R.M. Imam Koesoepangat Sang Pandhita Wesi Kuning Pembaharu PSHT
Table of Contents
R.M. Imam Koesoepangat Sang Pandhita Wesi Kuning Pembaharu PSHT
Pandhita Wesi Kuning: Kehidupan, Reformasi, dan Warisan Abadi R.M. Imam Koesoepangat dalam Persaudaraan Setia Hati Terate
Kehidupan Awal dan Karakter Imam Koesoepangat
Fondasi karakter dan visi kepemimpinan Raden Mas Imam Koesoepangat tidak terbentuk dalam ruang hampa. Ia adalah produk dari garis keturunan, tempaan tragedi pribadi, dan kecenderungan spiritual mendalam yang telah berakar sejak usia belia. Analisis terhadap masa formatifnya menunjukkan bahwa reformasi besar yang kelak ia gagas merupakan manifestasi logis dari perjalanan hidupnya yang unik, menempa seorang pemuda ningrat menjadi figur sentral dalam sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
Garis Keturunan Ningrat dan Tahun-Tahun Pembentukan
R.M. Imam Koesoepangat lahir di Madiun pada Juma’at Pahing, tanggal 18 bulan November tahun 1938, sebagai putra ketiga (dikenal sebagai Putra ketiga dari pendawa lima, merujuk pada lima bersaudara laki-laki) dari pasangan bangsawan Raden Ayu Koesmiyatoen dan Raden Mas Ambar Koessensi. Beliau diasuh bersama saudara-saudaranya:
- RM. Imam Koesoenarto
- RM. Imam Koesenomihardjo
- RM Imam Koeskartono
- RM. Abdullah Koesnowidjodjo
Kakek beliau, Kanjeng Pangeran Ronggo Ario Koesnoningrat, adalah Bupati Madiun VI, dan neneknya (Djuwito atau RA Pangeran Ronggo Ario Koesnoningrat) adalah figur yang disegani. Keluarga ini tinggal di kediaman sang kakek di kabupaten Madiun.
Selain dikenal sebagai darah biru, trah kakeknya juga dikenal suka tapa brata (laku mencari hakikat hidup dan membentengi diri dari keduniawian), sebuah bakat spiritual yang kemudian menitis ke dalam jiwa R.M. Imam Koesoepangat. Tumbuh besar di lingkungan kabupaten Madiun, ia terekspos pada etiket dan filosofi luhur budaya Jawa sejak dini. Latar belakang aristokrat atau ningrat ini menanamkan pemahaman mendalam tentang tatakrama dan nilai etis, yang kelak ia integrasikan ke dalam ajaran PSHT, terutama penekanan pada pencapaian budi luhur.
Wadah Tempaan Kehilangan dan Pengaruh Ibunda
Kehidupan masa kecilnya (yang akrab dipanggil "ARIO") dilalui dengan suka duka. Di sekolahnya (SD Latihan Guru Satu, sekarang SDN Indrakila Madiun), ia bukan siswa paling menonjol, namun dikenal berani, jujur, dan suka membela teman. Titik balik krusial terjadi ketika sang ayah wafat pada 15 Maret 1951, saat Imam Koesoepangat baru berusia 13 tahun (kelas 5 SD).
Sejak saat itu, ia dibesarkan sepenuhnya oleh sang ibunda, R.A. Koesmiatoen, yang tekun menanamkan nilai luhur melalui dongeng kepahlawanan dan petuah hidup, mulai dari tatakrama menembah (bertaqwa) hingga pengertian budi luhur dan mesubrata. Ikatan ini begitu mendalam, hingga ia selalu menjawab "IBU" sebagai orang yang paling dicintainya.
