Biodata Ki Hadjar Hardjo Oetomo Pendiri PSHT
Table of Contents
Biodata Ki Hadjar Hardjo Oetomo Pendiri PSHT
Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah sosok pahlawan pergerakan kemerdekaan sekaligus pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Beliau merintis jalan pendidikan budi pekerti luhur melalui ranah pencak silat, sebuah metode perjuangan yang unik pada masanya. Dalam dirinya, berpadu jiwa seorang pesilat tangguh, pejuang sosial yang tak kenal takut, dan guru spiritual yang menitipkan ajaran mulia melalui laku, ilmu, dan keteladanan agung. Beliau adalah salah satu tokoh besar yang sejarah perjuangan Hardjo Oetomo-nya tercatat dalam tinta emas pergerakan bangsa.
Identitas Diri (Biodata Ringkas)
- Nama Lengkap: Ki Hadjar Hardjo Oetomo
- Nama Kecil: Samingun (Samigoen)
- Lahir: Desa Winongo, Manguharjo, Kota Madiun, sekitar 1883.
- Kajian Waktu Lahir: Berdasarkan catatan sejarah PSHT, beliau wafat pada 13 April 1952 dalam usia 69 tahun. Perhitungan ini menempatkan tahun kelahirannya pada 1883. Analisis lebih lanjut memperkirakan tanggal lahir beliau tidak jauh dari tanggal wafatnya, kemungkinan antara 12 hingga 14 April 1883.
- Wafat: 13 April 1952
- Makam: Desa Pilangbango, Madiun, Jawa Timur
- Organisasi: Sarekat Islam (SI), Boedi Oetomo, Taman Siswa, ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), Harta Djaja.
- Putra: Harsono
Riwayat Hidup dan Perjalanan Perjuangan
Perjalanan hidup Ki Hadjar Hardjo Oetomo dimulai dari kesederhanaan di Madiun. Setelah sempat magang sebagai guru di SD Banteng Madiun, beliau beralih profesi. Tercatat beliau bekerja di Leerling Reambate di SS (PJKA) Bondowoso, Panarukan, dan Tapen (1906), kemudian di pabrik gula Redjo Agung Madiun (1916).
Jiwanya tidak bisa diam melihat penindasan kolonial. Beliau segera terjun ke dalam organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam dan Boedi Oetomo.
Titik balik spiritual terjadi pada tahun 1917, ketika beliau secara resmi menjadi 'kadang' (saudara) Setia Hati, diterima langsung oleh sang pendiri, Ki Ngabehi Soerodiwirjo. Nilai-nilai Setia Hati mendarah daging dalam sanubarinya dan menjadi suluh dalam perjuangannya.
Pada tahun 1922, didorong semangat memerdekakan kaum muda, Ki Hadjar mendirikan Setia Hati Pemuda Sport Club (SH PSC) di Pilangbango. Inilah cikal bakal Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). SH PSC dirancang sebagai wadah penggemblengan fisik dan mental untuk menanamkan budi pekerti luhur dan semangat persaudaraan.
Aktivitas perjuangannya tak surut. Pada masa resesi 1923, beliau memimpin aksi protes buruh kereta api. Puncaknya pada tahun 1925, beliau ditangkap Belanda dan dipenjara di Cipinang, kemudian dipindahkan ke Padang, Sumatera Barat (disebutkan beliau menjalani masa tahanan 15 tahun). Sekembalinya pada tahun 1931, beliau kembali mengaktifkan SH PSC, mengganti kata “Pencak” menjadi “Pemuda” sebagai siasat agar tidak dibubarkan.
Transformasi Menjadi Organisasi
SH Pemuda Sport Club bertahan hingga masa pendudukan Jepang. Pada tahun 1942, atas usulan Soeratno Soerengpati (seorang tokoh pergerakan muda), nama organisasi diubah menjadi Setia Hati Terate.
Titik penting terjadi pada tahun 1948, ketika diadakan konferensi di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Pilangbango. Atas prakarsa Soetomo Mangkoedjodjo, Darsono, dan tokoh lainnya, status Setia Hati Terate diubah dari "perguruan" menjadi sebuah organisasi formal, yakni "Persaudaraan Setia Hati Terate". Dalam konferensi itu, Soetomo Mangkoedjodjo ditetapkan sebagai Ketua dan Darsono sebagai Wakil Ketua.
