Ki Ngabehi Soerodiwirjo atau Muhammad Masdan (dikenal sebagai Eyang Suro)
Table of Contents
Ki Ngabehi Soerodiwirjo atau Muhammad Masdan (Eyang Suro)
Gambaran Awal Tokoh
Dalam perjalanan sejarah Setia Hati, nama Ki Ngabehi Soerodiwirjo (juga dikenal sebagai Ki Ngabehi Ageng Soerodiwirjo), yang populer dengan sebutan Muhammad Masdan atau akrab dipanggil Eyang Suro, menempati posisi paling awal dan mendasar. Beliaulah pendiri ajaran Setia Hati (SH), yang merupakan akar spiritual dan filosofis dari berbagai perguruan yang lahir kemudian, termasuk Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Beliau hidup di masa kolonial Belanda, ketika bangsa Indonesia masih berada dalam tekanan penjajahan dan kehilangan jati diri. Dalam suasana sosial yang terjajah itulah muncul seorang tokoh yang menolak tunduk secara batin, dan justru menyalakan obor kesadaran: bahwa kekuatan sejati bukan pada senjata, tetapi pada hati yang setia, suci, dan sadar akan kodratnya sebagai manusia merdeka.
Kelahiran dan Latar Belakang
Ki Ngabehi Soerodiwirjo lahir dengan nama Muhammad Masdan di Surabaya, Jawa Timur, sekitar tahun 1876. Beliau merupakan putra sulung dari Ki Ngabehi Soeromihardjo (seorang mantri cacar di Ngimbang, Jombang) yang juga saudara sepupu dari RAA Soeronegoro (Bupati Kediri saat itu). Eyang Suro juga diyakini memiliki garis keturunan Batoro Katong di Ponorogo.
Pada usia 14 tahun (sekitar 1890), beliau lulus Sekolah Rakyat (SR) dan diangkat putra oleh pamannya, seorang wedono di Wonokromo. Setahun kemudian (1891), beliau magang sebagai juru tulis untuk seorang kontrolir Belanda, sebelum akhirnya menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, di mana beliau juga mulai belajar pencak silat.
Perjalanan Hidup dan Lahirnya Ajaran Setia Hati
Beliau menempuh berbagai pengembaraan untuk memperdalam ilmu pencak silat. Berikut adalah rincian perjalanan beliau:
-
Di Bandung (Parahyangan, 1892), beliau mempelajari berbagai aliran seperti:
- Cimande
- Cikalong
- Cibaduyut
- Ciampea
- Sumedangan
-
Pada tahun 1893, beliau pindah ke Batavia (Jakarta) dan mempelajari aliran:
- Betawian
- Kwitangan
- Monyetan
- Toya
-
Perjalanannya berlanjut ke Bengkulu (1894) dan Padang. Di daerah ini beliau menguasai banyak permainan (jurus), antara lain:
- Permainan Minangkabau
- Permainan Padang Pariaman
- Permainan Padang Sidempoan
- Permainan Padang Panjang
- Permainan Padang Pesur / Padang Baru
- Permainan Padang Sikante
- Permainan Padang Alai
- Permainan Padang Partaikan
-
Permainan yang didapat dari Bukittinggi yakni:
- Permainan Orang Lawah
- Permainan Lintang
- Permainan Solok
- Permainan Singkarak
- Permainan Sipei
- Permainan Paya Punggung
- Permainan Katak Gadang
- Permainan Air Bangis
- Permainan Tariakan
-
Pada tahun 1898, beliau melanjutkan ke Banda Aceh dan berguru kepada beberapa guru, di antaranya:
- Tengku Achmad Mulia Ibrahim
- Gusti Kenongo Mangga Tengah
- Cik Bedoyo
-
Dari sini, beliau mempelajari permainan:
- Permainan Aceh Pantai
- Permainan Kucingan
- Permainan Bengai Lancam
- Permainan Simpangan
- Permainan Turutung
Salah satu gurunya yang terkenal di Padang adalah Datuk Raja Batuah, yang mengajarkan ilmu kerohanian (yang kelak diberikan kepada murid Tingkat II).
Beliau juga berguru pada Nyoman Ida Gempol (ahli kebatinan Bali) untuk menyempurnakan teknik dan spiritualitasnya.
Setelah kembali ke Surabaya pada tahun 1902 dan bekerja sebagai anggota polisi (dengan pangkat Mayor Polisi), sekitar tahun 1903 beliau mendirikan perguruan pencak silat bernama Sedulur Tunggal Kecer (STK) di Tambak Gringsing. Permainan pencak silatnya saat itu diberi nama "Joyo Gendelo".
