Pitingan PSHT 1–5
Table of Contents
Teknik Dasar Pitingan PSHT 1-5 dan Filosofinya
Dalam dunia Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), pitingan bukan sekadar teknik bergulat, tetapi merupakan simbol kendali diri, kekuatan terarah, dan kehormatan dalam pertarungan. Setiap gerakan dari Pitingan PSHT 1 hingga 5 memiliki makna filosofis yang mendalam, menuntut ketenangan batin serta kecepatan berpikir dalam menghadapi lawan.
Teknik ini diajarkan dalam tahapan tertentu, dimulai dari pengenalan dasar hingga penguasaan penuh terhadap tubuh dan keseimbangan lawan. Melalui pitingan, pesilat PSHT belajar bahwa kekuatan sejati tidak hanya berasal dari otot, tetapi juga dari keselarasan antara pikiran, napas, dan gerak tubuh.
Filosofi dan Makna Pitingan dalam PSHT
Sebelum memahami bentuk fisiknya, seorang pesilat perlu mengerti bahwa pitingan adalah perwujudan pengendalian tanpa kemarahan.
Dalam ajaran PSHT, pitingan melatih pesilat untuk menaklukkan lawan tanpa merusak, serta menundukkan tanpa kebencian. Filosofi ini menekankan penguasaan diri sebagai dasar setiap teknik bela diri.
Gerakan tubuh dalam pitingan merepresentasikan keseimbangan antara “ngelmu” dan “laku”, yaitu pengetahuan dan praktik yang berjalan beriringan.
Gambar Pitingan PSHT 1
Pada tahapan Pitingan 1, pesilat belajar mengunci tubuh lawan dengan tumpuan paha dan kekuatan punggung bawah.
Gerakan ini melatih stabilitas dan kontrol, bukan sekadar kekuatan. Posisi paha digunakan sebagai tumpuan utama untuk menahan tekanan, sementara tangan menjaga jarak aman antara tubuh dan leher lawan.
Teknik ini mencerminkan kemampuan untuk menahan dan menguasai tanpa memukul, sesuai prinsip dasar PSHT, yaitu mengalahkan hawa nafsu sebelum mengalahkan lawan.
“Pegang tubuh lawan sampai ke leher lalu regangkan dengan tumpuan paha.”
Gambar Pitingan PSHT 2
Pada Pitingan 2, fokus berpindah pada daya lempar dan keseimbangan tubuh. Pesilat menggunakan kekuatan leher serta otot punggung untuk memutus cengkeraman lawan, lalu memutar tubuh guna menjatuhkan lawan ke arah belakang.
Gerakan ini menuntut kecepatan dan ketepatan waktu. Bila dilakukan dengan sempurna, pesilat dapat membebaskan diri dari pelukan atau kuncian tanpa kehilangan posisi bertahan.
“Dengan kekuatan otot leher dan badan, kita lemparkan lawan ke belakang hingga pegangannya terlepas.”
Gambar Pitingan PSHT 3
Pada tahap Pitingan 3, pesilat mulai memahami perpaduan tenaga dorong dan teknik jebakan kaki atau kuncian bawah.
Gerakan ini melibatkan keseimbangan dinamis, di mana pesilat harus mendorong tubuh lawan hingga kehilangan poros berat, kemudian menyapu kaki penopang.
Pitingan ini menekankan kecepatan membaca arah gerak lawan yang merupakan inti dari strategi PSHT. Prinsipnya dikenal dengan istilah “ngeli ning ora keli”, yang berarti mengalir tanpa hanyut.
“Dorong badan lawan hingga kakinya disilangkan, pegang kaki lawan dan lemparkan hingga kepalanya menyentuh tanah.”
Gambar Pitingan PSHT 4
Tahapan Pitingan 4 memasuki fase kendali dari belakang. Dalam situasi pertarungan jarak dekat, pesilat belajar menggunakan posisi strategis di belakang lawan untuk menekan, menjatuhkan, atau melucuti senjata.
Gerakan menjambak rambut di sini bukan semata menarik, tetapi bertujuan mengendalikan arah kepala yang menjadi pusat keseimbangan tubuh lawan.
Teknik ini melatih kecepatan tangan dan penguasaan jarak aman agar pesilat dapat bertindak dengan efektif tanpa kehilangan kendali.
“Menjambak rambut lawan dari belakang.”
Gambar Pitingan PSHT 5
Tahapan Pitingan 5 merupakan puncak kendali dalam rangkaian pitingan dasar. Pesilat menggunakan satu tangan untuk mengunci pergerakan, sementara tangan lainnya menekan bagian vital leher lawan guna menghentikan perlawanan.
Teknik ini hanya digunakan dalam kondisi terpaksa dan harus disertai kendali penuh atas emosi, mencerminkan falsafah PSHT bahwa manusia kuat bukan yang menang dalam pertarungan, melainkan yang menang melawan dirinya sendiri.
“Dengan tangan tergantung, kami menekan leher lawan.”
Persiapan dan Pelepasan Pitingan
Sebelum melatih pitingan, pesilat diajarkan persiapan serta cara melepaskan diri dari pitingan lawan.
Beberapa tahapan penting antara lain:
- Menurunkan tubuh sambil menarik tubuh lawan.
- Memutar badan ke arah kiri atau kanan untuk mencari titik lemah.
- Menarik tubuh lawan ke bawah lalu mengangkatnya dengan gerak rotasi.
Langkah-langkah ini memperkuat koordinasi otot inti, melatih fleksibilitas, serta kemampuan membaca momentum dalam pertarungan.
Nilai Moral dan Spiritualitas dalam Pitingan PSHT
Pitingan bukan sekadar teknik pertarungan, melainkan juga latihan moral dan spiritualitas dalam tubuh manusia.
Dalam setiap gerakan, pesilat PSHT diajak memahami arti kesabaran, kewaspadaan, dan kasih sayang dalam pertempuran.
Setiap pitingan mengandung pesan bahwa bela diri sejati bukanlah tentang menyerang, melainkan menjaga keseimbangan hidup dan kehormatan diri.
Maka dari itu, pelatihan pitingan bukan hanya menguatkan tubuh, tetapi juga membentuk watak ksatria yang berbudi luhur, sesuai dengan semboyan PSHT:
“Memayu hayuning bawana, ambrasta dur angkara.”
(Menebarkan kebaikan di dunia, memberantas angkara murka.)





Post a Comment