalam berlatih akan menghasilkan pemahaman yang lebih utuh.
- Falsafah dalam Pertarungan Berikut adalah prinsip mental yang harus dipegang saat menghadapi konflik atau pertarungan:
- Keteguhan Hati: "Jangan ragu-ragu. Sesuatu yang dihadapi dengan keraguan akan terasa berat, namun jika dihadapi dengan keteguhan hati akan terasa ringan."
- Penerimaan dan Kerendahan Hati: Sikap batin seorang petarung harus siap menerima segala kemungkinan, baik atau buruk, menang atau kalah. Jika menang, janganlah sombong. Jika kalah, terimalah dengan lapang dada, karena hakikat sebuah pertarungan adalah antara "mengenai atau dikenai".
M. Kaidah Khusus dan Pengendalian Diri
- Pengecualian dalam Kondisi Darurat
- Terkadang, suatu penyakit hanya bisa disembuhkan dengan mengonsumsi sesuatu yang pada dasarnya dilarang. Dalam kondisi darurat seperti ini, hal tersebut diperbolehkan dengan syarat:
- Niatnya murni untuk pengobatan.
- Tidak dijadikan sebuah kebiasaan setelah sembuh.
- Contoh: Mengonsumsi darah (didih) atau daging babi sebagai satu-satunya obat untuk menyelamatkan nyawa.
- Prinsip Pengendalian Nafsu
- Nafsu atau keinginan yang sudah berlebihan dan tidak terkendali harus dihilangkan. Jika dibiarkan, nafsu tersebut akan semakin menjadi-jadi dan pada akhirnya dapat merusak diri sendiri.
Panduan dan Persyaratan Pengesahan Warga Tingkat I
Dokumen ini merinci berbagai persyaratan, baik administratif, material, maupun filosofis, yang harus dipenuhi oleh seorang calon Warga Tingkat I.
A. Kualifikasi Calon Warga
Sebelum mengikuti proses pengesahan, seorang calon harus memenuhi kualifikasi berikut:
- Penguasaan Materi Teknis: Telah menguasai dan menamatkan seluruh materi gerak, meliputi Senam Dasar 1-90 dan Jurus 1-35, serta menerima Jurus Kunci (Jurus ke-36). Selain itu, calon harus telah dinyatakan lulus dalam serangkaian ujian evaluasi dari tingkat sabuk Polos hingga Putih.
- Kematangan Pribadi: Telah mencapai usia dewasa, baik secara fisik maupun mental.
B. Perlengkapan Ritual Pengesahan
Setiap calon diwajibkan untuk mempersiapkan perlengkapan berikut secara mandiri:
- Uang Logam: Sejumlah 36 keping dengan jenis dan nilai yang sama, sebagai simbol kesatuan dan nilai-nilai yang diajarkan.
- Sirih Poros (Temu Rose): Diperoleh tanpa melalui proses tawar-menawar sebagai simbol keikhlasan dan penerimaan.
- Pisang Rojo: Satu tangkap (dua sisir) sebagai lambang harapan akan kemuliaan sejati (Raja Sejati).
- Kain Mori Putih: Berukuran sak dedeg sak pengawe atau setara dengan 2,5 meter.
- Lilin Penerangan: Beberapa buah lilin dengan kualitas yang baik.
- Ayam Jago: Seekor ayam jago hidup yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
- Sehat dan tidak memiliki cacat fisik (tidak pedutan).
- Telah dewasa dan memiliki taji (jalu).
- Tidak memiliki ciri atau tanda khusus pada tubuhnya.
- Warna bulu disesuaikan dengan kehendak atau pilihan calon.
C. Makna dan Faedah Kain Mori
Kain Mori putih yang menjadi salah satu syarat utama memiliki makna filosofis dan faedah praktis bagi pemiliknya.
- Makna Filosofis: Mori adalah lambang kepasrahan, kesucian, dan penyerahan diri secara total kepada Tuhan Yang Maha Esa.
- Faedah Spiritual:
- Saat kondisi fisik sedang sakit, dapat digunakan sebagai selimut dengan niat memohon kesembuhan.
- Saat pikiran sedang kalut atau gelisah, dapat digunakan sebagai alas kepala atau bantal untuk mencari ketenangan.
- Saat bepergian jauh, dapat difungsikan sebagai sabuk atau ikat pinggang sebagai simbol perlindungan diri.
D. Falsafah Bela Diri dan Kehormatan Perempuan
Ilmu bela diri memiliki peran yang sangat penting, terutama bagi perempuan, sebagai sarana untuk melindungi diri dan menjaga kehormatan.
