Desain Jembatan Beton Bentang 9 Meter DWG
Daftar Isi
Desain Jembatan Beton Bentang 9 Meter DWG
Halaman ini menyajikan penjabaran teknis dan ilmiah atas satu set gambar kerja (shop drawing) teknik sipil yang merepresentasikan desain jembatan beton dengan bentang 9 meter. Dokumen ini merupakan visualisasi komprehensif yang mencakup struktur atas (superstructure) berupa gelagar dan pelat lantai, serta struktur bawah (substructure) yang terdiri dari abutment, dinding sayap (wing wall), dan sistem pondasi cerucuk. Analisis ini menguraikan spesifikasi material, detail penulangan beton bertulang, dimensi geometris, serta variasi desain pondasi yang disesuaikan dengan kondisi tanah (mineral dan pasir) serta ketinggian timbunan.
Informasi Umum File
Dokumen ini memuat data teknis yang terstruktur dalam format gambar teknik standar, mencakup aspek-aspek berikut:
-
Karakteristik Visual Gambar
Visualisasi disajikan dalam berbagai proyeksi ortografis, meliputi denah (plan), tampak samping (elevation), potongan melintang (cross-section), serta detail pembesian dan tabel spesifikasi. -
Struktur Konten Dokumentasi
Isi dokumen disusun secara sistematis mulai dari denah lokasi, detail elevasi, potongan struktural, detail penulangan komponen utama, hingga variasi desain pondasi cerucuk untuk berbagai ketinggian dan jenis tanah. -
Total Lembar Gambar
Keseluruhan set gambar terdiri dari 14 lembar halaman yang saling terintegrasi, memberikan panduan konstruksi yang lengkap dari struktur atas hingga pondasi.
Uraian Teknis Per Halaman
1. Konfigurasi Denah dan Spesifikasi Material
Halaman pertama menyajikan denah tata letak jembatan yang menggambarkan dimensi global dan orientasi struktur terhadap jalan akses. Informasi ini mencakup lebar jalur lalu lintas, bahu jalan, serta integrasi sistem drainase. Terdapat pula tabel spesifikasi yang menetapkan mutu beton dan tulangan yang harus digunakan dalam pelaksanaan konstruksi.
-
Tata Letak Geometris Jembatan
Denah menunjukkan panjang total jembatan 9.000 mm dengan lebar total struktur 4.500 mm, yang dibagi menjadi dua jalur simetris masing-masing 2.250 mm dari as jembatan. -
Spesifikasi Material Konstruksi
Struktur atas menggunakan beton bertulang K-175 dengan batu pecah 2-3 cm, sedangkan abutment menggunakan beton siklop (campuran 1:3:5 + 60% batu mangga). Tulangan utama menggunakan baja deform (ulir) fy 390 MPa untuk diameter >13mm. -
Sistem Drainase Permukaan
Lantai jembatan dirancang dengan kemiringan (slope) 2% ke arah tepi untuk penyaluran air hujan, dilengkapi saluran air dari pipa PVC diameter 2 inci sepanjang 2-2,25 m. -
Dimensi Elemen Struktural
Teridentifikasi penggunaan balok induk berdimensi 400x700 mm dan balok diafragma, didesain untuk beban kendaraan sesuai standar Bina Marga Kelas 1 (100%).
2. Elevasi Samping dan Referensi Muka Air
Bagian ini memvisualisasikan tampak samping jembatan dan detail chamber atau ruang bebas di bawah gelagar. Gambar ini krusial untuk menentukan elevasi dasar abutment relatif terhadap dasar sungai dan muka air banjir (HWL), serta memberikan panduan penanganan transisi antara struktur beton dan timbunan tanah oprit.
-
Profil Elevasi Jembatan
Tampak samping memperlihatkan bentang bersih antar tumpuan serta jarak vertikal minimum 800 mm yang harus dijaga antara dasar balok dengan muka air banjir tertinggi (HWL). -
Referensi Hidrologi dan Tanah
Catatan teknis menetapkan kedalaman dasar abutment yang bervariasi: minimal 120 cm di bawah dasar sungai terendah untuk tanah mineral, dan minimal 150 cm untuk tanah pasir. -
Konstruksi Abutment Batu Kali
Struktur bawah digambarkan sebagai pasangan batu kali (beton siklop) yang duduk di atas lantai kerja setebal 50 mm, didukung oleh tiang pancang kayu (cerucuk). -
Detail Pipa Resapan
Dinding abutment dilengkapi dengan pipa PVC diameter 2 inci yang dipasang setiap ketinggian 1 meter untuk mengurangi tekanan hidrostatis air tanah di belakang dinding penahan.
