Kata Kata Mutiara PSHT Berbudi Luhur
Table of Contents
Kata Kata Mutiara PSHT Berbudi Luhur
Dalam ajaran adiluhung Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), kata-kata mutiara bukan sekadar rangkaian kalimat indah. Ia adalah pantulan nurani, hasil olah rasa dan laku hidup seorang warga yang telah menempuh jalan Setia Hati dengan penuh kesadaran. Setiap untaian kata yang lahir dari warga PSHT memancarkan cahaya budi pekerti, kebijaksanaan, dan keikhlasan, menjadi cermin perjalanan spiritual menuju kesempurnaan jiwa.
Kata-kata mutiara PSHT adalah warisan nilai luhur yang mengajarkan kesatria untuk tidak hanya kuat secara jasmani, tetapi juga bijak dalam mengelola batin. Ia adalah napas yang menuntun warga untuk berbuat benar, berucap jujur, dan berpikir jernih, sebagaimana watak seorang kesatria sejati.
Filosofi di Balik Kata Kata Mutiara PSHT
Filsafat hidup dalam setiap kata mutiara PSHT bersumber dari ajaran Setia Hati, yaitu ajaran yang menuntun manusia mengenal dirinya sendiri, agar pada akhirnya mengenal Tuhannya. Setiap kata mutiara mengandung pantulan irama hidup, yang berkembang sesuai kodrat dan hukum alam semesta.
Bagi PSHT, kehidupan bukanlah arena untuk saling menjatuhkan, melainkan medan untuk menempa diri dan mengasah nurani. Di sanalah muncul kesadaran bahwa kemenangan sejati bukan pada mengalahkan musuh di luar diri, melainkan menaklukkan hawa nafsu dan kesombongan yang bersarang di dalam hati.
Kata-kata mutiara PSHT hadir sebagai peneguh langkah, sebagai senjata batin dalam menghadapi ujian kehidupan. Ia bukan slogan, melainkan petuah hidup yang membimbing manusia kembali ke keseimbangan antara lahir dan batin.
Makna Spiritual dan Moral dalam Kata Kata Mutiara PSHT
Makna terdalam dari kata mutiara PSHT terletak pada pesan moral yang sederhana, namun menggugah jiwa.
Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan di tangan, tetapi di hati; bahwa kemuliaan bukan di tampilan, melainkan di keikhlasan.
Seorang warga PSHT yang memahami mutiara ajaran ini tidak akan mudah tergoda oleh pujian atau kekuasaan, karena ia tahu: yang sejati tidak tampak, dan yang tampak belum tentu sejati.
Kata-kata mutiara menjadi cermin batin yang mengingatkan warga untuk hidup dengan keseimbangan, menghargai sesama, dan berbuat baik tanpa pamrih. Melalui kata-kata itu, PSHT menanamkan kesadaran bahwa kesatria sejati adalah mereka yang menang tanpa merendahkan, dan rendah hati dalam setiap kemenangan.
Contoh Kata Kata Mutiara PSHT dan Maknanya
Berikut beberapa kata mutiara PSHT yang telah menjadi petuah abadi di kalangan warga Setia Hati Terate:
Kata Mutiara dalam Bahasa Indonesia
-
“Hidup itu tidak untuk menang, tetapi untuk memahami arti dari setiap kekalahan.”PSHT mengajarkan bahwa kehidupan adalah proses pembelajaran. Kekalahan bukan aib, tetapi jalan menuju kebijaksanaan. Seorang kesatria tidak mencari kemenangan semata, melainkan pemahaman atas makna perjuangan.
-
“Kesatria sejati bukan yang menaklukkan lawan, tapi yang mampu menaklukkan diri sendiri.”Ini adalah inti ajaran Setia Hati, yaitu kemenangan terbesar adalah ketika seseorang mampu menguasai hawa nafsu, amarah, dan keserakahan. Di situlah letak kemuliaan manusia.
