Mas Tarmadji Boedi Harsono Sesepuh PSHT

Daftar Isi

Mas Tarmadji Boedi Harsono Sesepuh PSHT

Foto potret resmi Mas Tarmadji Boedi Harsono (Mas Madji) Sesepuh PSHT

Tarmadji Boedi Harsono, yang lebih akrab disapa Mas Madji, merupakan figur sentral dalam sejarah modern Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Perannya melampaui sekadar seorang guru besar pencak silat; ia adalah seorang maestro organisator, visioner, dan peletak dasar modernitas yang mentransformasi PSHT dari sebuah organisasi pencak silat nasional yang disegani menjadi sebuah persaudaraan global yang terstruktur dan berpengaruh. Masa kepemimpinannya yang panjang, dari tahun 1981 hingga 2014, menjadi era paling fundamental dalam perkembangan PSHT, di mana organisasi ini mengalami ekspansi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan membangun infrastruktur kelembagaan yang kokoh untuk menopang pertumbuhannya.

Lahir di Madiun pada Jum’at Wage 6 Juli 1945, dan wafat pada Selasa Pahing 20 Oktober 2015, Tarmadji Boedi Harsono meninggalkan warisan yang tidak hanya terukir dalam jutaan anggota PSHT di seluruh dunia, tetapi juga dalam bentuk institusi fisik dan spiritual yang menjadi jantung organisasi. Ia adalah sosok yang memadukan nilai-nilai tradisional Jawa dan ajaran luhur Setia Hati dengan strategi manajemen modern, sebuah pendekatan yang memungkinkannya menjawab tantangan zaman tanpa mengorbankan esensi ajaran tentang perjalanan hidup, kepemimpinan, tantangan, filsafat, serta warisan abadi dari Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) Tarmadji Boedi Harsono, sang arsitek utama PSHT modern.

Tahun Peristiwa / Tonggak Penting Signifikansi
1945 Lahir di Madiun, Jawa Timur (6 Juli). Titik awal perjalanan hidup sang tokoh.
1958 Menyaksikan R.M. Imam Koesoepangat bertanding dan terobsesi menjadi pendekar. Momen pemicu yang mengawali perjalanannya di PSHT.
1959 Diterima berlatih PSHT pada usia 13 tahun. Awal mula keterlibatannya dalam dunia pencak silat dan PSHT.
1960-an Meraih berbagai prestasi sebagai atlet pencak silat. Membangun reputasi sebagai petarung tangguh dan mempelajari pelajaran penting dari kemenangan dan kekalahan.
1970 Disahkan menjadi Warga Tingkat II. Pencapaian penting dalam hierarki keilmuan PSHT.
1971-1974 Menjabat sebagai Ketua Cabang PSHT Madiun. Pengalaman kepemimpinan tingkat lokal yang menjadi fondasi bagi peran yang lebih besar.
1974 Diangkat menjadi Ketua I di jajaran Pengurus Pusat. Mulai memegang peranan strategis di tingkat pusat, mendampingi R.M. Imam Koesoepangat.
1978 Mengusulkan perubahan uang mahar untuk mengatasi defisit kas. Menunjukkan pragmatisme dan kemampuan manajerial dalam menyelesaikan masalah finansial organisasi.
1978 Menjalani prosesi pengangkatan Warga Tingkat III. Sebuah ujian spiritual yang mendalam dan penuh makna dalam perjalanan keilmuannya.
1981 Terpilih sebagai Ketua Umum Pusat PSHT melalui Musyawarah Besar (MUBES). Awal dari era kepemimpinan panjang yang transformatif, memimpin PSHT selama empat periode berturut-turut hingga tahun 2000 dan berlanjut hingga 2014.
1982 Mendirikan Yayasan Setia Hati Terate. Menciptakan badan hukum untuk mengelola aset dan mendukung program sosial-pendidikan PSHT.
1987 Wafatnya sang guru, R.M. Imam Koesoepangat. Beban dan tanggung jawab kepemimpinan beralih sepenuhnya ke pundak Tarmadji.
2004-2009 Menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Madiun. Menunjukkan pengaruhnya di ranah politik dan sipil, sambil tetap menjaga netralitas PSHT sebagai organisasi.
2015 Wafat di Madiun (20 Oktober) pada usia 70 tahun. Akhir dari sebuah era kepemimpinan yang monumental, meninggalkan duka mendalam bagi dunia persilatan.


