Sikap Mangro Tingal PSHT

Table of Contents

Sikap Mangro Tingal

Ilustrasi topeng Jawa dua wajah sebagai simbol sikap Mangro Tingal dalam PSHT

(Makna, Bahaya, dan Pandangan PSHT terhadap Sikap Mendua)

Dalam kebudayaan Jawa, istilah “Mangro Tingal” bermakna bersikap mendua, berkeyakinan ganda, atau berkepala dua. Sanepannya adalah “Mbang cindhe mbang ciladan”, yang melukiskan seseorang yang tidak teguh pendirian, hari ini ke kanan, esok ke kiri; hari ini mengaku setia, esok berpaling demi keuntungan.

Dalam ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), sikap demikian termasuk larangan moral dan spiritual, karena bertentangan dengan inti ajaran Setia Hati, yakni kejujuran, kesetiaan, dan keteguhan dalam kebenaran. PSHT menempatkan Mangro Tingal sebagai pelanggaran pepacuh serta bentuk nyata dari cidra janji (ingkar janji) terhadap ikrar kesetiaan hati.

Makna dan Filosofi Sikap Mangro Tingal

Secara harfiah, Mangro Tingal menggambarkan seseorang yang tidak lurus hatinya, menampilkan dua wajah demi kepentingan pribadi. Dalam pengertian yang lebih keras, ini sama dengan kemunafikan, ketika lidah berkata setia, namun hatinya menipu.

Sanepan “Mbang cindhe mbang ciladan” berarti bersikap plin-plan, tidak berprinsip, dan mudah menyesuaikan diri pada keadaan yang paling menguntungkan. Ibarat suami beristri dua, di depan istri pertama menjelekkan istri kedua, dan sebaliknya.

Sikap demikian mencerminkan hilangnya kejujuran batin dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran.

Gambar jalan bercabang dua sebagai metafora sikap Mangro Tingal (tidak teguh pendirian)

Dampak dan Bahaya Sikap Mangro Tingal

Sikap Mangro Tingal menumbuhkan bibit kemunafikan, yang lambat laun merusak hati dan hubungan antar-manusia. Orang yang mendua tidak akan bisa dipercaya, sebab hatinya selalu berpaling sesuai arah angin keuntungan. Ia mudah cidra janji, tidak mampu menjaga rahasia, dan sering menukar kebenaran demi kenyamanan pribadi.

Secara sosial, Mangro Tingal menimbulkan keretakan dan hilangnya rasa percaya. Secara spiritual, ia memadamkan sinar batin, menjauhkan seseorang dari nilai Setia Hati yang murni. Dalam konteks persaudaraan, sikap ini menjadi benih perpecahan dan sumber kehancuran nilai ksatria.

Maka PSHT menganggap Mangro Tingal sebagai salah satu bentuk pelanggaran pepacuh yang berat, karena menyangkut kejujuran hati dan kesetiaan batin yang telah diikrarkan.

Pandangan dan Sikap PSHT terhadap Mangro Tingal

PSHT menegaskan bahwa Mangro Tingal adalah pengingkaran terhadap ajaran Setia Hati. Warga yang bersikap mendua berarti telah menodai nilai setia hati, sebab ia berbohong pada saudara, guru, dan dirinya sendiri.

Dalam tradisi PSHT, pepacuh adalah ikrar suci, perjanjian batin antara warga dan nilai-nilai luhur PSHT. Barang siapa mangro tingal, berarti telah cidra janji, sebab ia berpaling dari jalan kebenaran dan menukar keluhuran budi dengan kepentingan pribadi.

Bagi PSHT, Setia Hati bukan hanya nama, melainkan jiwa persaudaraan. Mereka yang mendua berarti telah mencederai persaudaraan, sebab Setia Hati hanya dapat hidup dalam hati yang jujur dan teguh.

Lambang PSHT (Setia Hati) sebagai lawan dari sikap Mangro Tingal (mendua)

Nilai Luhur yang Bertolak Belakang dengan Mangro Tingal

Untuk menolak sifat mendua, PSHT menanamkan nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman hidup setiap warganya, yaitu:

  • Setia Hati – tetap teguh dalam janji dan tidak berpaling meski dalam ujian.
  • Lurus Batin – menjaga kemurnian hati agar tidak bercabang niat.
  • Jujur dalam Laku – keselarasan antara ucapan, pikiran, dan tindakan.
  • Ksatria dalam Perbuatan – berani menegakkan kebenaran tanpa pamrih.

Nilai-nilai ini adalah pilar yang menegakkan martabat PSHT sebagai Persaudaraan yang menjunjung budi luhur dan kejujuran sejati.

Penutup

Mangro Tingal adalah penyimpangan dari ajaran luhur PSHT. Sikap ini mencerminkan hati yang tidak setia, jiwa yang rapuh, dan batin yang jauh dari kebenaran.

Setiap warga PSHT wajib menjaga dirinya agar tidak tergelincir pada sikap mendua. Kesetiaan hati harus dijaga seperti cahaya dalam dada, karena bila padam, maka hilanglah arah hidup seorang ksatria.

Ingatlah pesan luhur:

“Setia Hati iku dudu mung tembung, nanging lakuning urip.”
(Setia Hati bukan sekadar kata, melainkan jalan hidup.)

Dengan menjaga kejujuran, kesetiaan, dan keluhuran budi, setiap warga PSHT akan terhindar dari sifat Mangro Tingal, dan tetap menjadi insan yang setia, jujur, serta berjiwa ksatria.

Post a Comment