- Tujuan Bela Diri: Prinsip utama bela diri bagi perempuan adalah untuk perlindungan dan pertahanan diri, bukan untuk dipamerkan atau menjadi ajang kesombongan. Kemampuan ini adalah benteng untuk menjaga martabat dari mereka yang berniat merendahkan.
- Kekuatan Sejati: Kelemahan mental seringkali menjadi sasaran utama dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, kekuatan sejati seorang perempuan tidak hanya terletak pada kemampuan fisiknya, tetapi juga pada keteguhan mental dan keluhuran budi pekertinya.
- Keindahan Hakiki: Hiasan terbaik bagi seorang perempuan adalah budi pekerti yang luhur dan amal yang saleh. Keindahan fisik bersifat sementara, namun keindahan yang terpancar dari karakter, kehormatan, dan akhlak mulia akan abadi.
E. Kode Etik dan Karakter Warga Tingkat I
Seorang Warga Tingkat I diharapkan untuk senantiasa memegang teguh prinsip dan karakter luhur sebagai cerminan dari ajaran yang telah diterima.
Karakter Utama Warga Tingkat I:
- Memegang Sumpah: Setia dan tidak melanggar sumpah persaudaraan yang telah diikrarkan.
- Menjaga Persatuan: Aktif menjaga keutuhan dan menghindari segala bentuk perpecahan dalam persaudaraan.
- Rendah Hati: Tidak sombong atau membanggakan diri atas ilmu dan kemampuan yang dimiliki.
- Teguh Hati (Mantap): Memiliki keyakinan yang kuat dan tidak mudah ragu dalam melangkah di jalan kebenaran.
- Berani Karena Benar (Kendal): Memiliki keberanian yang didasari oleh kebenaran dan keadilan.
- Memiliki Pendirian (Ora Mangro Tingal): Tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif dan memiliki pendirian yang kokoh.
- Mengembangkan Ajaran: Sanggup untuk berpartisipasi dalam mengembangkan ajaran Setia Hati Terate di mana pun berada.
- Jujur: Tidak munafik, selaras antara perkataan dan perbuatan.
F. Makna Filosofis Seragam dan Atribut
Setiap elemen dari seragam yang dikenakan oleh Warga SH Terate memiliki makna filosofis yang mendalam.
1. Letak Ikatan Sabuk di Sisi Kiri
Posisi ikatan sabuk di sebelah kiri pinggang melambangkan dua hal:
- Landasan Persaudaraan: Menandakan bahwa setiap warga diikat oleh tali persaudaraan yang lebih mengutamakan rasa (sisi kiri) daripada logika atau kekuatan fisik semata.
- Prioritas pada Persaudaraan: Mengandung arti bahwa Warga SH Terate lebih mengutamakan keutuhan persaudaraan di atas persoalan-persoalan kecil atau sepele.
2. Ikatan Tali Wangsul (Simpul Hidup)
Model ikatan sabuk yang berupa simpul hidup (tali wangsul) memiliki makna bahwa setiap perselisihan dengan saudara sendiri tidak boleh menjadi sebuah prinsip yang kaku. Apabila terjadi masalah, hendaknya dikembalikan (diwangsulke) ke akar permasalahannya untuk diperbaiki dan diselesaikan dengan semangat persaudaraan.
3. Pakaian yang Longgar
Model pakaian atau seragam yang longgar melambangkan bahwa seorang Warga SH Terate harus memiliki sifat lapang dada. Ini adalah cerminan dari pribadi yang pemaaf dan penuh pengertian (kebak ing pangapura).
G. Falsafah Mengenai Hakikat Kehidupan
Dalam ajaran ini, kehidupan dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan tingkat kesadaran seseorang:
- Menjalani Hidup Sejati: Yaitu tingkatan hidup seorang individu yang benar-benar memahami hakikat, tujuan, dan kedudukannya selama hidup di dunia (Jejering Urip ing Ndonyo).
- Sekadar Hidup (Hidup-hidupan): Yaitu kondisi seseorang yang menjalani hidup secara fisik, namun tidak pernah memahami makna dan tujuan dari kehidupannya itu sendiri.
H. Falsafah Hidup dan Prinsip Dasar Ajaran
Bagian ini menguraikan beberapa prinsip dan pandangan filosofis yang menjadi landasan bagi seorang Warga SH Terate.
1. Pembedaan Ujian, Kesalahan, dan Dosa
Dalam menyikapi perbuatan dan peristiwa, penting untuk memahami perbedaan mendasar antara:
- Cobaan dari Manusia: Ujian atau tantangan yang bersumber dari interaksi dengan sesama manusia.