3. Potongan Melintang dan Detail Perletakan
Halaman ini membedah struktur jembatan secara melintang untuk memperlihatkan susunan gelagar, pelat lantai, dan detail sambungan pada tumpuan. Fokus utama adalah pada mekanisme transfer beban dari suprastruktur ke sub-struktur melalui elastomeric bearing pad.
-
Konfigurasi Gelagar Utama
Potongan melintang menunjukkan tiga buah gelagar utama dengan jarak antar as balok sebesar 1.400 mm, menopang pelat lantai dengan lebar jalur lalu lintas efektif 4.300 mm. -
Detail Elastomeric Bearing
Sistem perletakan menggunakan bantalan elastomer berdimensi 450x400x30 mm yang ditempatkan di antara pelat baja atas dan bawah untuk mengakomodasi pergerakan termal dan beban dinamis. -
Penampang Balok Tepi
Detail khusus balok tepi (curb beam) ditampilkan dengan dimensi dan tulangan spesifik, yang berfungsi sebagai pembatas sekaligus pengaku tepi pelat lantai. -
Sistem Angkur Perletakan
Stabilitas posisi elastomer dijaga menggunakan angkur diameter 16 mm dengan panjang penyaluran 250 mm yang tertanam pada beton abutment dan gelagar.
4. Detail Pembesian Dinding Sayap dan Kepala Jembatan
Halaman ini berfokus pada detail penulangan (reinforcement detailing) untuk komponen struktur bawah, yaitu wing wall dan kepala abutment. Gambar ini memberikan panduan fabrikasi besi beton untuk menahan gaya lateral tanah dan beban vertikal jembatan.
-
Skema Tulangan Wing Wall
Dinding sayap diperkuat dengan tulangan diameter 16 mm berjarak 500 mm (D16-500) baik arah horizontal maupun vertikal, dengan perkuatan ekstra pada sudut pertemuan. -
Detail Penulangan Abutment
Kepala abutment memiliki skema penulangan serupa (D16-500) untuk menahan momen guling akibat tekanan tanah aktif, dilengkapi sengkang pengikat. -
Koneksi Stek Tiang Pancang
Detail hubungan antara pondasi kayu dan beton memperlihatkan batang kayu yang dicoak sedalam 2 cm, di mana besi stek dimasukkan untuk memastikan monolititas struktur. -
Manajemen Air Tanah
Terlihat kembali penempatan pipa resapan (suling-suling) diameter 2 inci pada dinding sayap untuk drainase air tanah di belakang struktur penahan.
5. Detail Penulangan Balok Memanjang dan Melintang
Lembar ini adalah referensi utama untuk pembesian elemen pemikul beban utama, yaitu balok gelagar (memanjang) dan balok diafragma (melintang). Gambar menyajikan elevasi pembesian sepanjang bentang dan potongan melintang balok.
-
Tulangan Utama Gelagar
Balok memanjang 400x700 mm diperkuat dengan kombinasi tulangan tarik yang masif, terdiri dari lapis bawah (5 D22), lapis tengah (2 D22), dan tulangan atas (4 D22) pada tumpuan. -
Sengkang Balok Diafragma
Balok melintang menggunakan tulangan utama 4 D12 dengan sengkang diameter 10 mm jarak 200 mm (ϕ10-200) untuk menahan gaya geser. -
Potongan Penulangan Balok
Terdapat tiga jenis potongan (Pot 1-1, 2-2, 3-3) yang menjelaskan variasi penulangan pada area tumpuan (dekat abutment) dan area lapangan (tengah bentang). -
Geometri Balok Struktural
Balok didesain dengan lebar badan 400 mm dan tinggi total bervariasi tergantung posisi, dilengkapi haunch atau penebalan pada pertemuan dengan pelat lantai.
6. Rencana Penulangan Pelat Lantai Kendaraan
Halaman ini menguraikan konstruksi pelat lantai jembatan (deck slab), termasuk tata letak tulangan rangkap (atas dan bawah) serta ketebalan beton yang dibutuhkan untuk menopang beban lalu lintas.
-
Jaring Tulangan Pelat
Pelat lantai diperkuat dengan tulangan polos diameter 10 mm. Tulangan arah melintang jembatan dipasang jarak 100 mm (ϕ10-100), sedangkan arah memanjang sebagai pembagi berjarak 300 mm (ϕ10-300) di lapis atas. -
Potongan Tebal Lantai
Potongan 5-5 menunjukkan ketebalan pelat lantai dasar sebesar 200 mm, yang dicor monolit di atas balok-balok utama. -
Lapisan Selimut Beton
Detail potongan memperlihatkan selimut beton (concrete cover) setebal 50 mm untuk melindungi tulangan dari korosi dan abrasi lingkungan. -
Kemiringan Transversal Jalan
Penulangan mengikuti profil kemiringan permukaan jalan sebesar 2% dari as tengah menuju tepi untuk memastikan aliran air yang efektif.