Masa Pembentukan Jalan Seorang Pendekar

Perjalanan Tarmadji Boedi Harsono menjadi pemimpin tertinggi PSHT ditempa melalui pengalaman masa kecil yang unik, bimbingan seorang guru yang kharismatik, dan pelajaran berharga dari arena pertarungan. Fondasi karakternya dibangun jauh sebelum ia memegang tampuk kepemimpinan, menunjukkan perpaduan langka antara seorang petarung yang berani dan seorang pemikir yang mendalam.

Latar Belakang Sederhana dan Semangat Juang

Tarmadji Boedi Harsono lahir sebagai anak sulung dari enam bersaudara dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya, Suratman, adalah seorang pegawai di Departemen Transmigrasi, sementara ibunya, Hj. Tunik, adalah seorang ibu rumah tangga. Tumbuh dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan, masa kecilnya dilalui dengan penuh kesederhanaan. Namun, kekurangan ini justru menjadi api yang menyulut semangat juang tinggi dalam dirinya untuk mengubah nasib.

Karakter Khas di Masa Kecil

Masa kecil Tarmadji di Madiun berjalan normal namun diwarnai oleh karakter yang menonjol. Sejak belia, ia dikenal sebagai anak yang pemberani dan gemar menghadapi tantangan. Kenakalannya bahkan tercatat sejak SD hingga SMU I Madiun, di mana ia pernah diancam akan dikeluarkan dari sekolah karena kegemarannya berkelahi. Namun, di kalangan teman sepermainannya, ia memiliki prinsip kesatria yang kuat. Ia lebih menyukai duel satu lawan satu ketimbang perkelahian massal atau keroyokan, yang ia anggap memalukan. Salah satu sifatnya yang dianggap nyentrik atau eksentrik adalah kegemarannya bergaul dengan teman-teman yang usianya jauh lebih tua. Kebiasaan ini diyakini mempercepat kematangan cara berpikirnya dan memberinya perspektif yang lebih dewasa.

Momen Pemicu di Arena Laga

Ketertarikan Tarmadji pada dunia kanuragan (bela diri) tersulut pada tahun 1958, saat ia berusia 12 tahun. Kala itu, di halaman Rumah Dinas Walikota Madiun, digelar pertandingan seni pencak silat tahunan. Tarmadji kecil terpukau oleh penampilan para pendekar, terutama pada sosok R.M. Imam Koesoepangat yang tampil memukau dan keluar sebagai juara. Sejak saat itu, benaknya dipenuhi obsesi untuk menjadi seorang pendekar perkasa seperti idolanya.

Setahun kemudian, pada 1959, setelah sempat ditolak karena usianya yang terlalu muda, Tarmadji akhirnya diterima untuk berlatih. Ia diizinkan bergabung untuk menemani adik Mas Imam, R.M. Abdullah Koesnowidjojo (Mas Gegot), dengan syarat harus menempati baris paling belakang.

Di Bawah Bimbingan R.M. Imam Koesoepangat

Hubungan antara Tarmadji dan gurunya, R.M. Imam Koesoepangat, adalah elemen krusial dalam pembentukan dirinya. Tarmadji adalah seorang siswa kinasih (murid terkasih) dari Imam Koesoepangat. Ia menggambarkan gurunya sebagai sosok pendekar yang santun dan berwibawa, sebuah citra yang sangat membekas dalam dirinya.

Dedikasinya dalam berlatih sangat luar biasa. Hampir setiap hari, ia akan menunggu Mas Imam pulang kerja di beranda paviliun untuk bisa berlatih. Jadwal latihan tidak menentu, kadang siang hari, tak jarang pula hingga fajar menyingsing. Kedekatan ini tidak hanya mengasah kemampuan silat Tarmadji, tetapi juga menanamkan pemahaman mendalam tentang dimensi spiritual dan filosofis ajaran Setia Hati. Ia mulai menyerap tatakrama kaum ningrat dan sering diajak mendampingi gurunya dalam laku tirakat. Dalam salah satu momen spiritual itu, Mas Imam memberinya wejangan yang membentuk filosofi hidupnya:

"Nek sing mokgoleki senenge, bakal ketemu sengsarane. Kosokbaline, nek sing mokgoleki sengsarane, bakal ketemu senenge" (Jika yang kau cari adalah kesenangan, maka kau akan bertemu kesengsaraan. Sebaliknya, jika yang kau cari adalah kesengsaraan [dalam laku prihatin], maka kau akan menemukan kebahagiaan).