Kehilangan figur ayah memaksanya dewasa sebelum waktu, menumbuhkan kemandirian dan pengabdian luar biasa kepada ibunya. Nilai ini kemudian ia proyeksikan pada entitas kedua yang paling ia cintai, organisasi PSHT, yang dianggapnya sebagai tempat menemukan jati diri dan ajang darma bakti mengabdi pada sesama. Pengabdian pada Ibu dan PSHT ini dibuktikan dengan kerja nyata, mempersembahkan hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan jiwanya.
Kecenderungan Spiritual Dini dan Pintu Masuk ke PSHT
Jauh sebelum dikenal sebagai reformis, Imam Koesoepangat muda telah menunjukkan ketertarikan kuat pada dimensi spiritual. Sejak kecil, ia gemar menjalankan laku tirakat (seperti puasa) dan memiliki keinginan besar mendalami ilmu kanuragan dan kebathinan. Pencak silat menjadi jalan pilihannya.
Pada usia 16 tahun (sekitar 1953), saat menjadi siswa SMP 2 Madiun, ia mulai belajar pencak silat PSHT di bawah bimbingan Mas Irsad (murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo). Mas Irsad (Ketua Pusat 1956-1958) adalah tokoh yang menciptakan Senam Dasar 1-90 dan melakukan penyempurnaan (akurasi) jurus. R.M. Imam Koesoepangat, sebagai murid langsung, menerima ajaran baru tersebut dan mewarisi semangat kepelatihan dari gurunya. Baginya, PSHT adalah sarana "mencari jati diri". Setelah tamat dari SMA Nasional Madiun, ia berhasil menyelesaikan pelajaran dan disahkan menjadi Pendekar Tingkat I pada tahun 1958. Kecenderungan spiritual ini menjelaskan fokusnya kelak pada pendalaman aspek filosofis PSHT.
Kenaikan dan Tata Kelola dalam PSHT yang Berada di Titik Didih Kepemimpinan
Perjalanan R.M. Imam Koesoepangat menuju puncak kepemimpinan PSHT ditempa melalui ujian nyata yang membuktikan kapasitasnya, tidak hanya dalam penguasaan teknik, tetapi juga dalam kesediaannya memikul nasib organisasi di saat-saat genting. Reputasinya dibangun di atas fondasi keberanian, yang kemudian memberinya legitimasi untuk menduduki posisi formal dan memulai era pembaharuan.
Duel Legendaris dan Beban Tanggung Jawab
Reputasi Imam Koesoepangat sebagai seorang pendekar pilih tanding tersemen kuat dalam sebuah pertarungan adu bebas (pertarungan bebas) yang bersejarah pada sekitar tahun 1963 melawan Kyai Soekoco (dari SH Tuhu Tekad, Sewulan). Kyai Soekoco adalah seorang pendekar yang dikenal digdaya dan berpengalaman. Pertarungan ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan. Sesepuh PSHT saat itu, RM. Soetomo Mangkoedjojo, secara eksplisit menyatakan bahwa "hidup dan matinya PSHT" ada di pundaknya. Setelah mencium tangan RM. Soetomo, R.M. Imam Koesoepangat maju bertanding (saat itu Mas Tarmadji ditugasi membawa keris Kyai Luwuk).
Meskipun banyak yang meragukan, beliau berhasil memenangkan laga tersebut. Memasuki ronde terakhir, beliau berhasil mengunci tubuh Kyai Koco dan diputuskan menang, membuktikan ketangguhan mental dan fisiknya. Kemenangan ini tidak hanya mengangkat nama PSHT sehingga bisa berkembang luas, tetapi juga menjadi ritual pengesahan kepemimpinan secara de facto, sebuah ujian yang memberinya legitimasi tak tertulis di mata seluruh anggota. Ia telah membuktikan dirinya sebagai juara yang mampu memikul kehormatan organisasi.
