Mutu Baja Tulangan BjTP dan BjTS (SNI 2052:2017)
Baja Tulangan Beton: Mutu BjTP dan BjTS Menurut SNI 2052
Baja tulangan beton adalah batang baja berpenampang bundar yang ditanam di dalam beton untuk menahan gaya tarik, karena beton kuat menahan tekan tetapi lemah terhadap tarik. Di Indonesia, mutu dan ukurannya diatur dalam SNI 2052 yang membagi baja tulangan menjadi BjTP (baja tulangan polos) dan BjTS (baja tulangan sirip atau ulir), masing-masing dengan kelas mutu berdasarkan tegangan leleh (fy). Persyaratan jenis, kelas mutu, sifat mekanis, ukuran, toleransi, dan penandaannya diatur dalam SNI 2052.
Fungsi Baja Tulangan pada Beton Bertulang
Pada elemen beton bertulang seperti balok, pelat, kolom, dan fondasi, beton menahan gaya tekan sedangkan baja tulangan menahan gaya tarik dan membantu menahan geser lewat sengkang. Agar keduanya bekerja sebagai satu kesatuan, tulangan harus menempel baik dengan beton (lekatan atau bond) dan terlindungi oleh selimut beton. Kelas mutu tulangan juga harus selaras dengan mutu beton dan asumsi perhitungan struktur.
Dalam keseharian baja tulangan sering disebut besi beton, besi ulir (untuk BjTS), atau besi polos (untuk BjTP). Istilah baku di standar adalah baja tulangan beton, yaitu baja karbon atau baja paduan berbentuk batang bundar dengan permukaan polos atau sirip/ulir, yang diproduksi dari billet baja dengan cara canai panas (hot rolling).
Standar yang Mengatur: SNI 2052
SNI 2052 menetapkan syarat mutu dan cara uji baja tulangan beton untuk konstruksi beton bertulang. SNI 2052:2024 merupakan revisi dari SNI 2052:2017. Pemberlakuan SNI baja tulangan beton secara wajib diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 55 Tahun 2024, dengan pengecualian tertentu sebagaimana tercantum dalam peraturan tersebut. Karena standar dapat direvisi sewaktu-waktu, pastikan selalu edisi yang berlaku pada dokumen kontrak dan spesifikasi proyek.
Perubahan utama pada edisi 2024 dibandingkan edisi 2017:
- Kelas BjTS 420A dihapus, sehingga kelas 420 hanya satu, yaitu BjTS 420.
- Penambahan ukuran baja tulangan polos P 38.
- Penyesuaian sifat mekanis kelas BjTS 550 dan BjTS 690.
- Perubahan ketentuan panjang dan toleransi panjang.
- Penambahan unsur paduan bila dibutuhkan, serta penyesuaian istilah dan definisi.
Catatan untuk dokumen lama: pada SNI 2052:2017, kelas 420 dibedakan menjadi BjTS 420A dan BjTS 420B. Berdasarkan perbandingan tabel sifat mekanis kedua edisi, persyaratan BjTS 420 pada edisi 2024 (regangan minimum 14/12/10% menurut rentang diameter dan rasio TS/YS minimum 1,25) sama dengan yang sebelumnya disyaratkan untuk BjTS 420B. Meski demikian, gambar kerja atau spesifikasi lama yang menyebut BjTS 420A atau 420B tetap perlu dikonfirmasi kepada perencana.
Jenis Baja Tulangan: BjTP dan BjTS
| Aspek | BjTP (polos) | BjTS (sirip/ulir) |
|---|---|---|
| Permukaan | Rata, tidak bersirip | Bersirip/ulir melintang, dapat disertai sirip membujur |
| Lekatan dengan beton | Lebih rendah; umumnya mengandalkan kait pada ujung untuk penjangkaran | Lebih tinggi karena sirip mengunci terhadap beton |
| Kelas mutu | BjTP 280 | BjTS 280, 420, 520, 550, 690 |
| Penamaan ukuran | P 6 sampai P 50 | S 6 sampai S 57 |
| Penggunaan lazim | Sengkang, tulangan susut, dan tulangan praktis | Tulangan utama penahan tarik |
Pada gambar kerja, ukuran lazim ditulis dengan simbol Ø untuk polos (misalnya Ø10) dan D untuk sirip (misalnya D13).
Selain batang, tulangan beton juga tersedia dalam bentuk anyaman las atau wiremesh yang lazim dipakai untuk pelat dan perkerasan. Produk ini terpisah dari baja tulangan batang; beratnya dibahas pada tabel berat wiremesh.