Ilustrasi Mas Tarmadji muda (siswa kinasih) berlatih bersama gurunya, RM Imam Koesoepangat

Pesan Sakral tentang Persaudaraan

Seminggu sebelum disahkan menjadi Warga Tingkat I pada tahun 1963, Tarmadji didatangi oleh tokoh besar PSHT lainnya, Soetomo Mangkoedjojo, pada larut malam. Tanpa masuk ke dalam rumah, Soetomo Mangkoedjojo menyampaikan sebuah pesan sakral yang akan dipegang teguh oleh Tarmadji seumur hidupnya:

"Dik, persaudaraan nang SH Terate, nek ana sedulure teko, mbuh iku awan apa bengi, bukakno lawang sing amba. Mengko awakmu bakal entuk hikmahe" (Dik, persaudaraan di SH Terate itu, jika ada saudara datang, entah itu siang atau malam, bukakan pintu lebar-lebar. Nanti, engkau akan mendapatkan hikmahnya).

Arena Kompetisi Menempa Karakter Melalui Pertarungan

Pengalaman Tarmadji di gelanggang pertarungan menjadi bekal tak ternilai yang membentuk mentalitas dan strateginya. Ia adalah seorang atlet yang berprestasi, berhasil meraih juara pada berbagai kejuaraan di era 1960-an, termasuk Pra PON VII di Surabaya. Namun, pelajaran paling berharga justru datang dari kegagalan.

Pada tahun 1966, berpasangan dengan R.B. Wijono, ia gagal mempertahankan gelar juara dan hanya meraih juara kedua. Ia secara jujur mengakui bahwa kekalahan itu disebabkan oleh kesombongan (sombong) dan sikap meremehkan lawan. Momen ini menjadi titik balik yang menyadarkannya bahwa dalam dunia persilatan, kekuatan fisik saja tidak cukup. Kerendahan hati, kewaspadaan, dan persiapan yang matang adalah kunci kemenangan. Kegagalan tersebut menanamkan pelajaran tentang pentingnya mengendalikan ego, sebuah prinsip yang kelak menjadi salah satu pilar dalam "9 Wasiat"-nya.

Sang Pemimpin Visioner yang Merevolusi Organisasi

Kenaikan Tarmadji Boedi Harsono ke puncak kepemimpinan PSHT pada tahun 1981 menandai dimulainya sebuah era revolusioner. Ia tidak hanya melanjutkan warisan para pendahulunya, tetapi secara aktif mentransformasi PSHT menjadi organisasi modern yang mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Menapaki Puncak Kepemimpinan

Jalan Tarmadji menuju kursi Ketua Umum ditempuh melalui serangkaian tanggung jawab yang semakin besar. Setelah menjabat sebagai Ketua Cabang Madiun dari tahun 1971 hingga 1974, ia diangkat menjadi Ketua I di jajaran pengurus pusat. Dalam posisi ini, ia langsung dihadapkan pada tantangan nyata. Saat itu, PSHT mengalami defisit kas organisasi dan memiliki tanggungan utang.

Di sinilah kemampuannya sebagai seorang manajer yang pragmatis mulai terlihat. Ia mengusulkan sebuah solusi yang pada masanya dianggap kontroversial, yaitu mengubah sistem uang mahar atau biaya pengesahan. Usulan ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengurus dan tokoh senior PSHT. Namun, keputusannya yang tegas dan berorientasi pada solusi terbukti efektif dalam menyehatkan kembali finansial organisasi. Keberhasilan ini memperkuat reputasinya sebagai seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan sulit demi kebaikan jangka panjang. Puncaknya, dalam Musyawarah Besar (MUBES) tahun 1981, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Pusat, didampingi oleh gurunya, R.M. Imam Koesoepangat, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pusat.

Ujian Spiritual Kenaikan Tingkat III

Pada tahun 1978, sebuah peristiwa penting terjadi dalam perjalanan spiritual Tarmadji. R.M. Imam Koesoepangat memanggilnya dan menyatakan niat untuk mengangkatnya menjadi Warga Tingkat III. Merasa belum pantas dan tidak ingin menjalani proses sakral itu sendirian, Tarmadji dengan santun menolak dan memohon agar ada teman yang mendampinginya. Setelah berdiskusi, ia menyebut nama Soediro, seorang saudara seangkatannya.

Mas Imam awalnya menolak, namun akhirnya menyetujui dengan syarat Tarmadji harus mau ikut menanggung risikonya. Tarmadji menyanggupi, mengira risiko yang dimaksud hanyalah soal biaya. Namun, takdir berkata lain. Setelah keduanya disahkan, Soediro lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Peristiwa tragis ini sangat menggetarkan jiwa Tarmadji dan menjadi pelajaran mendalam tentang makna sebuah tanggung jawab spiritual.