- Cobaan dari Tuhan: Ujian atau tantangan yang berasal langsung dari Tuhan untuk menguji keimanan dan ketabahan.
- Kesalahan (Salah): Suatu perbuatan keliru yang bersifat ringan dan dapat dimaafkan melalui permohonan maaf antar manusia.
- Dosa: Suatu perbuatan pelanggaran berat terhadap norma agama atau spiritual yang pengampunannya secara mutlak berada di tangan Tuhan melalui pertobatan.
2. Hakikat Persaudaraan dan Kesempurnaan Diri
Prinsip utama ajaran SH Terate adalah ikatan persaudaraan. Seorang warga yang telah sempurna penghayatannya tidak akan pernah merasa sendirian atau kesepian, karena jiwanya senantiasa merasa terhubung dalam kehangatan persaudaraan.
I. Makna Filosofis Jurus dan Ritual Pengesahan
Setiap tahapan gerak (jurus) dan perlengkapan dalam ritual pengesahan memiliki makna simbolis yang mendalam, merepresentasikan perjalanan hidup manusia dan nilai-nilai ajaran.
1. Makna Filosofis Tahapan Jurus
Rangkaian jurus dalam SH Terate adalah lambang dari fase-fase kehidupan manusia:
- Jurus 1-10: Melambangkan fase janin di dalam kandungan hingga proses kelahiran ke dunia.
- Jurus 11-20: Melambangkan fase anak-anak, di mana seseorang mulai mengenal lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
- Jurus 21-28: Melambangkan fase remaja, yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju kedewasaan.
- Jurus 29-36: Melambangkan fase dewasa, di mana seseorang dianggap telah matang dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
2. Makna Filosofis Perlengkapan Ritual
- Keceran (Ritual Penetesan Mata): Melambangkan kelahiran kembali seorang pendekar ke dalam keluarga besar SH Terate. Ini adalah simbol dibukanya "mata batin" untuk dapat memahami ajaran secara mendalam dan tulus, serta mampu "berbicara dari hati ke hati".
- Ketan: Melambangkan persaudaraan SH Terate yang erat dan sulit untuk dipisahkan, layaknya sifat ketan yang lengket.
- Lilin: Melambangkan pengorbanan tanpa pamrih. Seorang warga diharapkan rela berkorban demi kebenaran dan kepentingan orang banyak, menjadi penerang bagi sesama meskipun dirinya sendiri harus "hancur".
- Pisang Raja: Melambangkan kepemimpinan dan otoritas. Dalam proses latihan, seorang pelatih adalah "raja" yang memegang amanah ilmu, sehingga setiap siswa harus patuh dan taat pada arahannya.
- Suruh (Daun Sirih): Berasal dari frasa Jawa "ngangsu kawruh" yang berarti menimba ilmu. Ini adalah simbol dari proses belajar yang tidak pernah berhenti.
- Suruh Temu Rose (Sirih dengan Urat Daun Bertemu): Melambangkan pertemuan (temu) antar sesama warga yang diikat oleh rasa (rose) persaudaraan yang tulus.
- Uang Mahar berupa Koin Logam Rp 1000 sebanyak 36: Merupakan simbol untuk "menebus" atau menghargai ilmu (jurus) yang telah diterima, sebagai bentuk ikatan tanggung jawab moral seorang siswa terhadap ilmunya.
Manfaat Latihan, Falsafah Interaksi, dan Etika Berbicara
Dokumen ini menguraikan berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari latihan SH Terate, serta prinsip-prinsip filosofis yang menjadi pedoman dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi.
Manfaat Latihan dan Pengembangan Diri
Latihan yang tekun dan disiplin dalam SH Terate akan memberikan manfaat holistik yang mencakup pengembangan diri dalam berbagai aspek:
- Pengembangan Jasmani dan Rohani:
- Mencapai kesehatan jasmani dan rohani yang prima.
- Menjamin keseimbangan dan kontrol tubuh yang lebih baik.
- Menciptakan keselarasan antara kekuatan mental dan keberanian.
- Pengembangan Intelektual dan Karakter:
- Membentuk pribadi yang cerdas, terampil, disiplin, dan tekun.
- Meningkatkan ketajaman daya pikir dan analisis.
- Melatih kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
- Membina kesopanan dan tata krama dalam bersikap.
- Pengembangan Sosial dan Empati:
- Meningkatkan kerukunan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
- Membina semangat gotong royong dan kepedulian.
