Desain Jembatan Beton Bentang 19 Meter DWG
Daftar Isi
Desain Jembatan Beton Bentang 19 Meter DWG
Dokumen teknis ini menyajikan detail rekayasa desain jembatan beton bertulang dengan bentang struktural sepanjang 19 meter dan lebar 4,3 meter. Cakupan gambar kerja meliputi spesifikasi elemen struktur atas (superstructure) yang terdiri dari balok girder T, diafragma, dan pelat lantai kendaraan, serta elemen struktur bawah (substructure) berupa abutment tipe gravitasi dan wing wall pasangan batu. Dokumen ini juga merinci metode perbaikan tanah dasar menggunakan sistem cerucuk kayu keras pada berbagai kondisi kedalaman tanah dan jenis tanah (mineral dan pasir), lengkap dengan detail pembesian, sistem drainase, dan dudukan elastomeric bearing sesuai standar Bina Marga.
Ringkasan Spesifikasi Teknis
| Komponen | Spesifikasi |
|---|---|
| Bentang Bersih | 19.000 mm (19 Meter) |
| Lebar Total | 4.300 mm |
| Balok Induk | 500 x 1.100 mm |
| Balok Diafragma | 200 x 600 mm |
| Tebal Pelat Lantai | 20 cm |
| Mutu Beton | K-175 |
| Pondasi | Cerucuk Kayu Keras (Diameter 150 mm) |
Informasi Umum File
Berikut adalah parameter administratif dan teknis dari berkas gambar kerja yang tersedia:
- Tipologi Visualisasi Konstruksi
Mencakup proyeksi ortogonal dua dimensi yang meliputi denah situasi, tampak samping, potongan melintang, serta detail-detail arsitektural dan struktural spesifik. - Struktur Konten Dokumentasi
Disusun secara sistematis mulai dari spesifikasi umum, geometri struktur utama, detail penulangan beton, hingga variasi rencana pondasi berdasarkan klasifikasi tanah. - Total Lembar Gambar
Terdiri dari 14 halaman dokumen yang masing-masing merepresentasikan lembar kerja teknis mandiri dengan skala yang bervariasi antara 1:20 hingga 1:100.
Uraian Teknis Per Halaman
1. Denah Situasi dan Spesifikasi Material Jembatan
Halaman ini menyajikan tata letak dasar jembatan dengan skala 1:100 yang menampilkan orientasi struktur terhadap lingkungan sekitar. Terdapat tabel spesifikasi teknis yang menetapkan jembatan sebagai Kelas 1 (100% Bina Marga) dengan lebar jalur lalu lintas 4,3 meter. Material struktur atas menggunakan beton bertulang mutu K-175 dengan agregat batu pecah 2-3 cm, sedangkan struktur bawah memanfaatkan kombinasi beton cor 1:3:5 dan batu belah (batu mangga) sebesar 60%.
- Klasifikasi Beban dan Kelas Jembatan
Menetapkan standar pembebanan yang digunakan dalam perancangan struktur sesuai regulasi Bina Marga. - Spesifikasi Material Struktur Utama
Merinci penggunaan beton K-175 untuk elemen struktural dan batu kali untuk dinding penahan tanah. - Geometri Denah dan Elevasi
Memperlihatkan panjang total bentang 19.000 mm dan posisi balok memanjang dengan dimensi 500x1100 mm. - Komposisi Campuran Beton
Menjelaskan proporsi adukan 1:3:5 untuk pengecoran abutment dan wing wall serta persyaratan plesteran.
2. Tampak Samping dan Potongan Melintang Struktur
Bagian ini memvisualisasikan elevasi samping jembatan yang menunjukkan hubungan antara struktur jembatan, abutment, dan profil tanah sungai. Terlihat jelas elevasi Muka Air Normal (NWL) dan Muka Air Tinggi (HWL) yang menjadi acuan penentuan elevasi dasar balok. Potongan melintang memperlihatkan konfigurasi balok induk (500x1100 mm), balok anak, dan pelat lantai, serta detail sistem drainase berupa pipa PVC yang dipasang setiap ketinggian 1 meter.
- Elevasi Muka Air dan Tanah
Mengindikasikan posisi struktur terhadap level sungai untuk mencegah gerusan pada kaki abutment. - Detail Kemiringan Urugan
Menunjukkan spesifikasi slope tanah urug di belakang dinding penahan dengan kemiringan maksimum 8%. - Konfigurasi Pipa Drainase Vertikal
Menjelaskan penempatan pipa peresapan PVC berdiameter 2 inci untuk mengurangi tekanan hidrostatis tanah. - Dimensi Balok dan Pelat Lantai
Menampilkan ukuran penampang elemen struktur atas termasuk balok tepi 200x600 mm dan tebal pelat lantai.
