Perbedaan Badge Warga PSHT Tingkat 1, 2 dengan Tingkat 3
Table of Contents
Perbedaan Badge PSHT Siswa, Tingkat 1, 2 dengan Tingkat 3
Setiap atribut yang melekat pada insan Persaudaraan Setia Hati Terate bukanlah sekadar simbol organisasi. Ia adalah cerminan hidup dari perjalanan batin, penanda tingkat kesadaran, dan kedalaman seorang warga dalam memahami ajaran PSHT.
Perbedaan badge PSHT antara Siswa, Warga Tingkat I & II, dengan Warga Tingkat III bukanlah pembeda status sosial. Perbedaan ini mengandung filosofi badge PSHT yang sangat mendalam, sebuah bahasa simbolik tentang pencapaian spiritual, bukan sekadar perbedaan visual semata.
Badge Siswa: Jantung Ajaran Setia Hati
Perjalanan seorang insan dimulai pada jenjang Siswa. Pada tahap ini, ia mengenakan badge yang menjadi inti atau jantung dari seluruh ajaran. Badge Siswa ini berbeda dengan badge Warga.
Bentuknya hanya berupa Gambar Hati (Waru) berwarna putih, bertepi merah, dengan Sinar.
Ini adalah simbol fundamental. Ia melambangkan bekal awal yang harus dimiliki setiap siswa: Hati Putih (kesucian niat dan pikiran), Tepi Merah (keberanian dan pengendalian diri dalam batas-batas kebenaran), serta Sinar (harapan untuk selalu diterangi petunjuk Tuhan). Badge ini adalah niat murni yang sedang ditempa.
Makna Badge PSHT Tingkat 1 dan Tingkat 2
Ketika seorang Siswa telah tuntas ditempa dan disahkan, ia berhak mengenakan Badge Warga Tingkat I (Satria) atau Tingkat II (Ngalindra).
Secara filosofis, Badge Warga ini adalah Badge Siswa (jantung ajaran) yang telah disempurnakan dan ditempatkan ke dalam lambang PSHT yang utuh. Hati, Tepi Merah, dan Sinar itu kini diletakkan di dalam Perisai Kehidupan. Ini melambangkan bahwa niat (milik Siswa) kini telah menjadi laku (milik Warga) yang siap menjalankan ajaran dalam bingkai organisasi dan persaudaraan.
Makna lambang PSHT yang utuh ini terdiri dari unsur-unsur berikut:
- Segi empat panjang: Melambangkan Perisai, sebagai benteng pertahanan diri seorang warga dalam menjalani kehidupan di dunia.
- Dasar hitam: Menjadi landasan yang bermakna kekal dan abadi, menyimbolkan ikatan persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.
- Hati putih bertepi merah: Melambangkan cinta kasih (kesucian hati) yang ada batasnya. Ini adalah pitutur bahwa welas asih tetap harus dilandasi oleh kewaspadaan dan kebijaksanaan.
- Merah melingkari hati putih: Menyimbolkan keberanian. Namun bukan keberanian yang membabi buta, melainkan keberanian untuk mengatakan apa yang ada di dalam hati nurani (kata hati) yang paling jujur.
- Sinar: Melambangkan pancaran terang dari Tuhan, yang menggambarkan jalannya hukum alam atau hukum kelimpahan (rahmat) bagi mereka yang lurus lakunya.
- Bunga Terate: Menjadi simbol kepribadian yang luhur. Seorang warga Setia Hati diharapkan mampu hidup, tumbuh, dan menebar keindahan di lingkungan apapun tanpa terkontaminasi.
- Bunga terate mekar, setengah mekar, dan kuncup: Melambangkan siklus kehidupan manusia. Ini adalah wujud pitutur bahwa dalam bersaudara tidak boleh membeda-bedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun pangkat.
- Senjata silat: Menyimbolkan bahwa ilmu pencak silat adalah sebagai benteng (pagar) Persaudaraan, bukan untuk unjuk kehebatan, melainkan untuk melindungi nilai-nilai luhur dan sesama.
- Garis putih tegak lurus di tengah-tengah merah: Adalah simbol keadilan yang mutlak, melambangkan prinsip berani karena benar, dan takut karena salah.
- Tulisan "Persaudaraan Setia Hati Terate": Ini adalah ruh dari organisasi, yang bermakna mengutamakan hubungan antar sesama (persaudaraan) yang tumbuh dari hati yang tulus, ikhlas, dan bersih. Ajaran ini menegaskan bahwa apa yang dikatakan haruslah keluar dari hati yang tulus, sehingga tercapailah kepribadian yang luhur.
- Hati putih bertepi merah terletak di tengah-tengah lambang: Menyimbolkan pusat dari segalanya. Posisinya di tengah bermakna netral, artinya seorang warga Setia Hati harus mampu bersikap netral, adil, dan tidak memihak pada angkara murka.
Perbedaan Filosofis Badge Tingkat 3
Badge warga PSHT tingkat tiga (Pandhita) memiliki wujud simbolik yang berbeda secara fundamental dari Badge Siswa maupun Badge Warga Tingkat I & II.
Badge Tingkat III kembali ke inti, namun dalam makna yang paripurna. Ia menampilkan Hati (atau Waru) berwarna putih polos yang memancarkan sinar, tanpa lagi dibatasi oleh tepi merah.
Makna filosofis di baliknya adalah:
- Seorang Warga Tingkat III telah melampaui batas-batas cinta kasih duniawi. Arti warna badge PSHT yang putih polos adalah kemurnian total.
- "Batas merah" (keberanian dan batasan cinta kasih) yang ada pada Badge Siswa dan Warga Tk I/II, kini telah dilebur. Ini melambangkan bahwa keberanian dan cinta kasih telah menyatu dalam kesadaran yang murni, tidak lagi dibatasi oleh emosi duniawi.
- Warna putih yang utuh menandakan kesucian batin yang paripurna, penyatuan rasa sejati, dan kedekatan spiritual yang mutlak kepada Yang Maha Kuasa.
Badge inilah yang dahulu dikenakan oleh para tokoh luhur Warga Tingkat III, seperti Alm. R.M. Imam Koeseopangat, Alm. Mas Badini, dan para sesepuh Pandhita lainnya, sebagai cerminan pencapaian tasawuf kejiwaan mereka.
Makna Perbedaan (Inti Filosofi)
Inti dari arti perbedaan badge PSHT tingkat 1, 2 dengan tingkat 3 serta Badge Siswa adalah lambang tingkat pemahaman dan perjalanan kesadaran:
- Badge Siswa: Melambangkan Niat (Hati yang suci, dibatasi keberanian).
- Badge Tingkat I dan II: Melambangkan Laku (Niat yang telah utuh, ditempatkan dalam Perisai kehidupan, dilindungi senjata, dan berlandaskan persaudaraan).
- Badge Tingkat III: Melambangkan Paripurna (Kesadaran tertinggi). Hati yang tidak lagi perlu dibatasi oleh "merah", karena cinta kasihnya telah menyatu murni dengan kesadaran Ilahi.
Ini adalah lambang ketenangan jiwa yang mutlak dan kemurnian hati seorang warga sejati Setia Hati Terate yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Penutup
Warna, bentuk, dan garis pada Badge PSHT hanyalah cermin dari perjalanan diri menuju cahaya Setia Hati; di mana keberanian, cinta kasih, dan kesucian bertemu dalam satu hati yang berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa.



Post a Comment