- Meningkatkan kewibawaan dan rasa hormat di tengah masyarakat.
- Menumbuhkan rasa empati dan kemampuan untuk memahami kesulitan orang lain.
Falsafah dalam Interaksi Sosial
Prinsip Menghargai Kehendak Orang Lain:
Hendaknya seseorang tidak memaksakan kehendaknya kepada orang lain, terutama jika hal tersebut bertentangan dengan keinginan yang bersangkutan. Memaksakan kehendak hanya akan menimbulkan kebencian dan berpotensi memicu permusuhan.
Sebelum bertindak, pertimbangkanlah dengan matang apakah suatu niat atau kehendak itu baik atau buruk. Jika pun dianggap baik bagi diri sendiri, sangat dianjurkan untuk mendiskusikannya terlebih dahulu dengan orang yang lebih bijaksana atau berpengalaman, sebab apa yang baik bagi kita belum tentu sesuai atau baik bagi orang lain.
Etika Berbicara dan Integritas Diri
Prinsip Kejujuran dalam Perkataan:
Setiap perkataan, terutama yang menyangkut hal-hal penting atau melibatkan banyak orang, harus senantiasa didasari oleh niat dan hati yang suci. Apa yang diucapkan haruslah cerminan sejati dari apa yang ada di dalam hati.
Menyatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan isi hati (berdusta atau munafik) akan mendatangkan konsekuensi dosa dari tiga arah:
- Dosa kepada Tuhan: Karena telah mengingkari perintah-Nya untuk berkata benar.
- Dosa kepada Lawan Bicara: Karena telah menipu atau memberikan informasi yang tidak benar.
- Dosa kepada Diri Sendiri: Karena telah mengkhianati nurani dan merendahkan martabat pribadi.
Oleh karena itu, larangan untuk bersifat munafik, sebagaimana ditekankan dalam ajaran agama, harus dipegang teguh. Konsistensi antara hati, pikiran, dan perkataan adalah wujud dari seorang pribadi yang berintegritas.
Pedoman Pengembangan Ajaran dan Falsafah Kewargaan SH Terate
Dokumen ini menguraikan pedoman bagi para pelatih dalam mengembangkan ajaran serta makna filosofis di balik status "Warga" dalam Persaudaraan Setia Hati Terate.
A. Kode Etik Pelatih dalam Mengembangkan Ajaran
Seorang pelatih atau warga senior yang bertugas untuk membimbing dan mengembangkan ajaran SH Terate harus memegang teguh pedoman dan etika sebagai berikut:
- Niat yang Mantap: Memiliki niat yang tulus dan keyakinan yang kokoh di dalam hati.
- Berpegang pada Pedoman: Selalu berlandaskan pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta ajaran organisasi.
- Rasa Tanggung Jawab: Bertanggung jawab penuh atas perkembangan setiap siswa yang dibimbingnya.
- Membimbing ke Jalan Kebenaran: Mengarahkan dan membimbing siswa untuk menempuh jalan kebaikan sesuai ajaran.
- Rela Berkorban: Ikhlas berkorban, baik tenaga, materi, maupun pikiran, demi kelancaran dan kemajuan organisasi.
- Adaptif dan Dekat dengan Siswa: Mampu membangun hubungan yang baik dan beradaptasi dengan setiap siswanya.
- Adil dan Tidak Membedakan: Memberikan perlakuan yang sama kepada semua siswa tanpa memandang latar belakang apapun.
- Menjaga Perasaan: Menyampaikan materi atau nasihat dengan bijaksana tanpa menyinggung perasaan siswa.
- Melindungi Siswa: Menjaga keselamatan dan kehormatan siswa layaknya menjaga diri sendiri.
- Menjadi Solusi: Berpartisipasi aktif dalam membantu memecahkan masalah yang dihadapi oleh siswa sesuai dengan kemampuannya.
B. Falsafah di Balik Istilah "Warga"
Istilah "Warga" bukan sekadar sebutan, melainkan sebuah akronim filosofis yang mencerminkan karakter ideal seorang anggota SH Terate.
1. Etimologi Filosofis "Warga"
- WAni amarga bener: Berani karena berada di jalan kebenaran.
- R... G... A... (diinterpretasikan sebagai):
- Wedhi amarga salah: Takut karena melakukan kesalahan atau dosa.
- Wibawa amarga luhuring budi: Berwibawa karena keluhuran tingkah laku, perkataan, dan perbuatan.
