Pakaian yang Dikenakan dalam Pertandingan Pencak Silat yaitu Warna Hitam
Table of Contents
Pakaian yang Dikenakan dalam Pertandingan Pencak Silat yaitu Warna Hitam
Di balik setiap jurus dan langkah pesilat, terdapat simbol-simbol yang menyimpan makna mendalam, dan warna pakaian yang digunakan dalam pertandingan pencak silat adalah salah satu yang paling utama.
Dalam pertandingan resmi, pakaian yang dikenakan dalam pertandingan pencak silat yaitu seragam berwarna hitam, sebagaimana ditetapkan oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dan Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat).
Meskipun ada sebagian perguruan yang menggunakan warna lain, pada pertandingan resmi model standar yang diacu adalah warna hitam.
Namun, warna hitam di sini bukan sekadar pilihan estetika atau keseragaman teknis.
Bagi dunia persilatan, khususnya dalam pandangan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), hitam adalah lambang kedalaman, kerendahan hati, dan kekuatan batin.
Ia menggambarkan ketenangan yang menampung segala warna, seperti malam yang menenangkan bumi setelah hiruk-pikuk siang hari.
Makna Filosofis Warna Hitam dalam Pencak Silat
Warna hitam dalam pencak silat memiliki makna spiritual yang luhur.
Ia bukan warna kegelapan, tetapi warna penyatuan, yaitu sebuah warna yang tidak memantulkan cahaya, karena ia menyerap dan menenangkan semua unsur di dalamnya.
Dalam falsafah Jawa, warna hitam melambangkan:
- Kesempurnaan batin, sebab ia menerima segalanya tanpa menolak.
- Kematangan jiwa, lantaran hanya yang telah menaklukkan hawa nafsu dapat tampak tenang dalam gelap.
- Kerendahan hati, karena memang hitam tidak menonjol, tetapi justru memberi ruang bagi cahaya kebijaksanaan.
Maka tidak heran jika pakaian pesilat selalu hitam: agar ia tidak menonjolkan diri, melainkan menampilkan keanggunan dalam kesederhanaan.
Ketentuan Resmi Pakaian Pertandingan (Standar IPSI – Persilat)
Pakaian pencak silat terdiri dari beberapa bagian yang diatur secara ketat demi keseragaman dan keamanan:
| Bagian Pakaian | Keterangan Teknis |
|---|---|
| Baju Silat (Atasan) | Warna hitam polos, model baju lengan panjang hingga ke pergelangan (lebar 10 cm), longgar untuk keluwesan gerak. Atribut yang dipasang disesuaikan dengan konteks pertandingan. |
| Celana Silat (Bawahan) | Warna hitam polos, model longgar, panjang sampai mata kaki, memberi ruang bagi gerakan sapuan dan tendangan. |
| Sabuk (Ikat Pinggang) | Pada pertandingan resmi, seragam standar umumnya menyertakan sabuk putih, namun sabuk ini biasanya dilepaskan saat bertanding dalam kategori tanding. Hal ini menjadi standar spesifik pertandingan, di luar kelaziman sabuk yang warnanya bisa hitam, putih, atau sesuai tingkatan pesilat. |
| Pelindung Tubuh (Body Protector) | Bentuknya seperti rompi berkualitas standar, umumnya berwarna dasar hitam. Pembedanya adalah ikatan kain berwarna merah atau biru yang dipakai sesuai sudut gelanggang masing-masing. |
| Pelindung Kepala dan Peralatan Tambahan | Warna disesuaikan dengan body protector (merah atau biru), termasuk pelindung gigi dan sarung tangan hitam. |
| Pelindung Kemaluan | Wajib digunakan, umumnya terbuat dari bahan plastik dan disediakan oleh masing-masing pesilat. |
| Atribut Resmi (IPSI/Negara) | Konteks Resmi (Daerah/Negara): Pesilat menggunakan badge badan induk organisasi (IPSI) di dada sebelah kiri dan nama negara atau daerah di bagian punggung. |
| Atribut Perguruan | Konteks Antar Perguruan: Umumnya menggunakan lambang perguruan di dada kiri (terkadang dengan badge IPSI di dada kanan), sesuai aturan internal perguruan sebagai identitas luhur. |
Khusus untuk pesilat wanita yang mengenakan jilbab, disarankan agar jilbab yang dipakai juga berwarna hitam polos.
Seluruh pakaian harus dibuat dari bahan yang kuat namun tidak kaku, seperti katun tebal atau kain campuran elastis, yang ringan dan menyerap keringat agar nyaman digunakan.
Sebagai catatan penting, selama berada di gelanggang pertandingan, pesilat dilarang keras menggunakan aksesori apapun selain pakaian dan perlengkapan tanding yang telah disetujui.