-
“Persaudaraan Setia Hati Terate bukan hanya nama, melainkan jalan menuju keheningan hati.”PSHT bukan sekadar organisasi, melainkan jalan hidup spiritual yang menuntun warganya mencapai ketenangan batin melalui persaudaraan dan kasih sayang sejati.
-
“Terate tumbuh di atas lumpur, tapi tetap indah karena kesuciannya.”Lambang Terate menggambarkan jiwa manusia yang hidup di tengah dunia penuh godaan, namun tetap menjaga kemurnian hati dan budi pekerti.
-
“Berbuat baik tidak perlu dikenal, karena kebaikan sejati tak membutuhkan saksi.”Keikhlasan adalah inti dari ajaran PSHT. Seorang warga sejati berbuat karena hati, bukan karena ingin dilihat atau dipuji.
-
“Harta Benda untuk Semua manusia sama, harta benda hanya pelengkap.”Hidup yang penting punya saudara banyak, keberkahan akan ngikuti. Ayuk ngumpul2 membicarakan kebesaran Tuhan, tiada henti, dan jangan pelit, tidak ada kamus orang beramal jadi miskin. Membuat SHT besar, salah satu sarana membuat orang lain berbuat baik dengan mendahulukan kepentingan orang banyak, menomorduakan kepentingan pribadi,... tanda-tanda dicintai Allah. Hidup selalu kaya, mati masuk surga... Amien
-
“Berdiri, di atas tanah, di bawah langit, tapi yang diingat duit. Itulah manusia.”Coba ingat, (manusia) saripatinya tanah dan saripatinya udara, langsung bersyukur! Akan datang rejeki tak disangka-sangka. Amien
-
“Kayu jati, mahal harganya. Jati diri, enak dengarnya. Kesetiaan, panjang ngrawatnya.”Kecuali orang-orang yang aktif (di SHT), tak terasa sampe juga.
-
“Manusia Dapat Dihancurkan; Manusia Dapat Dimatikan; Tetapi Manusia Tidak Dapat Dikalahkan, Selama Manusia Itu Masih Setia Pada Hatinya Sendiri”(Sebuah keyakinan bahwa kekuatan sejati manusia terletak pada kesetiaannya pada hati nurani atau prinsipnya. Secara fisik bisa kalah, namun secara mental/spiritual tidak, selama ia memegang teguh keyakinannya).
-
“Selama matahari terbit dari timur, selama bumi masih dihuni manusia dan selama itupula PSHT akan abadi jaya selamanya”(Sebuah sumpah atau tekad yang menegaskan bahwa ajaran dan organisasi PSHT akan terus ada dan berjaya selamanya, selama alam semesta masih ada).
-
“Mendidik Manusia Berbudi Luhur Tahu Benar dan Salah”(Merupakan tujuan dari ajaran Setia Hati, yaitu membentuk individu yang memiliki moralitas tinggi, serta mampu membedakan dan bertindak berdasarkan kebenaran dan kesalahan).
-
“Persaudaraan Luhur”(Ikatan persaudaraan yang didasari oleh nilai-nilai mulia, budi pekerti yang tinggi, dan spiritualitas).
-
“Persaudaraan Sejati”(Ikatan persaudaraan yang murni, tulus, dan ikhlas tanpa pamrih, serta tidak memandang perbedaan latar belakang).
-
(Ikatan persaudaraan yang sangat erat, diibaratkan berasal dari satu sumber 'air' atau ajaran yang sama).
-
“Cinta Tak Terbatas Sama Dengan Pembunuhan”(Sebuah ungkapan paradoks yang mengingatkan bahwa cinta yang berlebihan, buta, atau tidak terkendali dapat menjadi destruktif atau merusak, 'membunuh' kebebasan atau karakter).
Kata Mutiara Falsafah Jawa
-
“Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan”(Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
-
“Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman”(Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah menyesal, Jangan mudah terkejut-kejut, Jangan mudah kolokan atau manja).
-
“Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman”(Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).
-
“Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka”(Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).
