Desain Jembatan Beton Bentang 6 Meter DWG
Daftar Isi
Desain Jembatan Beton Bentang 6 Meter DWG
Dokumen ini berisi satu set lengkap gambar kerja (shop drawing) dan perencanaan struktur untuk jembatan beton bertulang dengan bentang 6 meter dan lebar 4,3 meter. Desain mencakup spesifikasi struktur atas (pelat lantai kendaraan), struktur bawah (abutment dan wing wall), serta detail pondasi cerucuk kayu untuk berbagai kondisi tanah (mineral dan pasir) serta variasi ketinggian. Dokumen ini dirancang dengan standar Bina Marga Kelas 1 untuk aplikasi infrastruktur perkebunan atau pedesaan. Keseluruhan detail desain ini terangkum dalam dokumen dengan Jumlah Halaman 14 Halaman.
| ITEM | KETERANGAN |
|---|---|
| KELAS JEMBATAN | KELAS 1, BINA MARGA (PERKEBUNAN/PEDESAAN) |
| STRUKTUR ATAS | BETON BERTULANG K-175 |
| STRUKTUR BAWAH | ABUTMENT & WING WALL (BATU KALI/COR) |
| LEBAR JEMBATAN | 4.3 METER |
| PANJANG BENTANG | 6.0 METER |
Jenis Gambar Teknik:
-
Denah Situasi (Site Plan)
-
Tampak Samping (Elevation View)
-
Potongan Melintang (Cross Section)
-
Detail Penulangan (Rebar Detailing)
-
Detail Pondasi & Skema Pemancangan
Pratinjau Gambar & Analisis Teknis
Berikut adalah rincian teknis untuk setiap lembar gambar yang terdapat dalam dokumen desain ini:
1. Denah & Spesifikasi Umum
- Denah Situasi (Site Plan) yang menampilkan tata letak jembatan dengan skala 1:50.
- Spesifikasi material menggunakan Beton Bertulang K-175 serta Batu Pecah 2-3 cm.
- Spesifikasi tulangan mencakup Diameter <12mm (fy 240 MPa) dan Diameter >13mm (fy 390 MPa).
- Dimensi utama jembatan meliputi panjang bentang 6.000 mm, lebar total 4.300 mm, serta tebal lantai 350 mm.
- Komponen pendukung terdiri dari kanstin, pipa drainase PVC dengan kemiringan 2%, dan metode cor abutment menggunakan batu mangga 60%.
2. Tampak Samping (Longitudinal Section)
- Tampak Samping (Elevation View) memperlihatkan hubungan vertikal antar komponen struktur secara jelas.
- Elevasi ditentukan dari jarak muka air banjir (HWL) ke dasar balok minimal setinggi 600 mm.
- Struktur bawah terdiri dari pasangan batu kosong dengan cerucuk kayu keras (φ150 mm) yang dipancang hingga tanah keras minimal sedalam 4,00 m.
- Sistem drainase menggunakan pipa suling-suling (PVC 2") yang dipasang setiap interval 1 meter pada abutment.
- Oprit dirancang dengan kemiringan urugan tanah maksimum sebesar 8%.
3. Detail Penulangan & Potongan Melintang
- Denah Penulangan Pelat menggambarkan skema pembesian lantai lengkap dengan notasi jarak antar tulangan.
- Potongan Melintang menunjukkan detail ketebalan pelat dan konfigurasi kanstin beton.
- Dudukan jembatan menempatkan posisi elastomeric bearing pad (karet dudukan) dengan ketebalan 20 mm.
- Tiang sandaran mendetailkan posisi pipa pegangan (handrail) beserta angkur pengikatnya.
4. Detail Abutment & Wing Wall
- Detail sambungan menghubungkan tiang pancang kayu ke beton abutment menggunakan stek besi φ10 mm yang ditekuk masuk coakan sedalam 2 cm.
- Konstruksi dinding menggunakan kombinasi beton cor 1:3:5 dengan batu mangga yang kemudian dilapisi plesteran.
- Potongan A (Wing Wall) memperlihatkan konfigurasi penulangan pada dinding sayap.
- Manajemen urugan menerapkan lapisan filter ijuk dan kerikil yang diikuti pasir urug untuk kontrol drainase serta tekanan tanah.
5. Cerucuk Abutment (Tanah Mineral, H 2-3m)
- Perencanaan ini ditujukan untuk kondisi tanah mineral dengan ketinggian abutment berkisar 2,0 hingga 3,0 m.
- Layout pondasi menggambarkan formasi titik pancang cerucuk kayu yang dilihat dari tampak atas.
- Detail penulangan meliputi pemasangan angkur vertikal dan horizontal berdiameter D16 dengan jarak 500 mm (D16–500).
- Fungsi struktur adalah memberikan dukungan yang memadai untuk menahan beban tanah pada elevasi rendah tersebut.
6. Cerucuk Abutment (Tanah Mineral, H 3-4m)
- Struktur ini dirancang khusus bagi tanah mineral yang memiliki ketinggian dinding 3,0 hingga 4,0 m.
- Modifikasi struktur diterapkan melalui penyesuaian jumlah dan jarak cerucuk guna mengantisipasi beban lateral yang lebih besar.
