Perbedaan Kurva S Rencana dan Realisasi: Cara Membaca Deviasi
Perbedaan Kurva S Rencana dan Realisasi: Cara Membaca Deviasi
Kurva S rencana adalah target progres fisik kumulatif proyek yang disusun di awal kontrak, sedangkan kurva S realisasi adalah progres aktual yang tercatat di lapangan; selisih keduanya disebut deviasi. Setelah memahami cara membuat dan membaca kurva S, langkah berikutnya adalah membaca deviasi dengan benar, karena pada kontrak konstruksi pemerintah deviasi negatif yang melewati ambang tertentu membuat kontrak dinyatakan kritis.
Apa Perbedaan Kurva S Rencana dan Kurva S Realisasi?
Keduanya digambar pada grafik yang sama: waktu (minggu atau bulan) pada sumbu horizontal dan progres fisik kumulatif (%) pada sumbu vertikal. Dengan begitu, posisi keduanya dapat dibandingkan langsung pada setiap titik waktu. Bentuknya menyerupai huruf S karena progres umumnya lambat di awal, cepat di tengah, dan melandai menjelang akhir.
| Aspek | Kurva Rencana | Kurva Realisasi |
|---|---|---|
| Pengertian | Target progres kumulatif yang seharusnya dicapai pada setiap waktu | Progres yang benar-benar tercapai di lapangan |
| Dasar penyusunan | Bobot pekerjaan (umumnya persentase nilai tiap item terhadap total nilai kontrak) dan durasi tiap item dalam jadwal | Volume pekerjaan terpasang, dikonversi ke persen dengan bobot yang sama seperti rencana |
| Waktu pembuatan | Di awal kontrak, sebelum pelaksanaan dimulai | Diisi bertahap setiap periode pelaporan (umumnya mingguan) |
| Bentuk | Digambar penuh sampai 100% pada akhir durasi rencana | Berhenti pada periode pelaporan terakhir |
| Perubahan | Tetap sebagai acuan; berubah hanya bila kontrak diubah melalui adendum, misalnya perpanjangan waktu | Mengikuti kondisi lapangan |
| Fungsi | Tolok ukur pengendalian waktu | Pembanding terhadap rencana untuk menghitung deviasi |
Cara Membaca Deviasi Kurva S
Deviasi adalah selisih progres realisasi dan rencana pada waktu yang sama.
Rumus dan Satuan Deviasi
- Progres fisik. Yang dibandingkan adalah progres fisik pekerjaan, bukan progres keuangan atau nilai pembayaran.
- Poin persentase. Deviasi dinyatakan dalam selisih poin. Realisasi 43% terhadap rencana 50% berarti deviasi −7% (7 poin), bukan −14% (7 dibagi 50).
- Tanda. Dengan rumus ini, deviasi negatif berarti terlambat dan deviasi positif berarti lebih cepat. Periksa konvensi tanda pada laporan atau dokumen kontrak yang Anda pakai.
Pada contoh berikut (data ilustrasi proyek 40 minggu), rencana pada minggu ke-20 adalah 50% sedangkan realisasi baru 43%. Deviasinya 43 − 50 = −7%: realisasi berada di bawah rencana, artinya proyek terlambat 7 poin persentase. Kurva realisasi hanya digambar sampai minggu pelaporan terakhir (minggu ke-30); sisanya masih berupa rencana.
Data ilustrasi proyek 40 minggu. Garis dimensi menunjukkan deviasi −7% pada minggu ke-20.
Arti Deviasi Positif, Nol, dan Negatif
| Nilai Deviasi | Arti | Posisi Kurva Realisasi | Contoh (minggu ke-20) |
|---|---|---|---|
| Positif (+) | Progres lebih cepat dari rencana | Di atas kurva rencana | Realisasi 57%, rencana 50%: +7% |
| Nol (0) | Progres sesuai rencana | Berimpit dengan kurva rencana | Realisasi 50%, rencana 50%: 0 |
| Negatif (−) | Progres terlambat dari rencana | Di bawah kurva rencana | Realisasi 43%, rencana 50%: −7% |
Satu nilai deviasi hanyalah potret satu periode pelaporan. Perhatikan juga tren: selisih yang melebar dari minggu ke minggu menandakan keterlambatan yang memburuk, sedangkan selisih yang menyempit menandakan upaya percepatan mulai berhasil.
