Peran RM Soetomo Mangkoedjojo dalam Transformasi PSHT
Table of Contents
Peran RM Soetomo Mangkoedjojo dalam Transformasi PSHT
Dalam struktur tokoh besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), nama Raden Mas Soetomo Mangkoedjojo berdiri sebagai pilar transisi yang fundamental. Beliau adalah sosok visioner yang menjembatani era perintisan di bawah sang pendiri, Ki Hadjar Hardjo Oetom, dengan era modern PSHT sebagai sebuah organisasi berskala nasional. Perannya bukanlah sekadar sebagai penerus, melainkan sebagai seorang arsitek kelembagaan yang meletakkan fondasi struktural, hukum, dan organisasional yang memungkinkan PSHT untuk tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
Silsilah dan Penempaan Awal
Untuk memahami otoritas dan visi R.M. Soetomo Mangkoedjojo, penting untuk menelusuri akarnya yang tertanam kuat dalam silsilah keilmuan PSHT. Beliau bukan sekadar anggota biasa, melainkan salah satu murid langsung dari sang pendiri, yang memberinya legitimasi dan pemahaman mendalam untuk memimpin organisasi di masa-masa paling krusial.
Murid Langsung Ki Hadjar Hardjo Oetomo
R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah murid langsung dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo, pendiri PSHT. Beliau disahkan menjadi Warga Tingkat I pada tahun 1928 dalam sebuah prosesi yang dipimpin langsung oleh Ki Hadjar di kediamannya di Desa Pilangbango, Madiun. Pengesahan angkatan 1928 ini juga melahirkan tokoh-tokoh penting lainnya seperti Hardjosajano (Hardjo Girin) dan Moch Irsad, yang kelak juga memainkan peran vital dalam pengembangan PSHT. Statusnya sebagai murid langsung dari generasi paling awal memberinya kedudukan terhormat dan pemahaman murni atas ajaran Setia Hati Terate.
Pendekar Tingkat III dan Perintis Cabang
Penguasaan ilmunya yang mendalam terbukti dengan pencapaiannya sebagai seorang Pendekar Tingkat III, tingkatan tertinggi dalam hierarki keilmuan PSHT. Namun, kontribusinya tidak hanya terbatas pada pengembangan diri. Jiwa organisatornya telah terlihat sejak dini. Pada tahun 1936, beliau merintis dan mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo. Dua tahun kemudian, pada 1938, cabang ini berhasil menyelenggarakan pengesahan pertamanya yang meluluskan empat orang warga baru. Langkah ini menunjukkan visinya yang melampaui batas-batas Madiun dan menjadi salah satu cikal bakal ekspansi PSHT di kemudian hari.
Momen Krusial 1948, Dari Perguruan Menuju Organisasi
Kontribusi terbesar dan paling transformatif dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah perannya sebagai inisiator utama dalam perubahan status PSHT dari sebuah perguruan menjadi organisasi modern. Langkah ini adalah titik balik yang menentukan masa depan PSHT.
Konferensi di Tengah Keterbatasan
Pada bulan Juli 1948, atas prakarsa R.M. Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, dan sejumlah murid senior lainnya, diselenggarakan sebuah konferensi atau musyawarah penting. Pertemuan ini digelar di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo di Pilangbango, yang saat itu sedang dalam kondisi sakit parah hingga separuh badannya tidak dapat digerakkan. Dengan restu dari sang guru, para murid utamanya berkumpul untuk menentukan arah masa depan ajaran yang mereka cintai.
Kelahiran Organisasi Modern
Konferensi bersejarah ini melahirkan tiga keputusan fundamental yang menjadi cetak biru PSHT modern:
- Perubahan Status: Sistem perguruan (paguron) yang terpusat pada figur seorang guru diubah menjadi sebuah "Organisasi Persaudaraan" dengan nama resmi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
- Penyusunan AD/ART: Untuk pertama kalinya, disusun Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) sebagai landasan hukum dan operasional organisasi.
- Pengangkatan Ketua Pertama: R.M. Soetomo Mangkoedjojo diangkat dan dipercaya untuk menjadi Ketua Umum Pusat yang pertama dalam struktur organisasi baru ini, didampingi oleh Darsono sebagai wakilnya.
Langkah ini adalah sebuah lompatan kuantum. Dengan mengubah PSHT menjadi organisasi, R.M. Soetomo Mangkoedjojo memastikan bahwa eksistensi dan pengembangan ajaran tidak lagi bergantung pada satu individu, melainkan pada sebuah sistem yang terstruktur, regeneratif, dan memiliki landasan hukum yang jelas.
Era Kepemimpinan dan Ekspansi
R.M. Soetomo Mangkoedjojo memimpin PSHT dalam dua periode yang berbeda, yang keduanya memberikan kontribusi signifikan bagi penguatan dan perluasan organisasi.
Periode Pertama (1948–1956) dan Transisi
Sebagai Ketua Umum pertama, R.M. Soetomo Mangkoedjojo bertugas meletakkan dasar-dasar administrasi dan manajemen organisasi yang baru terbentuk. Namun, pada tahun 1956, karena tuntutan pekerjaannya sebagai pegawai bank BRI, beliau dipindahtugaskan dari Madiun ke Surabaya. Jabatan Ketua Umum kemudian diserahkan kepada M. Irsad.