3. Detail Potongan Abutment dan Wing Wall Batu Kali
Gambar ini fokus pada konstruksi dinding penahan tanah (retaining wall) yang berfungsi sebagai pangkal jembatan. Material utama adalah pasangan batu kali dengan campuran beton, dilengkapi dengan tulangan angkur horizontal (D16-500) untuk stabilitas. Detail ini juga memperlihatkan lapisan filter di belakang dinding yang terdiri dari ijuk, kerikil, dan tanah berbutir kasar yang dipadatkan untuk optimalisasi drainase.
- Konstruksi Pasangan Batu Mangga
Memperlihatkan metode penyusunan material batu belah dengan pengisi beton siklop. - Sistem Drainase Dinding Penahan
Menguraikan susunan lapisan penyaring air di belakang abutment untuk mencegah kejenuhan tanah. - Spesifikasi Urugan Berbutir
Menjelaskan persyaratan material timbunan di belakang dinding sayap untuk stabilitas struktur. - Angkur Tulangan Horizontal
Menunjukkan penggunaan besi beton diameter 16 mm sebagai pengikat massa batuan.
4. Detail Perletakan Elastomer dan Pembesian Kepala Jembatan
Halaman teknis ini menyajikan detail sambungan kritis antara struktur atas dan bawah. Terdapat detail Elastomeric Bearing ukuran 500x500x40 mm yang didudukkan di atas pelat baja. Selain itu, terdapat detail sambungan antara tiang pancang kayu dan beton pondasi (stek besi) serta skema penulangan kepala abutment (backwall) yang menggunakan besi ulir D16 dan sengkang D12.
- Mekanisme Dudukan Elastomeric Bearing
Merinci dimensi bantalan karet dan pelat baja penumpu beban jembatan. - Detail Stek Tiang Pancang Kayu
Memperlihatkan metode penyambungan kepala tiang kayu dengan struktur beton menggunakan coakan dan besi tulangan. - Konfigurasi Tulangan Kepala Abutment
Menampilkan diagram pembesian dinding kepala jembatan untuk menahan beban lateral tanah dan kendaraan. - Spesifikasi Pelat Angkur Baja
Menjelaskan dimensi dan posisi angkur diameter 16 mm panjang 250 mm yang tertanam pada beton.
5. Denah dan Potongan Pembesian Pelat Lantai Kendaraan
Dokumen ini adalah gambar kerja penulangan pelat lantai jembatan. Denah menunjukkan pola penyebaran tulangan pokok dan bagi dengan notasi diameter D10 dan jarak pasang bervariasi (100 mm, 150 mm, 300 mm). Potongan 5-5 memberikan pandangan vertikal mengenai posisi tulangan atas dan bawah serta ketebalan selimut beton pada pelat lantai di atas balok-balok girder.
- Distribusi Tulangan Pelat Lantai
Memetakan pemasangan besi beton pada area momen positif dan negatif pelat. - Geometri Potongan Memanjang Pelat
Memperlihatkan ketebalan pelat dan posisinya relatif terhadap balok diafragma dan balok utama. - Jarak Antar Balok Penumpu
Mengonfirmasi spasi antar balok girder (1400 mm) yang menopang pelat lantai. - Lapisan Penutup Beton Pelat
Menunjukkan tebal selimut beton untuk melindungi tulangan dari korosi lingkungan.
6. Detail Penulangan Balok Induk Memanjang dan Melintang
Lembar ini sangat krusial karena berisi detail pembesian elemen pemikul beban utama. Ditampilkan elevasi balok memanjang dengan susunan tulangan lentur (6 D25 tarik, 2 D25 tekan) dan tulangan geser (D12). Terdapat juga detail pembesian balok melintang (diafragma) yang berfungsi mengikat antar balok induk guna menjamin perilaku monolitik struktur.
- Profil Tulangan Utama Balok T
Menguraikan jumlah dan diameter besi ulir yang digunakan untuk menahan momen lentur pada balok. - Konfigurasi Sengkang Geser Balok
Merinci jarak pemasangan begel diameter 12 mm pada daerah tumpuan dan lapangan. - Detail Potongan Balok Diafragma
Menampilkan dimensi dan penulangan balok pengaku transversal ukuran 200x600 mm. - Dimensi Penampang Balok Girder
Memvisualisasikan ukuran total balok 500x1100 mm beserta posisi tulangan pinggang.