-
“Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo”(Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah, Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
-
“Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha”(Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)
-
“Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli”(Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi)
-
“Sepira gedhining sengsara yen tinampa among dadi coba”(Seberat apapun cobaan yang diterima manusia jika dijalani dengan lapang dada akan diperoleh hikmah yang tidak terkira.)
-
“Sak apik-apike wong yen aweh pitulungan kanthi dhedhemitan”(Sebaik-baiknya manusia jika memberikan pertolongan dengan ikhlas tanpa pamrih dan tidak perlu diketahui orang lain).
-
“Aja waton ngomong ning ngomong hang nganggo waton”(Jangan suka berbuat jelek pada sesama berbuatlah kebajikan pada sesama).
-
“Aja seneng gawe ala ing liyan, apa alane gawe senenge liyan”(Jangan suka mencelakakan orang lain, tidak ada jeleknya membuat senang orang lain).
-
“Aja sok rumangsa bisa, nanging sing bisa rumangsa”(Jangan merasa diri paling super, tapi sadar diri dan sadar akan keberadaan orang lain).
-
“Ngundhuh wohing pakarti, sapa nandur bakal ngundhuh”(Segala darma pasti akan berbuah, apapun perbuatan yang kita lakukan pasti akan kembali pada diri kita sendiri).
-
“Urip Iku Urup”(Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat).
-
“Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
-
“Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti”(Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar).
-
“Aja Adigang, Adigung, Adiguna”(Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).
-
“Cilik ora kurang akal, gede ora luweh akal, yen eleng ora bakal mundur”(kecil bukan kurang berakal, besar bukan berarti lebih berakal, kalau ingat tidak akan mundur)
-
“Rame ing gawe, sepi ing pamrih, memayu hayuning bawono”(giat bekerja,membantu dengan tanpa pamrih,memelihara alam semesta/ mengendalikan hawa nafsu)
-
“Manungso sadermo nglakoni kadyo wayang umpamane”(manusia sekedar menjalani apa adanya seumpama wayang)
-
“Ati suci marganing rahayu”(hati yang suci menjadi jalan keselamatan jiwa dan raga)
-
“Ngelmu kang nyata,karya reseping ati”(ilmu yang sejati,membuat tenteram di hati)
-
“Ngudi laku utomo kanti sentoso ing budi”(menghayati perilaku mulia,dengan berbudi pekerti luhur)
-
“Jer basuki mawa bea”(setiap usaha memerlukan biaya)
-
“Ololan becik dumunung ono awak'e dhewe”(kejahatan dan kebaikan terletak dalam dhiri pribadi)
-
“Sing sopo lali marang kabecik'ane liyan iku koyo kewan”(siapa yang lupa akan amal baik/pertolongan orang lain itu laksana binatang)
-
“Titikane aluhur,alusing solah tingkah bahasane lan legawaning ati,darbe sifat berbudi bawalaksana”(ciri orang mulia yakni,perbuatan dan sikap batinnya halus,mempunyai sikap wibawa serta luhur budi pekertinya)
-
“Ngunduh wohing pakarti”(orang dapat menerima akibat dari ulahnya sendiri/karma)
-
“Ajining dhiri soko lathi lan budi”(berharganya dhiri pribadi seseorang,tergantung ucapan dan budhi pekertinya/akhlaknya)
-
“Sing sopo biso weruh sakdurunge winarah lan di akoni sepodho - podhoning tumitah iku kalebu utusaning pangeran”(siapa yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi dan di akui sesama manusia,maka dia termasuk utusan tuhan)
-
“Sing sopo durung wikan anane jaman kalanggengan iku,ojo nganti ngaku janmo linuwih”(siapa yang belum paham akan jaman ke abadian jangan pernah mengaku sebagai orang linuwih/orang yang di anugerahi kelebihan).
