Irsad Hadi Widagdo Pencipta 90 Senam dan Penyempurna Jurus Dasar PSHT

Table of Contents

Irsad Hadi Widagdo Pencipta 90 Senam dan Penyempurna Jurus Dasar PSHT

Foto profil Irsad Hadi Widagdo, pencipta 90 Senam Dasar PSHT

Untuk memahami secara utuh kontribusi penting Irsad Hadi Widagdo, perlu dipahami terlebih dahulu konteks historis dan organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) pada pertengahan abad ke-20. Karyanya bukanlah tindakan penciptaan yang terisolasi, melainkan sebuah evolusi yang strategis dan niscaya sebagai respons terhadap pertumbuhan organisasi dan kebutuhan yang berubah di era pasca-kemerdekaan Indonesia.

Era setelah wafatnya sang pendiri, Ki Hadjar Hardjo Oetomo, pada tahun 1952 merupakan masa transisi krusial. Organisasi yang sebelumnya dipimpin oleh karisma pendirinya kini beralih ke struktur yang lebih formal di bawah Ketua pertamanya, RM. Soetomo Mangkoedjojo, yang menjabat dari tahun 1948 hingga 1956. Periode ini menjadi penentu, karena organisasi harus membangun identitas dan kerangka kerja operasional yang dapat bertahan melampaui sosok penciptanya. Seiring dengan perkembangannya yang melampaui jantungnya di Madiun, PSHT dihadapkan pada tantangan kritis: menjaga konsistensi teknis dan memelihara rasa persaudaraan yang utuh di antara anggota yang jumlahnya terus bertambah dan tersebar secara geografis. Problem inilah yang kemudian dijawab secara sistematis melalui karya-karya Irsad Hadi Widagdo.

Sementara itu Ki Hadjar Hardjo Oetomo adalah pendiri spiritual dan bela diri (jasmani/fisik) PSHT, Irsad Hadi Widagdo adalah arsitek dan kodifikator esensialnya. Melalui penciptaan 90 Senam Dasar, penyempurnaan Jurus, dan inovasi organisasi yang fundamental, ia secara sistematis merekayasa kerangka pedagogis dan teknis yangungkinkan PSHT berkembang menjadi organisasi modern berskala internasional seperti yang dikenal saat ini.

Kehidupan dan Kebangkitan Seorang Pendekar

Pengenalan biografi ringkas Irsad Hadi Widagdo, yang membangun kredensial dan otoritasnya dalam silsilah PSHT. Dengan menyatukan data biografis yang tersedia, gambaran yang jelas mengenai sosok di balik kontribusi transformatif ini dapat terbentuk.

Kehidupan Awal dan Silsilah

Irsad Hadi Widagdo lahir pada Kamis Legi 18 Mei 1911 dan wafat pada Jum’at Pahing 7 Juni 1974. Dalam kehidupan pribadinya, ia adalah ayah dari enam orang anak:

  • Hans Arumansyah (alm.),
  • Ida Wati Irsad, Samudra Irsad,
  • Wibowo, Aribowo Irsad,
  • dan Edi Tjahjono.

Pencatatan detail ini memberikan dimensi manusiawi pada sosoknya di luar perannya sebagai seorang maestro pencak silat.

Mas Irsad Hadi Widagdo bersama keluarganya (enam orang anak)

Otoritas Seorang Murid Langsung (Silsilah Ganda)

Poin krusial yang menjadi sumber legitimasi dan otoritasnya adalah statusnya sebagai murid langsung dari sang pendiri, Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Beliau mulai berlatih sejak tahun 1933 di Pencak Sport Club (PSC).

Selain itu, beliau juga berkesempatan untuk belajar dan dikecer langsung oleh pencetus ilmu Setia Hati, Ki Ngabehi Soerodiwirjo (Eyang Suro), karena saat itu hubungan antara Ki Hadjar dan Eyang Suro masih sangat erat.

