Gambar Rangka Kayu Rumah Atap Limas Sederhana

Table of Contents

Gambar Rangka Kayu Rumah Atap Limas Sederhana

Rangka kayu rumah atap limas adalah struktur utama pada bangunan yang berfungsi menopang beban atap berbentuk piramida dengan empat sisi miring secara merata. Atap limas (hip roof) sangat cocok untuk bangunan di daerah tropis karena efektif mengalirkan air hujan ke segala arah, sehingga meminimalkan risiko kebocoran atau genangan air. Rumah VPA (Vice President Agronomy) yang menjadi studi kasus pada artikel ini merupakan bangunan konvensional permanen kategori elit yang dirancang khusus untuk golongan staf, dengan struktur rangka kayu pada atap dan material penutup berupa Zincalume model genteng metal.

Konstruksi rangka kayu atap limas mengikuti standar nasional SNI 7973:2013 tentang Spesifikasi Desain untuk Konstruksi Kayu dan SNI 1729:2015 tentang sambungan kayu. Jenis kayu yang umum digunakan meliputi Ulin (Kelas I, 70-90 MPa kuat tekan), Jati (60-70 MPa, tahan rayap), Bengkirai (50-70 MPa), Meranti (40-50 MPa), Keruing, Kamper, dan Sengon. Pemilihan kayu dipertimbangkan berdasarkan kelas kuat (I-V), kelas awet (I-V), dan kerapatan jenis (g/cm³). Artikel ini menyajikan analisis komprehensif lima tipe kuda-kuda Rumah VPA dengan detail sambungan baut, plat strip, dan besi stek yang memenuhi standar konstruksi modern.


Rangka Kayu Atap Limas
Desain rumah VPA dengan rangka kayu atap limas tampak samping kanan dan kiri
Bahasa InggrisHip Roof Timber Frame
Studi kasusRumah VPA
Tipe bangunanKonvensional permanen, elit
Bentuk atapLimas (hip roof) 4 sisi miring
Material penutupZincalume genteng metal
Standar SNI utamaSNI 7973:2013
Standar sambunganSNI 1729:2015
Tipe kuda-kuda5 tipe (1, 2, 3, 4, 5)
Dimensi balok utama6/12 cm
Dimensi kasau5/7 cm
Ketinggian total+5,77 meter

Konsep Dasar Rangka Kayu Atap Limas

Bangunan Rumah VPA dirancang khusus untuk golongan staf kategori rumah elit dengan karakteristik bangunan konvensional permanen yang memanfaatkan struktur rangka kayu pada bagian atap. Bentuk atap limas dipilih untuk memberikan kesan estetis sekaligus memenuhi kebutuhan fungsional sebagai pelindung utama dari cuaca tropis. Material penutup atap menggunakan Zincalume dengan model genteng metal, termasuk bagian rabungnya yang juga menggunakan material yang sama untuk keseragaman estetika dan teknis.

Karakteristik Utama Rangka Kayu Atap Limas

Tiga karakteristik utama rangka kayu untuk konstruksi atap limas:

  • Fleksibilitas Desain: Mudah dibentuk sesuai kebutuhan struktur dengan berbagai konfigurasi kuda-kuda dan dimensi.
  • Daya Tahan Alami: Dengan pengolahan yang tepat (pengeringan, pelapisan anti rayap), kayu dapat bertahan lama terhadap perubahan cuaca tropis.
  • Ramah Lingkungan: Kayu merupakan material alami yang dapat diperbarui (renewable material), berkontribusi pada konstruksi berkelanjutan.

Prinsip Kerja dan Fungsi Struktur Atap Limas

Prinsip utama atap limas adalah distribusi beban gravitasi secara merata melalui struktur rangka kayu ke dinding dan fondasi bangunan. Bentuknya yang miring pada keempat sisi membuat air hujan mengalir lebih cepat, sehingga meminimalkan risiko kebocoran atau genangan air. Tiga fungsi utama struktur rangka kayu pada atap limas:

  • Penopang Beban: Menahan beban material atap serta beban tambahan seperti hujan dan angin.
  • Konektivitas Struktur: Menghubungkan berbagai elemen konstruksi atap seperti genteng Zincalume dan rabung.
  • Penjaga Stabilitas: Memastikan kekuatan bangunan tetap terjaga meskipun terjadi pergeseran beban.