Periode Kedua (1966–1974) dan Perluasan Wilayah
Setelah terjadi berbagai dinamika internal, kepemimpinan PSHT kembali dipercayakan kepada R.M. Soetomo Mangkoedjojo pada tahun 1966. Periode kedua inilah yang menandai dimulainya era ekspansi PSHT secara signifikan. Di bawah kepemimpinannya, PSHT yang semula berpusat di Madiun mulai melebarkan sayapnya ke berbagai daerah. Tercatat, lima cabang baru berhasil didirikan, antara lain di Magetan, Surabaya, Mojokerto, Yogyakarta, dan Solo.
Karakternya yang arif, bijaksana, tegas, dan berwibawa menjadi faktor kunci keberhasilan konsolidasi dan pengembangan ini. Beliau menyelesaikan masa bakti keduanya pada tahun 1974, meninggalkan sebuah organisasi yang jauh lebih besar dan solid.
| Periode | Jabatan | Keterangan |
|---|---|---|
| 1948–1956 | Ketua Umum Pusat | Ketua Umum pertama setelah PSHT menjadi organisasi. |
| 1956–1966 | - | Kepemimpinan dipegang oleh M. Irsad dan Santoso. |
| 1966–1974 | Ketua Umum Pusat | Memimpin era ekspansi PSHT ke luar Madiun. |
| 1974–1975 | Ketua Dewan Pusat | Menjadi penasihat spiritual dan ideologi organisasi. |
Sang Guru Para Guru, Membimbing Generasi Penerus
Di luar perannya sebagai seorang organisator ulung, R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah seorang mahaguru yang bertanggung jawab dalam mencetak generasi pemimpin PSHT berikutnya. Warisan terbesarnya dalam hal ini adalah bimbingannya kepada dua tokoh sentral: R.M. Imam Koesoepangat dan Tarmadji Boedi Harsono.
Membimbing R.M. Imam Koesoepangat
R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah guru yang melatih dan membimbing R.M. Imam Koesoepangat secara langsung untuk pendidikan Tingkat II dan Tingkat III. Pada tahun 1966, beliaulah yang menganggap R.M. Imam Koesoepangat telah berhak untuk menerima ilmu Setia Hati Tingkat III. Keputusan ini didasarkan pada keyakinan spiritual yang mendalam, di mana ilmu tersebut diyakini turun berdasarkan "Wahyu" dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini menunjukkan betapa besar peran dan otoritas spiritualnya dalam menentukan pewaris ajaran tertinggi Setia Hati.
Pesan Abadi untuk Tarmadji Boedi Harsono
Filosofi persaudaraannya yang mendalam terangkum dalam sebuah pesan yang ia sampaikan kepada Tarmadji Boedi Harsono muda. Suatu malam, sepekan sebelum Tarmadji disahkan, R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendatanginya dan berpesan:
"Dik, persaudaraan nang SH Terate, nek ana sedulure teko, mbuh iku awan apa bengi, bukakno lawang sing amba. Mengko awakmu bakal entuk hikmahe."(Dik, Persaudaraan di Setia Hati Terate itu, jika ada saudara datang, entah itu siang atau malam, bukakan pintu lebar-lebar. Nanti, engkau akan mendapatkan hikmahnya).
Pesan sederhana namun sarat makna ini menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh Tarmadji seumur hidupnya dan menjadi esensi dari ajaran persaudaraan PSHT yang tanpa batas.
Warisan dan Akhir Hayat
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Ketua Umum, R.M. Soetomo Mangkoedjojo tidak lantas meninggalkan organisasi. Dalam Musyawarah Besar (MUBES) I tahun 1974, beliau diangkat menjadi Ketua Dewan Pusat, sebuah posisi yang menempatkannya sebagai penjaga ideologi dan spiritualitas organisasi, sementara R.M. Imam Koesoepangat terpilih sebagai Ketua Umum Pusat.
R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat pada tanggal 14 Desember 1975. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Cangkring, Kota Madiun, sekitar 500 meter di sebelah barat Stadion Wilis.
Penutup
R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah tokoh visioner yang perannya seringkali berada di balik layar namun memiliki dampak yang luar biasa. Jika Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah sumber mata air ajaran, maka R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah insinyur yang membangun bendungan dan saluran irigasi yang kokoh. Melalui Konferensi 1948, ia mengubah PSHT menjadi sebuah organisasi modern dengan AD/ART, memastikan kelestarian dan pengembangannya secara sistematis. Kepemimpinannya membuka jalan bagi ekspansi nasional, dan bimbingannya melahirkan generasi pemimpin yang membawa PSHT ke panggung dunia. Warisannya bukanlah jurus atau senam baru, melainkan sebuah struktur organisasi yang kuat, yang hingga hari ini menjadi wadah bagi jutaan manusia untuk bersatu dalam ikatan Persaudaraan Setia Hati Terate.


Post a Comment