Santoso Kartoatmodjo Ketua Umum PSHT Penjaga Api Persaudaraan di Tengah Badai

Table of Contents

Santoso Kartoatmodjo Penjaga Api Persaudaraan di Tengah Badai

Foto portret Santoso Kartoatmodjo, Ketua Umum PSHT (1958-1966) Penjaga Api Persaudaraan

Dalam sejarah panjang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), nama Santoso Kartoatmodjo (1910–1990) menempati posisi istimewa sebagai sosok yang memimpin organisasi pada masa paling genting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ia menjabat sebagai Ketua Umum PSHT antara tahun 1958 hingga 1966, periode di mana situasi politik nasional tengah bergolak dan menuntut kebijaksanaan serta ketenangan luar biasa dari seorang pemimpin.

Bagi PSHT, masa kepemimpinan Santoso bukan sekadar bab sejarah tetapi menjadi simbol keteguhan hati ketika nilai-nilai Setia Hati diuji oleh badai ideologi dan kekacauan nasional. Di bawah kepemimpinannya, PSHT bertahan, beradaptasi, dan tetap setia pada jati dirinya sebagai persaudaraan yang berlandaskan budi luhur, bukan alat dari kekuatan politik mana pun. Ia dikenal sebagai “penjaga api persaudaraan” yang memastikan nyala Setia Hati tidak padam di tengah kabut zaman.

Riwayat Hidup Singkat

Santoso Kartoatmodjo lahir di Oro-Oro Ombo, Madiun, pada Senin Legi 10 Oktober 1910, dari pasangan Kartodimedjo (Kerto Lampu) dan Suminah. Ayahnya adalah saudara dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo, pendiri Setia Hati, yang kemudian menitipkan Santoso muda untuk belajar langsung kepada beliau.

Setelah menamatkan pendidikan di HIS Madiun, ia melanjutkan ke MTS (Middlebare Technische School) di Surabaya, yaitu satu angkatan dengan Moch. Irsyad, tokoh penting PSHT masa awal. Setelah lulus, Santoso bekerja di berbagai lembaga teknik seperti Marine Surabaya (kini PT PAL) dan Pabrik Gula Rejo Agung Madiun, hingga akhirnya menjadi Kepala Jawatan Listrik dan Gas Madiun pada tahun 1947.

Ketika Clash Belanda I pecah, ia ditangkap oleh tentara Belanda atas tuduhan sabotase PLTA Gondosuli dan dipenjara selama enam bulan. Setelah bebas, ia beralih profesi menjadi pendidik dengan mendirikan Sekolah Teknik 1 Madiun (STP), kemudian STM Madiun dan STM Kediri, hingga pensiun sebagai guru tinggi teknik.

Sebelum wafatnya Ki Hadjar Hardjo Oetomo, beliau mewasiatkan tiga pesan suci kepada Santoso, yaitu:

“Kumpulkan Saudara Sedulur Tunggal Ketcer.
Buat wadah yang kuat.
Lestarikan ajaranku.”

Untuk melaksanakan wasiat tersebut, ditunjuklah Raden Mas Soetomo Mangkoedjojo (dengan pertimbangan sebagai saudara termuda) untuk bertugas mengumpulkan saudara-saudara Setia Hati.

Wasiat itulah yang kemudian melahirkan tonggak bersejarah musyawarah 25 Maret 1951 yang digelar di kediaman Bapak Santoso, Jl. Dr. Soetomo No. 76 Madiun. Pertemuan itu berhasil mengumpulkan 30 saudara, antara lain:

  • Raden Mas Soetomo Mangkoedjojo
  • Moch. Irsyad
  • Hardjo Mardjoet
  • Raden Sumadji
  • Raden Bambang Soedarsono
  • Djendro Darsono
  • Soegiarto
  • Soemo Soedardjo
  • Arsidin
  • Hardjo Giring
  • Asmadi
  • Darmadi
  • Soejono
  • Asmoengi
  • Hardjo Wagiran
  • Harsono
  • Badini
  • Soeharjo
  • Oetomo Moeljoprodjo
  • Hadiwidjojo
  • Oemar Karsono
  • Saljo Harsoutomo
  • Moetoro
  • Soelaiman
  • Soemodiran
  • Soeniman
  • Makoen
  • Sajogjo
  • Satro Basoeki
  • Santoso Kartoatmodjo

Dari pertemuan itu lahirlah nama Setia Hati Terate dengan struktur pengurus pertama:

  • Ketua: Santoso Kartoatmodjo
  • Sekretaris: R. Sumadji
  • Bendahara: Bambang Soedarsono
  • Pelatih: Hardjo Mardjoet dan Badini

Musyawarah tersebut juga menetapkan AD/ART dan Lambang Setia Hati Terate, menandai awal baru organisasi.

Kepemimpinan di Masa Krisis (1958–1966)

Memimpin PSHT pada masa Demokrasi Terpimpin (1958–1966) berarti berlayar di lautan penuh badai. Pergolakan politik antara kekuatan Nasionalis, Agama, dan Komunis (NASAKOM) menjalar hingga akar masyarakat dan menyentuh ranah budaya serta olahraga. Santoso memimpin PSHT di tengah tekanan ideologis ini dengan kebijakan yang sangat hati-hati untuk menjaga jarak dari politik praktis dan memusatkan perhatian pada konsolidasi internal.

