Tirakat Insan Setia Hati Terate Tingkat 1, 2, 3

Table of Contents

Tirakat Insan Setia Hati Terate

Sosok Insan Setia Hati Terate (Mas Tarmadji) dalam laku tirakat batin di depan lambang Setia Hati bersinar

Bagi seorang Insan Setia Hati Terate (PSHT), laku Tirakat memegang peranan sentral sebagai fondasi spiritual. Ini bukan sekadar latihan menahan hawa nafsu, melainkan sebuah bentuk laku prihatin yang mendalam untuk membentuk karakter dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ajaran PSHT mendidik warganya untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah dan tidak mudah mengeluh (nggersulo).

Seorang Insan Setia Hati Terate diharapkan memiliki mental yang kuat, yang dalam falsafah Jawa dikenal sebagai sing gedhe tirakate (besar laku prihatinnya). Sikap ini tercermin dalam ketenangan (gak kemrungsung), tidak emosional, dan jauh dari sifat sombong (adigang, adigung, adiguno).

Makna dan Filosofi Tirakat dalam PSHT

Tujuan utama dari tirakat adalah untuk "memancing kasih Allah" (mencari ridha Allah) agar hati senantiasa merasa tenteram dan siap menghadapi gelombang kehidupan. Filosofi ini bertentangan dengan gaya hidup modern yang serba instan.

Ajaran PSHT mengkritik mentalitas "mie instant", yaitu keinginan untuk "langsung panen" tanpa mau "nanam" (menanam) terlebih dahulu. Kehidupan adalah sebuah proses yang harus dilalui, bukan sesuatu yang bisa didapat secara instan.

"Ndak ada kamus orang ndak mau nanam kok panen."

Oleh karena itu, jika seseorang menginginkan sesuatu, ia harus berani berusaha keras melalui tahapan proses. Dalam laku tirakat ini, keseimbangan antara ikhtiar lahiriah (usaha fisik) dan bathiniah (laku spiritual/doa) harus selalu dijaga dan tidak boleh berat sebelah.

Bentuk Tirakat Warga SH Terate

Tirakat dalam PSHT dapat dilakukan sepanjang masa dan dalam situasi apapun. Bentuknya tidak kaku, namun intinya adalah pengendalian diri. Beberapa contoh laku tirakat yang diajarkan meliputi:

  1. Tirakat Sosial (Pengabdian): Mendahulukan kepentingan organisasi dan persaudaraan di atas kepentingan pribadi. Contohnya, rela meninggalkan kenyamanan pribadi atau keluarga untuk memenuhi tanggung jawab organisasi.

  2. Tirakat Jasmani (Puasa/Ngurang-ngurangi): Mengurangi kenikmatan jasmani, seperti berpuasa (makan hanya sekali sehari pada jam tertentu) atau mengurangi waktu tidur (misalnya tidur hanya 4 jam) untuk melatih disiplin fisik dan batin.

  3. Tirakat Batin (Pendidikan Budi Luhur): Ini adalah bentuk tirakat tertinggi dan terpenting, yaitu mendidik jiwa.

Wujud Tirakat Batin (Pendidikan Budi Luhur)

Didikan utama di PSHT adalah membangun jiwa, sebuah proses yang membutuhkan waktu panjang dan kesabaran, tidak seperti membangun fisik yang bisa diformat dalam waktu singkat. Tujuan akhirnya adalah membentuk manusia berbudi luhur, tahu benar dan salah, serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ciri-ciri manusia berbudi luhur yang dilatih melalui tirakat batin antara lain:

  • Tidak Dakwen Salah Open: Tidak mudah usil atau mencampuri urusan pribadi orang lain, kecuali jika diminta bantuan untuk mencarikan solusi.
  • Tidak Iri Dengki: Tidak menduga-duga hal buruk (su'udzon) atas keberhasilan orang lain (misalnya menuduh "nyogok").
  • Ikut Senang (Bahagia): Mampu turut merasa senang dan bersyukur ketika melihat saudara atau orang lain berhasil (misalnya bisa beli mobil atau menjadi pegawai).
  • Prasangka Baik (Prasangka Luhur): Selalu memancarkan sinar kasih dan mengedepankan prasangka baik, karena hati yang bersih akan mengeluarkan perkataan dan sikap yang baik pula.

Ajaran ini sering diibaratkan dengan metafora "ceret" (teko air):

"Ibarat ceret, kalau air dalam ceret itu jernih, ceretnya juga sering dibersihkan, dilap, keluar air dari gagangnya juga jernih. Tapi kalau airnya keruh, ceretnya tidak pernah dirawat, keluarnyapun keruh."

