Mukadimah PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate)
Table of Contents
Mukadimah PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate)
(Penjelasan Filosofis dan Spiritual Berdasarkan Ajaran Resmi Dewan Pusat PSHT)
MUKADIMAH PSHT
Bahwa sesungguhnya hakekat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju kesempurnaan; demikianpun kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan yang terutama, hendak menuju keabadian kembali kepada Causa Prima, titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke tingkat, namun tidak setiap insan menyadari bahwa apa yang dikejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati nuraninya.
SETIA HATI sadar meyakini akan hakiki hayati itu, dan akan mengajak serta para Warganya menyingkap tabir atau tirai selubung hati nurani dimana "SANG MUTIARA HIDUP" bertahta.
Pencak Silat salah satu ajaran SETIA HATI TERATE dalam tingkat pertama berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dari kebenaran terhadap setiap penyerang. Dalam pada itu pencak silat hanyalah suatu syarat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal pribadi.
Maka SETIA HATI pada hakekatnya tanpa mengingkari segala martabat-martabat keduniawian, tidak kandas/tenggelam pada pelajaran Pencak Silat sebagai pendidikan ketubuhan saja, melainkan lebih menyelami kedalam lambang pendidikan kejiwaan untuk memiliki sejauh-jauhnya kepuasan hidup abadi lepas dari pengaruh rangka dan suasana.
Sekedar syarat bentuk lahir, disusunlah Organisasi dalam rangka PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE, sebagai ikatan antara saudara SETIA HATI dan lembaga yang bergawai sebagai pembawa dan pemancar cita.
Penjelasan dan Makna Filosofis Mukadimah PSHT
1. Hakekat Hidup dan Perjalanan Menuju Kesempurnaan
Kalimat pertama Mukadimah merupakan pondasi spiritual dan filsafat hidup PSHT.
Bahwa setiap makhluk hidup berjalan menurut “kodrat iramanya” sendiri menuju kesempurnaan. Hidup bukanlah garis datar, melainkan proses bertingkat dari kesadaran rendah menuju kesadaran tinggi, hingga akhirnya mencapai Causa Prima, yaitu sumber asal mula dan tujuan akhir kehidupan.
Manusia sebagai makhluk Tuhan yang utama dipanggil untuk menyadari irama hidupnya, menapaki tangga kesempurnaan dengan kesadaran akan asal dan tujuan hidup. Namun, Mukadimah mengingatkan, tidak semua insan mampu menyadari bahwa apa yang dikejar-kejar di luar sesungguhnya telah tersimpan di lubuk hati nurani.
Inilah inti ajaran PSHT: pencarian sejati bukanlah ke luar, melainkan ke dalam diri.
2. Menyingkap Tirai Nurani dan Menemukan “Sang Mutiara Hidup”
Paragraf kedua menegaskan kesadaran Setia Hati bahwa hakikat hidup telah melekat dalam diri manusia.
Ajaran PSHT mengajak setiap Warga untuk menyingkap tirai batin, menembus kabut ego dan keinginan duniawi, agar dapat menemukan “Sang Mutiara Hidup”, lambang kesadaran suci yang bertahta dalam hati nurani.
Mutiara itu tidak lain adalah jiwa murni yang bersinar dengan cahaya Ilahi, yang menjadi petunjuk bagi setiap manusia untuk hidup selaras dengan kebenaran. Melalui latihan batin, kejujuran, dan kesetiaan hati, seorang warga Setia Hati belajar mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
3. Pencak Silat: Jalan Lahir Menuju Keseimbangan Batin
Paragraf ketiga Mukadimah menjelaskan posisi pencak silat sebagai bagian dari ajaran Setia Hati Terate.
Ia adalah seni olahraga yang mengandung nilai bela diri, namun hakikatnya bukan untuk berkuasa atau menundukkan orang lain, melainkan mendidik keberanian, kepercayaan diri, dan pengenalan pribadi.
Gerak silat mencerminkan irama hidup dan keseimbangan jiwa. Saat tangan dan kaki digerakkan dengan kesadaran penuh, seorang pesilat sejati sedang melatih harmoni antara tubuh dan jiwa. Maka pencak silat dalam PSHT hanyalah syarat lahiriah, bukan tujuan akhir, ia adalah pintu yang membuka jalan menuju pendidikan kejiwaan.
4. Pendidikan Kejiwaan: Jalan Menuju Hidup Abadi
Dalam paragraf keempat, Mukadimah menegaskan bahwa Setia Hati tidak berhenti pada pelajaran ketubuhan, melainkan menembus ke dalam makna batin.
Pendidikan kejiwaan menjadi inti ajaran PSHT, di mana manusia diajak untuk mengenal dirinya, mengendalikan hawa nafsu, dan membangun kesadaran abadi yang lepas dari pengaruh duniawi.
“Terate” menjadi simbol dari kesadaran itu, bunga yang tumbuh di atas lumpur, namun tetap suci dan indah.
Ia menggambarkan manusia yang hidup di tengah dunia, namun tidak tenggelam dalam keduniawian. Dalam makna ini, PSHT mengajarkan kesempurnaan budi dan kebijaksanaan, sebagai bentuk hidup yang tenang, bersih, dan abadi.
5. Organisasi PSHT sebagai Wujud Lahir Persaudaraan
Paragraf terakhir menjelaskan pembentukan organisasi PSHT sebagai syarat bentuk lahir dari ajaran Setia Hati.
Organisasi ini adalah wadah pengikat persaudaraan, yang menghubungkan antar-saudara se-SH dalam satu cita dan tujuan.
Persaudaraan Setia Hati Terate bukan sekadar lembaga pencak silat, tetapi lembaga pembawa dan pemancar cita-cita luhur Setia Hati, memancarkan ajaran kebenaran, cinta kasih, dan kesadaran Ilahi kepada masyarakat luas.
Dengan berdirinya PSHT, ajaran Setia Hati memiliki bentuk lahir yang tertib, terarah, dan berkelanjutan, agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi dalam bingkai persaudaraan sejati.
Mukadimah sebagai Kompas Batin Warga PSHT
Mukadimah PSHT adalah kompas kehidupan bagi setiap Warga dan calon Warga. Ia adalah landasan filosofis yang kemudian dijabarkan secara moral dan etis dalam Wasiat Setia Hati Terate.
Ia menuntun manusia agar tidak tersesat dalam gemerlap dunia, melainkan selalu kembali ke sumber cahaya yang ada di dalam dirinya, Sang Mutiara Hidup.
Filsafat hidup dalam Mukadimah mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kesucian hati, bukan dari kehebatan jasmani.
Bahwa pencak silat hanyalah gerbang, sedangkan hakikat perjuangan adalah menaklukkan diri sendiri dan hidup dalam cinta kasih universal.
Dengan demikian, Setia Hati Terate bukan sekadar nama perguruan, melainkan jalan menuju kesempurnaan jiwa dan keabadian hidup, perjalanan abadi dari hati menuju Ilahi.


Post a Comment