Hubungan Rangka Kayu dengan Material Zincalume

Penggunaan Zincalume sebagai material atap sangat relevan dengan rangka kayu karena kombinasi ini memberikan efisiensi dalam pemasangan serta durabilitas jangka panjang. Zincalume dikenal tahan terhadap korosi dan memiliki bobot yang ringan, sehingga mengurangi beban kerja pada rangka kayu — bagian dari prinsip Quality Assurance dalam pemilihan material konstruksi.


Metode dan Teknik Analisis Struktur Atap

Analisis struktur atap dengan rangka kayu bertujuan untuk memastikan stabilitas, keamanan, dan efisiensi desain. Dua pendekatan utama digunakan dalam analisis struktur rangka kayu modern.

Dua Pendekatan Analisis Struktur

Analisis Statik: Menghitung beban-beban yang bekerja pada rangka kayu termasuk beban mati (berat atap, kayu, dan genteng) serta beban hidup (angin, hujan, atau beban sementara). Rumus dasar perhitungan beban total:

W = Wm + Wh + Wa

Keterangan:
W = Beban total
Wm = Beban mati
Wh = Beban hujan
Wa = Beban angin

Analisis Dinamik: Mempertimbangkan pengaruh getaran atau guncangan seperti gempa pada struktur rangka kayu. Pendekatan ini menggunakan metode spektrum respons untuk menilai ketahanan struktur sesuai SNI 1726:2019.

Teknik Pengukuran dan Perhitungan Dimensi

Tiga langkah penting dalam penghitungan dimensi komponen rangka kayu berdasarkan beban yang diterima:

  1. Menentukan Jenis Kayu dan Kualitas Material: Pemilihan kayu seperti meranti atau jati karena kekuatan tarik dan tekan yang baik sesuai standar SNI 7973:2013.
  2. Menghitung Dimensi Balok Utama (Kaso dan Reng): Menggunakan rumus tegangan lentur untuk memastikan rangka mampu menahan beban.
  3. Simulasi Komputer: Menggunakan perangkat lunak seperti SAP2000 atau ETABS untuk memodelkan distribusi beban dan mendeteksi kelemahan struktur.
Rumus Tegangan Lentur: σ = M / Z

Keterangan:
σ = Tegangan lentur (MPa)
M = Momen lentur (Nm)
Z = Modulus penampang (m³)

Teknik Penyambungan dan Konstruksi Rangka

Penyambungan merupakan elemen kritis dalam rangka kayu untuk memastikan kekuatan dan kestabilan struktur. Dua jenis sambungan umum digunakan:

  • Sambungan Paku atau Baut: Penyambungan mekanis dengan paku galvanis atau baut baja yang umum digunakan untuk sambungan kasau dan reng.
  • Sambungan Takikan (Notch): Sambungan tradisional untuk mengurangi risiko pergeseran, dengan penguatan plat logam atau bracket pada titik kritis seperti pertemuan balok utama dan kuda-kuda.

Standar dan Pedoman Teknik Konstruksi Kayu

Tiga standar utama yang menjadi acuan dalam analisis dan konstruksi rangka kayu:

  • SNI 7973:2013: Spesifikasi Desain untuk Konstruksi Kayu di Indonesia.
  • Eurocode 5 (EN 1995): Standar desain kayu dalam konstruksi tingkat internasional.
  • AS/NZS 1170: Standar untuk beban gempa pada struktur bangunan.

Alat dan Material Konstruksi

Pemilihan material yang tepat merupakan kunci untuk menjamin kekuatan dan daya tahan struktur rangka kayu atap limas. Lima kategori material utama digunakan dalam konstruksi rangka kayu atap.

Lima Kategori Material Utama

Material Spesifikasi Keunggulan
Kayu Konstruksi Meranti, Jati, atau Kamper; kadar air maks 15%; sesuai SNI 7973:2013 Tahan lentur dan beban vertikal
Zincalume Model Genteng Campuran aluminium, zinc, dan silikon Ringan, tahan korosi, umur pakai 20-30 tahun
Paku dan Baut Paku galvanis untuk kasau dan reng; baut baja untuk sambungan kritis Sambungan kuat dan tahan karat
Pelat Sambung dan Bracket Logam Plat strip 4×50 mm, FL plat 4 mm Memperkuat sambungan antar balok utama
Cat dan Pelapis Anti Rayap Cat kayu pelindung kelembapan dan pelapis anti rayap Mencegah pelapukan dan kerusakan serangga