Awal Mula Melatih dan Peran dalam Organisasi
R.M. Imam Koesoepangat mulai melatih sejak tahun 1959. Pada tahun 1963, beliau berhasil mengesahkan 8 murid pertamanya, yaitu:
- Tarmadji Boedi Harsono (Mas Madji)
- Abdullah Koesno Widjojo
- Soediro
- Bibit Soekadi
- Soedarso
- Soedibyo
- Soemarsono
- Bambang Tunggul Wulung
Pada tahun 1963 pula, untuk pertama kalinya Mars SH Terate dikumandangkan. Syair Mars SH Terate digubah oleh R.M. Imam Koesoepangat, sementara aransemen musiknya dikerjakan oleh Ady Yasco.
Pada tahun 1965, beliau sempat menjabat sebagai Ketua Banteng Dwikora. Namun, beliau berpesan kepada Mas Tarmadji (muridnya) bahwa keterlibatan politik praktis tersebut adalah urusan pribadi dan beliau tidak membawa organisasi PSHT ke dalam pilihan ideologi politiknya.
Pada tahun 1966, setelah peristiwa G30S PKI, dilakukan refresing pengurus. RM. Soetomo Mangkoedjojo kembali diangkat sebagai Ketua (1966-1974). Dalam struktur baru ini, R.M. Imam Koesoepangat menjabat sebagai Wakil Ketua III dan juga diangkat sebagai anggota Dewan Pelatih (bersama Pak Badini dan Pak Harsono). Setelah masa bakti kedua RM. Soetomo Mangkoedjojo berakhir, Persaudaraan Setia Hati Terate menyelenggarakan kongres di Madiun pada tahun 1974.
Kongres 1974 dan Jabatan Ketua Pusat
Dalam kongres tahun 1974, R.M. Imam Koesoepangat secara resmi terpilih sebagai Ketua Pusat. Masa jabatannya sebagai Ketua Pusat secara konsisten tercatat berlangsung dari tahun 1974 hingga 1977.
Pemilihannya menandai dimulainya era "reformasi" secara formal. Setelah membangun reputasi sebagai seorang petarung ulung dan seorang guru yang berdedikasi, posisinya sebagai pemimpin tertinggi memberinya wewenang yang diperlukan untuk mengimplementasikan perubahan-perubahan sistemik yang telah lama ia renungkan untuk kemajuan organisasi.
Dewan Pusat dalam Transisi Menjadi Penjaga Spiritual
Pada Kongres tahun 1977, terjadi restrukturisasi kepemimpinan. Badini diangkat sebagai Ketua Pusat yang baru, sementara R.M. Imam Koesoepangat beralih posisi menjadi anggota Dewan Pusat. Pergeseran ini sangat signifikan. Meskipun tidak lagi memegang jabatan eksekutif harian, perannya justru semakin mengkristal sebagai penjaga spiritual dan ideologi inti organisasi. Dewan Pusat merupakan jantung idealisme PSHT, dan posisinya di dalamnya mengukuhkan statusnya sebagai otoritas spiritual tertinggi. Bahkan setelah tidak menjabat sebagai Ketua Pusat, ia tetap dipercaya untuk memimpin secara langsung prosesi sakral pengesahan (inisisasi) warga baru, sebuah tugas yang menunjukkan betapa sentral perannya dalam menjaga kemurnian ajaran Ke-SH-an. Ia memegang peran sebagai mahaguru spiritual ini hingga akhir hayatnya pada Senin Pahing, 16 November 1987.
Untuk memberikan konteks yang jelas mengenai periode kepemimpinan R.M. Imam Koesoepangat, berikut adalah silsilah kepemimpinan pusat PSHT sejak transformasinya menjadi organisasi.
