Causa Prima Hakikat Asal dan Tujuan Hidup dalam Ajaran Setia Hati Terate

Daftar Isi

Causa Prima

Ilustrasi Causa Prima sebagai sumber cahaya kosmik atau Sebab Pertama dalam ajaran PSHT

Istilah Causa Prima berasal dari bahasa Latin yang berarti “Sebab Pertama” atau “Titik Awal Segala Sesuatu yang Ada.” Dalam pemikiran klasik, istilah ini menunjuk pada sumber asal yang menjadi pangkal dari seluruh keberadaan. Namun dalam konteks ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Causa Prima bukan sekadar konsep metafisik, melainkan kesadaran tertinggi manusia akan asal dan tujuan hidupnya.

Dalam Mukadimah PSHT, Causa Prima menjadi poros spiritual yang menuntun manusia untuk mengenal siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan ke mana akhirnya akan kembali. Ajaran ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang tidak hanya hidup dalam dimensi jasmani, tetapi juga menempuh perjalanan batin menuju kesempurnaan jiwa. Melalui kesetiaan hati dan pengendalian diri, setiap insan PSHT diingatkan untuk selalu eling marang sangkan paraning dumadi, yaitu sadar akan asal-usul dan arah akhir kehidupannya, yakni kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Makna Filosofis Causa Prima

Dalam ajaran PSHT, Causa Prima menggambarkan kesadaran manusia terhadap eksistensinya sendiri. Hidup tidak berhenti pada batas fisik dan materi, melainkan menjadi proses berkelanjutan menuju keseimbangan antara lahir dan batin.

Kembali kepada Causa Prima berarti kembali kepada kesucian hati, kepada jati diri yang sejati sebelum tercemar oleh ambisi duniawi. Dalam setiap latihan, pengabdian, dan pengendalian diri, warga PSHT belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan di luar diri, tetapi justru di dalam lubuk hati nurani, tempat Sang Mutiara Hidup bersemayam, yang merupakan simbol dari kesadaran ilahi yang menyala dalam setiap insan.

Ajaran ini menuntun manusia untuk memahami bahwa segala tindakan lahiriah harus berpangkal pada ketulusan batin. Dengan demikian, hidup menjadi jalan menuju kesempurnaan, bukan sekadar perjalanan mencari hasil, melainkan perjalanan untuk kembali mengenali Tuhan dalam diri.

Ilustrasi Sang Mutiara Hidup yang bersemayam di lubuk hati nurani sesuai filosofi Causa Prima PSHT

Causa Prima dalam Mukadimah PSHT

Dalam Mukadimah PSHT dijelaskan:

“Bahwa sesungguhnya hakekat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju kesempurnaan; demikianpun kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan yang terutama, hendak menuju keabadian kembali kepada Causa Prima, titik tolak segala sesuatu yang ada...”

Kalimat ini menjadi fondasi spiritual organisasi PSHT, yang menegaskan bahwa hidup adalah perjalanan evolutif menuju penyatuan kembali dengan Sang Pencipta. Causa Prima bukan sekadar simbol keilahian, melainkan kesadaran akan irama hidup yang bergerak dari Tuhan, oleh Tuhan, dan menuju Tuhan.

Pemahaman ini memperkuat nilai dasar PSHT bahwa manusia harus eling (ingat) dan waspada (sadar) terhadap setiap gerak batinnya. Dengan begitu, kehidupan menjadi sarana penyempurnaan, bukan hanya perjuangan di dunia, tetapi juga pengembalian diri kepada sumber asal kehidupan itu sendiri.

Causa Prima dan Jalan Kesempurnaan

Jalan menuju kesempurnaan dalam ajaran Setia Hati Terate adalah perjalanan spiritual yang bertingkat, dimulai dari pengenalan diri (Setia Hati), pembentukan watak dan budi (Terate), hingga pencapaian keseimbangan batin yang sejati (Kesempurnaan Hidup).

Pada puncaknya, Causa Prima adalah puncak kesadaran spiritual, titik ketika manusia menyadari bahwa segala sesuatu, baik suka maupun duka, hidup maupun mati, merupakan bagian dari kehendak Tuhan. Kesadaran ini melahirkan kebijaksanaan, ketenangan, dan kasih sayang universal yang menjadi ciri insan PSHT sejati.

Melalui kisah perjalanan batin ini, PSHT mengajarkan bahwa kesempurnaan tidak dapat dicapai dengan kekuatan fisik semata, melainkan melalui penyatuan antara olah raga, olah pikir, dan olah rasa. Di situlah manusia memahami makna hakiki dari Causa Prima: bahwa ia hidup bukan untuk melawan dunia, tetapi untuk menyatu dengan kehendak Ilahi.

Makna Causa Prima dalam Kehidupan Warga PSHT

Bagi warga PSHT, pemahaman terhadap Causa Prima menjadi kompas batin dalam menjalani kehidupan. Ia mengajarkan untuk bersikap bijak, tenang, dan berpegang teguh pada hati nurani.

Dalam setiap tindakan, warga PSHT diarahkan agar berlandaskan kesetiaan hati, kebersihan niat, dan kesadaran moral. Pemahaman ini menegaskan bahwa PSHT bukan hanya perguruan bela diri, tetapi lembaga pembinaan manusia berbudi luhur, yang mengutamakan keseimbangan antara kekuatan lahir dan keluhuran batin.

Kesadaran akan Causa Prima menjadikan setiap warga PSHT memahami bahwa pengendalian diri adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada Tuhan. Ketika seseorang mampu menguasai dirinya sendiri, ia telah menempuh satu langkah besar menuju kesempurnaan.

Penutup

Causa Prima adalah inti dari ajaran Setia Hati, yaitu kesadaran tentang asal, perjalanan, dan tujuan akhir manusia. Ia menuntun manusia untuk kembali kepada kesucian hati, menghayati kehidupan dengan kebijaksanaan, dan memaknai setiap detik sebagai bagian dari rencana Ilahi.

Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan reflektif ajaran PSHT:

“Manusia dapat dihancurkan, dapat dimatikan, tetapi tidak dapat dikalahkan selama ia setia pada hatinya, sebab di dalam hatinya bertahta Sang Causa Prima.”
Tito Reista
Tito Reista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Postingan Lama Postingan Lebih Baru

Posting Komentar