Simbol Suruh Temu Rose dalam PSHT
Table of Contents
Simbol Suruh Temu Rose dalam Persaudaraan Setia Hati Terate
Suruh Temu Rose adalah salah satu dari ubo rampe, perlengkapan adat yang disiapkan dari kekayaan alam sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang menjadi syarat mutlak dalam ritual sakral pengesahan (Sasahan) Warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Dalam tradisi spiritual organisasi ini, ubo rampe bukan sekadar formalitas, melainkan katalis yang dirancang untuk menginternalisasi nilai-nilai Budi Luhur dan janji persaudaraan yang kekal abadi. Di antara simbol-simbol tersebut, Suruh Temu Rose berfungsi sebagai meterai janji spiritual yang paling intim.
Simbolik dan Morfologi Ritual
Suruh Temu Rose secara harfiah terdiri dari tiga elemen yang menyatu menjadi satu makna utuh tentang kesatuan batin dan komitmen abadi.
Suruh (Daun Sirih) sebagai Fondasi Ketulusan Hati
Dalam budaya Jawa, Suruh (daun sirih) telah lama menjadi medium persembahan dan simbol penghormatan. Dalam konteks PSHT, daun sirih hijau yang digunakan dalam ritual ini melambangkan ketulusan dan kemurnian hati.
Penggunaan Suruh mewajibkan calon Warga untuk meletakkan persaudaraan di atas fondasi ati resik (hati yang bersih), yang merupakan sentral dari ajaran PSHT. Niat untuk bergabung dan berjanji setia haruslah tanpa cacat dan pamrih, sama seperti daun sirih yang dipilih harus sempurna.
Temu Rose Makna Kesatuan Mutlak Ruas Daun
Makna tertinggi dari simbol ini terletak pada frasa Temu Rose. Istilah ini merujuk pada kondisi botani yang sangat spesifik dan langka, yaitu daun sirih yang ruas-ruasnya (serat/urat daun, yang disebut rose) secara fisik saling bertemu atau menyatu dengan sempurna.
Kondisi fisik daun yang utuh dan menyatu tanpa celah ini secara filosofis menjadi metafora abadi bagi janji persaudaraan PSHT, yaitu:
- Persaudaraan yang Terjalin Erat: Menyingkirkan segala bentuk perpecahan dan perbedaan.
- Persaudaraan yang Utuh dan Tidak Terpisahkan: Mencerminkan ikatan yang harus kekal dan abadi, tidak terputus oleh tantangan hidup.
Dengan demikian, ketika seorang insan Terate disahkan di hadapan Suruh Temu Rose, mereka berjanji bahwa ikatan persaudaraan mereka akan seperti ruas daun yang tak bercerai, sebuah kesatuan batin yang mutlak.
Pilar Etika Sumpah Non-Negosiatif Persaudaraan
Makna filosofis Suruh Temu Rose diperkuat oleh persyaratan ritualnya yang unik, yang mentransformasikan objek material ini menjadi ajaran etika mendalam.
Ajaran Etika Sumpah Non-Negosiatif dan Tata Krama Pengadaan
Makna filosofis Suruh Temu Rose diperkuat oleh persyaratan ritualnya yang unik, yang mentransformasikan objek material ini menjadi ajaran etika mendalam. Aturan baku menyebutkan bahwa Suruh tersebut harus dibeli di pasar atau dari tetangga, dan tidak boleh ditawar.
Sumpah Non-Negosiatif ( Tidak Ditawar )
Kewajiban untuk membeli tanpa menawar ini bukan sekadar adat ekonomi, melainkan ajaran etika yang mendalam. Hal ini mengajarkan bahwa:
- Nilai Absolut: Nilai persaudaraan sejati adalah nilai yang mutlak dan non-negosiatif. Persaudaraan tidak dapat dikompromikan, direndahkan, atau dihargai dengan murah.
- Penghargaan Tertinggi: Tindakan membeli tanpa menawar menunjukkan penghargaan tertinggi terhadap nilai persaudaraan itu sendiri, yang harus didukung oleh pilar loyalitas dan solidaritas PSHT.