Alat Konstruksi untuk Pengerjaan Rangka Kayu

Empat kategori alat yang dibutuhkan dalam pemasangan rangka kayu atap:

  • Alat Pengukur dan Pemotong: Meteran untuk pengukuran dimensi, gergaji tangan dan mesin untuk pemotongan kayu sesuai ukuran.
  • Alat Penyambung dan Pemasangan: Bor listrik untuk pemasangan baut, palu untuk memasang paku pada reng dan kaso, tang penjepit untuk pemasangan bracket.
  • Alat Angkat dan Penopang: Tangga lipat atau scaffolding untuk akses ketinggian, katrol untuk mengangkat material kayu dan Zincalume.
  • Alat Pemeriksaan Struktur: Waterpass untuk kemiringan, laser level untuk keselarasan horizontal-vertikal, dynamometer untuk mengukur tegangan sambungan baut.

Peralatan Keamanan (K3) Pekerja

Keselamatan kerja menjadi prioritas dalam proyek konstruksi. Tiga alat K3 wajib digunakan sesuai praktik risk management:

  • Safety Helmet: Melindungi kepala dari potensi jatuhnya material.
  • Safety Harness: Untuk pekerja yang bekerja di ketinggian.
  • Sarung Tangan dan Sepatu Pelindung: Mencegah cedera saat menangani kayu dan alat tajam.

Jenis Kayu untuk Rangka Atap Limas

Pemilihan jenis kayu untuk rangka atap limas sangat penting untuk memastikan struktur atap yang kuat, tahan lama, dan aman. Berikut tujuh jenis kayu utama yang umum digunakan beserta data teknis lengkap.

Tabel Karakteristik Tujuh Jenis Kayu Konstruksi

Jenis Kayu Kuat Tekan (MPa) Kuat Lentur (MPa) Kerapatan (g/cm³) Kualitas Kayu
Kayu Ulin 70–90 130–150 0,90–1,10 (Eusideroxylon zwageri) dikenal sebagai "kayu besi", sangat tahan kelembapan, rayap, dan cuaca ekstrem. Pilihan terbaik untuk konstruksi yang membutuhkan daya tahan tinggi.
Kayu Jati 60–70 115–130 0,65–0,85 (Tectona grandis) terkenal karena kekuatan, daya tahan, dan ketahanan terhadap rayap serta perubahan cuaca. Serat padat menjadikannya pilihan unggulan meskipun harganya mahal.
Kayu Bengkirai 50–70 90–110 0,75–0,95 (Shorea laevis) memiliki tingkat kekerasan dan ketahanan sangat baik. Sering digunakan untuk konstruksi berat termasuk rangka atap limas karena mampu menahan beban besar.
Kayu Keruing 45–60 85–100 0,60–0,80 (Dipterocarpus spp.) memiliki kekuatan dan ketahanan cuaca yang baik meskipun rentan rayap. Membutuhkan perlakuan khusus seperti pelapisan anti-rayap.
Kayu Meranti 40–50 75–90 0,55–0,75 (Shorea spp.) merupakan kayu keras yang sering digunakan untuk konstruksi atap. Keunggulannya ringan, mudah diolah, dan tahan serangga.
Kayu Kamper 30–40 60–75 0,45–0,65 (Cinnamomum camphora) memiliki aroma khas dan tahan rayap serta jamur. Tingkat kelenturan yang baik memudahkan penggunaannya dalam berbagai desain rangka atap.
Kayu Sengon 20–30 50–60 0,35–0,50 (Paraserianthes falcataria) lebih ringan namun ekonomis. Cocok untuk rangka atap beban ringan tetapi memerlukan perawatan tambahan untuk meningkatkan daya tahan.

Klasifikasi Kelas Kuat Kayu

SNI mengklasifikasikan kekuatan kayu konstruksi menjadi lima kelas:

Kelas Keterangan Contoh Kayu
Kelas I Kekuatan sangat tinggi, untuk struktur beban berat Ulin, Jati, Merbau
Kelas II Kekuatan tinggi, untuk beban sedang hingga berat Bengkirai, Damar Laut, Keruing
Kelas III Kekuatan sedang, untuk beban ringan hingga sedang Mahoni, Meranti, Kamper
Kelas IV Kekuatan rendah, untuk beban ringan/non-struktural Sengon, Randu, Pinus
Kelas V Kekuatan sangat rendah, hanya aplikasi sementara Waru, Balsa

Klasifikasi Kelas Awet Kayu

Selain kelas kuat, kayu juga diklasifikasikan berdasarkan ketahanan terhadap organisme perusak (rayap, jamur):