Orang yang hatinya "keruh" akan memiliki sikap yang urakan, tidak mengerti umpan papan (situasi dan kondisi), dan sombong karena merasa memiliki kemampuan berkelahi (dupeh iso gelut).

Maka, tirakat batin yang paling sederhana adalah selalu berpikiran baik pada orang lain dan tidak suka menggunjing (gak demen ngrasani). Hati yang bersih (resik) akan mengundang kasih sayang (sihing) Gusti Allah.

Ilustrasi metafora ceret (teko) dalam ajaran tirakat PSHT untuk hati yang bersih

Tirakat sebagai Jalan Hakekat (Makrifat)

Jalan tirakat PSHT pada dasarnya adalah implementasi dari Piagam (Mukadimah) PSHT. Tujuannya adalah mengajak warga belajar ilmu hakekat, yaitu hakekat hidup, sebagai bagian dari tingkatan spiritual (Syariat, Tarekat, Hakekat, dan Makrifat).

"Bahwa sesungguhnya hakekat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju ke kesempurnaan..."

Pemahaman akan "kodrat irama" ini mengajarkan warga PSHT untuk menghargai keberagaman dan perbedaan, serta memegang teguh persaudaraan yang tidak membedakan suku, agama, ras, atau latar belakang (SARA).

Refleksi Tirakat dalam Tiga Tingkatan Warga

Proses belajar ilmu hakekat melalui tirakat ini tercermin dalam tiga tingkatan warga PSHT:

1. Warga SH Terate Tingkat I (Simbol Ayam Jago)

Pada tingkat pertama, ujian terbesarnya adalah kesombongan. Seseorang mungkin merasa telah mengetahui segalanya, angkuh akan ilmu yang dimiliki, ingin menang sendiri, dan tidak mau menerima nasehat. Sifat "ke-aku-an" ini disimbolkan dengan Ayam Jago (suka pamer, berkokok, dan ngabruk/berkelahi). Sesi "tes jago" saat pengesahan adalah momen bagi senior untuk memberi petuah agar calon warga menata budi pekertinya.

2. Warga SH Terate Tingkat II (Simbol Ikan)

Pada tingkat kedua, hasil dari tirakat adalah sikap Tawadhu' (rendah hati).

"Semakin Berisi Semakin Tunduk."

Seorang Warga Tingkat II diharapkan menjadi pribadi yang mulia, santun, bijaksana, tidak mudah merendahkan orang lain, dan dicintai sesama. Jurus di Tingkat II merupakan "permainan bawah", yang menyimbolkan sikap merendah yang membutuhkan kuda-kuda (prinsip) yang kuat. Simbolnya adalah Ikan, yang melambangkan pengendalian nafsu (yang pada dasarnya bersifat hambar atau sepa).

3. Warga SH Terate Tingkat III (Simbol Burung)

Pada tingkat ketiga, seorang warga akan mencapai kesadaran bahwa dia "tidak tahu apa-apa". Semakin banyak ilmu dibuka, semakin ia sadar banyaknya ilmu yang belum diketahui. Ia paham tata lahir dan batin, serta mencapai kalepasan sampurna (kesempurnaan pelepasan). Simbolnya adalah Burung (bebas, lepas, pasrah pada Sang Khalik), di mana jasad dipahami hanya sebagai sangkar titipan bagi ruh (burung).

"Nek iso wong kuwi biasa wae. Sugih yo biasa, duwe pangkat yo biasa, seneng yo biasa, nesu yo biasa, susah yo biasa. Urip sak dermo nglakoni. Urip ora njaluk, mati ora daftarke." (Kalau bisa, orang itu biasa saja. Kaya ya biasa, punya pangkat ya biasa, senang ya biasa, marah ya biasa, susah ya biasa. Hidup sekadar menjalani. Hidup tidak minta, mati tidak mendaftar).

Jurus Tingkat III yang hanya satu melambangkan kepasrahan total kepada Ilahi.

Ilustrasi simbol tingkatan warga PSHT (Ayam Jago, Ikan, Burung) sebagai refleksi tirakat batin

Ilmu Jati Diri

Pada hakikatnya, laku tirakat dan pemahaman tingkatan dalam PSHT adalah sebuah ilmu rahasia (Kajian Wiroanom, Pilangbango) yang dibuka hanya kepada saudara yang benar-benar ingin mencari jati diri sejatinya.

Post a Comment