Cara Jahit Koin PSHT

Table of Contents

Cara Jahit Koin PSHT

Tampilan depan tenger jahit koin PSHT 36 keping formasi 6x6, menunjukkan sisi Garuda Pancasila sebagai mahar pengesahan warga

Dalam setiap laku dan atribut Persaudaraan Setia Hati Terate, tersimpan ajaran luhur yang tak kasat mata. Jahit koin PSHT bukanlah sekadar kerajinan tangan, melainkan sebuah laku spiritual pertama seorang calon warga dalam mempersiapkan tenger (penanda) atau mahar suci untuk prosesi agung Pengesahan PSHT.

Koin yang telah dirangkai ini bukanlah atribut warga PSHT yang dipakai sehari-hari, melainkan sebuah alas sakral. Ia dipersiapkan khusus untuk malam Sah-Sah'an (Pengesahan), yang lazimnya dilaksanakan pada malam 1 Suro. Pada prosesi inti, yakni keceran (penetesan mata), sang calon warga akan menduduki rangkaian koin ini sebagai simbol landasan dan pengingat amanah.

Makna Koin Pengesahan dalam Tradisi PSHT

Koin Pengesahan berfungsi sebagai mahar, yakni sebuah persembahan simbolik yang melambangkan tekad, kesetiaan, dan kerelaan seorang siswa untuk menapaki jenjang baru sebagai Warga.

Tindakan menduduki rangkaian koin saat prosesi keceran adalah sebuah tradisi PSHT yang sarat filosofi koin PSHT. Ini adalah simbol bahwa seorang warga baru telah siap "membumi", merendahkan hati, serta menduduki (melandasi) hidupnya di atas pondasi ajaran luhur Setia Hati. Ia duduk di atas tenger yang menjadi saksi bisu sumpahnya.

Tata Cara Merangkai Koin Pengesahan Warga PSHT

Tata cara jahit koin PSHT adalah proses yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan ketekunan. Kerapian dalam merangkai koin ini mencerminkan kesiapan mental dan kedisiplinan hati sang calon warga.

  1. Identitas Calon Warga: Pada bagian atas media, disematkan selembar kertas yang berisi data diri lengkap. Ini adalah "kepala" dari tenger, penanda identitas jiwa yang akan disahkan. Data tersebut mencakup:
    • Nama Lengkap
    • Tempat Lahir
    • Tanggal/Bulan/Tahun Lahir
    • Weton
    • Ranting
    • Tanggal Pengesahan
  2. Media (Wadah): Koin dirangkai di atas media suci berupa Kain Mori (melambangkan kesucian dan kepasrahan) atau terkadang menggunakan Plastik Laminating (untuk ketahanan).
  3. Spesifikasi Koin: Secara tradisi, koin yang diutamakan adalah mata uang 1000 Rupiah edisi lama yang spesifik, yakni yang bergambar Kelapa Sawit dan Lambang Garuda Pancasila. Koin bimetal (dua material) ini memiliki spesifikasi teknis: lingkaran luar terbuat dari Cupro Nickel (berwarna perak/putih) dan lingkaran dalam terbuat dari Aluminium Bronze (berwarna emas/kuningan).
  4. Alternatif Koin: Mengingat koin bimetal (Kelapa Sawit) tersebut saat ini sudah jarang beredar dan sulit dicari, maka sebagai syarat (atas petunjuk pelatih/pengurus setempat), umumnya telah digantikan dengan Koin Mata Uang 1000 Rupiah (logam) edisi baru yang tersedia saat ini (misalnya, yang bergambar Angklung).
  5. Jumlah Koin: Jumlah koin yang disiapkan adalah 36 keping.
  6. Orientasi Koin: Setiap koin ditata dengan sisi Garuda Pancasila di bagian depan (atas/terlihat). Untuk koin bimetal lama, ini berarti sisi bergambar Kelapa Sawit berada di belakang (menempel pada Kain Mori).
  7. Tata Letak (Grid): Koin ditata rapi dalam formasi grid (kotak) 6 koin secara horizontal (mendatar) dan 6 koin secara vertikal (menurun), sehingga totalnya genap 36 koin.
  8. Proses Menjahit: Inilah inti dari cara menjahit koin pengesahan. Setiap koin harus dijahit satu per satu pada Kain Mori/media. Koin tidak dilem, melainkan diikat kuat dengan jahitan yang rapi pada setiap sisinya, memastikan setiap koin kokoh pada posisinya.

Makna Filosofis di Balik Jahitan Koin

Laku jahit koin PSHT adalah pelajaran tanpa kata. Setiap elemennya adalah makna simbol PSHT yang mendalam:

  • Jumlah 36 Koin: Ini adalah representasi langsung dari 36 Jurus PSHT (senam dan jurus dasar). Saat calon warga duduk di atasnya, ia secara simbolis sedang menduduki, meresapi, dan menjadikan seluruh ajaran (ilmu) Setia Hati Terate sebagai pondasi hidupnya.
  • Grid 6x6: Formasi ini melambangkan keseimbangan, ketertataan, dan fondasi yang kokoh.
  • Koin Bimetal (Asli): Secara filosofis, koin asli (perpaduan Cupro Nickel dan Aluminium Bronze) melambangkan penyatuan dua elemen yang berbeda menjadi satu: jiwa dan raga (jasmani dan rohani), atau kawula dan Gusti. Meskipun koin tersebut kini digantikan karena kelangkaan, esensi utamanya tidak berubah.
  • Garuda Pancasila di Atas: Orientasi ini adalah pengingat mutlak bahwa ideologi luhur (iman kepada Tuhan, cinta tanah air, dan nilai-nilai Pancasila) harus selalu dijunjung tinggi di atas segalanya oleh setiap warga Setia Hati.
  • Kain Mori: Melambangkan kematian dari sifat "siswa" yang lama dan kelahiran kembali sebagai "warga" yang suci dan penuh tanggung jawab.
  • Proses Menjahit: Tusukan jarum dan benang yang mengikat koin adalah simbol ikatan persaudaraan yang kuat. Ketelitian dalam menjahit adalah cerminan keteguhan hati dalam memegang sumpah (ikrar) warga Persaudaraan Setia Hati Terate.

Tampak belakang tenger jahit koin PSHT, menunjukkan detail ikatan 36 koin yang dijahit rapi pada media plastik lamilating

Penutup

Rangkaian 36 koin ini bukan sekadar atribut warga PSHT yang teknis, melainkan tenger sakral. Ia adalah saksi bisu, alas pijakan pertama, dan pondasi filosofis yang ditanamkan saat seorang insan disahkan menjadi Warga Setia Hati. Menyelesaikannya dengan rapi adalah bukti pertama dari kesetiaan pada ajaran.

Post a Comment