Kelas Keterangan Contoh Kayu
Kelas I Sangat tahan terhadap serangan organisme perusak Ulin, Jati
Kelas II Ketahanan baik terhadap organisme perusak Merbau, Bengkirai
Kelas III Ketahanan sedang terhadap serangan perusak Meranti, Keruing
Kelas IV Ketahanan kurang baik terhadap perusak Sengon, Pinus
Kelas V Ketahanan sangat rendah terhadap perusak Balsa, Randu

Klasifikasi Berat Jenis Kayu

Tiga kategori berat jenis kayu konstruksi:

  • Tinggi: Berat jenis lebih dari 0,9 g/cm³ — Ulin, Merbau, Bengkirai
  • Sedang: Berat jenis antara 0,6–0,9 g/cm³ — Jati, Keruing, Meranti
  • Rendah: Berat jenis kurang dari 0,6 g/cm³ — Sengon, Pinus, Waru

Gambar Tampak Rumah VPA

Berikut disajikan detail gambar rangka kayu atap limas Rumah VPA beserta pembahasan terkait desain struktur dari berbagai tampak.

Tampak Depan dan Belakang Rumah VPA

Desain rumah VPA tampak depan dan belakang dengan atap limas hip roof
Gambar 1. Desain Rumah VPA tampak depan dan tampak belakang.

Tampak depan menggunakan desain atap limas (hip roof) yang memberikan estetika klasik serta fungsi praktis untuk aliran air hujan. Fasad depan memiliki kesan simetris dengan pintu utama di tengah dikelilingi jendela di kedua sisi, dilengkapi area atap tambahan di sisi kiri sebagai teras. Tampak belakang mengikuti pola desain depan menunjukkan keseragaman estetika, dengan jendela lebih kecil untuk ventilasi dan struktur tambahan sebagai ruang servis.

Tampak Samping Kanan dan Kiri Rumah VPA

Kondisi rumah VPA 2 unit pekerjaan plafond dan keramik tampak samping
Gambar 2. Kondisi Rumah VPA 2 unit pada tahap pengerjaan plafond dan keramik.

Tampak samping menampilkan panjang bangunan yang cukup signifikan dengan beberapa jendela kecil untuk ventilasi. Sisi kiri dan kanan memiliki pola simetris yang menunjukkan keseimbangan desain, dengan teras kecil sebagai aksen estetika tambahan dan fungsi praktis.


Potongan Struktur dan Detail Pergola

Gambar potongan menunjukkan desain struktur rumah sederhana dengan elemen pergola sebagai tambahan. Fokus pada material kayu dan fiberglass memberikan kesan natural serta memungkinkan masuknya cahaya alami.

Potongan -5 dan Detail Pergola

Desain rumah VPA potongan 5 dan detail pergola kayu fiberglass
Gambar 3. Potongan -5 dan detail pergola Rumah VPA dengan material kayu dan fiberglass.

Tiga elemen kunci pada Potongan -5:

  • Struktur Atap: Menggunakan rangka atap kayu dimensi 2/15 (diketam halus), penutup atap fiberglass transparan untuk penerangan alami.
  • Pondasi: Tiang pancang kayu ditanam hingga tanah keras dengan diameter sekitar 10 cm, dilengkapi sambungan beton (poer) menopang kolom kayu.
  • Lantai dan Finishing: Cor beton dengan finishing halus, menggunakan pasir urug dan lapisan tanah timbun sebagai penahan.

Detail pergola dirancang untuk memberikan fungsi estetika dan perlindungan parsial dari sinar matahari. Penutup atap pergola menggunakan fiberglass transparan dengan sambungan rangka kayu 2/15 dan kayu 4/15. Tinggi total struktur pergola mencapai +2,60 m dari lantai.

Potongan 6 dan 7

Desain rumah VPA potongan 6 dan 7 dengan rangka atap baja ringan
Gambar 4. Potongan 6 dan 7 Rumah VPA dengan rangka atap baja ringan.

Potongan 6: Rangka atap menggunakan material baja ringan dengan sambungan ring balok, baut, dan plat strip. Penutup atap seng/aluminium bergelombang dipilih untuk efisiensi dan daya tahan cuaca. Ketinggian total bangunan mencapai +5,50 meter dari permukaan tanah. Kolom berpenampang persegi menopang struktur atap dan dinding, dengan fondasi setempat penampang trapezium kedalaman sekitar -0,50 meter.