Silsilah Kepemimpinan Pusat PSHT (1948-Sekarang)
| Nama | Periode Kepemimpinan | Kontribusi / Catatan Kunci |
|---|---|---|
| Ki Hadjar Hardjo Oetomo | 1922 – 1948 | Pendiri PSHT. |
| Soetomo Mangkoedjojo | 1948 - 1956 | Ketua pertama setelah perubahan status menjadi "organisasi persaudaraan". |
| Irsad | 1956 - 1958 | Murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo; pencipta Senam 1-90. |
| Santoso | 1958 - 1966 | Periode konsolidasi. |
| RM Soetomo Mangkoedjojo | 1966 - 1974 | Jabatan kedua; mengawasi ekspansi PSHT ke luar Madiun. |
| RM Imam Koesoepangat | 1974 - 1977 | Peletak Dasar Reformasi Ajaran; era pembaharuan doktrin fisik dan spiritual. |
| Badini | 1977 - 1981 | Menggantikan Imam Koesoepangat sebagai Ketua Pusat; penyempurna lambang PSHT. |
| Tarmadji Budi Harsono | 1981 - 2014 | Murid kinasih Imam Koesoepangat; memimpin era pertumbuhan pesat dan ekspansi nasional. |
| Richard Simorangkir (Plt) | 2014 - 2014 | Pejabat sementara pasca-era Tarmadji. |
| Arif Suryono (Plt) | 2014 - 2016 | Melanjutkan sebagai pejabat sementara. |
| Muhammad Taufik | 2016 - 2017 | Memimpin organisasi di era modern. |
| Moerdjoko HW | 2017/2021 - sekarang | Ketua Umum saat ini, melanjutkan kepemimpinan terpusat di Madiun. |
Arsitek Era Baru dalam Reformasi Doktrin PSHT
Gelar "peletak dasar reformasi ajaran" dan "pendobrak organisasi" yang disematkan pada R.M. Imam Koesoepangat bukanlah sekadar sanjungan, melainkan deskripsi akurat atas perannya yang transformatif. Reformasi yang ia lakukan merupakan sebuah upaya strategis yang sadar dan terencana untuk menciptakan identitas PSHT yang unik, modern, dan mendalam secara spiritual. Ia membedah dan membangun kembali dua pilar utama organisasi: kanon fisik dan jalur spiritual, memastikan keduanya bekerja secara sinergis untuk membentuk manusia PSHT yang paripurna.
Reformasi Kanon Fisik, yaitu Menempa Identitas yang Khas
Salah satu langkah paling berani yang diambil oleh R.M. Imam Koesoepangat adalah keputusannya untuk secara sadar menghentikan pengajaran jurus-jurus lama, khususnya "Jurus Djoyo Gendilo Ciptomulyo". Ia menyatakan bahwa jurus tersebut adalah milik SH Winongo, organisasi induk tempat PSHT berakar. Sebagai gantinya, ia mengajarkan rangkaian Senam (1-90) (ciptaan Mas Irsad Hadi Widagdo) dan Jurus yang telah disempurnakan (akurasi oleh Mas Irsad dan disempurnakan lagi oleh beliau).
Penyempurnaan teknis ini (yang dirintis oleh Mas Irsad dan dilanjutkan oleh beliau) sangat spesifik. Misalnya, pukulan pada Jurus 1 diubah dari gerakan mengayun (mbandul) menjadi tusukan lurus yang lebih efisien dan akurat (menohok). Gerakan colok (tusukan jari) yang semula menggunakan dua jari diubah menjadi formasi lima jari yang dirapatkan, menghasilkan serangan yang jauh lebih bertenaga dan efektif.
Tindakan ini lebih dari sekadar pembaruan teknis; ini adalah sebuah deklarasi kemandirian. Dengan menanggalkan jurus lama, Imam Koesoepangat secara simbolis memotong tali pusar teknis dengan garis keturunan induknya dan menempa identitas fisik yang khas untuk PSHT. Penyempurnaan teknik-teknik yang ada menunjukkan pergeseran menuju pragmatisme dan efektivitas dalam pertarungan. Aksi "penghancuran kreatif" ini menjadi langkah fundamental dalam memantapkan posisi PSHT sebagai sebuah entitas yang berdaulat dan unik dalam lanskap pencak silat Nusantara.
