Desain Jembatan Komposit 22 Meter Mini Pile 250x250 mm L = 9 Meter K-400 DWG
Table of Contents
Desain Jembatan Komposit 22 Meter Mini Pile 250×250 mm L = 9 Meter K-400 DWG
Dokumen teknis ini menyajikan detail rekayasa struktur jembatan komposit dengan bentang 22 meter yang dirancang menggunakan kombinasi gelagar baja dan pelat lantai beton bertulang. Desain ini mengintegrasikan struktur bawah yang ditopang oleh fondasi tiang pancang (mini pile) berukuran 250×250 mm dengan kedalaman efektif 9 meter, menggunakan mutu beton K-400 untuk menjamin kapasitas dukung beban aksial yang optimal. Konfigurasi sistem komposit dipilih untuk mengefisiensikan rasio berat sendiri terhadap kapasitas beban hidup, di mana interaksi antara plate deck, shear connector, dan balok baja difungsikan untuk bekerja sebagai satu kesatuan monolitik. Dokumen ini juga menguraikan elemen pendukung vital seperti abutment tipe gravitasi, wing wall untuk penahan tanah, approach slab (pelat injak) untuk transisi elevasi jalan, serta sistem drainase dan proteksi lereng (heling) yang komprehensif guna mitigasi gerusan air sungai.
Ringkasan Spesifikasi Teknis
| Komponen | Spesifikasi Teknis |
|---|---|
| Tipe Struktur Utama | Jembatan Komposit (Gelagar Baja & Lantai Beton) |
| Bentang Total | 22 Meter (22.000 mm) |
| Lebar Manfaat Jalan | 4.500 mm |
| Jenis Fondasi | Mini Pile (Tiang Pancang) Ukuran 250x250 mm |
| Kedalaman Tiang | 9 Meter |
| Mutu Beton Tiang | K-400 |
| Mutu Beton Struktur | K-225 (Abutment & Plat) |
| Jarak Antar Gelagar | 1.250 mm |
| Gelagar Utama | Profil Baja WF dengan Cross Bracing |
| Penghubung Geser | Shear Connector Diameter 16 mm |
| Elevasi Muka Air Banjir | +30.00 |
Informasi Umum File
Dokumen gambar kerja ini merupakan kumpulan representasi vektor presisi tinggi yang mendefinisikan geometri, dimensi, material, dan metode konstruksi jembatan secara terperinci. Set gambar mencakup seluruh aspek mulai dari pemetaan situasi, profil memanjang dan melintang, detail penulangan beton, hingga skema perlindungan tebing sungai.
- Klasifikasi Dokumen Teknis
Mengidentifikasi berkas ini sebagai "Shop Drawing" atau "Detailed Engineering Design (DED)" untuk jembatan kelas 1 tipe C. - Spesifikasi Visual Grafis
Menampilkan lineweight yang hirarkis, notasi dimensi milimeter, simbol material standar (arsiran beton, tanah, pasangan batu), dan kop gambar standar proyek. - Cakupan Sistem Struktur
Meliputi suprastruktur (gelagar, lantai), substruktur (abutment, fondasi), dan pekerjaan pendukung (jalan pendekat, drainase). - Volume Lembar Kerja
Terdiri dari 11 halaman gambar teknis yang disusun secara sekuensial dari tinjauan umum hingga detail spesifik komponen.
Uraian Teknis Per Halaman
1. Layout Denah Situasi Jembatan
Lembar ini menyajikan tata letak horisontal jembatan dalam konteks topografi eksisting dengan skala 1:150. Gambar mendefinisikan alinyemen jembatan yang menghubungkan dua sisi tebing sungai dengan bentang total rencana 22.000 mm. Fokus teknis pada halaman ini adalah penempatan struktur utama terhadap badan air dan transisi geometri jalan raya (oprit) yang dilindungi oleh dinding penahan tanah bersayap (wing wall) dengan radius kelengkungan tertentu. Informasi ini krusial untuk penentuan titik referensi survei (benchmark) dan orientasi sumbu jembatan terhadap aliran sungai.