Potongan 7: Memiliki pola struktur serupa dengan potongan 6, namun dengan tambahan atap kanopi kecil di bagian samping. Sistem sambungan menggunakan baut dan plat penguat, dengan ruang lebih terbuka di bagian depan (area kaca atau kisi-kisi) sebagai ruang publik semi-terbuka.


Lima Tipe Kuda-Kuda Rumah VPA

Rumah VPA menggunakan lima tipe kuda-kuda dengan desain yang disesuaikan untuk kebutuhan struktur atap yang kuat dan stabil. Setiap tipe memiliki konfigurasi dan dimensi spesifik untuk distribusi beban yang optimal.

Kuda-Kuda Tipe 1: Rangka Segitiga Dasar

Kuda-kuda tipe 1 menggunakan rangka segitiga dasar yang memaksimalkan efisiensi distribusi beban dari atap ke balok bawah, lalu ke struktur pendukung (kolom atau dinding). Tipe ini menjadi konfigurasi standar untuk bentang menengah.

Kuda-Kuda Tipe 2: Rangka dengan Penyangga Tambahan

Kuda-kuda tipe 2 didesain dengan penyangga tambahan di titik-titik kritis (seperti G dan F) untuk mengurangi risiko deformasi pada struktur kayu. Elemen utama mencakup:

  • Balok 6/12: Digunakan sebagai elemen horizontal (balok bawah) dan miring (balok utama).
  • Kasau 5/7: Berfungsi sebagai dudukan atap zincalume atau model genteng.
  • Gording 6/12: Menghubungkan antar kuda-kuda untuk mendistribusikan beban secara merata.
  • Reng 3/4: Mendukung pemasangan atap dengan menjaga jarak antar kasau.
Desain tipe kuda-kuda 2 dan detail sambungan G H J rumah VPA
Gambar 5. Desain tipe kuda-kuda 2 dan detail sambungan kuda-kuda Rumah VPA.

Tiga detail sambungan kritis pada tipe 2:

  • Detail G: Sambungan antar balok menggunakan plat strip (4 × 50 mm) dan baut ½" dengan klos sebagai pengganjal.
  • Detail H: Sambungan balok 6/12 dengan baut ½" yang memastikan kekakuan struktur pada titik kritis.
  • Detail J: Sambungan pertemuan kasau menggunakan FL plat 4 mm dan baut ½" untuk mencegah pergeseran elemen.

Tambahan besi stek Ø 10 mm diletakkan di atas ring balok untuk mengikat kuda-kuda, dilengkapi cincin penguat untuk meningkatkan daya tahan terhadap gaya tarik.

Kuda-Kuda Tipe 3: Rafter dan Nok

Desain kuda-kuda 3 dan 4 dan detail kuda-kuda rumah VPA
Gambar 6. Desain kuda-kuda 3 dan 4 beserta detail sambungan Rumah VPA.

Tipe 3 menggunakan dimensi dan material berikut:

  • Rafter (balok miring): Kayu ukuran 2/20, dipasang dengan baut Ø ½".
  • Nok: Kayu ukuran 6/12 sebagai elemen pengunci utama di puncak rangka atap.
  • Balok Lateral: Kayu ukuran 5/10 untuk memperkuat sisi horizontal struktur.
  • Plat Strip: Ketebalan 4 mm untuk sambungan antar elemen utama.
  • Penutup Atap: Seng/aluminium bergelombang dengan lapisan rabung di puncak.
  • Kolom Utama: Dimensi 5/10 dengan sambungan anchor 6/12 dan plat strip.

Kuda-Kuda Tipe 4: Penguat Diagonal

Tipe 4 memiliki desain berbeda dari tipe 3 dengan penambahan elemen penguat diagonal untuk menahan gaya tekan dan tarik pada rangka:

  • Dimensi rafter tetap kayu 2/20.
  • Balok diagonal dipasang untuk menahan gaya tekan dan tarik.
  • Sambungan dengan nok menggunakan baut Ø ½".
  • Stopper 5/10 pada fondasi sambungan untuk menahan gaya geser akibat beban horizontal.
  • Ketinggian total mencapai +5,77 meter dari permukaan tanah.
  • Lebar bentang kuda-kuda 285 cm, menyesuaikan dimensi ruangan di bawahnya.