Penamaan dan Kelas Mutu
Angka pada kelas menyatakan tegangan leleh (fy) minimum dalam MPa. Contohnya, BjTS 420 adalah baja tulangan sirip dengan fy minimum 420 MPa. Standar juga membatasi fy maksimum dan menetapkan kuat tarik (fu) minimum untuk tiap kelas.
| Kelas | Jenis | fy min. (MPa) | fy maks. (MPa) | fu min. (MPa) |
|---|---|---|---|---|
| BjTP 280 | Polos | 280 | 405 | 350 |
| BjTS 280 | Sirip | 280 | 405 | 350 |
| BjTS 420 | Sirip | 420 | 545 | 525 |
| BjTS 520 | Sirip | 520 | 645 | 650 |
| BjTS 550 | Sirip | 550 | 675 | 687,5 |
| BjTS 690 | Sirip | 690 | 815 | 805 |
Pola penamaan berdasarkan fy juga dipakai pada standar internasional seperti ASTM A615/A615M, sehingga istilah "Grade 420" kurang lebih sejajar dengan BjTS 420. Namun persyaratan rincinya tidak identik, jadi tetap rujuk spesifikasi proyek.
Sifat Mekanis Baja Tulangan
Sifat mekanis diperiksa dengan uji tarik (mengacu SNI 8389) dan uji lengkung (mengacu SNI 410). Bila baja tidak punya titik leleh yang jelas, fy ditentukan dengan metode offset 0,2%. Benda uji tidak boleh dibubut untuk memperkecil diameter.
| Kelas | Regangan minimum dalam 200 mm (%) | Rasio TS/YS minimum |
|---|---|---|
| BjTP 280 | 11 (d ≤ 10 mm); 12 (d ≥ 12 mm) | – |
| BjTS 280 | 11 (d ≤ 10 mm); 12 (d ≥ 13 mm) | 1,25 |
| BjTS 420 | 14 (d ≤ 19 mm); 12 (22 ≤ d ≤ 36 mm); 10 (d > 36 mm) | 1,25 |
| BjTS 520 | 7 (d ≤ 25 mm); 6 (d ≥ 29 mm) | 1,25 |
| BjTS 550 | 12 (6 ≤ d ≤ 36 mm); 10 (d > 36 mm) | 1,25 |
| BjTS 690 | 10 | 1,17 |
Rasio TS/YS adalah perbandingan kuat tarik terhadap kuat leleh hasil uji. Nilai yang lebih besar menandakan baja masih punya cadangan kekuatan setelah leleh, sehingga umumnya dipakai sebagai indikator daktilitas. Batas fy maksimum juga penting karena kekuatan aktual baja yang jauh melebihi asumsi perencanaan dapat mengubah perilaku elemen, terutama pada perencanaan tahan gempa.
Pada uji lengkung, benda uji dilengkungkan mengelilingi batang pelengkung berdiameter tertentu (kelipatan diameter nominal d) dan sisi luar lengkungan tidak boleh retak:
| Kelas | d ≤ 16 mm | 19 ≤ d ≤ 25 mm | 29 ≤ d ≤ 36 mm | d > 36 mm |
|---|---|---|---|---|
| BjTP 280 dan BjTS 280 | 3,5d | 5d | 5d | 5d |
| BjTS 420 | 3,5d | 5d | 7d | 9d (90°) |
| BjTS 520 | 5d | 5d | 7d | 9d (90°) |
| BjTS 550 | 3,5d | 5d | 7d | 9d |
| BjTS 690 | 3,5d | 5d | 7d | 9d |
Sudut lengkung 180°, kecuali yang tertulis 90° (BjTS 420 dan BjTS 520 untuk d > 36 mm).
Komposisi Kimia
Baja tulangan dibuat dari billet baja tuang kontinu dengan komposisi kimia (analisis cairan atau ladle analysis) yang dibuktikan lewat sertifikat bahan baku (mill certificate). Batas maksimum unsur menurut kelas:
| Kelas | C | Si | Mn | P | S | Ceq |
|---|---|---|---|---|---|---|
| BjTP 280 / BjTS 280 | – | – | – | 0,050 | 0,050 | – |
| BjTS 420 | 0,32 | 0,55 | 1,65 | 0,050 | 0,050 | 0,600 |
| BjTS 520 | 0,35 | 0,55 | 1,65 | 0,050 | 0,050 | 0,625 |
| BjTS 550 | 0,33 | 0,55 | 1,65 | 0,050 | 0,050 | 0,625 |
| BjTS 690 | 0,33 | 0,55 | 1,65 | 0,050 | 0,050 | 0,625 |
Satuan % berat. Kadar karbon pada produk jadi diperbolehkan melebihi nilai maksimum hingga 0,03%. BjTS 690 boleh ditambah unsur paduan seperti Cu, Ni, Cr, Mo, V, Nb, Ti, atau Zr sesuai kebutuhan.