7. Pola Pondasi Cerucuk Abutment Tinggi 4-5 Meter Tanah Mineral
Halaman ini memulai seri gambar rencana pondasi cerucuk. Khusus untuk kondisi tanah mineral dengan tinggi timbunan 4-5 meter, gambar menampilkan denah penyebaran titik pancang kayu diameter 150 mm. Pola grid dan jarak antar tiang diatur untuk mendistribusikan beban vertikal dari abutment tipe 1 secara merata ke tanah keras.
- Grid Tiang Pancang Kayu Mineral Rendah
Menunjukkan susunan dasar cerucuk untuk kondisi beban tanah mineral yang paling ringan. - Kerapatan Cerucuk Zona Sayap
Memperlihatkan konsentrasi tiang pada area wing wall yang menahan tekanan tanah lateral. - Dimensi Kepala Tiang Pancang
Menetapkan diameter minimum kayu keras 15 cm sebagai elemen transfer beban. - Jarak Antar Titik Pancang
Mendefinisikan spasi 450-500 mm antar pusat tiang untuk efisiensi kelompok tiang.
8. Denah Cerucuk Abutment Ketinggian 5-6 Meter Tanah Mineral
Untuk kondisi tanah mineral dengan ketinggian dinding 5-6 meter, densitas cerucuk ditingkatkan. Gambar denah memperlihatkan penambahan baris tiang pada bagian tumit (heel) dan ujung kaki abutment. Potongan melintang pondasi juga memperlihatkan elevasi pemancangan minimum sedalam 4 meter hingga mencapai tanah keras.
- Ekspansi Pola Pancang Menengah
Menggambarkan adaptasi jumlah tiang akibat peningkatan tinggi timbunan tanah. - Penambahan Baris Cerucuk Mineral
Menunjukkan luri tambahan tiang kayu pada sisi belakang dinding penahan. - Koordinat Titik Tiang Sayap
Memetakan posisi spesifik cerucuk pada struktur dinding sayap yang lebih panjang. - Profil Potongan Melintang Pondasi
Memvisualisasikan hubungan vertikal antara pasangan batu dan kepala tiang pancang.
9. Layout Cerucuk Abutment Tinggi 6-7 Meter Tanah Mineral
Pada ketinggian dinding 6-7 meter, beban guling dan geser semakin besar. Gambar ini merespons dengan memperlebar area tapak pondasi dan menambah jumlah cerucuk secara signifikan. Terdapat detail tulangan vertikal (D16-500) yang menghubungkan pasangan batu dengan struktur pondasi di bawahnya untuk mencegah retak akibat gaya tarik.
- Densitas Tiang Mineral Tinggi
Merinci peningkatan kerapatan grid cerucuk untuk mengakomodasi beban struktural yang lebih berat. - Konfigurasi Grid Sayap Diperluas
Memperlihatkan perpanjangan area pemancangan pada zona wing wall. - Stabilitas Lereng Pondasi Dalam
Mengacu pada skema penahan tanah untuk kedalaman galian yang lebih curam. - Penyesuaian Lebar Dasar Abutment
Menunjukkan dimensi tapak dasar yang lebih lebar (5250 mm) dibanding tipe sebelumnya.
10. Rencana Titik Pancang Abutment Tinggi 7-8 Meter Tanah Mineral
Ini adalah varian pondasi terberat untuk tanah mineral. Dengan ketinggian mencapai 8 meter, formasi cerucuk dibuat sangat rapat. Denah menunjukkan pola grid yang masif di seluruh area tapak abutment dan wing wall. Dimensi lebar dasar pondasi mencapai 5700 mm untuk menjamin kestabilan terhadap guling dan keruntuhan daya dukung.
- Formasi Cerucuk Mineral Maksimum
Menampilkan jumlah tiang terbanyak untuk kondisi tanah mineral paling kritis. - Perluasan Zona Pemadatan Tanah
Mengindikasikan area kerja yang lebih luas untuk instalasi pondasi dalam. - Detail Tulangan Vertikal Dinding
Memperjelas penjangkaran tulangan pada dinding abutment yang sangat tinggi. - Geometri Kaki Abutment Lebar
Mengkonfirmasi dimensi lebar dasar maksimum untuk distribusi tegangan tanah.