Institusionalisasi Jalur Spiritual, yaitu "Ngaji Ilmu Batiniyah"
Inovasi kelembagaan yang paling mendalam dari R.M. Imam Koesoepangat adalah perintisan dan pendirian forum "Ngaji Ilmu Batiniyah" (Kajian Ilmu Batin). Forum ini, yang masih rutin diselenggarakan hingga hari ini, menjadi wadah formal untuk transmisi ajaran esoteris atau kerohanian dalam PSHT, yang dikenal sebagai Ke-SH-an. Ajaran ini merupakan sebuah sintesis yang harmonis antara mistisisme Islam (Tasawuf) dan mistisisme Jawa (Kejawen). Tujuan utamanya bukanlah untuk mencapai kesaktian, melainkan untuk mengolah batin, membentuk akhlak atau budi luhur, dan pada puncaknya, memahami hakikat hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Sebelumnya, ajaran spiritual mungkin diturunkan secara informal dari guru ke murid. Namun, melalui "Ngaji Ilmu Batiniyah", Imam Koesoepangat melembagakannya, menjadikannya bagian inti dari kurikulum organisasi. Langkah ini secara definitif mengangkat status PSHT dari sekadar perguruan pencak silat menjadi sebuah persaudaraan spiritual sejati, di mana tujuan tertinggi bukanlah kehebatan fisik, melainkan kesempurnaan watak dan kedekatan spiritual.
Kedua pilar reformasi ini, fisik dan spiritual, dirancang untuk saling melengkapi. Perubahan pada kanon fisik memberikan "tubuh" yang khas bagi organisasi, sementara pelembagaan ajaran batiniah memberikannya "jiwa" yang unik. Reformasi fisik menjawab pertanyaan, "Apa yang membedakan seorang anggota PSHT secara lahiriah?" Sementara itu, reformasi spiritual menjawab pertanyaan, "Apa artinya menjadi seorang anggota PSHT secara batiniah?" Bersama-sama, kedua pilar ini menciptakan sebuah identitas organisasi yang holistik dan kuat, yang membedakannya baik dari segi luar maupun dari segi dalam.
Esensi "Pandhita Wesi Kuning"
Julukan "Pandhita Wesi Kuning" yang melekat pada R.M. Imam Koesoepangat bukanlah sekadar nama panggilan, melainkan sebuah epithet yang merangkum secara padat karakter, filosofi, dan fungsinya di dalam komunitas PSHT. Gelar ini, yang lahir dari pengakuan kolektif atas laku hidupnya, menjadi cerminan dari ajaran yang ia wariskan.
Anatomi Sebuah Gelar melalui Dekonstruksi Simbolisme
Gelar ini terdiri dari dua komponen dengan makna filosofis dan kultural yang mendalam dalam konteks Jawa:
- Pandhita: Dalam Bahasa Jawa, Pandhita merujuk pada seorang resi, orang bijak, atau "guru dalam ilmu kesempurnaan hidup" (guru dalam ilmu kasampurnan urip). Istilah ini menempatkannya bukan sebagai komandan atau petarung semata, melainkan sebagai seorang pembimbing spiritual yang mengajarkan hakikat kehidupan.
- Wesi Kuning: Secara harfiah berarti "Besi Kuning", Wesi Kuning adalah nama sebuah senjata pusaka legendaris dalam mitologi Jawa yang dianggap sebagai senjata kedewataan. Ia melambangkan ketegaran, kesaktian, kewibawaan, sekaligus keluhuran budi.
Kombinasi keduanya, "Pandhita Wesi Kuning", dapat diartikan sebagai "Guru Bijak dengan Keteguhan Tak Tergoyahkan". Julukan ini diberikan karena dedikasinya yang tinggi, pendiriannya yang teguh (tidak ada kata menyerah), pola hidup sederhana, dan pengabdian total kepada sesama dan organisasi. Julukan ini merangkum peran gandanya: guru esoteris yang lembut bijaksana, sekaligus pemimpin tegas tak kenal kompromi dalam prinsip.