Data ilustrasi: deviasi +7%, 0, dan −7% dibaca pada minggu ke-20 dengan kurva rencana yang sama.
Ambang Deviasi Kontrak Kritis
Pada kontrak konstruksi pemerintah, deviasi negatif yang melewati ambang tertentu membuat kontrak dinyatakan kontrak kritis. Ketentuan ini bersumber dari Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) pada standar dokumen pengadaan jasa konstruksi, antara lain Permen PUPR No. 14 Tahun 2020, dan dijabarkan dalam SOP Kontrak Kritis Ditjen Bina Marga (SOP/UPM/DJBM-110 Rev:02). Kerangka umum pengadaannya adalah Perpres No. 16 Tahun 2018 yang telah diubah dengan Perpres No. 12 Tahun 2021 dan Perpres No. 46 Tahun 2025. Ambang yang berlaku pada kontrak Anda tetap ditentukan oleh klausul kontrak masing-masing, sehingga kontrak di luar standar tersebut dapat memakai angka lain.
Tiga Kondisi Kontrak Kritis
| Kondisi | Rencana Fisik | Kontrak dinyatakan kritis bila | Deviasi |
|---|---|---|---|
| I | 0–70% | Realisasi fisik terlambat lebih dari 10% dari rencana | Lebih kecil dari −10% |
| II | 70–100% | Realisasi fisik terlambat lebih dari 5% dari rencana | Lebih kecil dari −5% |
| III | 70–100% | Terlambat kurang dari 5%, tetapi pekerjaan dipastikan melewati tahun anggaran berjalan | Negatif, namun tidak sampai −5% |
Dalam SOP, ketiga kondisi ini disebut Periode I, II, dan III. Dua hal perlu diperhatikan saat memakainya:
- Periode ditentukan oleh rencana fisik, bukan waktu. Yang dilihat adalah posisi pada kurva rencana saat evaluasi. Karena kurva S tidak linear, rencana fisik 70% umumnya tidak tercapai pada 70% durasi kontrak.
- Ambang mengetat di akhir kontrak. Semakin dekat ke akhir, semakin sempit ruang untuk mengejar ketertinggalan, sehingga batas keterlambatan turun dari 10% menjadi 5%.
Contoh: Deviasi −7% yang Sama, Status Berbeda
Dengan data ilustrasi yang sama, deviasi −7% muncul pada dua waktu berbeda. Statusnya berbeda karena keduanya berada pada periode yang berbeda:
| Minggu | Rencana | Realisasi | Deviasi | Periode | Ambang | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 20 | 50% | 43% | −7% | I (rencana 50%, di bawah 70%) | −10% | Belum kritis |
| 30 | 89% | 82% | −7% | II (rencana 89%, di atas 70%) | −5% | Kritis |
Pada kurva ilustrasi ini, rencana fisik mencapai 70% di antara minggu ke-24 dan ke-25 (sekitar 61% durasi), bukan di minggu ke-28 yang merupakan 70% durasi. Setelah batas itu, deviasi yang sama sudah masuk zona kritis karena ambangnya mengetat menjadi −5%.
Data ilustrasi proyek 40 minggu. Kondisi III tidak digambarkan.
Contoh nyata: sebuah studi pada proyek preservasi jalan Girian–Kema–Rumbia–Buyat tahun 2024 mencatat kontrak dinyatakan kritis pada 20 Oktober 2024 dengan rencana 83,48%, realisasi 77,16%, dan deviasi −6,32%, yang tergolong Periode II. Penyebabnya adalah kekurangan tenaga kerja dan peralatan penyedia.
Tahapan Setelah Kontrak Dinyatakan Kritis
Bila kontrak dinyatakan kritis akibat kelalaian penyedia, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) wajib melaksanakan Show Cause Meeting (SCM) atau rapat pembuktian. Forum ini memberi kesempatan kepada penyedia untuk memperbaiki kinerja tanpa pemutusan kontrak. Urutannya, merujuk SOP Bina Marga sebagaimana diuraikan dalam studi kasus Girian:
- PPK menerbitkan surat peringatan pertama kepada penyedia.