-
“Tentrem iku sarananing urip ono ndonyo”(ketenteraman adalah sarana menjalani kehidupan di dunia)
-
“Yitnayuwana,lena kena”(eling waspada akan selamat,yang lengah dan lalai akan celaka)
-
“Becik ketitik,olo ketoro”(yang baik maupun yang jahat pasti akan terungkap juga)
-
“Dalane waskita saka niteni”(cara agar menjadi awas adalah dengan jalan cermat dan teliti)
-
“Janmo tan keno kiniro koyo ngopo”(manusia sulit di tebak seperti apa dan bagaimana)
-
“Tumrap wong lumuh lan keset iku prasaat wiso”(bagi manusia,fakir dan malas bisa menjadi racun)
-
“Pangan kang ora biso ajur iku keno di araniwisa,jalaran mung bakal nuwuhake leloro”(makanan yang tak dapat hancur juga dapat dikatakan sebagai bisa/racun karena hanya akan menimbulkan penyakit)
-
“Klabangiku wisane ono ing sirah,kalajengking iku wisane ono ing buntut, nanging durjono wisane ono ing sakujuring badan”(kelabang/lipan itu bisa/racunnya ada di kepala,sedangkan kalajengkis itu bisanya ada di ujung ekor,sedangkan orang yang durjana bisa racunya ada di sekujur badan)
-
“Tumrapewong linuwih tansah ngudi keslametaning liyan,metu soko atine dhewe”(bagi orang linuwih selalu berusaha menjaga keselamatan untuk sesama,yang keluar dari niat suci)
-
“Pangucapiku biso dadi jalaran kabecik'an,pangucap iku ugo biso dadi dalaning pati, kasengsaran, pamitran”(ucapan bisa menjadi sarana kebaikan, tetapi sebaliknya juga bisa menjadi sebab kematian dan kesengsaraan)
-
“Sing biso gawe mendem iku : rupo endah,bondho,darah luhur,lan enom umure”(penyebab orang menjadi lupa dhiri adalah : gemerlap hidup,harta,kehormatan dan darah muda)
-
“Mulatsaliro tansah eling lan waspodo”(jadi orang itu harus senantiasa mawas dhiri,eling lan waspada)
-
“Sakbegjabegjane kang lali iku luwih bejo kang eling klawan waspadha”(seberuntung beruntungnya orang yag lupa dhiri,itu masih beruntung orang yang senantiasa eling lan waspada)
-
“Yensiro di becik'i liyan iku tulisen ing watu,supoyo ora ilang lan tansah kelingan. yen siro gawe kabecik'an marang liyan iku tulisen ing lemah supoyo enggal ilang lan ora kelingan”(jika kamu menerima kebaikan dari orang lain tulislah di batu,supaya tidak pernah hilang dari ingatan. jika kamu berbuat baik kepada oang lain tulislah di tanah supaya lekas ilang dari ingatan)
-
“Oranglinuwih iku biso nyumurupijaman kalanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik”(manusia linuwih dapat mengetahui adanya jaman keabadian tanpa harus mengalami mati terlebih dahulu)
-
(Bersikap mendua, berkeyakinan ganda atau berkepala dua).
-
“Mbang Cinde, Mbang Ciladan”(Sebuah ungkapan untuk menggambarkan sifat tidak konsisten, pilih kasih, atau membeda-bedakan perlakuan terhadap orang lain).
-
“Lumah Kurepe Ron Suruh”(Secara harfiah berarti permukaan atas dan bawah daun sirih. Maknanya, meskipun tampak berbeda di luar, namun sejatinya memiliki hakikat yang sama. Ini melambangkan persatuan, tidak membeda-bedakan, serta kesatuan antara kata dan perbuatan).
-
“Jer Lahir Utusaning Bathin”(Apa yang terlihat secara lahiriah atau dalam tindakan adalah cerminan atau utusan dari apa yang ada di dalam batin/hati).
-
“Pambudi Luhur Wibowo Sakti”(Budi pekerti yang luhur adalah sumber dari kewibawaan yang sakti/kuat).