7. Formasi Cerucuk Tanah Mineral Ketinggian Rendah
Mulai halaman ini, dokumen menyajikan variasi desain pondasi. Halaman 7 khusus untuk kondisi tanah mineral dengan ketinggian abutment (H) 3-4 meter.
-
Denah Titik Pancang Tipe 1
Denah memperlihatkan susunan cerucuk kayu pada area tapak abutment dan sayap dengan jarak antar tiang 450 mm. -
Potongan Vertikal Pondasi Dangkal
Potongan 1-1 menggambarkan geometri abutment yang ramping dengan lebar dasar 2100 mm, sesuai untuk ketinggian timbunan rendah. -
Konfigurasi Cerucuk Kayu
Spesifikasi mensyaratkan penggunaan kayu keras diameter min. 150 mm yang dipancang hingga mencapai tanah keras, minimal kedalaman 4 meter. -
Dimensi Tapak Abutment
Tapak pondasi didesain bertingkat (stepped footing) dengan lebar segmen depan dan belakang yang proporsional untuk mendistribusikan beban ke kelompok tiang.
8. Formasi Cerucuk Tanah Mineral Ketinggian Menengah
Halaman ini menyajikan penyesuaian desain pondasi untuk kondisi tanah mineral dengan ketinggian abutment (H) antara 4 hingga 5 meter, yang memerlukan stabilitas lebih tinggi.
-
Pola Pemancangan Tipe 2
Jumlah baris cerucuk ditingkatkan untuk mengimbangi beban guling yang lebih besar, dengan pola grid tetap 450x450 mm. -
Geometri Dinding Penahan Tanah
Lebar dasar abutment diperlebar menjadi 3000 mm (dibandingkan 2100 mm pada tipe sebelumnya) untuk meningkatkan faktor keamanan terhadap guling. -
Kerapatan Tiang Pancang
Kepadatan tiang pancang disesuaikan pada area tumit (heel) dan ujung (toe) dinding penahan untuk menahan eksentrisitas beban. -
Skema Potongan Memanjang
Potongan 1-1 dan 2-2 memperlihatkan perubahan kemiringan sisi depan dinding abutment yang disesuaikan dengan peningkatan ketinggian struktur.
9. Formasi Cerucuk Tanah Mineral Ketinggian Tinggi
Desain ini ditujukan untuk struktur dengan ketinggian (H) 5-6 meter pada tanah mineral, mengindikasikan struktur jembatan yang melintasi sungai yang lebih dalam atau tebing yang lebih tinggi.
-
Layout Pondasi Tipe 3
Lebar tapak dasar diperbesar signifikan menjadi 3900 mm untuk menjaga kestabilan struktur terhadap gaya lateral tanah yang besar. -
Perluasan Dimensi Base
Jumlah baris cerucuk bertambah menjadi sekitar 8-9 baris arah transversal untuk mendistribusikan beban vertikal yang meningkat ke tanah dasar. -
Distribusi Beban Vertikal
Tulangan horizontal (D16-500) pada tapak pondasi diatur untuk menahan momen lentur yang terjadi pada pelat tapak yang lebih lebar. -
Detail Lereng Abutment
Kemiringan dinding belakang abutment dipertahankan untuk meminimalkan tekanan tanah aktif, namun dengan volume beton siklop yang lebih masif.
10. Formasi Cerucuk Tanah Mineral Ketinggian Maksimum
Halaman ini menampilkan konfigurasi pondasi terbesar untuk tanah mineral, didesain untuk ketinggian abutment (H) 6-7 meter.
-
Denah Pondasi Tipe 4
Dimensi dasar abutment mencapai lebar 4800 mm, menunjukkan kebutuhan area dukung yang sangat luas untuk ketinggian maksimum ini. -
Profil Abutment Tinggi
Ketinggian total dinding penahan mencapai puncaknya, memerlukan massa beton siklop yang besar sebagai gravity wall. -
Intensitas Cerucuk Struktural
Grid cerucuk dipasang sangat rapat di seluruh area tapak dan sayap untuk mencegah settlement (penurunan) berlebih. -
Batas Galian Tanah
Gambar menunjukkan batas galian yang lebih lebar (700 mm dari tepi pondasi) untuk memberikan ruang kerja konstruksi dinding yang masif.