Pada tahun 1935, Mas Irsad ditetapkan sebagai Warga angkatan pertama dari PSC (PSHT), bersama empat rekan lainnya:

  • Mas Hardjo Mardjud
  • Mas Soenaryo
  • Mas Soenyono
  • Mas Santoso

Otoritasnya semakin diperkuat oleh tingkatannya yang tinggi sebagai seorang praktisi Tingkat III (Derde Trap), sebuah penanda penguasaan ilmu yang mendalam.

Mas Irsad dan Rekan Warga Angkatan Pertama PSHT (Tahun 1935)

Karier Profesional, Perpindahan, dan Tempat Peristirahatan Terakhir

Selain perannya di PSHT, Bapak Irsad Hadi Widagdo adalah seorang alumni sekolah teknik di Surabaya dan memiliki bekal pengetahuan mengenai anatomi badan (dipelajari dari seorang dokter di Semarang), yang menjelaskan pola pikirnya yang sangat struktural dan terancang.

Beliau juga seorang pejabat di Jawatan Kereta Api (PJKA). Kariernya menuntut beliau untuk sering berpindah tugas ke berbagai wilayah di Indonesia, yang juga berkontribusi pada penyebaran ajaran.

Riwayat perpindahan tugas beliau tercatat sebagai berikut:

  • Tahun 1946: Sigli
  • Tahun 1951: Banda Aceh
  • Tahun 1952: Semarang
  • Tahun 1957: Madiun dan Jepang
  • Tahun 1959: Kembali ke Aceh
  • Tahun 1963: Ditempatkan di Bandung hingga pensiun

Makam Mas Irsad Hadi Widagdo di TPU Sirnaraga Bandung

Di masa senjanya, ia menetap di Bandung, beralamat di Jalan Elang 1, No. 10. Irsad Hadi Widagdo dimakamkan di tempat pemakaman umum Sirnaraga di Bandung, yang kini menjadi situs penting bagi para anggota PSHT yang ingin memberikan penghormatan.


Mandat Kodifikasi dan Kepemimpinan di Era Ekspansi 1951–1961

Peran kepemimpinan formal Irsad Hadi Widagdo, bahwa pengaruhnya tidak hanya berasal dari durasi jabatannya sebagai ketua umum, tetapi lebih signifikan lagi dari posisinya yang lama sebagai otoritas teknis tertinggi organisasi. Karyanya merupakan respons strategis langsung terhadap tantangan pertumbuhan organisasi.

Dua Mantel Kepemimpinan

Irsad Hadi Widagdo memegang dua posisi formal yang berbeda namun saling melengkapi. Ia menjabat sebagai Ketua Umum dari tahun 1956 hingga 1958, menggantikan RM. Soetomo Mangkoedjojo dan digantikan oleh Santoso Kartoatmodjo. Namun, peran yang tumpang tindih dan bisa dibilang lebih berpengaruh adalah jabatannya sebagai Dewan Pelatih dari tahun 1951 hingga 1961.

Masa jabatannya sebagai ketua umum yang relatif singkat, hanya dua tahun, kontras dengan masa baktinya selama satu dekade sebagai Dewan Pelatih. Kontribusi terbesarnya, yaitu penciptaan Senam dan penyempurnaan Jurus, bersifat teknis, bukan administratif. Hal ini mengarah pada kesimpulan bahwa otoritasnya untuk melakukan perubahan mendasar tersebut berasal dari perannya yang jangka panjang sebagai kepala Dewan Pelatih, posisi yang dipegangnya sebelum, selama, dan setelah masa jabatannya sebagai ketua. Periode singkatnya sebagai ketua umum kemungkinan besar adalah momen di mana ia memiliki kekuatan eksekutif untuk secara resmi mengimplementasikan pengembangan teknis yang telah ia rancang dan awasi selama bertahun-tahun. Pengaruh sejatinya terletak pada visinya sebagai arsitek teknis organisasi selama satu dekade penuh.