Filosofi yang Hidup dalam Wejangan-Wejangan Inti
Filsafat R.M. Imam Koesoepangat tidak tertuang dalam risalah-risalah teoretis, melainkan dalam wejangan (petuah atau maksim) yang ringkas namun padat makna. Beberapa di antaranya menjadi sangat terkenal dan merepresentasikan inti pandangan dunianya:
-
Tentang Penderitaan: Wejangannya yang paling populer adalah "Sepiro gedhening sengsoro yen tinompo amung dadi cobo". Artinya, "Seberapa pun besarnya kesengsaraan, jika diterima dengan ikhlas dan lapang dada, ia hanyalah menjadi sebuah cobaan (ujian)." Maksim ini mengajarkan filosofi penerimaan radikal dan resiliensi, mengubah penderitaan menjadi ujian penguat karakter. Kiat ini beliau hayati dalam lakunya hingga akhir hayat.
-
Tentang Ramalan Konflik Internal: Ia juga pernah menyampaikan sebuah pernyataan profetik yang terus dikenang:"Dek besok PSHT akan hancur. Yang menghancurkan adalah orang PSHT sendiri. Tapi jangan khawatir, setelah itu akan muncul PSHT yang lebih kuat."Artinya, "Kelak PSHT akan hancur. Yang menghancurkannya adalah orang PSHT sendiri. Tapi jangan khawatir, setelah itu akan muncul PSHT yang lebih kuat." Pernyataan ini menunjukkan pemahaman tajam bahwa ancaman terbesar datang dari dalam (ego, politik, perpecahan), namun kehancuran bisa menjadi proses pemurnian menuju kebangkitan.
-
Tentang Ramalan Perkembangan PSHT (1967): Setelah beliau melakukan mesu budi (puasa 7 hari) pada tahun 1967, beliau memberikan wejangan spesifik kepada Mas Tarmadji:"Besok jika sudah sampai waktunya, SH Terate bakal berkembang pesat menjadi besar. Tapi saya tidak melihat. Besok yang melihat Dik Madji. Yang memimpin juga Dik Madji."Ramalan ini terbukti puluhan tahun kemudian.
Ketiga wejangan ini membentuk sebuah filsafat yang lengkap. Yang pertama adalah panduan pada level mikro untuk pengembangan spiritual individu. Yang kedua adalah panduan pada level makro untuk organisasi (ancaman internal). Dan yang ketiga adalah visi jangka panjang (harapan eksternal). Gelar "Pandhita Wesi Kuning" adalah deskripsi tentang siapa dirinya, sementara wejangan-wejangan-nya adalah penjelasan tentang bagaimana cara untuk menjadi seperti dirinya.
R.M. Imam Koesoepangat sebagai Warga Tingkat III
Status R.M. Imam Koesoepangat sebagai Warga Tingkat III dalam PSHT bukan hanya menandakan level penguasaan teknis tertinggi, tetapi juga merupakan penjelmaan dari idealisme organisasi. Analisis terhadap sistem tingkatan PSHT menunjukkan bahwa definisi dan peran dari tingkat tertinggi, yaitu "Pandhita", seolah-olah dikodifikasikan berdasarkan citra dan fungsi dari sosok Imam Koesoepangat sendiri.
Hierarki PSHT, yaitu Dari Siswa Menuju Warga
Sistem jenjang di PSHT secara garis besar terbagi menjadi dua kategori utama: Siswa (murid atau calon anggota) dan Warga (anggota yang telah disahkan).
- Tingkatan Siswa: Jenjang ini ditandai dengan penggunaan sabuk berwarna yang melambangkan tahapan pemahaman. Dimulai dari Sabuk Polos (Hitam) yang melambangkan kebutaan atau ketidaktahuan awal, berlanjut ke Jambon (Merah Muda) yang melambangkan keraguan dan fajar kesadaran, kemudian Ijo (Hijau) yang melambangkan keteguhan, dan diakhiri dengan Putih yang melambangkan kesucian dan kesiapan untuk disahkan. Setiap tingkatan menuntut penguasaan materi fisik (senam dasar dan jurus dasar) yang semakin kompleks, diimbangi dengan pendalaman ajaran kerohanian.