Karbon ekuivalen (Ceq) dihitung dengan rumus berikut dan umumnya dipakai sebagai indikator mampu las; semakin rendah, semakin mudah baja dilas:
Ukuran Nominal dan Berat per Meter
Ukuran dinyatakan dengan diameter nominal (d) dalam mm. Baja tulangan polos tersedia dalam P 6, 8, 10, 12, 14, 16, 19, 22, 25, 28, 32, 36, 38, 40, dan 50, sedangkan baja tulangan sirip tersedia dalam S 6, 8, 10, 13, 16, 19, 22, 25, 29, 32, 36, 40, 43, 50, 54, dan 57.
Luas penampang dan berat nominal dihitung dari diameter nominal. Untuk baja tulangan sirip, diameter nominal hanya dipakai menghitung parameter nominal dan tidak perlu diukur; kesesuaian ukuran dikonfirmasi lewat penimbangan berat per satuan panjang.
Berat nominal = 0,785 × 0,7854 × d² / 100 ≈ 0,00617 × d² (kg/m), dengan d dalam mm
Rumus berat tersebut memakai massa jenis baja sekitar 7.850 kg/m³ (setara berat jenis 78,5 kN/m³). Berat per meter hanya ditentukan oleh diameter, bukan oleh kelas mutu, sehingga BjTS 280 dan BjTS 550 dengan diameter sama memiliki berat sama. Daftar berat lengkap untuk semua diameter dapat dilihat pada tabel berat besi beton. Berikut ukuran sirip yang paling sering dipakai:
| Penamaan | Diameter nominal (mm) | Luas penampang nominal (mm²) | Berat nominal (kg/m) |
|---|---|---|---|
| S 10 | 10 | 79 | 0,617 |
| S 13 | 13 | 133 | 1,042 |
| S 16 | 16 | 201 | 1,578 |
| S 19 | 19 | 284 | 2,226 |
| S 22 | 22 | 380 | 2,984 |
| S 25 | 25 | 491 | 3,853 |
| S 29 | 29 | 661 | 5,185 |
| S 32 | 32 | 804 | 6,313 |
Contoh: satu batang S 16 sepanjang 12 m memiliki berat nominal 1,578 kg/m × 12 m ≈ 18,94 kg. Pembelian baja tulangan umumnya dihitung per kilogram atau per batang, sehingga berat nominal per meter berguna untuk mengonversi kebutuhan panjang tulangan menjadi kilogram dan membandingkan penawaran secara adil. Harga sendiri berubah mengikuti pasar sehingga tidak dicantumkan di sini; untuk acuan harga material secara umum, lihat daftar harga bahan bangunan.
Toleransi Berat, Diameter, dan Panjang
Toleransi berat per batang BjTS dihitung dari selisih berat nominal dan berat aktual:
| Diameter nominal (mm) | Toleransi berat per batang |
|---|---|
| 6 ≤ d ≤ 8 | ± 7% |
| 10 ≤ d ≤ 13 | ± 6% |
| 16 ≤ d ≤ 29 | ± 5% |
| d > 29 | ± 4% |
Contoh: batang S 13 sepanjang 12 m berat nominalnya 1,042 × 12 ≈ 12,50 kg. Dengan toleransi ±6%, berat aktual yang masih diterima berkisar 11,75 sampai 13,25 kg.
Toleransi diameter BjTP (diukur pada tiga titik lalu dirata-rata) dan penyimpangan kebundaran maksimum:
| Diameter (mm) | Toleransi (mm) | Penyimpangan kebundaran maks. (mm) |
|---|---|---|
| 6 | ± 0,3 | 0,42 |
| 8 ≤ d ≤ 14 | ± 0,4 | 0,56 |
| 16 ≤ d ≤ 25 | ± 0,5 | 0,70 |
| 28 ≤ d ≤ 32 | ± 0,6 | 0,84 |
| d ≥ 36 | ± 0,8 | 1,12 |
Toleransi panjang hanya ke arah positif (tidak boleh kurang dari panjang nominal):
| Panjang P (m) | Toleransi panjang (mm) |
|---|---|
| 2 ≤ P < 6 | +40 / 0 |
| 6 ≤ P < 10 | +50 / 0 |
| 10 ≤ P ≤ 15 | +70 / 0 |
Batang 12 m yang lazim beredar di pasar termasuk dalam rentang 10 sampai 15 m dengan toleransi +70 mm.
