Siapa Pendiri SH dan Pendiri PSHT
Table of Contents
Siapa Pendiri SH dan Pendiri PSHT
Sejarah Singkat
Untuk menjawab pertanyaan siapa pendiri SH dan pendiri PSHT, kita perlu menengok ke awal abad ke-20 yang menjadi masa kebangkitan rohani dan kebangsaan di tanah Jawa. Di tengah pergolakan sosial dan penjajahan, muncul sebuah ajaran yang menanamkan nilai luhur manusia sejati: Setia Hati.
Ajaran ini bukan sekadar ilmu bela diri, melainkan tuntunan hidup untuk ngudi kasampurnan, yaitu mencari kesempurnaan lahir dan batin. “Setia Hati” mengajarkan manusia agar tetap teguh pada hati nurani, jujur kepada diri sendiri, dan berbuat kebajikan tanpa pamrih.
Dari ajaran inilah kelak tumbuh dua tokoh besar:
- Ki Ngabehi Soerodiwirjo, sang pendiri Setia Hati.
- Ki Hadjar Hardjo Oetomo, sang pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Keduanya menjadi mata rantai sejarah panjang perjuangan spiritual dan kebangsaan Indonesia.
Pendiri SH (Setia Hati) – Ki Ngabehi Soerodiwirjo
Nama Ki Ngabehi Soerodiwirjo tercatat sebagai Pendiri SH, yakni Persaudaraan Setia Hati.
Beliau lahir di Madiun pada akhir abad ke-19 dan dikenal sebagai tokoh spiritual serta pendekar berilmu tinggi. Sekitar tahun 1903 di Surabaya (Tambak Gringsing), beliau mulai membentuk ajaran Setia Hati sebagai jalan hidup.
Awalnya, perkumpulan ini dikenal sebagai "Sedulur Tunggal Kecer" dengan ilmu pencak silat "Djojo Gendilo Tjipto Muljo". Barulah pada tahun 1917, nama "Setia Hati" secara resmi digunakan ketika beliau pindah ke Winongo, Madiun.
Filosofi yang beliau tanamkan sederhana namun mendalam:
“Suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti.”Bahwa kekuatan sejati bukan pada otot dan senjata, melainkan pada ketulusan hati dan budi pekerti.
Ajaran Setia Hati menekankan keseimbangan antara olah raga, olah rasa, dan olah batin, agar manusia mampu menundukkan nafsu, memuliakan sesama, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dari ajaran inilah lahir benih persaudaraan sejati yang tidak membeda-bedakan pangkat, suku, maupun kedudukan.
Pendiri PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) – Ki Hadjar Hardjo Oetomo
Dari murid-murid Ki Ngabehi Soerodiwirjo, muncullah sosok yang kelak melanjutkan perjuangan dalam wujud baru: Ki Hadjar Hardjo Oetomo.
Beliau dikenal sebagai Pendiri PSHT, yang berdiri pada 2 September 1922 di Madiun (Pilangbango).
Organisasi ini awalnya bernama "Setia Hati Pencak Sport Club" (SH PSC), yang didirikan sebagai sarana perjuangan kaum muda melawan penjajah. Nama "Persaudaraan Setia Hati Terate" kemudian disepakati dalam kongres pertama organisasi pada tahun 1948.
Ki Hadjar Hardjo Oetomo bukan hanya pendekar, tetapi juga pejuang kemerdekaan dan pendidik sejati. Dalam semangat kebangsaan yang menyala, beliau mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate sebagai pengejawantahan ajaran gurunya, Setia Hati, dengan menekankan aspek kebangsaan, pendidikan karakter, dan perjuangan moral.
Filosofinya jelas: manusia harus kuat jasmani, cerdas pikiran, dan luhur budi pekerti.
Dalam PSHT, pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan sarana pembentukan watak. Latihan jasmani menjadi jalan menempa mental, agar manusia sanggup menegakkan keadilan, menjaga perdamaian, dan mengabdi pada kebenaran.
Hubungan antara SH dan PSHT
Banyak yang bertanya, apakah PSHT merupakan pecahan dari SH?
Sesungguhnya, tidak. PSHT adalah organisasi pengembang dari ajaran induk Setia Hati.
Ki Hadjar Hardjo Oetomo tidak memisahkan diri, melainkan melanjutkan dan menyesuaikan ajaran gurunya dengan zaman perjuangan kemerdekaan.
Setia Hati ibarat akar yang menancap kuat di bumi spiritual Jawa, sedangkan Terate adalah bunga yang mekar di permukaan air, indah namun tetap bersumber dari akar yang sama.
Hubungan antara Ki Ngabehi Soerodiwirjo sebagai guru (pendiri ajaran induk) dan Ki Hadjar Hardjo Oetomo sebagai murid (pendiri organisasi PSHT) ini menjadi garis lurus dalam perjalanan Persaudaraan Setia Hati.
Makna Filosofis dan Warisan
Dua tokoh besar ini, Ki Ngabehi Soerodiwirjo dan Ki Hadjar Hardjo Oetomo, adalah dua mata rantai dalam satu garis ajaran.
Yang satu menanam akar kebatinan, yang lain menumbuhkan bunga perjuangan.
Keduanya mengajarkan nilai yang sama: persaudaraan, kejujuran, keberanian, dan cinta damai.
Warisan mereka bukan hanya berdiri dalam wujud organisasi bela diri, tetapi hidup dalam hati setiap warga yang berpegang pada ajaran Setia Hati Terate:
“Manusia sejati adalah ia yang mampu menguasai diri dan berbuat kebajikan tanpa pamrih.”
Dari ajaran Setia Hati lahir Persaudaraan Setia Hati Terate, dari akar spiritual tumbuhlah pohon persaudaraan yang menaungi banyak generasi. Uraian ini sekaligus menutup pembahasan mengenai siapa pendiri SH dan pendiri PSHT, yang menuntun setiap insan untuk ngudi kasampurnan jati, mencari kesempurnaan sejati sebagai manusia berbudi luhur.




Post a Comment