-
Tingkatan Warga: Setelah melalui proses ujian dan ritual pengesahan, seorang siswa resmi menjadi Warga. Tingkatan Warga PSHT dibagi menjadi tiga level:
- Warga Tingkat I (Satria): Tingkat dasar bagi anggota yang telah disahkan, menggunakan sabuk dari kain mori putih.
- Warga Tingkat II (Ngalindra): Tingkat lanjut yang membutuhkan pengabdian dan pemahaman yang lebih dalam.
- Warga Tingkat III (Pandhita): Tingkat tertinggi dalam struktur organisasi.
Proses ini menunjukkan sebuah alur pengembangan yang terstruktur, di mana kemajuan tidak hanya diukur dari kemampuan fisik, tetapi juga dari kematangan mental dan spiritual sesuai ajaran Ke-SH-an.
Tingkat III sebagai Penjelmaan Ideal "Pandhita"
Warga Tingkat III adalah puncak dari jenjang keanggotaan di PSHT. Yang paling signifikan adalah gelar resmi untuk tingkatan ini, yaitu "Pandhita". Anggota pada level ini dianggap sebagai bagian dari Majelis Luhur (Dewan Tertinggi), yang berfungsi sebagai teladan, pembimbing, dan penjaga kemurnian ajaran bagi seluruh anggota organisasi.
Kesesuaian yang identik antara gelar kehormatan pribadi R.M. Imam Koesoepangat ("Pandhita Wesi Kuning") dengan nama tingkatan tertinggi dalam organisasi ("Pandhita") bukanlah suatu kebetulan. Hal ini merepresentasikan pelembagaan total dari persona dan fungsinya. Ia bukan hanya seorang Pandhita; ia menjadi arketipe dan definisi hidup dari apa dan bagaimana seharusnya seorang Warga Tingkat III. Pangkat ini menandakan kulminasi dari jalan PSHT: seorang master yang tidak hanya menguasai seni bela diri, tetapi juga menguasai "ilmu kesempurnaan hidup", yang tugas utamanya adalah mengajar, membimbing, dan menjadi suluh bagi persaudaraan. Dengan demikian, warisan strukturalnya yang paling abadi adalah bahwa ia meneladankan puncak pencapaian tertinggi organisasi dalam citra dirinya sendiri. Untuk mencapai Tingkat III berarti bercita-cita untuk menjadi seperti R.M. Imam Koesoepangat.
Misteri Menjelang Wafat
Terdapat beberapa keanehan atau misteri yang dikenang oleh para sesepuh menjelang wafatnya R.M. Imam Koesoepangat. Tiga hari sebelum beliau wafat (Senin Pahing, 16 November 1987), beliau beberapa kali meminta Pak Saripin (seorang tokoh di lingkungannya) untuk membersihkan dan membuatkan liang lahat di suatu tempat. Permintaan ini awalnya diabaikan karena dianggap tidak biasa, namun setelah diulangi tiga kali, akhirnya dilaksanakan.
Selain itu, sesaat sebelum wafat, beliau juga mengumpulkan para sesepuh dan warga tingkat II di sekitarnya. Dalam pertemuan itu, beliau menyatakan bahwa pengabdiannya di PSHT sudah cukup dan menyerahkan nasib serta kelangsungan organisasi ke tangan mereka. Pernyataan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi yang hadir, namun menjadi kenyataan tak lama kemudian ketika beliau wafat setelah pamit untuk beristirahat usai berolahraga pagi.