-
“Ciu Tak Ocak Acik Mrico Polo Tak Gawe Dakon, Karepku Anggawe Becik Siro Nanggep Olo Monggo Kemawon”(Ini adalah sebuah parikan atau pantun Jawa. Artinya: Niat saya adalah berbuat baik, jika Anda menanggapinya sebagai keburukan, silakan saja. Ini adalah ungkapan ketulusan niat).
-
“Lamun Siro Sekti, Ojo Mateni”(Jika kamu sakti/kuat, jangan menggunakan kesaktianmu untuk membunuh atau mencelakai).
-
“Lamun Siro Banter, Ojo Ndisiki”(Jika kamu cepat, jangan (sombong) mendahului. Ini bagian dari falsafah untuk tidak pamer kecepatan atau kemampuan).
-
“Lamun Siro Pinter, Ojo Minteri”(Jika kamu pandai, jangan menggunakan kepandaianmu untuk menipu atau membodohi orang lain).
-
“Sopo Kang Suci Bakal Adoh Teko Beboyo Pati”(Siapa saja yang hatinya suci/bersih, akan dijauhkan dari marabahaya maut).
-
“Senajan Jagad Ajur, Aku Lan Koe Tetep Sedulur”(Meskipun dunia hancur, aku dan kamu tetap bersaudara. Ini adalah sumpah kesetiaan dalam persaudaraan).
-
“Ora Ono Kamulyan Tanpo Paseduluran”(Tidak ada kemuliaan sejati yang bisa dicapai tanpa adanya persaudaraan).
-
“Budhi Dayane Manungso Tan Keno Ngluwihi Kodrate Sing Maha Kuwoso”(Akal budi dan daya upaya manusia tidak akan bisa melampaui takdir (kodrat) dari Yang Maha Kuasa).
-
“Ngalah Luhur Wekasane”(Mengalah akan (mendatang) keluhuran di akhirnya. Sikap mengalah seringkali membawa hasil yang lebih mulia di kemudian hari).
-
“Sira Suci Tebih Saking Bebayaning Pathi”(Dirimu yang suci akan jauh dari bahaya maut. Ini menekankan bahwa kesucian hati menjauhkan dari bahaya).
-
“Ksatria Ingkang Pilih Tandhing”(Seorang ksatria yang selalu memilih tandingannya; artinya tidak sembarangan melawan musuh, bijak dalam bertindak, dan hanya melawan yang sepadan).
-
“Ala Tanpa Rupa Yen Tumandhang Amung Sedhela”(Kejahatan itu tidak memiliki wujud (abstrak) dan jika dilakukan dampaknya hanya sementara. Ini sering dimaknai sebagai godaan/hawa nafsu yang datangnya sesaat).
-
“Tego Larane, Ora Tego Patine”(Tega (melihat) sakitnya, tetapi tidak tega (melihat) kematiannya. Ini adalah prinsip dalam pertarungan atau pendidikan keras, boleh menyakiti untuk pelajaran, tapi tidak sampai membunuh/menghancurkan).
-
“Kridhaning Ati Ora Bisa Mbedhah Kuthaning Pesthi”(Kehendak hati tidak bisa menembus benteng takdir. Usaha manusia (kehendak) tidak akan bisa mengubah apa yang sudah menjadi takdir Tuhan).
-
“Sepiro Duwurmu Ngudi Kawruh, Sepiro Jeromu Ngangsu Ngilmu, Sepiro Akehe Guru Ngajimu Tembe Mburine Mung Arep Ketemu Marang Sejatine Awake Dhewe”(Seberapa tinggimu mencari pengetahuan, seberapa dalammu menimba ilmu, seberapa banyaknya gurumu; pada akhirnya semua itu hanya akan membawamu bertemu dengan dirimu sendiri yang sejati).
-
“Wong Kang Nandhur Bakal Ngundhuh utawi (Sopo Nandur Bakal Ngunduh)”(Siapa yang menanam akan menuai. Ini adalah hukum sebab-akibat atau karma, segala perbuatan baik maupun buruk pasti akan kembali kepada pelakunya).