Asal dan Tradisi Warna Hitam di Dunia Persilatan
Tradisi mengenakan pakaian hitam telah ada jauh sebelum IPSI berdiri.
Dalam berbagai perguruan silat klasik di Jawa, Madura, dan Sumatra, pakaian hitam melambangkan kerendahan diri di hadapan guru dan Tuhan.
Hitam juga mengajarkan filosofi:
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin gelap ia dari pandangan kesombongan.
Dalam konteks PSHT, warna hitam adalah pakaian lahir dari jiwa putih.
Sebab di balik gelap warna luarnya, tersimpan niat murni, kebeningan hati, dan kesetiaan kepada Setia Hati.
Oleh karena itu, seragam PSHT tidak only digunakan untuk bertanding, tetapi juga untuk berlatih, berdoa, dan berbakti.
Makna Simbolik dalam Pertandingan
Ketika pesilat melangkah ke gelanggang dengan pakaian hitam, sejatinya ia sedang memasuki ruang ujian kesatria.
Warna hitam mengingatkannya untuk tidak terbawa ego dan amarah.
Hitam di tubuh pesilat bukan tanda perang, tetapi tanda kesiapan untuk menghadapi pertarungan dengan tenang dan beradab.
Ia menegaskan bahwa silat bukan tentang menunjuk siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang lebih beradab dalam menghadapi perbedaan.
Dalam ajaran PSHT, warna hitam juga menjadi simbol kesatuan, karena semua pesilat tampak sama di gelanggang, yakni tanpa memandang kasta ataupun pangkat. Yang membedakan hanyalah isi hati dan ketulusan langkahnya.
Etika dan Tata Cara Mengenakan Pakaian Silat
Dalam pertandingan maupun latihan, pakaian hitam dikenakan dengan aturan khusus:
- Selalu dalam keadaan rapi dan bersih.
Kebersihan pakaian mencerminkan kebersihan batin. - Dipakai lengkap dengan ikat pinggang.
Sabuk bukan hanya penanda, tetapi simbol pengendalian diri. - Lambang perguruan diposisikan di dada kiri.
Menandakan bahwa setiap gerak silat bersumber dari hati yang tulus. - Tidak diperkenankan memodifikasi warna atau corak.
Keseragaman adalah tanda kerendahan hati dalam kebersamaan.
Dalam tradisi PSHT, sebelum mengenakan pakaian hitam, pesilat diajarkan untuk mengucap niat dalam hati:
“Kulo nyuwun ridho, mugi kabecikan tansah nuwun wonten laku puniko.”
Artinya: Saya memohon ridho Tuhan agar kebaikan selalu menyertai dalam setiap langkah.
Perbedaan Warna dalam Kategori Seni dan Tanding
Walaupun warna dasar pakaian tetap hitam, dalam kategori tertentu terdapat penyesuaian:
- Kategori Tanding:
Pesilat memakai pakaian hitam dengan body protector merah atau biru sesuai sudut gelanggang. - Kategori Seni Tunggal, Ganda, dan Regu:
Pesilat mengenakan pakaian hitam penuh tanpa pelindung tubuh, disertai perlengkapan senjata atau selendang sesuai jenis jurus.
Perbedaan kecil ini menegaskan bahwa dalam setiap bentuk penampilan, keindahan, kekuatan, dan kesopanan harus tetap berpadu.
Makna Warna Hitam dalam Jiwa PSHT
Dalam filosofi Persaudaraan Setia Hati Terate, warna hitam mengandung pesan luhur:
“Petang bukan kegelapan, melainkan waktu bagi manusia untuk menatap cahaya dalam dirinya.”
Artinya, saat seseorang memakai pakaian hitam, ia diingatkan untuk menemukan terang dalam dirinya sendiri, bukan mencari sorotan di luar.
Hitam juga mengajarkan nrimo ing pandum, yang bermakna menerima takdir dengan ikhlas, tanpa kehilangan semangat berjuang.
Di padepokan-padepokan PSHT, pakaian hitam juga menjadi tanda kesetaraan: tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain, sebab semua berdiri di hadapan Setia Hati dengan kerendahan dan kasih.
Penutup
Pakaian berwarna hitam dalam pencak silat bukan hanya simbol seragam, melainkan manifestasi nilai spiritual dan moral pesilat.
Hitam mengajarkan diam yang berisi, tenang yang berdaya, dan kesederhanaan yang memuliakan.
Dalam pertandingan, ia melindungi tubuh.
Dalam latihan, ia menenangkan jiwa.
Dan dalam kehidupan, ia menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati tidak perlu ditonjolkan, melainkan cukup dirasakan dalam keheningan batin.
Warna hitam bukan kegelapan, melainkan ruang di mana cahaya kesatria sejati berdiam.




Post a Comment