Gerakan Serangan dengan Menggunakan Tungkai Sering Disebut Juga dengan Tendangan

Daftar Isi

Gerakan Serangan dengan Menggunakan Tungkai Sering Disebut Juga dengan Tendangan

Seorang pesilat mempraktikkan gerakan serangan menggunakan tungkai, fokus pada teknik tendangan depan lurus yang terkendali

Dalam gelanggang pencak silat, setiap gerakan memiliki jiwa, dan setiap serangan mengandung nilai.

Dari sekian banyak bentuk serangan, tendangan adalah salah satu teknik paling khas dan menentukan.

Gerakan ini menggunakan kekuatan tungkai, bagian tubuh yang melambangkan keseimbangan, keteguhan, dan arah langkah seorang pesilat.

Namun bagi seorang kesatria sejati, tendangan bukanlah alat untuk melukai, melainkan sarana untuk menguji kendali diri, kecepatan berpikir, serta keselarasan antara tenaga dan niat.

Sebagaimana diajarkan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT):

“Gerak tanpa kesadaran hanyalah kekerasan, tapi gerak yang sadar adalah seni.”

Makna Filosofis Tendangan dalam Dunia Pencak Silat

Dalam tradisi silat Nusantara, tungkai dianggap simbol “akar kehidupan”, sebab ia menopang tubuh, namun juga menjadi sumber tenaga dahsyat.

Menggunakan tungkai untuk menyerang berarti menggerakkan akar kehidupan untuk menegakkan kebenaran.

Tendangan melambangkan keberanian, ketegasan, dan arah tujuan.

Namun arah itu harus dikendalikan oleh kesadaran batin, agar kekuatan tidak berubah menjadi kesombongan.

Maka dalam ajaran PSHT, setiap tendangan adalah ujian antara tenaga dan kebijaksanaan.

Pengertian dan Fungsi Tendangan

Secara teknis, gerakan serangan dengan menggunakan tungkai sering disebut juga dengan tendangan (kick). Ini adalah gerakan menyerang yang diarahkan ke bagian tubuh lawan yang sah, yakni biasanya dada, perut, atau paha, sesuai peraturan IPSI dan Persilat.

Tujuan tendangan dalam pertandingan dan latihan meliputi:

  1. Menyerang atau menggempur pertahanan lawan.
  2. Mengatur jarak dan posisi tubuh (stance control).
  3. Mengalihkan perhatian lawan sebelum serangan tangan atau sapuan.
  4. Menghasilkan poin sah dalam pertandingan.

Namun di luar fungsi fisiknya, tendangan juga melatih keseimbangan jiwa dan konsentrasi.

Karena satu tendangan yang tidak terkendali dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Jenis–Jenis Tendangan dalam Pencak Silat (Standar IPSI – Persilat)

Dalam pertandingan resmi maupun latihan teknik, dikenal beberapa jenis tendangan dasar dan lanjutan, antara lain:

Nama Tendangan Deskripsi Gerak dan Arah Serangan
Tendangan Depan (Front Kick) Dilakukan dengan mengangkat lutut dan meluruskan tungkai ke depan, menyerang bagian perut atau dada. Efektif untuk serangan langsung dan cepat.
Tendangan Samping (Side Kick) Gerakan mengayun tungkai dari samping dengan tumit atau sisi telapak kaki. Serangan kuat yang menjaga jarak dengan lawan.
Tendangan Sabit (Hook Kick / Crescent Kick) Tungkai diayunkan melengkung menyerupai sabit, menyerang dari arah luar ke dalam. Digunakan untuk menembus pertahanan lawan.
Tendangan Belakang (Back Kick) Serangan dilakukan dengan menendang ke arah belakang tanpa membalikkan tubuh sepenuhnya. Butuh ketepatan tinggi dan keseimbangan sempurna.
Tendangan T (T-Kick) Gerakan kombinasi antara tendangan depan dan samping, membentuk pola seperti huruf “T”. Umumnya digunakan dalam jurus seni.
Tendangan Putar (Spinning Kick) Dilakukan dengan memutar tubuh untuk menambah tenaga dan kecepatan. Menampilkan keindahan sekaligus kekuatan.
Tendangan Jejag (Push Kick) Serangan dorong dengan telapak kaki, digunakan untuk menjauhkan lawan. Lebih bersifat defensif.

Masing-masing jenis tendangan memiliki nilai artistik dan fungsi strategis. Dalam pertandingan IPSI, tendangan sah yang mengenai body protector lawan dengan kontrol yang baik akan diberikan nilai 1–2 poin, tergantung efektivitasnya.