Setelah itu, kepemimpinan organisasi dilanjutkan secara estafet oleh para tokoh seperti Muhammad Irsyad, Raden Mas Imam Koesoepangat, Badini, dan Tarmadji Boedi Harsono, yang membawa PSHT berkembang pesat hingga sekarang.
Kontribusi Sosial dan Gerakan Rakyat
Perjuangan Ki Hadjar tidak terbatas pada ranah politik dan pencak silat. Beliau menunjukkan kepedulian sosial yang mendalam dengan mendirikan perkumpulan Harta Djaja. Lembaga ini bergerak seperti koperasi rakyat, bertujuan mulia untuk membantu masyarakat kecil terbebas dari jerat lintah darat.
Kiprahnya di berbagai organisasi menunjukkan semangat nasionalisme yang otentik dan jiwa sosial yang tinggi. Beliau dikenal berpandangan progresif, memperjuangkan keadilan sosial dan kemandirian ekonomi.
Filosofi Hidup dan Warisan Ajaran
Warisan terbesar Ki Hadjar Hardjo Oetomo bukanlah jurus atau teknik bela diri, melainkan filosofi hidup. Beliau mengajarkan bahwa ajaran Setia Hati adalah alat untuk menjadi manusia yang berbudi luhur, setia pada hati nurani, dan senantiasa sadar akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.
Nilai-nilai luhur inilah yang diwariskan dan menjadi tujuan utama PSHT: mendidik dan membentuk manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Beliau menegaskan bahwa persaudaraan sejati tidak terucap di bibir, namun bersemayam di dalam hati; terjalin bukan karena golongan, tetapi tulus karena rasa.
Murid dan Penerus Pertama
Dari didikan beliau, lahirlah generasi penerus yang kelak membesarkan Setia Hati Terate. Beberapa murid pertama beliau yang tercatat dalam sejarah PSHT antara lain:
- Bapak Hardjo Mardjoet alias Hardjo Pramojo
- Bapak Soenaryo
- Bapak Soeyono
- Bapak Hasan Djoyo Adi Soewarno
- Bapak Soemo Soedirjo
- Bapak Sastro Harjono (Mantri Botok)
- Raden Mas Soetomo Mangkoedjodjo
- Kang Mas Darsono
- Kang Mas Suprojo
- Kang Mas Hardjo Giring
- Kang Mas Gunawan
- Kang Mas Hadisubroto
- Kang Mas Hardjo Wagiran
- Kang Mas Letnan CPM Sunardi
- Kang Mas Sumadji al-Atmadji
- Kang Mas Badini
- Kang Mas Muhammad Irsyad Widagdo
- Raden Mas Roeslan
- Mas Roestamaji
- Ibu Nunung
- Ibu Nining
- Ibu Nunik
- Mas Trimawan
- KRT Prayitno Marnun
- Pelda K.K.O Ariek Harsono
- Mas Harmoko modin
- Mas Agus Prasetyo
- Mas Soedibyo
- Mas Soejono mantri
- Mas Sebiakto hansip
- Mas Darmon pwri
Melalui tangan-tangan tulus merekalah, ajaran Setia Hati Terate kemudian bersemi dan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara.
Penghargaan dan Warisan Sejarah
Atas jasa-jasanya dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, negara menganugerahkan berbagai penghargaan kepada Ki Hadjar Hardjo Oetomo, di antaranya Bintang Mahaputera Utama (disebutkan tahun 1962 dan 1973) serta gelar Pahlawan Nasional (disebutkan tahun 1973 dan 2009).
Wafatnya beliau pada tahun 1952 juga meluruskan catatan sejarah, membantah informasi tidak benar yang terkadang mengaitkan beliau dengan peristiwa G30S/PKI (1965), yang terjadi jauh setelah beliau meninggal dunia.
Penutup
Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah perwujuduan lengkap seorang guru, pejuang, dan teladan yang menanamkan semangat ke-Setia Hatian dalam wujud nyata perjuangan dan pengabdian. Biografi Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah cerminan dari dedikasi total untuk kemanusiaan dan kemerdekaan.
"Beliau telah tiada, namun ajarannya tetap hidup, bersemi di hati setiap warga Setia Hati Terate yang berjuang menegakkan kebenaran dengan ketulusan dan cinta kasih."

Post a Comment