11. Formasi Cerucuk Tanah Pasir Ketinggian Rendah
Mulai halaman ini, dokumen menyajikan variasi desain pondasi. Halaman 11 khusus untuk kondisi tanah dasar pasir (sand), yang memiliki karakteristik daya dukung berbeda dari tanah mineral. Ini untuk ketinggian H 3-4 meter.
-
Adaptasi Pondasi Tanah Pasir 1
Desain pondasi disesuaikan khusus untuk tanah pasir dengan lebar dasar 2500 mm (lebih lebar dari versi tanah mineral setinggi sama yang hanya 2100 mm). -
Kedalaman Penanaman Tiang
Catatan khusus menyebutkan cerucuk kayu harus mencapai tanah keras minimal 1,5 meter, berbeda dengan syarat 4 meter pada tanah mineral, mengindikasikan profil tanah keras yang mungkin berbeda atau friksi pasir yang diandalkan. -
Geometri Kaki Abutment Pasir
Bentuk tapak pondasi lebih lebar untuk mengurangi tegangan kontak tanah (bearing pressure) pada media pasir yang cenderung kurang kohesif. -
Skema Stabilitas Tanah
Pola penyebaran tiang pancang pada wing wall disesuaikan untuk mengikat butiran pasir agar lebih padat di sekitar pondasi.
12. Formasi Cerucuk Tanah Pasir Ketinggian Menengah
Variasi desain untuk tanah pasir dengan ketinggian abutment (H) 4-5 meter.
-
Konfigurasi Tiang Pasir 2
Lebar dasar abutment meningkat menjadi 3400 mm. Penambahan lebar ini signifikan dibandingkan versi tanah mineral untuk ketinggian yang sama (3000 mm). -
Lebar Efektif Pondasi
Perluasan tapak pondasi dilakukan untuk mengantisipasi potensi gerusan (scour) dan penurunan seketika pada tanah pasir. -
Potongan Melintang Tanah Lunak
Potongan struktur memperlihatkan volume pasangan batu yang lebih besar di bagian kaki untuk pemberat. -
Spesifikasi Kayu Cerucuk
Tetap menggunakan kayu keras diameter 150 mm, dengan penekanan pada pemancangan hingga kedalaman tanah keras minimal 1,5 meter.
13. Formasi Cerucuk Tanah Pasir Ketinggian Tinggi
Desain pondasi untuk tanah pasir dengan ketinggian struktur (H) 5-6 meter.
-
Layout Pemancangan Pasir 3
Lebar dasar pondasi mencapai 4800 mm. Ini jauh lebih besar dibanding desain tanah mineral setinggi sama (3900 mm), mencerminkan kebutuhan stabilitas ekstra di tanah pasir. -
Perkuatan Dasar Sungai
Jumlah baris cerucuk sangat masif, memenuhi hampir seluruh area tapak untuk memastikan transfer beban yang merata dan mencegah likuifaksi lokal. -
Penampang Dinding Penahan Pasir
Profil dinding sangat tebal di bagian bawah (2300 mm pada segmen pertama) untuk menurunkan titik berat struktur. -
Kepadatan Grid Tiang
Jarak antar tiang tetap 500 mm namun dengan cakupan area yang jauh lebih luas mengikuti dimensi tapak.
14. Formasi Cerucuk Tanah Pasir Ketinggian Maksimum
Halaman terakhir menyajikan desain pondasi paling masif untuk kondisi tanah pasir dengan ketinggian ekstrem (H) 6-7 meter.
-
Denah Pondasi Pasir 4
Lebar dasar abutment mencapai 5300 mm, merupakan dimensi pondasi terbesar dalam dokumen ini. -
Desain Abutment Ekstra Tinggi
Struktur dirancang sebagai dinding gravitasi raksasa untuk menahan tekanan tanah lateral yang sangat besar pada ketinggian 7 meter. -
Stabilitas Lereng Pasir
Cerucuk dipasang hingga ke ujung terluar tapak untuk mengunci massa tanah pasir di bawah pondasi agar tidak tergeser oleh beban horizontal. -
Potongan Detail Akhir
Gambar potongan akhir ini merangkum kompleksitas struktur bawah jembatan di kondisi tanah yang paling menantang, dengan integrasi penuh antara beton, batu kali, dan tiang pancang kayu.
File DWG
Bagian ini menyediakan akses langsung ke berkas digital asli dalam format DWG. File ini berisi seluruh data vektor presisi yang diperlukan untuk keperluan pengukuran ulang, analisis struktural lanjutan, atau referensi shop drawing dalam perangkat lunak CAD.














Posting Komentar