Mas Irsad Hadi Widagdo (Ketua Umum 1956-1958) bersama Warga dan Siswa PSHT

Menyingkap Anonimitas dalam Kode Pendekar

Salah satu inovasi organisasionalnya yang cemerlang adalah penciptaan "Kode Pendekar". Ini bukanlah sebuah teknik bela diri, melainkan sebuah alat organisasi yang cerdas. Alasan penciptaannya secara eksplisit disebutkan karena "jumlah Warga Setia Hati Terate saat itu sudah mulai banyak, sehingga diantara Warga mulai tidak saling mengenal karena beda tempat latihan dan beda tahun pengesahannya".

Tindakan ini menunjukkan pemahaman yang canggih tentang dinamika organisasi. Pertumbuhan yang pesat secara inheren menciptakan anonimitas dan berpotensi melunturkan rasa persaudaraan. Irsad Hadi Widagdo secara proaktif mengatasi masalah ini dengan menciptakan alat verifikasi identitas non-verbal yang sederhana namun efektif untuk memperkuat ikatan di antara anggota. Ini membuktikan bahwa ia bukan hanya seorang ahli pencak silat, tetapi juga seorang arsitek komunitas yang membangun perangkat untuk melestarikan nilai inti "Persaudaraan" dalam menghadapi ekspansi yang cepat.

Silsilah Kepemimpinan Awal Persaudaraan Setia Hati Terate

Tabel berikut memetakan suksesi kepemimpinan untuk memberikan konteks historis yang jelas bagi masa jabatan Irsad Hadi Widagdo.

Pemimpin Jabatan Masa Jabatan
Ki Hadjar Hardjo Oetomo Pendiri/Pemimpin 1922–1948
Soetomo Mangkoedjojo Ketua Umum 1948–1956
Irsad Hadi Widagdo Ketua Umum 1956–1958
Santoso Ketua Umum 1958–1966
RM Soetomo Mangkoedjojo Ketua Umum 1966–1974

Tabel ini secara visual menegaskan singkatnya masa jabatan Irsad Hadi Widagdo sebagai ketua umum dibandingkan dengan para pemimpin lainnya. Hal ini memperkuat argumen bahwa pengaruhnya yang mendalam melampaui periode administratif yang singkat tersebut, dan menyoroti pentingnya peran teknisnya yang lebih lama sebagai Dewan Pelatih.

Fondasi Gerakan dan Dekonstruksi 90 Senam Dasar

Tentang kontribusi Irsad Hadi Widagdo yang paling terkenal, yaitu penciptaan 90 Senam Dasar bukanlah sekadar serangkaian latihan pemanasan, melainkan sebuah sistem pedagogis revolusioner yang dirancang untuk menstandarisasi fondasi fisik dan neurologis setiap praktisi PSHT.

Senam Dasar

Irsad Hadi Widagdo diakui secara luas sebagai pencipta tunggal 90 Senam Dasar. Definisi intinya adalah "suatu gerakan dasar yang disusun berurutan sebanyak 90 senam dan dilakukan ditempat (tidak melangkah atau berjalan)". Tujuan yang ditetapkan adalah untuk melatih koordinasi, postur tubuh, kelompok otot utama, keseimbangan, dan ketahanan fisik, dengan pelaksanaan yang dimulai dari gerakan lambat hingga cepat.

Senam sebagai Revolusi Pedagogis (Asal-Usul Nama "Senam")

Berdasarkan latar belakangnya sebagai lulusan sekolah teknik yang kritis, Mas Irsad menganggap sistem edukasi lewat jurus lama terlalu sulit, filosofis, dan lama (memerlukan 6 tahun). Beliau berpendapat, "dapat jurus tidak dapat jamin dapat pencak (bertanding)."

Beliau kemudian memecah 36 jurus lama ke 90 gerakan dasar yang lebih sederhana dan struktural. Awalnya, beliau mengusulkan 90 gerakan ini sebagai **"90 Jurus" baru** untuk menggantikan yang lama. Namun, usulan ini ditolak oleh kadang senior.

Sebagai jalan tengah, 90 gerakan dasar ciptaannya ini selanjutnya diberi nama "Senam" (Senam Dasar) dan dijadikan materi wajib bagi siswa *sebelum* mereka mempelajari jurus inti.