- SCM tahap I: PPK dan penyedia menyepakati target kemajuan fisik yang harus dicapai dalam masa uji coba (test case), yang pada SOP yang dirujuk studi tersebut paling lama 30 hari kalender. Hasilnya dituangkan dalam berita acara.
- Bila uji coba tahap I gagal, PPK menerbitkan surat peringatan kedua, lalu SCM tahap II digelar dengan target baru.
- Bila tahap II gagal, PPK menerbitkan surat peringatan ketiga, lalu SCM tahap III digelar.
- Bila uji coba tahap III juga gagal, PPK melaporkan kontrak kritis kepada pimpinan di atasnya untuk dimintakan pertimbangan, dan kontrak dapat diputus sesuai prosedur pemutusan kontrak.
Jumlah tahap, jangka waktu, dan pihak yang dilibatkan mengikuti kontrak dan SOP instansi masing-masing. Pada kasus Girian, uji coba tahap I tidak mencapai target, tetapi tahap II berhasil sehingga kontrak tidak berlanjut ke pemutusan.
Kapan SCM Berlaku, dan Kapan Tidak?
SCM diterapkan bila keterlambatan disebabkan kelalaian penyedia. Jika penyebabnya force majeure, berlaku ketentuan khusus dalam kontrak. Jika penyebabnya pengguna jasa (owner), berlaku ketentuan kompensasi. Karena penyebab itulah yang menentukan tindak lanjutnya, catat penyebab setiap deviasi sejak dini beserta buktinya.
Tindakan Koreksi saat Terjadi Deviasi Negatif
Jangan tertukar antara jalur kritis dan kontrak kritis. Jalur kritis (critical path) adalah rangkaian item pekerjaan yang menentukan durasi proyek, sedangkan kontrak kritis adalah status kontrak akibat deviasi yang melewati ambang.
- Identifikasi item pekerjaan yang paling berkontribusi terhadap keterlambatan, terutama yang berada pada jalur kritis.
- Lakukan percepatan (crashing) dengan menambah tenaga kerja, shift kerja, atau alat pada item kritis. Percepatan umumnya menambah biaya, jadi fokuskan pada item yang benar-benar memperpendek durasi proyek.
- Evaluasi ulang metode pelaksanaan bila keterlambatan disebabkan masalah teknis, bukan sekadar kekurangan sumber daya.
- Susun rencana percepatan (recovery plan) yang realistis dan terukur, lalu perbarui kurva S secara berkala untuk memantau hasilnya.
Kesimpulan dan Langkah Praktis
Kurva rencana adalah acuan, kurva realisasi adalah kenyataan lapangan, dan deviasi adalah selisih keduanya dalam poin persentase. Agar deviasi benar-benar berguna:
- Perbarui kurva realisasi secara rutin dan baca deviasi sebagai tren, bukan angka satu minggu.
- Tentukan dulu periode berdasarkan rencana fisik, baru bandingkan deviasi dengan ambangnya (−10% pada Periode I, −5% pada Periode II).
- Periksa klausul kontrak untuk ambang, tahapan SCM, dan sanksi yang berlaku.
- Fokuskan koreksi pada jalur kritis dan catat penyebab keterlambatan sebagai dasar tindak lanjut.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa perbedaan kurva S rencana dan realisasi?
Kurva S rencana adalah target progres fisik kumulatif yang disusun di awal kontrak dari bobot dan durasi pekerjaan. Kurva S realisasi adalah progres fisik yang benar-benar tercapai di lapangan. Selisih keduanya pada waktu yang sama disebut deviasi.
Kurva S realisasi di bawah rencana artinya apa?
Artinya deviasi negatif, yaitu progres lebih lambat dari rencana. Namun belum tentu kontrak berstatus kritis, karena statusnya bergantung pada besar deviasi dan pada periode rencana fisik saat evaluasi.
Berapa persen deviasi yang membuat kontrak kritis?
Menurut SOP Kontrak Kritis Ditjen Bina Marga (SOP/UPM/DJBM-110 Rev:02) yang bersumber dari SSUK, kontrak kritis bila: (1) rencana fisik 0–70% dan keterlambatan lebih dari 10% (deviasi lebih kecil dari −10%); (2) rencana fisik 70–100% dan keterlambatan lebih dari 5% (deviasi lebih kecil dari −5%); atau (3) rencana fisik 70–100%, keterlambatan kurang dari 5%, tetapi pekerjaan dipastikan melewati tahun anggaran berjalan. Selalu periksa klausul pada kontrak Anda.