11. Denah Pondasi Cerucuk Abutment 4-5 Meter Tanah Pasir
Beralih ke kondisi tanah pasir, karakteristik daya dukung berbeda memerlukan penyesuaian desain. Gambar ini menampilkan layout cerucuk untuk tinggi 4-5 meter pada tanah pasir. Kedalaman pemancangan minimum disyaratkan 1,5 meter atau sampai tanah keras, berbeda dengan syarat tanah mineral, merefleksikan sifat gesekan tanah pasir.
- Adaptasi Grid Tiang Tanah Pasir
Menunjukkan modifikasi jarak antar tiang yang disesuaikan dengan parameter tanah granular. - Kedalaman Pemancangan Minimum Pasir
Menetapkan elevasi ujung tiang yang lebih dangkal dibanding tanah mineral. - Pola Sebaran Beban Wingwall
Menggambarkan distribusi tiang pada sayap jembatan untuk tanah berpasir. - Elevasi Dasar Pondasi Pasir
Menentukan level dasar konstruksi pasangan batu di atas hamparan cerucuk.
12. Layout Cerucuk Abutment Ketinggian 5-6 Meter Tanah Pasir
Untuk tanah pasir dengan tinggi dinding 5-6 meter, gambar kerja memperlihatkan penambahan dimensi lebar tapak menjadi 4800 mm. Layout tiang pancang diatur dengan spasi 500 mm antar pusat, membentuk matriks yang stabil untuk menahan beban lateral yang bekerja pada dinding penahan batu kali.
- Konfigurasi Pancang Pasir Menengah
Merinci tata letak tiang untuk kondisi beban menengah pada tanah non-kohesif. - Penambahan Lajur Tiang Sisi Luar
Memperlihatkan baris cerucuk ekstra pada perimeter luar pondasi. - Detail Penulangan Horizontal Dinding
Menunjukkan besi pengikat arah mendatar pada badan abutment. - Kestabilan Tanah Dasar Pasir
Menjadi fokus utama desain pola grid untuk mencegah penurunan tak seragam.
13. Pola Tiang Pancang Abutment Tinggi 6-7 Meter Tanah Pasir
Dokumen ini mengilustrasikan pondasi dalam untuk dinding setinggi 6-7 meter di tanah pasir. Terlihat pelebaran tapak dasar menjadi 5800 mm. Grid cerucuk semakin rapat, terutama di area pertemuan antara abutment utama dan wing wall, yang merupakan titik konsentrasi tegangan terbesar.
- Formasi Cerucuk Pasir Dalam
Menggambarkan sistem pondasi untuk menahan beban tanah pasif yang besar. - Kepadatan Grid Zona Kritis
Menyoroti penempatan tiang yang lebih rapat pada sudut-sudut struktur. - Integrasi Tulangan Dinding Penahan
Menampilkan detail penyaluran beban dari tulangan beton ke pasangan batu. - Geometri Tapak Pondasi Pasir
Mendefinisikan luas area dasar yang diperlukan untuk dukung beban di tanah pasir.
14. Rencana Cerucuk Abutment Tinggi 7-8 Meter Tanah Pasir
Halaman terakhir menyajikan desain pondasi paling masif untuk tanah pasir dengan ketinggian abutment 7-8 meter. Lebar dasar pondasi mencapai 6300 mm dengan ribuan titik pancang yang tergambar dalam grid matriks. Detail ini mencakup spesifikasi tulangan tarik dan tekan yang intensif untuk memastikan integritas struktural dinding penahan raksasa ini.
- Grid Pancang Pasir Maksimal
Menampilkan sistem pondasi terluas untuk kondisi tanah lunak berpasir. - Perkuatan Zona Kaki Dinding Sayap
Memperlihatkan detail khusus pada area kaki wing wall untuk mencegah keruntuhan lokal. - Detail Tulangan Angkur Dinding
Merinci spesifikasi pembesian yang mengikat struktur batu kali secara vertikal dan horizontal. - Profil Lereng Galian Pasir
Memberikan panduan visual mengenai batas galian tanah yang aman saat konstruksi.
File DWG
Bagian ini menyediakan akses langsung ke berkas gambar kerja asli yang menjadi referensi tunggal analisis teknis di atas. File tersebut memuat seluruh metadata geometris dan properti material yang diperlukan untuk keperluan studi lanjut atau pelaksanaan konstruksi.














Posting Komentar