Tata Krama Pengadaan Daun ( Nembung )
Di luar opsi pembelian, apabila Suruh Temu Rose dicari langsung dari pohon milik orang lain, proses pengambilannya pun diatur oleh tata krama yang ketat.
- Izin Lisan: Calon Warga wajib nembung (mengutarakan permintaannya secara lisan) kepada pemiliknya. Ia tidak diperkenankan mengambil daun tersebut secara langsung tanpa izin. Etika ini menekankan pentingnya adab dan penghormatan dalam segala upaya.
- Peran Mahar: Dalam proses nembung, daun tersebut mungkin akan diberikan secara cuma-cuma sebagai hadiah ketulusan, atau mungkin juga harus ditebus dengan mahar (pembayaran simbolis).
- Inti Ajaran: Terlepas dari cara perolehan (gratis atau mahar), inti ajarannya tetap sama, yaitu ia didapatkan melalui cara yang sopan dan nilai persaudaraan yang diusungnya tidak boleh disepelekan. Proses pengadaan yang penuh adab ini melatih Warga baru untuk menjunjung tinggi kerendahan hati dan nilai mutlak persaudaraan sejak langkah awal ritual.
Tabel Makna Inti Suruh Temu Rose
| Elemen Simbolik | Makna Literal (Morfologi Daun) | Makna Filosofis Inti (Etika) |
|---|---|---|
| Suruh (Sirih) | "Daun yang sempurna, tulus." | Ketulusan dan kemurnian hati (Ati Resik). |
| Temu Rose | Ruas-ruas/Serat daun saling bertemu sempurna. | Kesatuan mutlak dan persaudaraan kekal abadi. |
| Tidak Ditawar | Syarat pembelian di pasar. | Loyalitas non-negosiatif; Nilai persaudaraan adalah absolut. |
Implementasi Spiritual Ikrar Kesejatian Diri
Suruh Temu Rose pada akhirnya berfungsi sebagai kompas moral internal yang mengikat Warga untuk melakukan penyempurnaan diri secara konstan.
Membuka Hati Menuju Jembar Segoro
Komitmen yang disumpahkan di hadapan simbol ini adalah janji untuk mempertahankan integritas batin. Dengan menginternalisasi kesatuan yang dilambangkan oleh Temu Rose, Warga diingatkan untuk selalu menjaga hati yang bersih (ati resik), sebuah prasyarat untuk mencapai jembar segoro, batin yang luas bak lautan.
Batin yang luas ini sangat krusial, karena ia memastikan bahwa Warga tidak mudah tercemar oleh pengaruh buruk atau hasutan, menjadikannya pribadi yang kuat dalam keimanan dan teguh dalam ajaran Budi Luhur.
Persaudaraan Universal
Simbol Temu Rose secara implisit juga mendukung universalitas ajaran PSHT. Organisasi ini memegang teguh semangat Bhinneka Tunggal Ika, menerima anggota tanpa membeda-bedakan ras, suku, atau agama.
Temu (pertemuan sempurna) di sini dapat dimaknai sebagai pertemuan semua latar belakang dan semua perbedaan di bawah naungan satu ikatan persaudaraan yang utuh. Komitmen yang dijanjikan melalui Suruh Temu Rose adalah kepada persaudaraan yang terbuka, inklusif, dan hanya terikat pada kemanusiaan yang berbudi luhur.
Kesimpulan
Suruh Temu Rose adalah perwujudan fisik dari komitmen spiritual terhadap Persaudaraan Kekal Abadi. Simbol ini menuntut calon Warga untuk menyatukan dua nilai utama:
- Kemurnian Batin (Suruh): Niat tulus yang menjadi fondasi ikatan.
- Kesatuan Mutlak (Temu Rose): Loyalitas tak bersyarat yang tidak dapat dikompromikan.
Ikrar yang diambil di hadapan Suruh Temu Rose mengunci komitmen Warga PSHT untuk menjunjung tinggi Setia Hati, kesetiaan pada diri sendiri dan nilai-nilai moral, sebagai sumber kekuatan sejati yang tak terkalahkan, dalam upaya mengemban tanggung jawab memayu hayuning bawono.


Post a Comment