Arsitek Pertumbuhan Eksponensial

Di bawah kepemimpinannya, PSHT mengalami ledakan pertumbuhan yang fenomenal. Awalnya, organisasi ini memiliki sekitar 27 hingga 56 cabang, namun di tangannya, jumlah tersebut berkembang pesat menjadi lebih dari 236 cabang di dalam negeri dan 300 cabang secara keseluruhan. Pertumbuhan ini bukan hanya dalam jumlah cabang, tetapi juga dalam jumlah anggota yang disahkan, yang meningkat dari sekitar 3.500 orang pada tahun 1985 menjadi puluhan ribu per tahunnya.

Pendorong utama di balik ekspansi ini adalah visinya yang jelas dan berani, yaitu "SH Terate Must Go Internasional". Visi ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah strategi yang dieksekusi dengan baik. Ia berhasil mendirikan komisariat-komisariat di luar negeri, seperti di Malaysia, Belanda, Rusia, Timor Leste, dan berbagai negara lainnya, melambungkan nama PSHT di kancah peradaban dunia.

Modernisasi Sang Persaudaraan

Tarmadji diakui sebagai peletak "batu pertama modernitas" dalam organisasi PSHT. Ia memahami bahwa untuk mengelola organisasi sebesar PSHT di era modern, diperlukan struktur, sistem, dan legalitas yang jelas. Ia memadukan nilai-nilai tradisional persaudaraan dengan praktik-praktik organisasi modern secara adaptif.

Upaya modernisasinya mencakup berbagai bidang. Ia menyempurnakan lambang PSHT untuk lebih merefleksikan nilai-nilai filosofis organisasi. Di bidang teknis, ia melakukan penyempurnaan gerakan-gerakan dasar, senam, dan jurus untuk standardisasi pengajaran. Yang lebih fundamental adalah reformasi dalam sistem kaderisasi dan kepemimpinan. Ia memperluas program pelatihan pelatih, memperkenalkan sertifikasi, dan menyelenggarakan lokakarya yang mencakup modul-modul modern seperti manajemen organisasi, komunikasi, hingga biomekanika yang dipandu oleh para pakar.

Membangun Masa Depan Melalui Warisan Kelembagaan

Visi Tarmadji Boedi Harsono tidak hanya terbatas pada pengembangan anggota dan cabang, tetapi juga pada pembangunan fondasi kelembagaan yang kokoh. Ia menyadari bahwa untuk menjamin keberlangsungan PSHT dalam jangka panjang, diperlukan infrastruktur fisik, kerangka hukum, serta program sosial-ekonomi yang nyata.

Padepokan Agung sebagai Simbol Persatuan dan Kebesaran

Salah satu warisan fisik paling monumental dari Tarmadji adalah Padepokan Agung PSHT di Jalan Merak, Madiun. Didirikan di atas lahan seluas 12.290 meter persegi, pembangunan padepokan ini dirancang dan dimulai pada awal 1980-an. Kompleks megah ini terdiri dari berbagai bangunan fungsional, termasuk:

  • Pendapa Agung Saba Wiratama,
  • gedung Sekretariat, Pusdiklat (Sasana Kridangga),
  • gedung pertemuan (Sasana Parapatan),
  • Training Centre (Sasana Pandadaran),
  • dan gedung peristirahatan (Sasana Amongraga).

Padepokan Agung lebih dari sekadar sebuah markas besar. Ia berfungsi sebagai landmark dan pusat spiritual bagi seluruh warga PSHT di dunia. Keberadaannya menjadi simbol persatuan, kebanggaan, dan komitmen bersama untuk menjaga warisan budaya pencak silat Setia Hati Terate.

Foto Padepokan Agung PSHT di Madiun, warisan kelembagaan Mas Tarmadji Boedi Harsono

Yayasan Setia Hati Terate sebagai Perisai Hukum dan Wahana Pengabdian

Sebuah langkah strategis yang menunjukkan pandangan jauh ke depan dari Tarmadji adalah pendirian Yayasan Setia Hati Terate. Didirikan melalui Akta Notaris pada 12 November 1982, yayasan ini memiliki fungsi yang sangat krusial. Pada saat itu, PSHT sebagai organisasi persaudaraan merupakan organisasi massa yang tidak berbadan hukum, sehingga tidak dapat secara legal memiliki aset seperti tanah.