Kolase berbagai jenis tendangan dalam pencak silat, menunjukkan teknik tendangan depan, samping, sabit, dan T sebagai variasi serangan

Prinsip Teknik Tendangan yang Benar

Dalam ilmu pencak silat, keindahan tendangan tidak diukur dari kerasnya pukulan, melainkan dari kesempurnaan teknik dan keseimbangan tubuh.

Beberapa prinsip penting dalam melakukan tendangan yang benar antara lain:

  1. Keseimbangan (Balance), yang bertujuan menjaga pusat gravitasi tubuh agar tetap stabil.
  2. Tenaga (Power), yang mana dihasilkan dari rotasi pinggul dan kekuatan paha, bukan sekadar ayunan kaki.
  3. Arah Pandang (Focus), artinya mata harus mengikuti arah serangan agar kontrol tetap terjaga.
  4. Pengendalian (Control), yaitu pesilat harus mampu menahan tendangan sesaat sebelum mengenai sasaran untuk menghindari cedera.
  5. Kecepatan dan Ketepatan (Speed & Accuracy), yang berarti tendangan harus cepat namun tepat sasaran.

Dalam PSHT, latihan tendangan tidak hanya mengasah otot, tetapi juga melatih kesadaran penuh dalam gerak (ngalap rasa gerak), yang bermakna menyatukan napas, tenaga, dan pikiran dalam satu irama.

Filosofi Tendangan dalam Ajaran PSHT

Setiap tendangan dalam ajaran Setia Hati Terate memiliki makna simbolik yang mendalam:

  • Mengangkat kaki berarti meninggalkan kesombongan.
  • Menendang berarti menegakkan kebenaran dengan kendali.
  • Menapak kembali berarti kembali kepada kerendahan hati.

Gerak itu menjadi suluk tubuh, sebuah perjalanan dari bawah menuju kesadaran, lalu kembali turun membawa manfaat bagi sesama.

Seorang pesilat PSHT diajarkan untuk menendang bukan untuk menguasai lawan, tetapi untuk mengalahkan sifat angkara dalam dirinya sendiri.

Seorang guru PSHT sedang mengawasi dan memperbaiki teknik tendangan murid, menekankan pentingnya etika dan pengendalian diri

Etika dalam Melakukan Serangan Tendangan

Setiap serangan dalam pencak silat diatur oleh tata krama dan moral.

Pesilat dilarang melakukan tendangan ke arah:

  • Kepala bagian depan atau wajah.
  • Leher atau tengkuk.
  • Daerah kemaluan.
  • Bagian belakang tubuh secara membahayakan.

Pelanggaran terhadap etika ini dianggap melanggar nilai kesatria dan dapat mengurangi poin atau menyebabkan diskualifikasi.

Sebelum memulai pertandingan, seorang pesilat wajib menanamkan niat dalam hati:

“Aku menendang bukan untuk melukai, tetapi untuk menguji kendaliku sendiri.”

Latihan Tendangan dalam PSHT

Dalam sistem keilmuan PSHT, tendangan diajarkan secara bertahap:

  1. Tahap Dasar: mengenali bentuk, arah, dan keseimbangan.
  2. Tahap Menengah: menggabungkan tendangan dengan tangkisan dan elakan.
  3. Tahap Lanjut: menguasai variasi putaran, sapuan, serta perpaduan dengan serangan tangan.

Setiap latihan dilakukan dengan penuh ngalap rasa, yakni memahami hubungan antara tubuh, tanah, dan napas.

Karena hanya pesilat yang mampu mengatur napas, yang mampu mengatur langkahnya; dan hanya yang mampu mengatur langkahnya, yang mampu mengatur hidupnya.

Tendangan sebagai Seni dan Doa Gerak

Dalam kategori seni tunggal, ganda, dan regu, tendangan menjadi unsur yang memperindah jurus.

Gerak tungkai yang tajam namun lentur, terukur namun dinamis, memperlihatkan keindahan jiwa seorang pendekar.

Setiap ayunan kaki adalah doa yang bergerak, sebagai simbol keseimbangan antara ketegasan dan keluwesan hidup.

Penutup

Tendangan adalah perpaduan antara kekuatan, keindahan, dan kesadaran.

Ia mengajarkan bahwa dalam setiap langkah menyerang, ada tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan diri dan menghormati lawan.

Bagi seorang pesilat PSHT, kaki bukan sekadar alat untuk melangkah, tetapi sarana menuju pengendalian diri dan pemahaman hakikat kehidupan.

Karena sejatinya, serangan yang paling sempurna bukanlah yang menjatuhkan lawan, melainkan yang membangunkan kesadaran tentang siapa kita di hadapan Tuhan dan sesama.

“Tendangan sejati tidak menumbangkan tubuh lawan, tetapi menundukkan hawa nafsu dalam diri sendiri.”
Tito Reista
Tito Reista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Postingan Lama Postingan Lebih Baru

Posting Komentar