Apa yang terjadi setelah kontrak dinyatakan kritis?
PPK menerbitkan surat peringatan dan menggelar Show Cause Meeting (SCM) untuk menyepakati target uji coba (test case). Bila uji coba gagal, prosesnya berlanjut ke SCM tahap berikutnya hingga tahap III, dan pada akhirnya kontrak dapat diputus sesuai ketentuan kontrak.
Apakah semua keterlambatan proyek otomatis memicu SCM?
Tidak. SCM berlaku bila keterlambatan disebabkan kelalaian penyedia jasa. Bila penyebabnya force majeure, berlaku ketentuan khusus dalam kontrak. Bila penyebabnya pengguna jasa (owner), berlaku ketentuan kompensasi.
Apakah deviasi positif selalu baik?
Umumnya baik karena progres lebih cepat dari rencana, tetapi pastikan kualitas pekerjaan tidak dikorbankan demi kecepatan dan hasilnya tetap sesuai spesifikasi teknis.
Apa bedanya deviasi kurva S dengan SV dan SPI?
Dalam earned value management, schedule variance (SV) adalah selisih nilai pekerjaan terselesaikan (EV) dan nilai rencana (PV), sedangkan schedule performance index (SPI) adalah rasionya (EV ÷ PV). Jika bobot pekerjaan dihitung dari nilai kontrak, deviasi kurva S setara dengan SV dalam persen nilai kontrak. Pada contoh minggu ke-20, deviasi = −7% dan SPI = 43 ÷ 50 = 0,86. Ambang kontrak kritis memakai selisih (poin persentase), bukan rasio.
Kapan kurva rencana boleh diubah?
Kurva rencana yang menjadi acuan kontrak berubah hanya bila kontrak diubah melalui adendum, misalnya karena perpanjangan waktu atau perubahan lingkup, sesuai ketentuan kontrak.
Lihat Juga
- Cara Membuat dan Membaca Kurva S Proyek
- Cara Menghitung Bobot Pekerjaan Proyek
- Perbedaan RAB, RAP, EE, dan BOQ
Referensi
- Ervianto, W. I. (2005). Manajemen Proyek Konstruksi (Edisi Revisi). Yogyakarta: Andi.
- Peraturan Menteri PUPR No. 14 Tahun 2020 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi Melalui Penyedia. https://binamarga.pu.go.id/index.php/peraturan/detail/peraturan-menteri-pekerjaan-umum-dan-perumahan-rakyat-nomor-14-tahun-2020-tentang-standar-dan-pedoman-pengadaan-jasa-konstruksi-melalui-penyedia
- Direktorat Jenderal Bina Marga (2023). SOP/UPM/DJBM-110 Rev:02 tentang Standar Operasional Prosedur Kontrak Kritis. Portal NSPK Bina Marga: https://binamarga.pu.go.id/index.php/nspk/all/170
- Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. https://peraturan.bpk.go.id/Details/73586/perpres-no-16-tahun-2018
- Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018. https://peraturan.bpk.go.id/Details/161828/perpres-no-12-tahun-2021
- Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2025 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden No. 16 Tahun 2018. https://peraturan.bpk.go.id/Details/318647/perpres-no-46-tahun-2025
- Martalata, A., Thambas, A. H., & Mananoma, T. (2026). Pelaksanaan Show Case Meeting (SCM) pada Proyek Preservasi Jalan Girian–Kema–Rumbia–Buyat 2024. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Teknik, 5(1), 366–376. https://prin.or.id/index.php/JURRITEK/article/view/7554
- Sudiro, H., Ophiyandri, T., & Hidayat, B. (2026). Pengaruh Implementasi Show Cause Meeting pada Proyek Jalan dan Jembatan Provinsi Sumatera Barat. Menara: Jurnal Teknik Sipil, 21(1), 21–28. https://doi.org/10.21009/jmenara.v21i1.55303
- Project Management Institute. The practical calculation of schedule variance in terms of schedule. PMI Learning Library: https://www.pmi.org/learning/library/practical-calculation-schedule-variance-7028