Pilihan Hidup Spiritual adalah Pengabdian Tanpa Menikah
Secara historis dan spiritual, R.M. Imam Koesoepangat, sebagai Warga Tingkat III, memilih untuk tidak menikah hingga akhir hayatnya. Keputusan ini bukanlah karena alasan duniawi, melainkan didasari oleh landasan spiritual dan pengabdian yang sangat dalam terhadap ajaran Setia Hati.
Beberapa alasan spiritual yang sering dijadikan rujukan oleh para sesepuh antara lain:
- Totalitas Pengabdian (Hidup Selibat): Beliau memilih untuk mendedikasikan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya hanya untuk PSHT dan nilai Setia Hati, menempatkan Persaudaraan sebagai "keluarga rohaninya".
- Laku Spiritual (Tirta Sejati, Laku Kasunyatan, Laku Prihatin): Diyakini beliau menjalani laku penyucian diri (tirta sejati), mengosongkan diri dari kepentingan duniawi (laku kasunyatan), dan menahan diri dari kenikmatan dunia (laku prihatin) sebagai bentuk latihan batin untuk menjaga kemurnian hati dan memperkuat rohani.
- Fokus pada Manunggaling Roso: Dalam jalan spiritual penyatuan rasa dengan Sang Pencipta (manunggaling roso), pernikahan dianggap sebagai pilihan yang bisa mengganggu fokus jika tidak dijalani dengan suci.
- Keteladanan Kesederhanaan: Menampilkan teladan sebagai "pandhita tanpa wihara", hidup sederhana tanpa ikatan pribadi agar tidak ada konflik kepentingan dalam pengabdiannya.
- Meneladani Leluhur Setia Hati: Keputusan ini juga ditafsirkan sebagai bentuk keteladanan dari para leluhur Setia Hati yang menjunjung tinggi kesucian niat dan pengabdian tanpa pamrih.
Keputusan untuk tidak menikah menjadi simbol pengabdian tanpa batas, menegaskan bahwa insan Setia Hati sejati hidup untuk mengasah budi pekerti, memperjuangkan kebenaran, dan memayu hayuning bawana.
Warisan yang Tak Tergoyahkan
R.M. Imam Koesoepangat adalah figur sentral yang berdiri di persimpangan krusial sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate. Ia berfungsi sebagai jembatan antara masa lalu organisasi yang tradisional dan masa depannya sebagai sebuah entitas modern berskala internasional. Dengan kebijaksanaan yang mendalam, ia menghormati akar ajaran sambil melakukan reformasi radikal yang diperlukan untuk memastikan kelangsungan hidup, relevansi, dan pertumbuhan PSHT di zaman yang terus berubah.
Kontribusinya bersifat fundamental dan multi-dimensi. Pertama, ia mengkodifikasi bahasa fisik PSHT, menciptakan serangkaian jurus dan senam yang khas dan membedakannya dari perguruan lain. Kedua, ia melembagakan jiwa spiritual organisasi melalui forum "Ngaji Ilmu Batiniyah", mengubah transmisi pengetahuan esoteris dari praktik informal menjadi kurikulum inti yang terstruktur. Ketiga, dan yang paling penting, ia menjadi penjelmaan hidup dari idealisme tertinggi organisasi. Gelarnya, "Pandhita Wesi Kuning", dan pangkatnya sebagai Warga Tingkat III "Pandhita" menyatu, menetapkan standar abadi bagi puncak pencapaian dalam persaudaraan.
Warisan Imam Koesoepangat tidak hanya tersimpan dalam arsip sejarah atau buku-buku ajaran. Warisannya hidup dalam setiap gerakan jurus yang telah disempurnakan, dalam setiap sesi kajian kerohanian, dan dalam aspirasi setiap anggota yang menapaki jenjang menuju kesempurnaan budi. Ia adalah arsitek yang memastikan bahwa PSHT akan selamanya menjadi lebih dari sekadar seni bela diri; ia adalah sebuah persaudaraan global yang didedikasikan untuk pencarian tanpa akhir akan manusia berbudi luhur.







Post a Comment