2. Perbedaan Antara Sifat Baik dan Lemah
Kekuatan sejati lahir dari kebaikan, bukan dari kelemahan. Falsafah SH Terate secara tegas membedakan keduanya:
- Orang yang Lemah: Cenderung menghindari konfrontasi dan mengalah bahkan dalam soal prinsip. Sikap ini bukan lahir dari pilihan bijak, melainkan karena ketiadaan keberanian untuk bertindak.
- Orang yang Baik dan Kuat: Justru memilih untuk bersikap lemah lembut, sabar, dan mengalah dalam persoalan-persoalan kecil atau sepele. Namun, ketika dihadapkan pada masalah besar yang menyangkut prinsip kebenaran, keadilan, atau kehormatan, ia tidak akan ragu untuk berdiri tegak dan mempertaruhkan segalanya.
Oleh karena itu, setiap Warga PSHT dibekali dengan ilmu bela diri yang dapat diandalkan; bukan untuk menjadi orang yang lemah yang pasrah, melainkan untuk menjadi orang baik yang memiliki kekuatan untuk membela prinsip dan kebenarannya.
Falsafah Setia Hati: Hakikat Ilmu, Karakter, dan Nilai-Nilai Luhur
Dokumen ini menguraikan esensi dari Ilmu Setia Hati (SH), karakter yang diharapkan dari warganya, serta pilar-pilar kebajikan yang menjadi landasan ajaran.
A. Hakikat Ilmu Setia Hati (SH)
Ilmu Setia Hati pada dasarnya adalah ilmu untuk mengenal diri sendiri secara mendalam dan sejati. Pemahaman ini tidak diperoleh hanya melalui teori, melainkan melalui pengalaman langsung, sebagaimana dinyatakan dalam falsafah Jawa:
“Ngalami iku tinemu kanthi laku.”
Artinya, sebuah ilmu atau pengetahuan sejati hanya dapat ditemukan dan dihayati melalui laku atau tindakan nyata. Laku ini mencakup disiplin, tanggung jawab, keyakinan teguh, dan pengamalan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa pengamalan, sebuah ilmu hanyalah fantasi kosong.
B. Karakter dan Lambang Warga Setia Hati
1. Tiga Karakter Utama
Seorang Warga Setia Hati diharapkan mencerminkan tiga karakter dasar berikut:
- Berjiwa besar dan berbudi pekerti yang luhur.
- Pemberani dalam membela kebenaran dan tidak takut pada kematian.
- Bijaksana dalam bertindak: memilih untuk mengalah dalam persoalan-persoalan kecil dan remeh, namun akan berdiri tegak dan bertindak tegas dalam persoalan besar yang menyangkut prinsip.
2. Falsafah Bunga Terate
Lambang bunga terate dipilih karena kemampuannya yang luar biasa. Bunga terate dapat hidup dan mekar dengan indah di berbagai jenis perairan, baik yang jernih maupun yang berlumpur, tanpa terkontaminasi oleh lingkungannya.
Ini adalah simbol bahwa seorang Warga SH Terate harus mampu:
- Beradaptasi: Dapat hidup dan bergaul di semua lapisan masyarakat.
- Menjaga Kemurnian Diri: Tidak terpengaruh oleh keburukan meskipun berada di lingkungan yang negatif.
Falsafah ini juga menjadi pengingat untuk menjauhi sifat sombong, yang dapat membuat seseorang lupa bahwa di atas segala kemampuan manusia, ada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang mutlak.
C. Pilar-Pilar Budi Luhur
Ajaran SH ditopang oleh beberapa nilai kebajikan utama yang harus senantiasa dilatih dan diamalkan.
1. Kesabaran
Kesabaran adalah kunci ketenangan pikiran. Seseorang yang memiliki sifat sabar akan mampu menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah dengan lebih mudah dan bijaksana.
2. Kerohanian
Kerohanian adalah tingkat kesadaran mental yang mendalam, di mana seseorang mampu mengenali dan mengatasi rasa takut serta kekhawatiran terhadap berbagai tantangan hidup. Ini adalah fondasi untuk mencapai ketenangan batin yang sejati.
3. Kejujuran
Kejujuran adalah perpaduan antara watak yang luhur, bakat moral, kecintaan pada kebenaran, dan ketulusan hati. Kejujuran menjaga seseorang agar terhindar dari perbuatan tercela. Untuk mengembangkan sifat ini, perlu dilakukan tindakan-tindakan berikut:
- Selalu berlaku jujur serta mencintai kebenaran dan kenyataan.
- Bersikap saksama dan teliti dalam setiap pernyataan yang dibuat.
- Teguh memegang pendirian yang didasarkan pada kebenaran.