Bentuk Sirip/Ulir
Sirip pada BjTS berfungsi meningkatkan daya lekat dan menahan gerakan membujur batang relatif terhadap beton. Ketentuan bentuknya antara lain:
- Sirip melintang teratur, berjarak seragam, dengan bentuk dan ukuran yang sama sepanjang batang.
- Sirip melintang tidak boleh membentuk sudut kurang dari 45° terhadap sumbu batang.
- Jarak sirip melintang maksimum 0,70d, dan tinggi sirip antara 0,05d dan 0,10d.
- Standar mengenal tiga pola sirip: bambu, curam, dan tulang ikan.
Penandaan dan Kode Warna
Setiap batang diberi marking huruf timbul (emboss) yang menunjukkan merek pabrik dan diameter nominal. Ujung penampang juga dicat dengan warna yang tidak mudah hilang sesuai kelas baja:
| Kelas | Warna ujung |
|---|---|
| BjTP 280 dan BjTS 280 | Hitam |
| BjTS 420 | Merah |
| BjTS 520 | Hijau |
| BjTS 550 | Putih |
| BjTS 690 | Biru |
BjTP 280 dan BjTS 280 sama-sama berwarna hitam, jadi bedakan keduanya dari permukaannya (polos atau bersirip). Label kemasan harus memuat nama dan merek, ukuran (diameter dan panjang), kelas baja, nomor leburan (heat number), serta tanggal, bulan, dan tahun produksi. Satu kemasan hanya berisi ukuran, jenis, dan kelas yang sama, diikat kuat dan rapi.
Memilih Kelas Mutu
- BjTS 420 adalah kelas yang paling umum dipakai sebagai tulangan utama struktur beton bertulang.
- BjTP 280 dan BjTS 280 lazim untuk sengkang, tulangan susut, dan tulangan praktis.
- BjTS 520, 550, dan 690 adalah mutu tinggi untuk kebutuhan khusus. Pastikan perencana memang mengasumsikan fy tersebut dan penggunaannya diizinkan oleh SNI 2847 serta ketentuan proyek, terutama untuk elemen penahan gempa.
- Jangan memilih kelas hanya berdasarkan ketersediaan di pasar; kelas harus sesuai fy yang dipakai dalam perhitungan.
- Hindari mencampur kelas mutu pada satu elemen tanpa dasar perhitungan.
Pengambilan Contoh dan Pengujian menurut SNI
Dalam SNI 2052, contoh uji diambil secara acak oleh petugas pengambil contoh: satu contoh untuk setiap kelompok dengan nomor leburan dan ukuran yang sama, atau satu contoh per 25 ton (dan kelipatannya) untuk kelompok campuran nomor leburan pada ukuran dan kelas yang sama. Contoh diambil dari bagian tengah batang, tidak boleh dipotong dengan cara panas, dan panjang contoh uji mekanis maksimum 1,5 m. Kelompok dinyatakan lulus bila semua syarat terpenuhi. Jika sebagian syarat tidak terpenuhi, dilakukan uji ulang dengan contoh dua kali jumlah semula dari kelompok yang sama.
Ketentuan pengambilan contoh di atas ditujukan untuk sertifikasi produk. Jumlah dan frekuensi uji di proyek mengikuti spesifikasi teknis proyek.
Cara Memeriksa Baja Tulangan di Lapangan
Pemeriksaan ini umumnya dilakukan oleh quality control atau pengawas lapangan saat material tiba di proyek, sebelum baja tulangan dipasang.
- Periksa label dan mill certificate. Samakan merek, ukuran, kelas, dan nomor leburan pada label kemasan dengan sertifikat pabrik.
- Periksa marking dan warna ujung. Pastikan merek, diameter nominal, dan warna ujung sesuai kelas yang dipesan.
- Periksa kondisi visual. Permukaan tidak boleh memiliki serpihan, lipatan, retakan, gelombang, atau cerna, dan hanya boleh berkarat ringan, yaitu karat cuaca yang hilang tanpa cacat bila disikat kawat.
- Timbang sampel. Ukur panjang dan timbang beberapa batang, hitung berat per meter, lalu bandingkan dengan berat nominal dan toleransinya.
- Lakukan uji tarik dan uji lengkung di laboratorium bila disyaratkan spesifikasi proyek, lalu bandingkan hasilnya dengan syarat sifat mekanis kelas yang dimaksud.
