Persaudaraan Tunggal Banyu

Table of Contents

Persaudaraan Tunggal Banyu

Sumber mata air jernih sebagai metafora filosofi Persaudaraan Tunggal Banyu PSHT

Dalam tradisi luhur masyarakat Jawa, paseduluran (persaudaraan) dipandang sebagai tali yang menautkan bukan hanya tubuh, tetapi juga rasa dan jiwa. Istilah ini berakar dari nilai kemanusiaan yang mendalam: bahwa manusia sejatinya tidak dapat hidup terpisah satu sama lain. Dalam bahasa Sanskerta, kata sa-udara berarti “satu kandungan”, yang kemudian menjadi akar kata “saudara”. Makna ini menegaskan bahwa setiap manusia berasal dari sumber yang sama dan hendaknya hidup dalam kesatuan yang harmonis.

Nilai ini kemudian dihidupkan kembali dan dimaknai secara spiritual oleh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sebagai ajaran tentang kesatuan hati. Dalam lingkungan PSHT, persaudaraan bukan sekadar hubungan lahiriah, melainkan rasa tunggal yang mengikat setiap warga dalam cinta kasih, kesetiaan, dan pengabdian pada kebenaran.

Makna Etimologis dan Filosofis Persaudaraan

Secara linguistik, kata persaudaraan terbentuk dari akar kata saudara dengan imbuhan per-an, menjadikannya sebuah bentuk abstrak. Artinya, persaudaraan tidak bisa dilihat secara kasat mata; ia hanya dapat dirasakan dan dihayati. Ia bukan sekadar sebutan, melainkan laku hidup yang lahir dari hati yang setia dan perbuatan yang nyata.

Dalam pandangan PSHT, persaudaraan sejati bukanlah hasil kesepakatan administratif atau keanggotaan formal, melainkan ikatan batin yang terbentuk dari cinta kasih tanpa pamrih. Seorang warga PSHT sejati tidak mengenal sekat suku, warna kulit, atau derajat duniawi. Yang menjadi ukuran adalah kemurnian hati, kesetiaan pada kebenaran, dan ketulusan dalam berbagi rasa.

Filosofi “Tunggal Banyu” dalam PSHT

Ungkapan Tunggal Banyu memuat makna yang amat dalam. Banyu atau air adalah lambang kehidupan, kesucian, dan kesejukan batin. Ia mengalir lembut, meresap ke dalam tanah, dan menyatukan segala bentuk kehidupan tanpa memilih tempat.

Makna tunggal banyu adalah kesatuan sejati yang tidak dapat terpisahkan, sebagaimana air yang walau dibelah pedang, tetap akan menyatu kembali. Falsafah Jawa mengungkapkannya dengan pepatah:

“Datan pinisah senajan tinebas pedang ligan.”
(Tak akan terbelah walau ditebas dengan pedang tajam.)

Inilah simbol dari persaudaraan PSHT: kesatuan hati yang abadi, yang tidak akan pecah oleh perbedaan pendapat, jarak, atau waktu. Sebagaimana air yang senantiasa menyatu, demikian pula para warga PSHT hendaknya selalu kembali pada sumber hatinya yang jernih dan suci.

Ilustrasi pedang menebas air sebagai simbol falsafah PSHT Datan Pinisah Senajan Tinebas Pedang Ligan

Persaudaraan dalam Sistem SH Terate

Sistem persaudaraan dalam SH Terate menganut konsep “paseduluran tunggal banyu”, yaitu satu rasa, satu hati, dan satu tujuan. Tiada perbedaan yang memisahkan antara warga lama dan baru, antara yang muda dan tua, karena semua bersumber dari satu nilai luhur: Setia Hati, Luhur Budi, Tegar dalam Kebenaran.

Persaudaraan dalam PSHT tidak dibangun atas dasar kesamaan kepentingan, melainkan atas dasar keikhlasan dan pengabdian. Ia hidup di dalam hati para warganya, menjadi cahaya yang memandu dalam gelap, menjadi kesejukan dalam panasnya ujian hidup, dan menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan Setia Hati Terate di seluruh penjuru.

Nilai dan Implementasi Persaudaraan Tunggal Banyu

Makna Persaudaraan Tunggal Banyu bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk dijalani. Seorang warga PSHT sejati akan berusaha menjaga hatinya tetap jernih seperti air, tidak mudah keruh oleh kebencian, tidak mengeras oleh ego, dan tidak menguap oleh hawa nafsu.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini diwujudkan dengan tidak membeda-bedakan sesama warga, menolong tanpa pamrih, dan meneguhkan rasa setia dalam suka maupun duka. Seorang warga yang menghayati tunggal banyu akan selalu eling marang dalane urip, yaitu mengingat asal dan tujuan hidupnya. Ia sadar bahwa segala yang lahir akan kembali, dan selama mengalir dalam kehidupan, ia hendaknya memberi kesejukan bagi sesama.

Penutup

Persaudaraan Tunggal Banyu adalah inti spiritual dari ajaran Setia Hati Terate, sebuah kesatuan batin yang tak lekang oleh masa. Seperti air yang tak mengenal sekat, demikianlah hati para warga PSHT hendaknya tetap menyatu dalam cinta kasih, keikhlasan, dan kesetiaan.

“Sebagaimana air yang selalu menyatu, demikianlah hati para warga PSHT hendaknya bersatu dalam cinta, keikhlasan, dan kesetiaan.”

Persaudaraan ini bukan hanya ikatan organisasi, melainkan jalinan nurani yang tak dapat dipisahkan. Ia adalah perwujudan sejati dari Setia Hati: hati yang tetap teguh dalam kebenaran, tulus dalam kasih, dan abadi dalam persaudaraan.

Warga dan siswa PSHT berdiri bersama di dalam air sebagai simbol Persaudaraan Tunggal Banyu

Post a Comment