-
“Sapa Sing Miwiti Bakal Mungkasi”(Siapa yang memulai maka dia yang harus mengakhiri. Ini adalah prinsip tanggung jawab, bahwa orang yang memulai suatu perkara atau masalah, dialah yang wajib menyelesaikannya. Siapa berbuat dia akan menerima akibat dari perbuatannya).
Kata Mutiara sebagai Sarana Pendidikan Jiwa
Dalam PSHT, kata mutiara tidak hanya berfungsi sebagai penghias kata, melainkan sebagai alat pendidikan kejiwaan.
Melalui petuah-petuah sederhana, warga diajak untuk merenung, mengolah batin, dan menemukan dirinya sendiri.
Di setiap latihan, setiap ajaran, setiap pertemuan persaudaraan, kata-kata mutiara dilafalkan dan direnungkan bersama, karena dari sanalah tumbuh kesadaran kolektif akan makna persaudaraan dan keikhlasan.
Setiap kata mutiara adalah jalan menuju “Setia Hati”, yakni hati yang setia pada kebenaran dan kesejatian hidup. Ia menjadi jembatan antara laku lahiriah (pencak silat) dan pendalaman batiniah (olah rasa).
Peran Kata Mutiara dalam Membangun Persaudaraan dan Keikhlasan
Kata-kata mutiara PSHT mengandung energi persaudaraan yang menyatukan berbagai hati dalam satu tujuan luhur.
Melalui pesan-pesan moralnya, setiap warga diingatkan untuk tidak memandang derajat, usia, atau asal daerah, karena semua bersaudara dalam satu ikatan suci: Setia Hati Terate.
Ia menjadi jembatan yang mempertautkan jiwa, memperhalus tutur, dan menumbuhkan rasa hormat antarsesama.
Kata-mutiara juga menjadi sumber ketenangan, terutama saat hati gundah, ketika semangat mulai redup, karena setiap kata di dalamnya membawa getaran kasih, pengingat bahwa di atas semua kekuatan fisik, ada kekuatan cinta dan pengampunan.
Falsafah “Memayu Hayuning Bawono” (mewujudkan keindahan dunia) hidup dalam setiap mutiara PSHT, mengajarkan warga untuk berbuat baik demi keseimbangan kehidupan bersama.
Mutiara Hati yang Tak Pernah Pudar
Kata kata mutiara PSHT bukanlah warisan untuk dibaca, melainkan jalan hidup untuk diamalkan.
Ia adalah cahaya hati yang menuntun warga Setia Hati Terate agar tetap berjalan di jalur kesatria sejati, teguh dalam pendirian, rendah hati dalam kemenangan, dan ikhlas dalam setiap langkah kehidupan.
Seperti bunga terate yang tumbuh di atas lumpur, namun tak pernah kotor olehnya, demikianlah seorang warga PSHT menjalani hidup di tengah dunia, yaitu tetap suci, tenang, dan bermanfaat bagi sesama.
“Setiap kata mutiara PSHT adalah pantulan hati yang telah menyala dalam cahaya keikhlasan.Bukan untuk diagungkan, tetapi untuk dijadikan pedoman menuju kesempurnaan hidup.”
Ringkasan Nilai dan Makna
| Aspek | Makna Utama |
|---|---|
| Filosofi | Keseimbangan lahir dan batin dalam perjalanan menuju kesempurnaan hidup. |
| Spiritual | Kesadaran diri sebagai jalan mengenal Sang Pencipta (Causa Prima). |
| Moralitas | Kejujuran, keikhlasan, dan tanggung jawab dalam setiap tindakan. |
| Persaudaraan | Ikatan hati yang melampaui batas, berlandaskan cinta dan kesetiaan. |
| Keabadian Nilai | Kata-kata mutiara sebagai warisan spiritual yang terus hidup di hati warga PSHT. |


Post a Comment