Pada tahun 1905 (sekitar usia 29 tahun), beliau menikah dengan Ibu Sarijati di Surabaya. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai lima orang anak (tiga laki-laki dan dua perempuan), namun semuanya meninggal dunia saat masih kecil.
Pada tahun 1917, perguruan ini kemudian berganti nama menjadi Persaudaraan Setia Hati (PSH) saat beliau pindah ke Winongo, Madiun. Tujuan didirikannya perkumpulan ini adalah untuk menumbuhkan rasa persaudaraan dan kepribadian nasional yang kuat di masa penjajahan Belanda.
Salah satu prinsip utamanya adalah menggabungkan latihan fisik dan spiritual, yang tercermin dalam moto beliau:
"Gerak Lahir Luhur, Gerak Batin Tercermin"(Gerakan fisik yang agung atau mulia, mencerminkan keadaan batin yang luhur pula.)
Filosofi utama ajaran ini adalah menemukan kekuatan sejati dalam kebersihan hati. Setia kepada hati berarti setia kepada kebenaran yang paling dalam. Dari sanalah muncul ungkapan terkenal:
"Suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti."(Segala bentuk kekuatan dan kesaktian akan luluh oleh ketulusan dan kasih sayang.)
Dalam bimbingan Eyang Suro, Setia Hati menjadi jalan penyatuan antara pencak silat sebagai sarana pengendalian diri, dan spiritualitas sebagai tujuan hidup sejati.
Peran sebagai Guru dan Pengaruh terhadap Murid
Sebagai guru, Ki Ngabehi Soerodiwirjo dikenal sangat tegas namun penuh welas asih. Beliau tidak mengajarkan ilmu untuk kesombongan, tetapi untuk ngudi kabecikan, yaitu mencari kebaikan dan kesempurnaan budi.
Banyak murid beliau yang kelak menjadi tokoh penting dalam perkembangan ajaran Setia Hati. Di antara mereka, yang paling dikenal adalah Ki Hadjar Hardjo Oetomo, murid beliau dari Madiun, yang kemudian mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada tahun 1922.
Hubungan guru dan murid di dalam Setia Hati tidak hanya bersifat intelektual, tetapi spiritual. Murid dianggap sebagai bagian dari keluarga besar Setia Hati, dan setiap ajaran diturunkan dengan penuh pamor kebatinan, melalui contoh laku dan pengamalan nyata.
Warisan dan Pengaruh Ajarannya
Warisan Eyang Suro tidak berhenti pada masa hidupnya. Setelah beliau wafat pada hari Jumat Legi, 10 November 1944 (tepat berusia 68 tahun) di Winongo, Madiun, ajaran Setia Hati berkembang di berbagai daerah.
Ajaran ini melahirkan beberapa perguruan dengan corak yang berbeda namun bersumber dari satu inti: ajaran Setia Hati.
Nilai-nilai yang beliau tanamkan, seperti ngelmu kanuragan, kawruh kebatinan, dan budi luhur, menjadi fondasi bagi PSHT, SH Winongo, dan berbagai perguruan lain yang tetap mengakui beliau sebagai pendiri pertama ajaran Setia Hati.
Bagi warga Setia Hati Terate, sosok Ki Ngabehi Soerodiwirjo dihormati bukan hanya sebagai pendiri perguruan, tetapi sebagai guru kehidupan dan pembimbing spiritual yang menanamkan inti ajaran:
"Setia Hati iku dudu mung silat, nanging dalan urip kanggo nyandhing marang Gusti."
Makna Filosofis
Sosok Eyang Suro mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tenaga atau kesaktian, melainkan pada keteguhan hati yang bersih dari pamh dan kesetiaan pada kebenaran.
Dari ajaran beliau, lahirlah kesadaran bahwa Setia Hati adalah jalan menuju kesempurnaan diri, yaitu melalui kejujuran, kesabaran, dan pengabdian kepada Tuhan dan sesama manusia.
Bila Ki Ngabehi Soerodiwirjo diibaratkan sebagai akar, maka darinya tumbuh batang, ranting, dan bunga Terate yang mekar di permukaan air, sebagai lambang kesucian, keteguhan, dan kebijaksanaan PSHT.
Dengan demikian, nama Eyang Suro tetap hidup dalam setiap denyut ajaran Setia Hati Terate, mengingatkan bahwa sejatinya manusia yang sempurna adalah yang setia kepada hati nurani dan teguh dalam kebenaran.


Post a Comment