- Geometri Alinyemen Horisontal
Menetapkan sumbu as jembatan tegak lurus terhadap aliran sungai untuk meminimalkan bentang efektif dan gaya hidrodinamis. - Konfigurasi Dinding Sayap
Memperlihatkan desain wing wall melengkung yang berfungsi mengarahkan aliran air menjauhi abutment dan menahan timbunan tanah oprit. - Integrasi Topografi Lahan
Menggambarkan hubungan antara elevasi tanah asli, area timbunan (heling 1:1.5), dan struktur jembatan. - Dimensi Bentang Total
Mengonfirmasi panjang total struktur 22 meter yang mencakup jarak antar as perletakan dan expansion joint. - Batas Area Konstruksi
Mendelineasi area kerja efektif termasuk kemiringan talud sungai yang memerlukan proteksi pasangan batu. - Posisi Jalan Pendekat
Menunjukkan lebar dan arah jalan akses yang terhubung langsung dengan pelat injak jembatan. - Orientasi Arah Aliran
Memberikan konteks hidrologis yang mempengaruhi desain perlindungan gerusan pada pilar atau abutment.
2. Potongan Memanjang dan Elevasi Vertikal
Bagian ini mengilustrasikan profil vertikal jembatan (Longitudinal Section) dengan skala 1:150, memperlihatkan hubungan elevasi antara muka air banjir (+30.00), level jalan (+32.10), dan dasar fondasi. Gambar ini memvisualisasikan sistem transfer beban dari suprastruktur ke lapisan tanah keras melalui mini pile 250x250 mm sepanjang 9 meter. Terlihat pula lapisan tanah urug yang dipadatkan di belakang abutment serta pasangan batu kali yang berfungsi sebagai perlindungan tebing sungai terhadap erosi. Gradien jalan pendekat sebesar 8% juga didefinisikan untuk kenyamanan kendaraan saat memasuki jembatan.
- Elevasi Muka Air Banjir
Menentukan freeboard atau tinggi bebas jembatan untuk keamanan terhadap serpihan hanyut saat debit maksimum. - Spesifikasi Fondasi Dalam
Mengindikasikan penggunaan tiang pancang beton pracetak (Mini Pile) 250x250 mm untuk menahan beban aksial dan lateral. - Lapisan Struktur Perkerasan
Menunjukkan susunan tanah urug di belakang abutment yang mendukung stabilitas jalan pendekat. - Sistem Proteksi Tebing
Memperlihatkan penggunaan pasangan batu kosong dan batu kali untuk mencegah scouring di sekitar abutment. - Gradien Vertikal Jalan
Menetapkan kemiringan 8% pada oprit yang memerlukan perhitungan jarak pandang henti yang aman. - Elevasi Rencana Jalan
Menjadi acuan utama finishing permukaan lantai kendaraan relatif terhadap datum proyek (+32.10). - Kedalaman Penetrasi Tiang
Memberikan informasi panjang tiang 9 meter yang diperlukan untuk mencapai daya dukung tanah yang disyaratkan.
3. Potongan Melintang dan Struktur Bangunan Bawah
Halaman ini menampilkan irisan melintang (Transverse Section) skala 1:50 yang memperlihatkan konfigurasi gelagar induk baja profil I (WF) dan diafragma pengaku (cross bracing). Detail ini juga mengekspos dimensi abutment beton bertulang serta penempatan pipa drainase PVC 2" (weep holes) untuk membuang air tanah di belakang dinding penahan. Penggunaan cerucuk kayu diameter 120 mm dengan panjang 4 meter di bawah pasangan batu kali menunjukkan adanya upaya perbaikan tanah lunak atau stabilisasi tambahan pada area lereng sungai.
- Konfigurasi Gelagar Baja
Menampilkan susunan balok induk baja yang dihubungkan dengan bracing siku untuk kekakuan lateral. - Manajemen Drainase Subsurface
Menjelaskan fungsi pipa suling (weep holes) per jarak 150 cm untuk mereduksi tekanan hidrostatis di belakang dinding abutment. - Stabilisasi Tanah Lunak
Menguraikan penggunaan cerucuk kayu sebagai friction pile untuk meningkatkan daya dukung tanah di bawah proteksi lereng. - Profil Dinding Penahan
Memperlihatkan geometri abutment tipe dinding penuh (full height wall) yang menahan beban tanah lateral dan vertikal. - Lapisan Lantai Kerja
Menunjukkan penggunaan beton lean concrete (Bo) di bawah tapak fondasi sebagai perata permukaan tanah. - Lebar Manfaat Jembatan
Mendefinisikan ruang bebas horisontal selebar 4500 mm untuk lalu lintas kendaraan. - Detail Pasangan Batu
Menggambarkan konstruksi pelindung tebing yang terintegrasi dengan struktur pondasi jembatan.