- Menjunjung tinggi rasa tanggung jawab atas setiap tugas dan prinsip.
Kumpulan Falsafah: Kontemplasi Diri, Prinsip Hidup, dan Spiritualitas
Dokumen ini menguraikan berbagai konsep spiritual dan filosofis, mulai dari praktik ibadah, interaksi sosial, hingga pemahaman diri dalam tradisi spiritual Jawa.
Falsafah Kontemplasi Diri dan Interaksi Sosial
1. Hakikat Shalat Malam
Tujuan utama dari shalat malam adalah untuk meningkatkan kualitas spiritual dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Praktik ini mendorong perenungan mendalam akan kefanaan diri, terutama saat dilakukan di tempat yang sunyi. Berada dalam kesendirian mengingatkan manusia akan kecilnya diri di hadapan kebesaran Tuhan dan mengingatkan akan kematian yang pasti datang.
2. Prinsip dalam Hubungan Antar Manusia
- Tentang Kebaikan: Kebaikan sejati salah satunya ditunjukkan dengan kemampuan untuk menyadarkan orang lain atas kesalahannya secara bijaksana, bukan dengan menghakimi.
- Tentang Rasa Hormat: Sebuah pengingat bahwa kehormatan sejati seringkali diperoleh dengan terlebih dahulu menghormati orang lain.
- Tentang Pengendalian Diri: Pentingnya menjaga ketenangan emosi dan tidak mudah tersinggung sebelum memahami pokok permasalahan secara utuh dan jelas.
Landasan Kepercayaan dan Hukum Universal
1. Definisi Dasar Keislaman
- ISLAM: Suatu agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk disebarluaskan sebagai rahmat dan pedoman bagi seluruh umat manusia.
- KIBLAT: Arah atau panduan yang digunakan sebagai titik fokus dalam melaksanakan ibadah untuk memastikan kesatuan dan arah yang benar.
2. Lima Dimensi Hukum Kehidupan
Manusia dalam hidupnya berinteraksi dengan lima dimensi hukum yang saling terkait:
- Hukum Pribadi: Hukum yang mengatur hak, kewajiban, dan tanggung jawab individu terhadap dirinya sendiri.
- Hukum Alam: Keteraturan dan ketetapan Tuhan yang mengatur segala aspek di alam semesta, seperti hukum fisika, biologi, dan kimia.
- Hukum Ghaib: Ketentuan yang berkaitan dengan dimensi non-fisik yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh logika, seperti keberadaan malaikat dan jin.
- Hukum Karma (Sebab-Akibat): Prinsip universal bahwa setiap tindakan, baik atau buruk, akan menghasilkan akibat yang setimpal.
- Hukum Kepercayaan: Aturan dan norma yang berlaku dalam sistem keyakinan atau agama yang dianut seseorang.
Konsep Diri dalam Spiritualitas Jawa
1. Empat Nafsu Manusia (Papat Kiblat Lima Pancer)
Dalam spiritualitas Jawa, diri manusia dipahami memiliki empat dorongan nafsu dasar yang menjadi "empat penjuru mata angin" (Papat Kiblat), dengan jiwa sebagai pusatnya (Pancer). Keempat nafsu tersebut adalah:
- Amarah (Elemen Api): Dorongan emosi, kemarahan, dan keberanian.
- Supiyah (Elemen Angin): Dorongan keinginan duniawi, syahwat, dan keindahan.
- Lawwamah (Elemen Tanah): Dorongan nafsu konsumtif seperti keserakahan akan makanan, harta, dan kekuasaan.
- Mutmainah (Elemen Air): Dorongan menuju kebaikan, ketenangan batin, dan keinginan untuk beribadah.
2. Tiga Kondisi Mental untuk Pengesahan
Untuk dapat disahkan atau mencapai tingkatan spiritual yang lebih tinggi, seorang praktisi harus mencapai tiga kondisi mental berikut:
- Teteg: Kukuh, stabil, dan tidak mudah goyah.
- Madep: Fokus, terarah, dan memiliki kejelasan tujuan.
- Mantep: Yakin, pasti, dan tidak memiliki keraguan dalam hati.
Falsafah di Balik Pengesahan Warga pada Bulan Suro/Muharram
Pemilihan waktu dalam sebuah prosesi sakral seperti pengesahan warga SH Terate baru bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah tindakan yang sarat dengan makna filosofis. Persaudaraan Setia Hati Terate secara khusus memilih bulan Suro (dalam penanggalan Jawa) atau Muharram (dalam penanggalan Islam) sebagai momentum untuk mengesahkan warganya. Keputusan ini didasari oleh signifikansi spiritual dan historis yang agung dari bulan tersebut.
