Makna Warga PSHT Tingkat 2 dan 3 (Mas Tarmadji Boedi Harsono)
Table of Contents
Makna Warga PSHT Tingkat 2 dan 3 (Mas Tarmadji Boedi Harsono)
Memahami tingkatan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) bukanlah sekadar memahami struktur organisasi, melainkan menyelami sebuah perjalanan spiritual dan moral. Dikenal adanya tiga tingkatan utama: Warga Tingkat I, Warga Tingkat II, dan Warga Tingkat III, yang mencerminkan tahapan kesadaran seorang Warga PSHT dalam menempuh jalan Setia Hati.
PSHT, pada hakikatnya, bukanlah perguruan bela diri semata, melainkan sebuah lembaga pendidikan budi pekerti dan olah batin. Penjelasan mengenai makna Warga PSHT Tingkat 2 dan 3 ini bersumber dari wejangan dan pemikiran luhur Mas Tarmadji Boedi Harsono, Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, yang mendedikasikan hidupnya untuk mengejawantahkan nilai luhur Setia Hati Terate.
Makna Filosofis Tingkat 2 PSHT
Mas Tarmadji Boedi Harsono senantiasa menekankan bahwa pencapaian Tingkat 2 (Dua) bukanlah sebuah kenaikan status atau gelar hierarkis, melainkan perwujudan kematangan budi dan tanggung jawab moral. Ini adalah sebuah ujian fundamental terhadap kematangan batin dan perilaku.
Jika Tingkat I merupakan fase “kelahiran” sebagai warga SH Terate, maka Tingkat 2 adalah masa kedewasaan berpikir dan bertanggung jawab dalam pengabdian, di mana batin dan perilaku menjadi standar utama.
Dalam penjelasannya, Warga Tingkat 2 memiliki fungsi ganda:
- Sebagai pembimbing dan panutan bagi Warga Tingkat I.
- Sebagai pengesah dan penguat dalam proses pengesahan Warga baru, karena dianggap telah memahami hakikat lahiriah dan batiniah organisasi.
Selain itu, Warga Tingkat II juga mengemban amanah sebagai penuntun moral bagi yang lain, belajar menjadi pengayom, bukan penguasa.
Beliau menegaskan:
“Tingkat loro (dua) itu yang dinilai perilakunya, bukan tingkatan... sebab keluhuran budi lebih utama daripada gelar.”
Pada tahap ini, seorang warga diuji kesucian hatinya. Ia harus mampu membersihkan diri dari sifat sombong, iri, dan dengki. Secara kejiwaan, Tingkat 2 PSHT menandai fase kedewasaan berpikir dan keteguhan hati, di mana seseorang beralih dari sekadar "melatih diri" menjadi "mendidik diri".
Mas Tarmadji sering menegaskan bahwa Tingkat II bukanlah pangkat, melainkan cermin kematangan batin, yakni jenjang bagi mereka yang mampu menimbang benar dan salah dengan hati (bukan hawa nafsu) dan telah mampu menjaga dirinya sendiri.
“Warga Tingkat 2 bukan berarti lebih tinggi, tapi lebih sadar akan tanggung jawabnya menjaga dan menuntun sesama.”
Makna Filosofis Tingkat 3 PSHT
Tingkat 3 (Tiga) adalah puncak kesadaran spiritual dari pembentukan karakter dan perwujudan tanggung jawab moral tertinggi dalam ajaran batin PSHT. Ini adalah perjalanan menuju kesempurnaan budi dan penyatuan dengan kehendak Ilahi.
Dalam pandangan Mas Tarmadji, Warga Tingkat III telah melampaui batas antara lahir dan batin. Mereka tidak lagi mencari pengakuan manusia, sebab pengesahan sejatinya datang dari Tuhan.
Bagi Mas Tarmadji, Tingkat 3 bukanlah sebuah jabatan, melainkan "keadaan jiwa" (manunggal rasa). Fokusnya telah beralih sepenuhnya pada pengabdian dan kebijaksanaan, serta hidup dalam kesadaran Tuhan (semacam tasawuf dalam PSHT).
Tingkat 3 PSHT tidak bisa dicapai hanya dengan latihan fisik atau pengetahuan teknis, melainkan harus ditempuh dengan tirakat, pengendalian diri, keikhlasan, dan kesetiaan hati. Karena itu, Mas Tarmadji menyebut bahwa:
Warga Tingkat III bukan “diangkat” oleh manusia, melainkan “disiapkan” oleh laku hidupnya sendiri.
Sosok di Tingkat 3 harus hidup sebagai teladan yang nyata, mampu menjadi contoh diam-diam (mengajarkan tanpa bicara, memimpin tanpa kekuasaan), dan mencerminkan ajaran:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana.”
Seperti yang beliau tuturkan:
“Tingkat 3 itu mampu menjadi panutan siapapun di lingkungannya... bukan karena kuasanya, tapi karena kebijaksanaannya.”
Filosofi Tingkat 3 PSHT adalah tingkatan di mana kedewasaan batin, kebijaksanaan, dan keluhuran budi menjadi nafas kehidupan untuk memastikan ajaran luhur PSHT tetap murni.
Filosofi Kenaikan Tingkat Warga PSHT
Struktur tingkatan dalam PSHT sejatinya mencerminkan perjalanan manusia menuju kesempurnaan hati:
- Tingkat I: Tahap lahiriah, menempuh disiplin fisik dan mengenal ajaran.
- Tingkat II: Tahap batiniah awal, menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab moral.
- Tingkat III: Tahap spiritual, menyatu dengan hakikat hidup dan Tuhan.
Mas Tarmadji menggambarkan perjalanan ini sebagai:
“Laku dari luar ke dalam, dari tahu menjadi sadar, dari sadar menjadi hening.”
Beliau sering mengingatkan bahwa seluruh latihan jasmani (senam, jurus, sambung) hanyalah wadah atau sarana. Tujuan sejati dari latihan fisik tersebut adalah untuk melatih batiniah.
“Yang tidak boleh dan tidak bisa diajarkan sembarangan adalah batiniahnya.”
Hal ini ditegaskan karena ajaran batin PSHT menyangkut kedewasaan spiritual, pemahaman akan Sangkan Paraning Dumadi (asal dan tujuan hidup), dan kesadaran untuk Memayu Hayuning Bawana.
Penutup dan Pesan Moral (Tingkat 2 & 3 PSHT)
Pada akhirnya, pemaknaan Warga PSHT Tingkat 2 dan 3 menurut Mas Tarmadji Boedi Harsono bukanlah sebuah perlombaan untuk mencapai derajat atau pangkat, melainkan "penjernihan nilai" agar warga tidak terjebak tafsir duniawi. Ini adalah sebuah perjalanan sunyi untuk menyempurnakan budi pekerti, sebuah proses menjadi manusia Setia Hati yang seutuhnya.
Beliau memberikan sebuah refleksi mendalam sebagai pedoman:
“Makin tinggi tingkatannya, orang itu makin terbelenggu oleh tanggung jawab moralnya. Yang dikejar bukan pangkat, tapi keluhuran budi.”
Penguasaan jurus di atas matras haruslah selaras dengan penguasaan diri dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pesan penutup beliau untuk semua Warga PSHT:
“Yang disebut Warga sejati bukan karena tingkatnya tinggi, tapi karena hatinya menyatu dengan Setia Hati.”

Post a Comment