Yayasan didirikan untuk menjadi subyek hukum yang dapat secara sah membeli dan memiliki tanah, khususnya lahan untuk pembangunan Padepokan Agung. Secara hakikat, yayasan ini adalah milik Persaudaraan Setia Hati Terate, dan pengurusnya diangkat serta diberhentikan oleh Pengurus Pusat PSHT. Tujuan utamanya adalah untuk memajukan usaha bersama demi meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin keluarga besar PSHT.

Melampaui Silat dengan Pemberdayaan Sosial dan Ekonomi

Komitmen Tarmadji terhadap falsafah PSHT, memayu hayuning bawono (ikut memperindah keindahan dunia), diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Melalui Yayasan Setia Hati Terate, ia mendirikan dua lembaga pendidikan formal:

  • Sekolah Menengah Umum (SMU) Kusuma Terate
  • dan Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) Kusuma Terate.

Selain itu, didirikan pula lembaga keterampilan berupa kursus komputer untuk meningkatkan keahlian para pemuda.

Di bidang ekonomi, ia meluncurkan Koperasi Terate Manunggal. Koperasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi para anggota PSHT dan masyarakat sekitar.

Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa visinya untuk PSHT melampaui sekadar pelestarian bela diri. Ia membangun sebuah ekosistem sosial yang lengkap, di mana PSHT tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga memberikan pendidikan, keterampilan, dan peluang ekonomi bagi para anggotanya.

Institusi / Inisiatif Tahun Didirikan Fungsi / Tujuan Utama Kaitan dengan Misi PSHT
Padepokan Agung PSHT Awal 1980-an Pusat administrasi, kegiatan, dan spiritual global PSHT. Menjadi simbol fisik persatuan, kebanggaan, dan pusat pelestarian ajaran.
Yayasan Setia Hati Terate 1982 Badan hukum untuk memiliki aset (tanah Padepokan) dan mengelola program sosial-pendidikan. Memberikan landasan hukum yang kuat bagi organisasi dan memfasilitasi pengabdian kepada masyarakat.
SMU & SMIP Kusuma Terate Era 1980-an/1990-an Menyediakan pendidikan formal bagi anggota dan masyarakat umum. Mewujudkan tujuan PSHT dalam mendidik manusia berbudi luhur melalui jalur pendidikan formal.
Koperasi Terate Manunggal Era 1980-an/1990-an Meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggota melalui usaha bersama. Mengaplikasikan nilai persaudaraan dalam bentuk solidaritas ekonomi dan kemandirian.

Menghadapi Ujian Tantangan di Era Transformatif

Kepemimpinan Tarmadji Boedi Harsono yang berlangsung lebih dari tiga dekade tidaklah berjalan mulus. Sebagai seorang pemimpin yang membawa perubahan fundamental, ia dihadapkan pada serangkaian tantangan kompleks, baik yang berasal dari dalam organisasi (internal) maupun dari luar (eksternal). Kemampuannya dalam mengelola konflik dan menavigasi tekanan inilah yang membuktikan ketangguhannya sebagai seorang nakhoda.

Mas Tarmadji Boedi Harsono menghadiri dan menyalami Warga baru saat prosesi Pengesahan Warga PSHT

Dinamika Internal

Transformasi dan pertumbuhan pesat yang ia gagas secara alami menimbulkan friksi di dalam tubuh organisasi. Salah satu tantangan internal utama adalah mengelola perbedaan pandangan di antara para tokoh senior PSHT. Kebijakannya yang dianggap progresif, seperti perubahan sistem uang mahar, pada awalnya mendapat tentangan keras karena dianggap mendobrak tradisi. Ia harus mampu meyakinkan para sesepuh dan anggota bahwa perubahan tersebut diperlukan untuk kesehatan dan masa depan organisasi.

Tantangan lainnya adalah menjaga citra dan marwah organisasi dari perilaku anarkis segelintir anggota. Dengan jumlah anggota yang mencapai jutaan, pembinaan karakter menjadi tugas yang sangat berat. Tarmadji harus terus-menerus menekankan pentingnya budi pekerti luhur dan memastikan ajaran PSHT tidak disalahgunakan. Strategi yang ia terapkan untuk mengatasi tantangan internal ini meliputi rekonsiliasi, peningkatan kualitas pelatihan untuk pembentukan karakter, serta pembuatan kebijakan yang jelas dan adaptif sesuai kebutuhan organisasi.