- Detail Potongan 1-1 & 2-2 menunjukkan dimensi footing yang telah diperlebar demi stabilitas tambahan.
- Kinerja pondasi ditingkatkan agar lebih tahan terhadap gaya dorong tanah.
7. Cerucuk Abutment (Tanah Mineral, H 4-5m)
- Pada ketinggian 4,0 hingga 5,0 m, desain tanah mineral ini memprioritaskan kekokohan dasar struktur.
- Stabilitas guling dan geser diantisipasi dengan memperlebar dimensi dasar pondasi (footing).
- Penulangan angkur menggunakan besi diameter D19 berjarak 500 mm pada sisi miring dinding.
- Fungsi angkur tersebut berperan memperkuat ikatan struktural serta ketahanan terhadap beban lateral.
8. Cerucuk Abutment (Tanah Mineral, H 5-6m)
- Untuk ketinggian 5,0–6,0 m pada tanah mineral, formasi cerucuk dibuat lebih padat terutama pada area tumit (heel) dan jari (toe).
- Tulangan vertikal berupa angkur diameter D16 dipasang dengan jarak 800 mm (P=800).
- Penguatan horizontal ditambahkan untuk menjaga kestabilan serta integritas struktur secara keseluruhan.
9. Cerucuk Abutment (Tanah Mineral, H 6-7m)
- Menghadapi kondisi ekstrem tanah mineral setinggi 6,0–7,0 m, dimensi wing wall dirancang lebih panjang.
- Tapak pondasi diperlebar hingga ukuran maksimum 4.800 mm guna memastikan distribusi beban yang optimal.
- Volume pasangan batu kosong dibuat lebih masif sebagai elemen penunjang stabilitas daya dukung tinggi.
10. Cerucuk Abutment (Tanah Pasir, H 2-3m)
- Awal seri desain untuk tanah pasir ini mencakup ketinggian rendah 2,0 hingga 3,0 m.
- Kedalaman pancang diatur minimum 1,5 m atau hingga mencapai lapisan tanah keras.
- Konfigurasi cerucuk disesuaikan kembali berdasarkan daya dukung gesekan spesifik tanah pasir.
- Skema pemancangan dirancang agar efektif untuk struktur dengan ketinggian rendah.
11. Cerucuk Abutment (Tanah Pasir, H 3-4m)
- Pada tanah pasir setinggi 3,0–4,0 m, fokus utama adalah stabilitas terhadap gerusan air (scouring) dan daya dukung friksi.
- Pola cerucuk memanfaatkan tiang miring (battered piles) pada bagian wing wall.
- Tujuan teknisnya adalah menahan gaya lateral secara efektif pada karakteristik tanah pasir yang labil.
12. Cerucuk Abutment (Tanah Pasir, H 4-5m)
- Ketinggian 4,0–5,0 m pada tanah pasir memerlukan detail struktur bawah yang lebih kompleks.
- Dokumen ini melampirkan Bar Bending Schedule (skematik) khusus untuk kebutuhan angkur.
- Detail tulangan angkur D16 dan D19 dipasang dengan jarak yang lebih rapat.
- Dimensi pondasi menggunakan lebar dasar 3.300 mm untuk memperkuat stabilitas struktur.
13. Cerucuk Abutment (Tanah Pasir, H 5-6m)
- Pondasi dalam untuk tanah pasir setinggi 5,0–6,0 m ini memiliki detail konfigurasi kepala tiang dan overlap tulangan.
- Dimensi dasar pondasi diperbesar signifikan menjadi 4.300 mm.
- Perkuatan sudut diterapkan secara khusus pada pertemuan antara wing wall dan abutment.
14. Cerucuk Abutment (Tanah Pasir, H 6-7m)
- Kondisi tanah pasir ekstrem setinggi 6,0–7,0 m diatasi dengan sistem cerucuk paling kompleks.
- Konfigurasi maksimal mencakup dimensi total abutment yang diperbesar.
- Lebar dasar mencapai 5.300 mm demi menjamin stabilitas maksimal.
- Volume beton siklop dimaksimalkan untuk melawan gaya guling pada tanah lunak tersebut.
Representasi Teknis
Dokumen ini merepresentasikan standar civil engineering design untuk jembatan bentang pendek. File mencakup elemen-elemen esensial seperti:
-
Gambar Struktur (Structural Drawing) yang berisi detail pembesian beton (rebar detailing), dimensi balok dan pelat, serta spesifikasi mutu beton (K-175).
-
Geoteknik & Pondasi yang menerapkan pondasi cerucuk kayu (timber pile foundation) sesuai mekanika tanah (mineral vs pasir) dan analisis stabilitas dinding penahan tanah (retaining wall stability).
-
Manajemen Air (Drainage System) mendetailkan pipa peresapan (weep holes) pada abutment untuk mencegah kejenuhan tanah di belakang struktur.
-
Detail Arsitektural mencakup geometri wing wall, kemiringan oprit, serta layout keseluruhan jembatan.
Dokumen ini sangat relevan sebagai referensi gambar kerja (for construction drawing) maupun dokumen tender untuk proyek infrastruktur jembatan perkebunan atau jalan akses pedesaan.














Posting Komentar