Sistem ini (Senam Dasar) menjadi alat standardisasi massal, solusi Irsad Hadi Widagdo untuk memastikan kontrol kualitas dan keseragaman teknis di seluruh organisasi yang sedang berkembang.

Implikasi Biomekanis dan Filosofi Tahapan Senam

Struktur Senam itu sendiri menunjukkan kecanggihan desainnya yang progresif (progressive training):

  1. Tahap 1 (Senam 1-10): Konsentrasi pada mempersiapkan otot pinggang dan kaki.
  2. Tahap 2 (Senam 11-20): Melatih pergerakan gempuran dan belaan dengan tangan (termasuk Senam 16 untuk gempuran siku ke atas, bukan hanya melatih perut).
  3. Tahap 3 (Senam 21-30): Melatih "jurus" dasar (pasangan diteruskan gempuran/belaan).
  4. Tahap 4 (Senam 31-40): Konsentrasi melatih sepakan (tendangan).
  5. Tahap 5 (Senam 41-50): Melatih sambutan (menangani sepakan).
  6. Tahap 6 (Senam 51-60): Adalah "jurus" yang menyusun (menggabungkan) tahapan 4 dan 5.

Sifatnya yang statis ("dilakukan ditempat") memaksa praktisi untuk fokus pada struktur dan keseimbangan. Mas Irsad sangat memahami ini; beliau diyakini hanya mengajari putra-putrinya Senam Dasar saja (tanpa jurus), karena akar dari jurus Setia Hati sudah menyatu di dalam 90 senam dasar tersebut.

Penyempurnaan Bentuk Teknis Jurus Dasar

Risalah teknis tentang karya Irsad Hadi Widagdo sebagai "Penyempurna Jurus." Pembahasan ini melampaui pernyataan sederhana bahwa ia menyempurnakan jurus, dan sebaliknya, mengkaji sifat dan tujuan strategis dari perubahan-perubahan tersebut, dengan argumen bahwa karyanya telah membentuk identitas marasial PSHT yang lebih pragmatis dan berbeda.

Proses "Akurasikan"

Metodologinya adalah analisis dan penyempurnaan yang mendalam. Ia akan "mencermati dan dikaji ulang" gerakan-gerakan yang ada, terutama serangan yang dianggapnya "lemah" (seperti pukulan *bandul*), lalu berupaya untuk "mengakurasikan" gerakan tersebut agar lebih akurat dan efektif.

Penyempurnaan Teknis Spesifik

Beberapa perubahan teknis yang terdokumentasi dengan baik menunjukkan filosofi di balik penyempurnaan ini:

  • Jurus 1: Pukulan dasar diubah dari mbandul (pukulan mengayun atau melingkar) menjadi menohok (pukulan lurus yang menusuk).
  • Teknik Colok: Serangan mata dimodifikasi dari menggunakan dua jari menjadi tusukan dengan lima jari yang dirapatkan, yang secara struktural lebih kuat dan bertenaga.
  • Jurus Versi A/B: Beliau membuat jurus menjadi dua versi, yakni A (serangan) dan B (jawaban/belaan untuk menghadapi jurus A).
  • Jurus Lainnya: Penyempurnaannya bersifat ekstensif, dengan penyebutan spesifik bahwa Jurus 1 hingga 4 serta Jurus 8 dievaluasi ulang dan ditingkatkan. (Contoh: Jurus 4 lama dipindah menjadi Jurus 25).

Pengenalan Senjata dalam Kurikulum Baru

Era kepemimpinan dan pengaruh teknisnya juga ditandai dengan perluasan kurikulum. Materi latihan diperkaya dengan penambahan "permainan belati" (juga dikenal sebagai Kripen, terdiri dari 17 teknik menangani tusukan pisau) dan "Jurus toya" (jurus tongkat, terdiri dari 15 jurus).

Perubahan-perubahan ini, jika dilihat secara keseluruhan, bukan sekadar penyesuaian kecil. Irsad Hadi Widagdo secara aktif membentuk identitas tempur PSHT, menggerakkannya menuju sistem pertahanan diri yang modern, disempurnakan, dan efektif.