4. Denah Pelat Lantai dan Shear Connector
Lembar teknis ini fokus pada desain pelat lantai beton (Deck Slab) dan mekanisme aksi kompositnya, disajikan dalam skala 1:100 dan 1:20. Elemen kunci adalah shear connector (penghubung geser) berdiameter 16 mm yang dilas pada top flange gelagar baja, berfungsi mencegah slip antara baja dan beton serta menyatukan keduanya menjadi satu penampang efektif. Penulangan pelat lantai menggunakan besi D10-150 dan D16-200, dengan kemiringan melintang 2% untuk drainase permukaan air hujan menuju pipa buangan.
- Mekanisme Aksi Komposit
Menjelaskan peran shear connector D16 dalam mentransfer gaya geser horizontal antara baja dan beton. - Detail Penulangan Lantai
Menyajikan spesifikasi tulangan rangkap (atas-bawah) untuk menahan momen lentur negatif dan positif pada pelat. - Geometri Kemiringan Lantai
Menetapkan cross-fall 2% agar air hujan mengalir lancar ke pipa drainase samping. - Pemanfaatan Plate Deck
Mengindikasikan penggunaan pelat baja bergelombang (bondek) sebagai bekisting tetap yang sekaligus berfungsi tulangan positif. - Sistem Pipa Drainase
Menunjukkan letak pipa pembuangan air hujan diameter 3 inci dengan jarak spasi 4 meter. - Distribusi Beban Roda
Memperhitungkan ketebalan efektif pelat beton dalam menahan beban gandar kendaraan desain. - Jarak Antar Gelagar
Mendetailkan spasi balok induk (1250 mm) yang mempengaruhi desain ketebalan pelat lantai.
5. Denah Pondasi Tiang Pancang
Dokumen ini memuat rencana titik pancang (Pilling Plan) skala 1:25 untuk struktur abutment. Pondasi didesain menggunakan tiang pancang kelompok (pile group) mini pile 250x250 mm beton mutu K-400 dengan kedalaman 9 meter. Tata letak tiang diatur dalam konfigurasi grid dengan jarak antar as tiang 700 mm, yang dirancang untuk mendistribusikan beban terpusat dari abutment secara merata ke lapisan tanah keras dan meminimalkan penurunan (settlement) diferensial.
- Konfigurasi Grup Tiang
Menjelaskan susunan matriks tiang pancang untuk memaksimalkan efisiensi grup tiang (pile group efficiency). - Spesifikasi Material Tiang
Menetapkan mutu beton tinggi K-400 untuk menahan tegangan tekan tinggi akibat beban jembatan saat pemancangan dan layan. - Jarak Spasi Tiang
Menentukan jarak as-ke-as 700 mm untuk mencegah tumpang tindih tegangan tanah antar tiang (soil stress overlap). - Dimensi Pile Cap
Memberikan acuan ukuran tapak pondasi (poer) yang mengikat kepala tiang menjadi satu kesatuan kaku. - Kapasitas Dukung Aksial
Menyiratkan perhitungan beban vertikal maksimum yang dapat ditanggung oleh setiap titik pancang. - Batas Toleransi Posisi
Menjadi panduan survei untuk deviasi maksimum titik pancang di lapangan. - Integrasi Struktur Bawah
Menghubungkan posisi tiang pancang dengan dinding abutment yang akan dicor di atasnya.
6. Detail Penulangan Abutment (Potongan A & B)
Halaman ini menyajikan detail pembesian (rebar detailing) struktur abutment secara vertikal (Potongan A) dan horizontal (Potongan B). Material beton untuk abutment menggunakan mutu K-225. Gambar menunjukkan susunan tulangan utama D13-150 dan D13-200, serta angkur D22 untuk koneksi ke fondasi. Detail pertemuan antara pile cap, dinding badan (breast wall), dan wing wall diperjelas untuk memastikan kontinuitas penyaluran gaya momen dan geser pada struktur masif tersebut.
