Mas Badini Penyempurna Lambang PSHT

Table of Contents

Mas Badini Penyempurna Lambang PSHT

Gambar Lambang Setia Hati Terate (PSHT) versi awal sebelum disempurnakan

Dalam lintasan sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), nama Mas Badini berdiri sebagai sosok jembatan antara masa idealisme pendiri dan era modernisasi. Ia bukan hanya penyempurna lambang PSHT, tetapi juga penjaga nilai luhur dan kodifikator jiwa organisasi. Dari tangan dan pikirannya lahir wajah visual PSHT yang kini menjadi simbol keabadian persaudaraan.

Posisinya berada di persimpangan tiga zaman besar, yaitu warisan Ki Hadjar Hardjo Oetomo, pembaruan spiritual RM Imam Koesoepangat, dan ekspansi global Tarmadji Boedi Harsono. Dalam ketiganya, Mas Badini menjadi penyeimbang yang menjaga ruh ke-SH-an tetap utuh di tengah perubahan zaman.

Akar dan Awal Perjalanan dari Magetan Menuju Setia Hati

Mas Badini lahir di Magetan pada 9 September 1923 (Minggu Pon), sebuah wilayah yang sarat tradisi dan menjadi salah satu episentrum perkembangan ajaran Setia Hati. Ia mulai berguru di PSHT tahun 1934, saat organisasi masih dalam tahap awal pembinaan langsung dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo.

Saat itu, beliau berlatih seangkatan bersama 5 siswa SH lainnya, yaitu:

  • Hardjo Soejono
  • Soemodiran
  • Soetomo
  • Soemodirdjo
  • Pamoedji (Purn. Laksamana)

Pada 1935, ia menimba ilmu di bawah bimbingan Hardjo Mardjoet, hingga disahkan sebagai Warga PSHT tahun 1938. Namun lebih dari sekadar hubungan murid dan guru, Mas Badini menunjukkan pengabdian yang tulus dengan mengabdi (ngenger) kepada Ki Hadjar, menemani beliau bahkan membantu menjual lukisan sang pendiri dari desa ke desa. Dari pengalaman inilah nilai kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati tertanam kuat dalam dirinya, menjadi benih spiritual yang kelak membentuk karakter penyempurna.

Peran Kunci dalam Musyawarah 1951

Pada tanggal 25 Maret 1951, Mas Badini bersama 30-an Kadhang SH (termasuk beliau) berkumpul untuk memenuhi wasiat terakhir Ki Hadjar Hardjo Oetomo, yaitu membentuk wadah baru yang kuat untuk melestarikan ajaran SH.

Musyawarah penting ini menghasilkan beberapa keputusan krusial, di antaranya:

  • Pencetusan nama organisasi "Persaudaraan Pentjak Setia Hati Terate".
  • Pembuatan AD/ART pertama.
  • Pembentukan pengurus baru.
  • Pembuatan dan perumusan lambang PSHT.

Saat itu, Eyang Badini ditunjuk sebagai pelatih bersama Hardjo Mardjoet, dan diamanahi tugas menyempurnakan lambang organisasi.

Foto Mas Badini (juara solospel) memperagakan pasang sambung jurus Setia Hati Terate

Seni Jiwa dan Ketajaman Rasa dalam Keahlian Solospel dan Jiwa Artistik

Sebagai seorang pendekar-seniman, Mas Badini dikenal memiliki kepekaan artistik luar biasa. Ia adalah juara pertama solospel se-Jawa Timur di Jember, di mana geraknya digambarkan “matang, luwes, indah, dan berisi.” Bagi Mas Badini, solospel bukan sekadar bela diri, melainkan seni ekspresi batin dan keindahan rasa.

Pada tahun 1954, Mas Badini bersama Hardjo Mardjoet mendapat kehormatan untuk mendemonstrasikan seni pencak silat di Istana Kepresidenan Jakarta dan disaksikan langsung oleh Presiden Ir. Soekarno.

Keterampilan artistik ini menjadi pondasi penting dalam proses penyempurnaan lambang PSHT. Gerak tubuh dalam solospel dan garis visual dalam lambang merupakan dua manifestasi dari kesadaran yang sama, yaitu keseimbangan antara bentuk dan isi, antara seni dan makna.

Lambang sebagai Filsafat dan Penyempurnaan Identitas Visual PSHT

Karya monumental Mas Badini adalah lambang PSHT yang kini dikenal dan digunakan secara resmi. Beliau tidak bekerja sendiri; penyempurnaan lambang ini dilakukan oleh 3 sosok utama:

  1. Eyang Badini (sebagai perumus filosofi dan seniman utama).
  2. Mas Soesanto (putra Eyang Santoso).
  3. Nyonya Santoso (seorang seniwati lukis kaca yang membantu melukis lambang dalam kaca cermin).

Mas Badini tidak sekadar menggambar ulang, tetapi menyempurnakan bentuk, warna, dan harmoni maknanya.