Tekanan Eksternal

Dari luar, Tarmadji menghadapi tekanan dari berbagai arah. Salah satu yang paling persisten adalah konflik dengan organisasi pencak silat lain, terutama Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM), yang memiliki akar sejarah yang sama. Mengelola rivalitas ini agar tidak meluas menjadi konflik sosial yang merusak adalah prioritas utamanya. Ia berperan besar dalam pembentukan Paguyuban Pencak Silat Madiun, sebuah forum yang bertujuan mewujudkan "Madiun sebagai kampung pesilat" yang damai dan bebas dari bentrokan.

Tantangan eksternal yang paling rumit adalah navigasi di dunia politik praktis. Tarmadji sendiri adalah seorang politisi aktif dari Partai Golkar dan pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Madiun. Keterlibatan personalnya di politik menimbulkan potensi benturan kepentingan dan risiko PSHT terseret ke dalam politik praktis. Namun, di sinilah letak kecerdikannya. Ia secara tegas memisahkan peran pribadinya dengan kebijakan organisasi, dengan berprinsip bahwa PSHT sebagai organisasi harus tetap netral dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Ia memandang keterlibatan politiknya bukan sebagai pekerjaan, melainkan sebagai bagian dari dharma atau pengabdiannya kepada masyarakat luas. Dengan menjaga netralitas organisasi, ia berhasil melindungi PSHT dari perpecahan akibat polarisasi politik, sebuah strategi canggih yang memungkinkan ia memanfaatkan akses politiknya untuk kebaikan komunitas tanpa mengorbankan independensi organisasi.

Jantung Setia Hati Filsafat dan 9 Wasiat

Di balik perannya sebagai seorang organisator dan modernisator, inti dari kepemimpinan Tarmadji Boedi Harsono terletak pada kemampuannya sebagai seorang penjaga dan penyebar ajaran luhur Setia Hati. Ia menekankan bahwa pencak silat hanyalah sarana, sedangkan tujuan utamanya adalah pembentukan manusia yang berbudi pekerti luhur. Puncak dari warisan filosofisnya terangkum dalam "9 Wasiat", yang kini menjadi pedoman moral dan spiritual bagi seluruh warga PSHT.

Ilustrasi 9 Wasiat Mas Tarmadji, visualisasi tangan menggenggam dan bunga terate sebagai simbol budi luhur

Menjunjung Tinggi Budi Pekerti Luhur

Tarmadji secara konsisten mengajarkan bahwa esensi dari PSHT adalah pendidikan karakter. Tujuan organisasi, menurutnya, adalah "mendidik manusia agar berbudi luhur, tahu benar dan salah serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa". Ia menekankan pentingnya kejujuran, kerukunan, dan cinta kasih sebagai dasar pembentukan manusia yang utuh. Di bawah kepemimpinannya, metode pembinaan rohani atau "Ke-SH-an" terus diperdalam untuk memperkuat pemahaman anggota tentang makna sejati dari persaudaraan, kesetiaan pada hati nurani, dan pengabdian kepada Tuhan.

Sembilan Wasiat sebagai Kompas Moral Persaudaraan

"9 Wasiat" adalah kristalisasi dari ajaran dan pengalaman hidup Tarmadji Boedi Harsono. Wasiat ini bukan sekadar kumpulan nasihat, melainkan sebuah panduan hidup yang komprehensif, mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, organisasi, dan diri sendiri. Wasiat ini menjadi warisan tak ternilai yang terus dipegang teguh oleh warga PSHT di seluruh dunia.