Signifikansi Historis dan Spiritual Bulan Muharram
Bulan Muharram diyakini sebagai momentum terjadinya berbagai peristiwa besar yang menjadi tonggak sejarah peradaban dan keimanan. Peristiwa-peristiwa agung tersebut antara lain:
- Penciptaan alam semesta oleh Tuhan Yang Maha Esa.
- Dipertemukannya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa di bumi.
- Berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS setelah peristiwa banjir besar.
- Terbelahnya Laut Merah sebagai mukjizat Nabi Musa AS untuk menyelamatkan kaumnya.
- Kelahiran Nabi Isa AS.
- Diturunkannya Ayat Kursi, salah satu ayat paling mulia dalam Al-Quran.
- Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, yang menjadi titik awal kejayaan Islam.
Hikmah dan Tujuan Pengesahan
Benang merah yang dapat ditarik dari seluruh peristiwa agung tersebut adalah kemenangan kebenaran (haq) atas kebatilan. Setiap kejadian menandai lenyapnya sebuah kezaliman dan terbitnya cahaya kebaikan serta keadilan.
Dengan melandaskan prosesi pengesahan pada spirit bulan Muharram, SH Terate bertujuan untuk:
- Menanamkan Kesadaran: Memberikan kesadaran mendalam kepada setiap warga baru mengenai keistimewaan dan warisan spiritual yang terkandung dalam bulan tersebut.
- Memberikan Motivasi Luhur: Mendorong setiap warga yang baru disahkan untuk meneladani hikmah dari peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga mereka senantiasa termotivasi untuk mengamalkan Ilmu Setia Hati dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
- Menciptakan Kader Penerang: Membentuk pribadi-pribadi yang mampu menjadi sumber pencerahan dan membawa dampak positif di mana pun mereka berada, melanjutkan spirit kemenangan kebaikan atas kebatilan.
Makna Filosofis Atribut, Ritual, dan Falsafah Luhur SH Terate
Setiap elemen dalam ajaran Setia Hati Terate, mulai dari busana, perlengkapan ritual, hingga prinsip hidup, memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai pedoman bagi para warganya.
A. Falsafah Busana dan Atribut Warga
Busana dan atribut yang dikenakan bukan sekadar pakaian, melainkan cerminan dari karakter dan prinsip yang harus dipegang teguh.
- Sabuk Mori Putih:
- Warna putih pada kain mori melambangkan kesucian. Seorang Warga SH Terate diharapkan senantiasa menjaga kebersihan hati, suci dari perbuatan tercela, serta jujur dan tulus dalam perkataan maupun perbuatan.
- Ikatan Sabuk di Sisi Kiri:
- Posisi ikatan sabuk di sebelah kiri melambangkan bahwa seorang warga harus lebih mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Sisi kiri yang dekat dengan jantung adalah simbol penggunaan "rasa" dan empati, serta kemampuan untuk mengesampingkan ego dan persoalan-persoalan sepele demi kebaikan bersama.
- Simpul Tali Wangsul (Simpul Hidup):
- Model ikatan simpul yang mudah dilepaskan (wangsul) mengajarkan bahwa setiap perselisihan, terutama dengan sesama saudara, tidak boleh dijadikan prinsip yang kaku. Segala permasalahan harus dapat diuraikan dan dikembalikan ke akarnya untuk diselesaikan dengan cara yang bijaksana dan damai.
- Tali Pengikat Khas:
- Tali ini memiliki makna ganda. Pertama, sebagai pengingat bahwa seorang warga boleh menimba ilmu dari sumber mana pun, namun harus tetap ingat dan setia pada organisasi asalnya (PSHT). Kedua, tali ini adalah simbol kemampuan untuk "mengikat" atau mengendalikan hawa nafsu dan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
B. Makna Perlengkapan Ritual
Perlengkapan yang digunakan dalam prosesi sakral memiliki nilai simbolis yang kaya akan pelajaran hidup.
- Ayam Jago:
- Ayam jago yang sehat, kuat, dan tanpa cacat melambangkan sebuah harapan. Setelah disahkan, seorang warga diharapkan mampu mewujudkan peran sebagai tokoh panutan di tengah masyarakat, yaitu sebagai pelopor, pemimpin, dan pembela kebenaran yang membawa manfaat bagi lingkungannya.