- Kontinuitas Penulangan
Menjelaskan sambungan lewatan (lap splice) antara tulangan tiang pancang dan tulangan pile cap. - Tulangan Dinding Badan
Merinci pembesian sisi muka dan belakang abutment untuk menahan tekanan tanah aktif. - Detail Angkur Pondasi
Menunjukkan panjang penyaluran angkur D22 yang tertanam dalam pile cap untuk mencegah pull-out. - Mutu Beton Struktural
Menetapkan kelas K-225 untuk struktur abutment yang cukup untuk lingkungan non-agresif namun struktural. - Koneksi Kepala Tiang
Menggambarkan detail stek besi tiang pancang yang masuk ke dalam pile cap setebal 50 mm (selimut beton). - Tulangan Sengkang Ikat
Memperlihatkan penggunaan besi pengikat untuk menjaga jarak dan posisi tulangan utama saat pengecoran. - Lapisan Dasar Kerja
Menspesifikasikan lantai kerja setebal 5 cm dan pasir urug 10 cm di bawah pondasi.
7. Detail Pembesian Wing Wall
Lembar ini fokus pada struktur dinding sayap (Wing Wall) yang berfungsi menahan longsoran tanah oprit di sisi kiri dan kanan abutment. Skala 1:25 digunakan untuk memperlihatkan anyaman tulangan D13-200 dan D13-250. Desain penulangan memperhitungkan gaya momen yang bervariasi dari pangkal (pertemuan dengan abutment) hingga ujung dinding, serta tekanan tanah lateral yang bekerja pada dinding kantilever tersebut.
- Variasi Kerapatan Tulangan
Menjelaskan pengaturan jarak tulangan yang lebih rapat di area momen maksimum dekat abutment. - Mekanisme Penahan Tanah
Menguraikan fungsi struktural dinding sayap dalam menstabilkan timbunan jalan pendekat. - Ikatan Tulangan Horizontal
Menunjukkan tulangan bagi yang berfungsi mendistribusikan retak beton akibat susut dan suhu. - Geometri Dinding Miring
Memperlihatkan bentuk trapesium dinding sayap yang mengikuti kemiringan talud tanah rencana. - Koneksi Dinding-Abutment
Mendetailkan penyaluran tulangan wing wall ke dalam badan abutment utama. - Perlindungan Selimut Beton
Menjamin ketebalan selimut beton yang cukup untuk mencegah korosi tulangan akibat kontak dengan tanah. - Tulangan Tarik Utama
Mengidentifikasi posisi tulangan tarik di sisi dalam dinding yang menahan beban tanah urug.
8. Tampak Atas Kepala Jembatan dan Dudukan Bearing
Bagian ini menampilkan denah "Kepala Jembatan" (Abutment Seat) skala 1:50, yang mengatur posisi dudukan elastomer (Elastomeric Bearing Pad) dan penahan gempa (Seismic/Lateral Stop). Terlihat posisi blok beton bertulang (pedestal) yang berfungsi mendistribusikan beban reaksi gelagar ke dinding abutment. Penulangan pedestal menggunakan D13-150 spiral atau sengkang rapat untuk menahan gaya bursting akibat beban terpusat yang besar.
- Posisi Elastomeric Bearing
Menentukan titik tumpu gelagar baja yang memungkinkan rotasi dan pergerakan termal. - Desain Pedestal Beton
Menjelaskan fungsi peninggian beton bertulang untuk mencapai elevasi peletakan gelagar yang presisi. - Mekanisme Penahan Lateral
Menguraikan fungsi blok penahan (shear key) untuk mencegah pergeseran jembatan saat gempa. - Tulangan Pengekang Pedestal
Memperlihatkan detail sengkang rapat untuk meningkatkan daktilitas dan kapasitas dukung pedestal. - Jarak Antar Tumpuan
Memberikan dimensi eksak jarak antar pusat tumpuan gelagar di atas abutment. - Drainase Dudukan
Memastikan adanya kemiringan atau celah agar air tidak menggenang di area perletakan (bearing seat). - Fleksibilitas Desain
Mencatat bahwa dimensi final akan disesuaikan dengan desain supplier baja dan bearing.
9. Detail Drainase, Heling, dan Kepala Cerucuk
Halaman ini merupakan kompilasi detail pekerjaan pendukung namun vital, mencakup saluran drainase beton, perlindungan lereng (heling), dan detail kepala cerucuk. Saluran drainase menggunakan beton cor 1:2:3 tebal 8 cm dengan wiremesh M6. Detail kepala cerucuk memperlihatkan metode pengikatan tiang kayu dengan struktur beton di atasnya menggunakan stek besi diameter 10 mm yang dibor ke dalam kayu.
