Contoh Perhitungan AHSP Pekerjaan Galian Tanah Manual
Contoh Perhitungan AHSP Pekerjaan Galian Tanah Manual
Pekerjaan galian tanah manual (tanpa alat berat) adalah salah satu item AHSP paling dasar namun sering disalahpahami dalam penyusunannya. Artikel ini melengkapi Cara Menyusun AHSP Bidang PUPR dengan contoh perhitungan lengkap untuk galian tanah manual, dari produktivitas pekerja hingga harga satuan akhir, termasuk faktor pengembangan tanah yang sering terlewat saat menghitung kebutuhan truk buangan.
Konsep Dasar Koefisien Tenaga Kerja
Koefisien tenaga kerja dalam AHSP menyatakan jumlah orang-hari (OH) yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu satuan pekerjaan (dalam hal ini 1 m³ galian). Koefisien ini merupakan kebalikan dari produktivitas:
Contoh Perhitungan
Berdasarkan data produktivitas rata-rata pekerja galian tanah biasa (tanah lempung sedang, kedalaman ≤1 meter) sebesar 1,2 m³ per orang per hari, dan mandor mengawasi setiap 20 pekerja (koefisien mandor 0,05 OH per m³), hitung harga satuan galian per m³ jika upah pekerja Rp110.000/hari dan upah mandor Rp150.000/hari.
Koefisien Mandor = 0,05 OH/m³
Biaya Pekerja = 0,833 × Rp110.000 = Rp91.667
Biaya Mandor = 0,05 × Rp150.000 = Rp7.500
Harga Satuan Galian = Rp91.667 + Rp7.500 = Rp99.167/m³
Pembahasan: harga satuan galian tanah manual pada kondisi ini sekitar Rp99.167 per m³, sebelum ditambah overhead dan profit kontraktor. Angka produktivitas dan upah harus disesuaikan dengan kondisi aktual lapangan dan daftar upah daerah setempat.
Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Galian
- Jenis tanah: tanah berpasir lebih mudah digali dibanding tanah liat keras atau berbatu.
- Kedalaman galian: galian dalam (>1,5 m) menurunkan produktivitas karena kesulitan membuang tanah ke atas dan risiko longsor.
- Kondisi cuaca dan muka air tanah: tanah basah/berlumpur menurunkan produktivitas signifikan dan mungkin memerlukan dewatering.
- Ruang kerja: galian sempit (misalnya untuk pondasi menerus) membatasi jumlah pekerja yang bisa bekerja bersamaan.
Faktor Pengembangan Tanah: Kenapa Volume Buangan Lebih Besar dari Volume Galian
Satu hal yang sering terlewat saat menghitung kebutuhan truk pengangkut tanah buangan: tanah yang baru digali mengembang volumenya dibanding kondisi aslinya di dalam tanah (bank volume), karena struktur tanah yang tadinya padat menjadi lebih gembur/berongga (loose volume). Rasio ini disebut faktor pengembangan (bulking factor):
Sebagai gambaran umum (nilai aktual bervariasi tergantung jenis dan kondisi tanah): tanah berpasir mengembang sekitar 10–15%, tanah lempung sekitar 20–30%, dan batuan hasil peledakan bisa mengembang lebih dari 40%. Artinya, 1 m³ tanah lempung yang digali dari kondisi aslinya bisa menjadi sekitar 1,2–1,3 m³ dalam bentuk gembur di atas truk — faktor ini wajib diperhitungkan saat menghitung jumlah rit truk pengangkut, bukan memakai volume galian awal secara langsung. Sebaliknya, bila tanah dipakai kembali sebagai timbunan dan dipadatkan, volumenya akan menyusut lagi mendekati atau bahkan di bawah volume aslinya, tergantung tingkat pemadatan yang dicapai.
Kesimpulan dan Rekomendasi Engineer
Ringkasan: harga satuan galian manual dihitung dari koefisien tenaga (kebalikan produktivitas) dikalikan upah harian, ditambah koefisien mandor; sedangkan kebutuhan truk buangan harus memperhitungkan faktor pengembangan tanah, bukan volume galian asli. Rekomendasi praktis:
- Selalu sesuaikan produktivitas dengan kondisi tanah aktual di lapangan, jangan hanya memakai angka acuan buku AHSP secara mentah.
- Untuk galian dalam atau kondisi sulit, pertimbangkan penggunaan alat berat sebagai alternatif yang lebih efisien.
- Hitung kebutuhan rit truk buangan dari volume gembur (setelah faktor pengembangan), bukan volume galian asli, agar tidak kekurangan alokasi transportasi.
- Sertakan biaya pembuangan tanah galian sebagai item AHSP terpisah bila material tidak dipakai kembali sebagai timbunan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Berapa produktivitas rata-rata galian tanah manual?
Umumnya berkisar 1–1,5 m³ per orang per hari untuk tanah lempung sedang pada kedalaman dangkal, namun angka ini sangat bervariasi tergantung jenis tanah dan kondisi lapangan.
Kapan galian tanah sebaiknya menggunakan alat berat dibanding manual?
Alat berat lebih ekonomis untuk volume galian besar atau tanah keras, sedangkan galian manual lebih cocok untuk volume kecil, ruang sempit, atau lokasi yang sulit dijangkau alat berat.
Apakah koefisien AHSP galian sama di semua daerah?
Tidak, koefisien AHSP daerah mempertimbangkan produktivitas dan upah tenaga kerja setempat yang bisa berbeda antar wilayah, sehingga harus mengacu pada buku AHSP daerah yang bersangkutan.
Apa itu faktor pengembangan tanah dan kenapa penting?
Faktor pengembangan (bulking factor) menyatakan seberapa besar volume tanah bertambah setelah digali dibanding kondisi aslinya di dalam tanah, karena strukturnya jadi lebih gembur. Faktor ini penting untuk menghitung jumlah rit truk pengangkut tanah buangan secara akurat, karena volume gembur selalu lebih besar dari volume galian asli.
Apakah regulasi AHSP PUPR sudah berganti nomor?
Ya. Regulasi yang berlaku saat ini adalah Permen PUPR No. 8 Tahun 2023 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi, yang menggantikan Permen PUPR No. 28 Tahun 2016.
Lihat Juga
- Cara Menyusun AHSP Bidang PUPR
- Koefisien Analisa Harga Satuan
- Perbedaan RAB, RAP, EE, dan BOQ
- Cara Menghitung Bobot Pekerjaan Proyek
- Contoh RAB Bangunan Excel
Referensi
- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Peraturan Menteri PUPR No. 8 Tahun 2023 tentang Pedoman Penyusunan Perkiraan Biaya Pekerjaan Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
- Rochmanhadi. Alat-alat Berat dan Penggunaannya. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.
- Ibrahim, H. Bachtiar. Rencana dan Estimate Real of Cost. Jakarta: Bumi Aksara.