Perbandingan Penyempurnaan Jurus oleh Irsad Hadi Widagdo

Tabel berikut menyajikan ringkasan evolusi teknis yang jelas dan ringkas.

Jurus/Teknik Karakteristik Pra-Irsad Penyempurnaan Pasca-Irsad ("Akurasikan") Tujuan Strategis
Jurus 1 (Pukulan) mbandul (pukulan mengayun) menohok (pukulan lurus menusuk) Meningkatkan kecepatan dan keterusterangan; mengurangi telegraf; meningkatkan transfer tenaga.
Teknik Colok Serangan dua jari Tusukan lima jari (lima jari yang dirapatkan) Memperkuat struktur tangan untuk benturan; meningkatkan permukaan serangan dan tenaga.
Jurus 1–4 Mengandung gerakan yang dianggap "lemah" Dievaluasi ulang dan dibuat lebih akurat Peningkatan menyeluruh pada rangkaian tempur dasar.
Jurus 8 Bentuk lama yang tidak spesifik Disebutkan secara spesifik "disempurnakan" Optimalisasi salah satu jurus kunci dalam silabus.

Analogi Reformasi (Bruce Lee)

Apa yang dilakukan Mas Irsad pada tahun 1950-an ini serupa dengan yang dilakukan oleh Bruce Lee pada tahun 1960-an. Bruce Lee merasa beladiri tradisional Tiongkok (Wing Chun) perlu dibongkar agar lebih efisien, kemudian beliau menciptakan Jeet Kun Do. Mas Irsad melakukan hal yang sama: mengkritik, membongkar, dan menyusun ulang materi PSHT agar lebih struktural dan efektif.

Murid dan Pewaris Ajaran

Salah satu murid langsung Bapak Irsad Hadi Widagdo yang menerima ajaran Senam 1-90 dan pendalaman akurasi jurus ini adalah R.M. Imam Koesoepangat. Mas Imam, yang berlatih di bawah bimbingan beliau sejak tahun 1953 dan disahkan pada 1958, kemudian menjadi tokoh sentral yang melanjutkan dan melembagakan reformasi teknis ini dalam kurikulum PSHT modern.

Warisan yang Abadi

Pengukuhan statusnya sebagai tokoh yang sama pentingnya dengan sang pendiri, meskipun dengan peran yang berbeda namun saling melengkapi.

Mas Irsad Hadi Widagdo bersama keluarga di Bandung setelah pensiun dari PJKA

Sistematisator PSHT

Irsad Hadi Widagdo adalah sang sistematisator agung. Ia mengambil ajaran dasar dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan membangun superstruktur pedagogis dan teknis yang kokoh, terukur, dan terstandarisasi di sekelilingnya. Kontribusinya, yang meliputi:

  • Senam (fondasi standar),
  • Jurus yang disempurnakan (aplikasi standar),
  • latihan senjata (kurikulum yang diperluas),
  • dan Kode Pendekar (identitas standar),

Hal ini membentuk sebuah sistem yang lengkap dan saling terkait.

Dari Perguruan Lokal ke Organisasi Nasional

Sistematisasi inilah yang menjadi mesin pendorong keberhasilan ekspansi PSHT. Tanpa Senam dan Jurus yang disempurnakan, ilmu ini akan terpecah menjadi puluhan variasi lokal. Tanpa Kode Pendekar, rasa persaudaraan akan hilang ditelan pertumbuhan. Karyanya adalah prasyarat penting bagi pertumbuhan organisasi yang berkelanjutan.

Warisan dalam Gerakan

Warisan Irsad Hadi Widagdo tidak terutama ditemukan dalam bangunan atau buku, tetapi hidup dalam tubuh setiap praktisi PSHT hingga hari ini. Setiap kali seorang siswa melakukan Senam Dasar 1, atau melontarkan pukulan lurus yang menusuk dari Jurus 1, mereka mewujudkan silsilah teknis dan visi strategis langsung dari Irsad Hadi Widagdo. Ia, dalam arti yang paling sejati, adalah arsitek bentuk fisik dan identitas PSHT modern.

Post a Comment