Kesimpulan dan Rekomendasi Engineer
Ringkasan: BjTP polos dipakai untuk tulangan sekunder seperti sengkang, sedangkan BjTS sirip dipakai sebagai tulangan utama. Kelas mutu ditentukan oleh fy minimum, dan SNI 2052:2024 mengatur kelas BjTP 280 serta BjTS 280, 420, 520, 550, dan 690. Rekomendasi praktis:
- Pastikan kelas dan fy tulangan sesuai yang diasumsikan dalam perhitungan struktur dan dokumen kontrak.
- Konfirmasi edisi SNI 2052 yang berlaku, terutama bila memakai gambar kerja lama yang menyebut BjTS 420A atau 420B.
- Periksa label, marking, kode warna, dan mill certificate saat material diterima.
- Cocokkan berat per meter hasil timbang dengan berat nominal dan toleransinya.
- Jangan mencampur kelas mutu pada elemen yang sama tanpa dasar perhitungan.
Angka yang disajikan merupakan ringkasan. Untuk keperluan kontrak, pengujian, dan sertifikasi, rujuk dokumen SNI resmi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu baja tulangan beton?
Baja tulangan beton adalah batang baja karbon atau baja paduan berpenampang bundar, berpermukaan polos atau bersirip, yang ditanam dalam beton untuk menahan gaya tarik.
Apa perbedaan BjTP dan BjTS?
BjTP adalah baja tulangan polos berpermukaan licin yang lazim dipakai untuk sengkang, sedangkan BjTS adalah baja tulangan sirip atau ulir yang lekatannya dengan beton lebih baik sehingga dipakai sebagai tulangan utama.
Apa arti angka pada BjTS 420?
Angka 420 menunjukkan tegangan leleh minimum (fy) sebesar 420 MPa, dengan fy maksimum 545 MPa dan kuat tarik minimum 525 MPa menurut SNI 2052:2024.
Apa saja kelas mutu baja tulangan menurut SNI 2052?
SNI 2052:2024 memuat kelas BjTP 280 untuk polos serta BjTS 280, BjTS 420, BjTS 520, BjTS 550, dan BjTS 690 untuk sirip. BjTS 420 adalah yang paling umum dipakai sebagai tulangan utama.
Apa beda BjTS 420A dan BjTS 420B?
Keduanya adalah kelas pada SNI 2052:2017 dengan syarat daktilitas berbeda, di mana 420B lebih ketat. Pada SNI 2052:2024 kelas 420A dihapus, dan BjTS 420 memiliki syarat regangan serta rasio TS/YS yang sama dengan 420B sebelumnya.
Berapa modulus elastisitas baja tulangan?
Dalam perencanaan beton bertulang menurut SNI 2847:2019, modulus elastisitas tulangan nonprategang umumnya diambil 200.000 MPa (200 GPa).
Berapa berat jenis baja tulangan dan bagaimana menghitung beratnya?
Massa jenis baja tulangan sekitar 7.850 kg/m³. Berat per meter dapat dihitung dengan rumus 0,00617 × d² kg/m (d dalam mm); misalnya diameter 16 mm beratnya sekitar 1,578 kg/m.
Bagaimana membedakan kelas baja tulangan di lapangan?
Lihat kode warna pada ujung batang (hitam untuk 280, merah untuk 420, hijau untuk 520, putih untuk 550, biru untuk 690), marking timbul pada batang, label kemasan, dan cocokkan dengan mill certificate.
Apakah baja tulangan wajib ber-SNI?
Ya, pemberlakuan SNI baja tulangan beton bersifat wajib berdasarkan Permenperin Nomor 55 Tahun 2024, dengan pengecualian tertentu yang diatur dalam peraturan tersebut.
Lihat Juga
- Selimut Beton (SNI 2847:2019)
- Campuran Beton Bertulang
- Konversi Mutu Beton K ke fc′
- Profil Baja WF/H/UNP/CNP/Siku
- Materi Dasar Teknik Sipil
- Tabel Mutu Beton K100 hingga K800
- RAB Jembatan Beton Bertulang
Referensi
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 2052:2024 — Baja Tulangan Beton. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 2052:2017 — Baja Tulangan Beton (edisi sebelumnya). Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 8389 — Cara Uji Tarik Logam; SNI 410 — Cara Uji Lengkung Logam. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 2847:2019 — Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Jakarta: BSN.
- Kementerian Perindustrian RI. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 55 Tahun 2024 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia untuk Baja Tulangan Beton secara Wajib.
- ASTM A615/A615M — Standard Specification for Deformed and Plain Carbon-Steel Bars for Concrete Reinforcement.
- Dipohusodo, I. Struktur Beton Bertulang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Vis, W. C. & Kusuma, G. Dasar-dasar Perencanaan Beton Bertulang. Jakarta: Erlangga.
- ACI 318 — Building Code Requirements for Structural Concrete.