  1. Warga SH Terate harus berbudi pekerti luhur dan berperilaku jujur. Wasiat ini menempatkan akhlak mulia sebagai fondasi utama. Ini adalah tujuan akhir dari seluruh latihan fisik dan spiritual di PSHT, sejalan dengan konsep insan kamil (manusia sempurna).
  2. Ciptakan dan perkokoh jalinan cinta kasih kepada siapa pun tanpa pandang bulu. Wasiat ini mengajarkan universalisme dan humanisme. Persaudaraan PSHT tidak terbatas pada anggota, tetapi harus dipancarkan kepada seluruh umat manusia, melampaui sekat suku, agama, dan ras.
  3. Lestarikan Pencak Silat ciri khas SH Terate secara murni dan konsekuen. Ini adalah sebuah mandat untuk menjaga otentisitas ajaran fisik sebagai warisan budaya, sekaligus menekankan identitas seorang pesilat sebagai pendekar yang berjiwa kesatria dan pembela kaum lemah.
  4. Jangan mangro tingal (bersikap mendua). Wasiat ini menekankan pentingnya integritas dan kesetiaan. Mangro tingal dianggap sebagai pengkhianatan terhadap janji setia, baik kepada diri sendiri (hati nurani) maupun kepada organisasi.
  5. Jangan mencari penghidupan di SH Terate, tapi hidupi SH Terate. Ini mengajarkan prinsip pengabdian tanpa pamrih. Organisasi adalah ladang untuk beramal dan berkontribusi, bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau materi.
  6. Hiduplah dengan penuh kesederhanaan dan jangan sombong. Wasiat ini mengingatkan pada pelajaran hidup yang ia peroleh dari kekalahannya di masa muda. Kesombongan adalah sifat Tuhan, dan manusia harus senantiasa rendah hati.
  7. Ojo seneng gawe susah ing liyan, apa alane gawe seneng ing liyan. Ini adalah falsafah hidup Jawa yang mendalam tentang empati dan kontribusi sosial positif, yang berarti "Jangan suka menyusahkan orang lain, apa salahnya membuat orang lain bahagia". Menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain adalah sebuah kebajikan tertinggi.
  8. Sak apik-apike wong yen aweh pitulungan kanthi dhedhemitan. Wasiat ini menekankan keikhlasan tertinggi dalam menolong, yang berarti "Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi pertolongan secara diam-diam (tanpa pamrih)". Bantuan yang diberikan tanpa ingin diketahui orang lain adalah cerminan karakter pendekar sejati.
  9. Jayalah SH Terate sampai kapanpun juga. Ini adalah sebuah doa dan harapan yang menyemangati seluruh warga untuk terus menjaga, mengembangkan, dan mengharumkan nama PSHT hingga akhir zaman.

Sosok Publik dan Pengabdian di Luar PSHT

Kehidupan Tarmadji Boedi Harsono tidak terbatas pada lingkup Persaudaraan Setia Hati Terate. Ia adalah seorang tokoh publik yang memiliki pengaruh luas di berbagai bidang, mulai dari bisnis, politik, hingga kegiatan sosial-keagamaan. Keterlibatannya yang beragam ini bukan hanya menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin, tetapi juga menjadi manifestasi nyata dari ajaran yang ia sampaikan: menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Tokoh Publik Multifaset

Di luar perannya sebagai Ketua Umum PSHT, Tarmadji adalah seorang wirausahawan yang sukses dan seorang kepala keluarga. Perjalanan kariernya dimulai sebagai karyawan honorer di Koperasi TNI AD, kemudian pindah ke PT. Gaper Migas Madiun pada paruh tahun 1973. Setahun kemudian, setelah merasa yakin bahwa honor pekerjaannya mampu untuk membina mahligai rumah tangga, ia menikah dengan Hj. Siti Ruwiyatun. Dari pernikahan ini, Tarmadji Boedi Harsono dikaruniai tiga orang anak:

  • Dani Primasari Narendrani, S.E.
  • Bagus Rizki Dinarwan
  • Arya Bagus Yoga Satria

Berkat keuletannya, pada tahun 1987, ia diangkat menjadi agen resmi Pertamina. Keberhasilan ekonominya ini menjadi pilar penting yang menopang kehidupannya, memberinya kemandirian finansial yang memungkinkannya untuk mengabdi di PSHT dan ranah publik lainnya tanpa bergantung pada jabatan tersebut.

Di bidang politik, ia mencapai puncak karier sebagai Ketua DPRD Kota Madiun untuk periode 2004-2009. Posisinya sebagai legislator memungkinkannya untuk berkontribusi secara langsung dalam pembuatan kebijakan publik dan memperjuangkan aspirasi masyarakat, termasuk komunitas pencak silat.

Pengabdiannya juga merambah ke bidang keagamaan. Sebagai seorang haji, ia aktif di komunitas haji Madiun dan sekitarnya. Ia diamanahi jabatan sebagai Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Madiun dan juga menjabat sebagai Direktur Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al-Mabrur. Ia bahkan mengelola biro perjalanan umrah, yang telah memberangkatkan ratusan warga SH Terate ke Tanah Suci.

Dharma dalam Tindakan

Hal yang paling menarik dari kehidupan publik Tarmadji adalah kemampuannya untuk mempraktikkan prinsip-prinsip yang ia ajarkan. Ia menolak keras jika disebut sebagai "pekerja politik". Baginya, terjun ke dunia politik adalah sebuah bentuk dharma atau kewajiban suci untuk mengabdi, bukan untuk mencari pekerjaan atau kekayaan. Kemandirian ekonominya dari usaha wirausaha memperkuat prinsip ini.