Sebagai Ketua Umum, Santoso meneruskan garis penguatan organisasi yang dirintis oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Ia mendorong hubungan antar-cabang, membina pelatih, dan mengembangkan olahraga pencak silat sebagai wadah netral untuk menyalurkan semangat anggota. Di masa kepemimpinannya, PSHT mulai dikenal bukan hanya sebagai perguruan bela diri tetapi juga sebagai organisasi olahraga yang berkarakter budaya dan persaudaraan.

Kebijakan penting lainnya adalah pengesahan Materi Senam 1–90, Senam Toya, Belati, dan Kerambit yang digagas oleh Moch. Irsyad, sebagai bagian dari sistem latihan formal PSHT. Inovasi ini menjadi fondasi pendidikan jasmani dan rohani warga PSHT hingga kini.

Strategi dan Kebijakan Organisasi

Fokus utama Santoso adalah menjaga keutuhan dan netralitas PSHT. Ia memahami bahwa di tengah situasi politik yang menekan, organisasi harus berdiri di atas nilai-nilai Setia Hati dan bukan pada kepentingan politik mana pun. Beberapa langkah strategisnya antara lain:

  1. Konsolidasi Cabang dan Hubungan Internal
    Ia membangun sistem komunikasi antar-cabang yang efektif agar setiap kegiatan PSHT tetap terkoordinasi dan selaras dengan nilai dasar persaudaraan.

  2. Depolitisasi PSHT
    Dengan bijak, ia menegaskan PSHT sebagai lembaga budaya dan spiritual yang tidak berafiliasi politik. Sikap ini terbukti menyelamatkan organisasi dari ancaman pembubaran pasca peristiwa G30S/PKI tahun 1965.

  3. Pengembangan Pencak Silat sebagai Olahraga
    Di bawah kepemimpinannya, PSHT mulai aktif dalam gelanggang pertandingan dan menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya seni bela diri, melainkan juga sarana pembentukan karakter bangsa.

  4. Perumusan Tata Organisasi dan Disiplin Warga
    Santoso memperkuat struktur administratif dan menanamkan budaya disiplin, kesetiaan, serta tanggung jawab moral pada setiap anggota.

Transisi dan Warisan (1966)

Pada tahun 1966, setelah badai politik nasional mereda, Santoso dengan lapang dada menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada R.M. Soetomo Mangkoedjojo, sosok senior yang dihormati di seluruh lingkaran Setia Hati. Penyerahan ini bukan tanda akhir, melainkan suksesi strategis demi keselamatan organisasi.

Langkahnya mencerminkan filosofi luhur PSHT yaitu “eling marang dalane” yang berarti sadar terhadap jalan yang harus ditempuh demi kebaikan bersama. Ia mundur bukan karena kalah melainkan karena telah menuntaskan tugas menjaga nyala obor agar dapat diteruskan dengan aman oleh penerusnya.

Santoso Kartoatmodjo wafat pada Minggu Wage tanggal 25 bulan Februari tahun 1990 di Surabaya pada usia 80 tahun dan dimakamkan di kota yang sama. Beliau meninggalkan seorang istri bernama Ibu Sumini serta dikaruniai sebelas orang anak, terdiri dari sembilan putra dan dua putri, yaitu:

  1. Soesanto Pudyodarmo
  2. Soeseno Darmosasono
  3. Soewignyo Dibyomartono
  4. Soeyadi Purboyono (disahkan bersama R.M. Imam Koesoepangat)
  5. Sundari Miliarti
  6. Sulistyo Budihardjo
  7. Soetopo Risharyono (beralamat di Jl. Semampir Tengah Gg. II No. 31, Surabaya)
  8. Suci Lestari Rahayu
  9. Subandrio Herrin Ismono
  10. Nanang Soediro Edisartono
  11. Seorang anak terakhir yang meninggal saat lahir

Keluarga besar beliau dikenal melanjutkan nilai-nilai pendidikan, etika, dan semangat pengabdian sebagaimana diwariskan oleh orang tuanya. Meskipun menekuni berbagai bidang profesi, seluruh keturunannya tetap memegang teguh nilai-nilai Setia Hati, khususnya dalam menjaga kesederhanaan, kejujuran, dan semangat kekeluargaan yang menjadi ciri khas ajaran PSHT.

Penjaga Kesinambungan PSHT

Kepemimpinan Santoso Kartoatmodjo bukanlah tentang kebesaran pribadi, melainkan tentang kesetiaan dan pengorbanan senyap demi kelangsungan organisasi. Dalam dekade yang penuh prahara, ia menjadi nakhoda yang tenang di tengah badai, menuntun PSHT melewati ujian ideologi, politik, dan sejarah dengan selamat.

Ia memastikan bahwa nilai-nilai Setia Hati tetap hidup, bahwa persaudaraan tidak goyah meski diterpa prahara, dan bahwa api warisan Ki Hadjar Hardjo Oetomo tetap menyala dalam lentera PSHT.

“Santoso Kartoatmodjo bukan hanya pemimpin pada masa sulit,
melainkan penjaga api yang memastikan Setia Hati tetap menyala
untuk generasi berikutnya.”

Post a Comment