Setiap unsur memiliki filosofi mendalam yang membentuk jalinan utuh ajaran PSHT:

  • Segi Empat Panjang: Berfungsi sebagai Perisai, melambangkan pertahanan diri dari segala bentuk ancaman, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Bentuk ini juga merepresentasikan empat arah mata angin dengan diri sebagai pusatnya (pancer), menandakan bahwa seorang warga PSHT harus memiliki pendirian yang kokoh di tengah berbagai pengaruh.
  • Dasar Hitam: Warna hitam melambangkan kekal dan abadi. Ini adalah visualisasi dari semboyan organisasi yang menyatakan bahwa PSHT akan tetap jaya selama matahari masih bersinar dan bumi masih dihuni manusia.
  • Hati Putih Bertepi Merah: Hati berwarna putih adalah simbol dari kesucian, ketulusan, dan kebersihan batin. Namun, ia dibatasi oleh tepi berwarna merah yang melambangkan bahwa cinta kasih (kasih sayang) harus memiliki batas. Ajaran ini menekankan bahwa cinta kasih yang tak terbatas dapat berujung pada kesengsaraan atau kehancuran diri sendiri.
  • Hati Bersinar: Sinar yang memancar dari hati melambangkan pancaran persaudaraan yang harus disebarkan kepada sesama. Sinar ini juga merepresentasikan hukum alam atau hukum sebab-akibat, yang dalam filosofi Jawa dikenal sebagai ngunduh wohing pakarti (memetik buah dari perbuatan).
  • Bunga Terate (Teratai): Bunga teratai menjadi simbol utama dari kemampuan seorang warga PSHT untuk hidup dan berkembang di lingkungan mana pun, baik di air yang jernih maupun keruh, tanpa kehilangan keluhuran budi pekertinya. Tiga bentuk bunga (kuncup, setengah mekar, dan mekar) melambangkan keragaman lapisan masyarakat dari mana para anggota berasal, namun tetap bersatu dalam ikatan persaudaraan.
  • Senjata Silat: Kehadiran senjata dalam lambang secara eksplisit mewakili ajaran bela diri pencak silat sebagai inti dari aspek fisik organisasi, sekaligus sebagai simbol komitmen untuk melestarikan kebudayaan bangsa.
  • Garis Putih Tegak Lurus di Tengah Merah: Garis vertikal ini, yang terletak di dalam hati, adalah visualisasi dari prinsip "berani karena benar, takut karena salah". Ini menegaskan bahwa seorang warga PSHT harus berdiri tegak di atas landasan kebenaran dan keadilan.
  • Tulisan "Persaudaraan Setia Hati Terate": Nama organisasi yang tertulis menegaskan hierarki nilai: yang paling utama adalah Persaudaraan, yang lahir dari Setia Hati (hati yang setia pada kebenaran dan janji).

Kontribusi khas Mas Badini terletak pada penyempurnaan visual senjata serta koherensi artistik keseluruhan, menjadikan lambang PSHT tidak hanya indah, tetapi juga mengandung kedalaman makna spiritual.

Gambar Lambang PSHT resmi (baru) yang telah disempurnakan oleh Mas Badini

Kepemimpinan dalam Masa Transisi untuk Menyatukan Arah dan Jiwa Organisasi

Pada Kongres PSHT tahun 1977, Mas Badini terpilih sebagai Ketua Umum Pusat (masa jabatan 1977-1981). Pada periode ini, beliau mendampingi RM Imam Koesoepangat yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pusat.

Masa kepemimpinan beliau menjadi periode konsolidasi dan penguatan cabang-cabang. Beliau menata struktur internal dan menyiapkan fondasi organisasi untuk menghadapi era ekspansi global.

Selepas tahun 1981 (ketika Mas Tarmadji Boedi Harsono diangkat menjadi Ketua Umum), Mas Badini beralih posisi menjadi anggota Dewan Pusat, bersama dengan RM. Imam Koesoepangat dan pendekar PSHT lainnya. Dalam peran transisi ini, Mas Badini berperan sebagai penyeimbang dan penjaga identitas, memastikan ruh Setia Hati tidak pudar di tengah pertumbuhan yang cepat.

Foto Mas Badini bersama RM Imam Koesoepangat dalam kegiatan ritual spiritual PSHT

Warisan Abadi dari Lambang hingga Laku Hidup

Mas Badini wafat pada Kamis Kliwon, 3 November 1988, dan dimakamkan di Desa Ringin Agung, Ngariboyo, Magetan. Ia kembali ke tanah asalnya, meninggalkan warisan abadi berupa lambang PSHT yang menjadi wajah keabadian persaudaraan.


Warisan itu tidak hanya berbentuk karya visual, melainkan juga laku hidup. Sikapnya yang rendah hati, kesetiaan tanpa pamrih, serta pengabdian tulus kepada organisasi (beliau juga pernah tinggal di Jl. Mayangkembar 5, Oro-oro Ombo, Madiun) mencerminkan pesan utama dari lambang itu sendiri:

“Kesucian hati, keberanian dalam kebenaran, dan keindahan dalam kesederhanaan.”

Lambang yang disempurnakannya kini menjadi cermin jiwa ke-SH-an, mengingatkan setiap warga PSHT bahwa makna sejati persaudaraan tidak terletak pada bentuk luar, melainkan pada jiwa yang terlatih dan hati yang setia.

Foto Mas Badini (Warga Tingkat 3) memperagakan pasang bukaan jurus Setia Hati Terate

Post a Comment