- Daun Sirih (Suruh):
- Sirih atau suruh melambangkan semangat untuk terus mencari ilmu (ngangsu kawruh). Ilmu tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dicari dan digali dengan tekun, sebab Tuhan akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan menggunakannya untuk kebaikan.
- Daun Sirih Temu Rose (Urat Daun Bertemu):
- Ini adalah lambang persatuan dalam keragaman. Meskipun warga SH Terate berasal dari berbagai latar belakang (kaya, miskin, berbagai suku dan profesi), di dalam persaudaraan semua adalah sama dan satu. Terjalin satu rasa, di mana suka dan duka dirasakan bersama, seperti falsafah Jawa: "sing siji dijiwit, liyane melu lara" (satu dicubit, yang lain ikut merasa sakit).
C. Falsafah dan Prinsip Hidup
Sugih Tanpa Bandha (Kaya Tanpa Harta Benda)
Ini adalah sebuah sanepa atau perumpamaan luhur yang mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukanlah materi, melainkan ilmu. Ilmu adalah kekayaan yang dapat dimiliki sebanyak-banyaknya, dapat dirasakan manfaatnya, namun tidak dapat diraba wujudnya. Oleh karena itu, seseorang yang "kaya ilmu" memiliki kewajiban moral untuk membagikan kekayaannya tersebut dengan cara mengajarkannya kepada orang lain.
Daftar Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate
Berikut adalah daftar para tokoh yang telah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dari masa ke masa.
Tabel Ketua Umum PSHT
| No. | Ketua Umum | Kontribusi / Peristiwa Penting |
|---|---|---|
| 1. |
Hardjar Hardjo Oetomo 1922 |
Pendiri |
| 2. |
Soetomo Mangkoedjojo 1948 - 1956 |
Transformasi dari perguruan menjadi organisasi modern. |
| 3. |
Irsad Hadi Widagdo 1956 - 1958 |
Penyempurnaan jurus untuk efektivitas dan akurasi serangan. |
| 4. |
Santoso 1958 - 1966 |
Menjaga kesinambungan organisasi di masa transisi. |
| 5. |
Soetomo Mangkoedjojo 1966 - 1974 |
Periode kedua kepemimpinan, awal ekspansi ke berbagai daerah. |
| 6. |
Imam Koessoepangat 1974 - 1977 |
Dikenal sebagai "Penditho Wesi Kuning", memperkuat fondasi spiritual. |
| 7. |
Badini 1977 - 1981 |
Melanjutkan pengembangan organisasi. |
| 8. |
Tarmadji Boedi Harsono 1981 - 2014 |
Era ekspansi pesat, keanggotaan mencapai jutaan di seluruh dunia, pendirian Yayasan Setia Hati Terate, dan pembangunan Padepokan Agung. |
| 9. |
Richard Simorangkir 2014 - 2014 (Plt) |
Menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum. |
| 10. |
Arif Suryono 2014 - 2016 (Plt) |
Menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum. |
| 11. |
Muhammad Taufiq 2016 - 2017 |
Kepemimpinan hasil Parapatan Luhur 2016. |
| 12. |
Moerdjoko HW 2017 - Sekarang |
Memimpin organisasi dengan lebih dari 300 cabang di dalam dan luar negeri. |
Cabang PSHT
Sebagai penutup dari buku panduan Materi Ke-SH-an ini, tim penyusun menghaturkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan materi ini. Besar harapan kami, panduan ini dapat menjadi sumber ilmu yang bermanfaat bagi seluruh Warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dalam mengembangkan diri dan mempererat tali persaudaraan.
Setiap Warga PSHT hendaknya senantiasa memegang teguh ajaran luhur organisasi. Selain falsafah "Setia Hati", setiap anggota juga harus menghayati semangat "Wani Perih", yaitu sikap berani dan tangguh dalam menghadapi segala rintangan hidup, dengan tetap mengutamakan kejujuran dan kesetiaan pada ajaran. Nilai-nilai kebersamaan, kepercayaan, dan loyalitas harus menjadi landasan dalam setiap aktivitas yang dilakukan.
Dalam berlatih pencak silat, junjunglah tinggi sportivitas serta hindari segala bentuk kekerasan dan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jadilah teladan di tengah masyarakat dalam mempraktikkan ajaran luhur PSHT dan berkontribusilah dalam membawa organisasi ini ke arah yang lebih baik.
Akhir kata, semoga panduan ini dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya. Teruslah belajar dan berlatih dengan semangat dan tekad Setia Hati.
SALAM PERSAUDARAAN
PSHT JAYA






















Post a Comment