- Spesifikasi Saluran Drainase
Menetapkan konstruksi saluran terbuka beton bertulang wiremesh untuk mengalirkan air permukaan secara cepat. - Teknik Pengikatan Cerucuk
Menjelaskan detail connection komposit antara tiang kayu dan struktur beton pengunci di atasnya. - Konstruksi Pelindung Lereng
Menguraikan lapisan beton bertulang tipis (lining) pada permukaan tanah miring untuk mencegah erosi permukaan. - Fungsi Pipa Rembesan
Menekankan pentingnya drainase di balik dinding penahan tanah untuk stabilitas lereng jangka panjang. - Lapisan Plastik Cor
Menunjukkan penggunaan membran pemisah antara tanah dan beton cor baru untuk menjaga mutu beton. - Penggunaan Batu Kali
Memperlihatkan kombinasi dinding penahan batu kali di kaki lereng sebagai dinding penahan gravitasi rendah. - Detail Penulangan Saluran
Menyajikan bentuk U-ditch cor di tempat dengan tulangan wiremesh praktis.
10. Detail Plat Injak dan Isometri Abutment
Lembar ini memvisualisasikan bentuk tiga dimensi abutment melalui gambar isometri (tanpa skala) dan detail teknis pelat injak (approach slab). Pelat injak bertulang D10-150 diposisikan di atas tanah urug padat di belakang abutment, berfungsi sebagai jembatan transisi agar tidak terjadi perbedaan penurunan yang tajam antara struktur kaku jembatan dan jalan raya yang fleksibel. Terdapat detail dilatasi aspal dan siku L50x50x5 pada sambungan siar muai.
- Fungsi Transisi Pelat Injak
Menjelaskan peran slab beton dalam menjembatani perbedaan kekakuan antara abutment dan tanah timbunan. - Visualisasi 3D Struktur
Memberikan pemahaman spasial mengenai bentuk geometris kompleks abutment dan wing wall. - Detail Siar Muai (Expansion Joint)
Menunjukkan konstruksi celah gerak yang dilindungi siku baja dan aspal untuk mengakomodasi pergerakan termal. - Landasan Pelat Injak
Menspesifikasikan satu ujung pelat menumpu pada console abutment dan ujung lain di atas tanah padat (sleeper beam). - Penulangan Pelat Transisi
Merinci besi D10-150 lapis tunggal atau ganda untuk menahan momen lentur akibat beban roda di oprit. - Lapisan Pasir Padat
Menjadi subgrade yang stabil di bawah pelat injak untuk mengurangi risiko rongga atau pumping. - Geometri Lateral Stop
Memperlihatkan bentuk fisik penahan gempa pada visualisasi isometrik abutment.
11. Profil Melintang Sungai dan Analisis Hidrologi
Halaman terakhir menyajikan data survei topografi irisan melintang sungai (Cross Section River Profile). Grafik ini memplot elevasi tanah asli dasar sungai (variasi +28.xxx hingga +34.xxx) dan posisi rencana jembatan. Data ini krusial untuk analisis hidrolika, menentukan luas penampang basah, dan memastikan bahwa sisi bawah jembatan (soffit) berada aman di atas Muka Air Banjir (MAB) rencana +30.000.
- Kapasitas Penampang Basah
Menggambarkan area aliran sungai efektif di bawah jembatan untuk perhitungan debit banjir. - Elevasi Dasar Sungai
Menyajikan data batimetri untuk menentukan panjang tiang pancang yang terekspos (unsupported length). - Posisi Pilar/Abutment
Memplot lokasi struktur terhadap palung sungai terdalam untuk evaluasi risiko gerusan (scour). - Clearance Vertikal
Memvalidasi jarak bebas antara muka air banjir tertinggi dan struktur bawah gelagar jembatan. - Profil Tebing Asli
Menjadi dasar perhitungan volume galian dan timbunan (cut and fill) untuk konstruksi abutment. - Referensi Level
Menetapkan datum elevasi +20.00 M sebagai garis referensi pengukuran vertikal. - Titik Koordinat Survei
Memberikan data jarak akumulatif stasiun pengukuran (stationing) sepanjang penampang melintang.
File DWG Asli
Bagian ini menyediakan akses langsung ke berkas sumber dalam format drawing digital untuk keperluan analisis lebih lanjut, perhitungan ulang struktur, atau referensi pemodelan informasi bangunan (BIM). File ini berisi seluruh layer, blok atribut, dan properti objek asli.











Post a Comment