Sikap ini secara langsung mencerminkan wasiat kelima: "Jangan mencari penghidupan di SH Terate, tapi hidupi SH Terate". Ia memperluas prinsip ini ke seluruh aspek kehidupan publiknya. Dengan tidak bergantung secara finansial pada jabatannya di PSHT maupun di pemerintahan, ia dapat menjaga integritas dan fokus pada pengabdian. Kehidupan publiknya menjadi teladan nyata bahwa seorang warga SH Terate harus mampu menjadi cerminan laku teladan di masyarakat, membawa kedamaian, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Otoritasnya sebagai pemimpin tidak hanya datang dari jabatannya, tetapi juga dari integritasnya sebagai seseorang yang hidup selaras dengan nilai-nilai yang ia ajarkan.

Warisan Abadi di Dunia Modern


Tarmadji Boedi Harsono adalah figur transformatif yang warisannya terpatri secara mendalam dalam identitas, struktur, dan filosofi Persaudaraan Setia Hati Terate di abad ke-21. Ia berhasil menakhodai organisasi melalui periode perubahan dan pertumbuhan yang paling signifikan dalam sejarahnya, meninggalkan sebuah persaudaraan global yang modern namun tetap berakar kuat pada ajaran luhur para pendirinya.

Kehidupan yang Transformatif

Sebagai arsitek utama PSHT modern, kontribusi Tarmadji bersifat multifaset. Ia adalah seorang visioner yang membawa PSHT ke panggung dunia; seorang modernisator yang membangun infrastruktur kelembagaan yang kokoh seperti Padepokan Agung dan Yayasan Setia Hati Terate; seorang pragmatis yang tidak ragu mengambil keputusan sulit demi kesehatan organisasi; dan seorang filsuf yang mengkodifikasi nilai-nilai inti persaudaraan ke dalam "9 Wasiat" yang abadi. Ia berhasil menyeimbangkan modernisasi dengan pelestarian tradisi, memastikan bahwa pertumbuhan kuantitatif organisasi diimbangi dengan penguatan kualitas spiritual para anggotanya. Warisannya yang paling fundamental adalah transformasi PSHT dari sebuah perguruan pencak silat menjadi sebuah ekosistem sosial yang komprehensif, yang menyediakan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan panduan moral bagi jutaan anggotanya.

Warisan Posthumous dan Kompleksitas Hukum

Ironisnya, salah satu langkah modernisasi yang ia ambil, yaitu melindungi identitas organisasi, justru menimbulkan tantangan hukum yang kompleks setelah ia wafat. Sekitar tahun 2005-2006, sebagai Ketua Umum, Tarmadji menginisiasi pendaftaran hak atas kekayaan intelektual (HAKI) untuk merek "Setia Hati Terate" dan "PSHT" ke Kementerian Hukum dan HAM. Karena PSHT saat itu belum berbadan hukum, pendaftaran tersebut dilakukan atas nama pribadinya, meskipun dengan niat dan mandat yang jelas untuk kepentingan organisasi.

Setelah kematiannya pada tahun 2015, kepemilikan HAKI atas nama pribadi ini, sesuai hukum waris, beralih kepada ahli warisnya. Hal ini menjadi titik pangkal sengketa hukum yang berkepanjangan mengenai siapa yang memiliki hak eksklusif atas nama dan lambang PSHT, yang berujung pada berbagai proses peradilan hingga tingkat Mahkamah Agung. Kompleksitas ini adalah konsekuensi yang tak terduga dari upayanya untuk melindungi organisasi menggunakan instrumen hukum modern.

Meskipun diwarnai oleh tantangan hukum posthumous, warisan Tarmadji Boedi Harsono tetap tak tergoyahkan. Ekspansi global, kerangka kelembagaan yang ia bangun, dan terutama "9 Wasiat" yang ia tinggalkan, terus menjadi pilar utama yang mendefinisikan Persaudaraan Setia Hati Terate. Ia akan selamanya dikenang sebagai pemimpin yang dengan visi dan keberaniannya, berhasil membawa sebuah persaudaraan dari Madiun ke seluruh penjuru dunia.

Visualisasi dokumen HAKI PSHT (IDM000142231, IDM000142232) sebagai warisan posthumous Mas Tarmadji
Tito Reista
Tito Reista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Postingan Lama Postingan Lebih Baru

Posting Komentar