Detail Sambungan Kuda-Kuda Tipe 3 dan 4

  • Detail K (Sambungan Rafter dan Nok): Diperkuat dengan baut ½" serta plat strip 4 mm × 40 mm di titik beban terbesar puncak kuda-kuda.
  • Detail L (Sambungan Dasar Kolom): Sambungan kolom ke fondasi menggunakan anchor 6/12, baut ½", dan plat strip untuk menahan gaya geser maksimal.

Kuda-Kuda Tipe 5

Kuda-kuda tipe 5 disesuaikan untuk bentang yang lebih besar dengan dimensi yang menyesuaikan ruangan di bawahnya. Pemilihan tipe ini didasarkan pada perhitungan distribusi beban dan kebutuhan struktural spesifik bangunan.

Gambar 7. Desain tipe kuda-kuda 5 dan tampilan akhir Rumah Atap Limas.

Catatan Penting Pemasangan Kuda-Kuda

Tiga catatan penting yang harus diperhatikan dalam pemasangan kuda-kuda kayu untuk menjamin keamanan dan kestabilan struktur:

  • Kualitas Sambungan: Tidak diperbolehkan menggunakan sambungan baut yang sudah retak atau aus. Sambungan harus bertaut erat dengan plat baja dan elemen kayu.
  • Orientasi Pemasangan: Kuda-kuda dipasang dengan posisi belakang menghadap ke arah bangunan untuk kestabilan tambahan dan distribusi beban yang optimal.
  • Penguatan Material: Penggunaan baut ½", FL plat baja 4 mm, dan besi stek Ø 10 mm pada sambungan-sambungan utama sesuai standar SNI 1729:2015.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu rangka kayu atap limas?

Rangka kayu atap limas adalah struktur utama bangunan yang menopang beban atap berbentuk piramida dengan empat sisi miring. Atap limas (hip roof) cocok untuk daerah tropis karena efektif mengalirkan air hujan. Rangka kayu menawarkan fleksibilitas desain, daya tahan alami dengan pengolahan tepat, dan sifat ramah lingkungan.

Apa jenis kayu terbaik untuk rangka atap limas?

Tujuh jenis kayu umum digunakan: Ulin (terkuat, 70-90 MPa), Jati (60-70 MPa, tahan rayap), Bengkirai (50-70 MPa), Meranti (40-50 MPa, ekonomis), Keruing (45-60 MPa), Kamper (30-40 MPa), dan Sengon (20-30 MPa). Pemilihan disesuaikan dengan beban struktural dan anggaran.

Apa standar SNI untuk konstruksi rangka kayu?

Standar utama adalah SNI 7973:2013 tentang Spesifikasi Desain untuk Konstruksi Kayu dan SNI 1729:2015 tentang sambungan kayu. Standar internasional yang digunakan adalah Eurocode 5 (EN 1995) dan AS/NZS 1170 untuk beban gempa.

Berapa kelas kuat dan kelas awet kayu untuk konstruksi?

Kelas Kuat Kayu terbagi 5 kelas: I (Ulin/Jati/Merbau), II (Bengkirai/Damar Laut/Keruing), III (Mahoni/Meranti/Kamper), IV (Sengon/Randu/Pinus), V (Waru/Balsa). Kelas Awet juga 5 kelas berdasarkan ketahanan terhadap organisme perusak, dengan Ulin dan Jati di Kelas I.

Apa saja tipe kuda-kuda kayu untuk atap limas?

Atap limas Rumah VPA menggunakan 5 tipe kuda-kuda. Tipe 1 rangka segitiga dasar. Tipe 2 dengan penyangga tambahan di titik kritis. Tipe 3 menggunakan rafter 2/20 dan nok 6/12. Tipe 4 menambahkan balok diagonal untuk gaya tekan-tarik. Tipe 5 untuk bentang besar dengan ketinggian total +5,77 meter.


Lihat Juga


Referensi

  1. Badan Standardisasi Nasional. SNI 7973:2013 — Spesifikasi Desain untuk Konstruksi Kayu. Jakarta: BSN.
  2. Badan Standardisasi Nasional. SNI 1729:2015 — Spesifikasi untuk Bangunan Gedung Baja Struktural. Jakarta: BSN.
  3. Badan Standardisasi Nasional. SNI 1726:2019 — Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non-Gedung. Jakarta: BSN.
  4. Badan Standardisasi Nasional. SNI 03-3527-1994 — Mutu Kayu Bangunan. Jakarta: BSN.
  5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi. Jakarta: Sekretariat Negara.
  6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Bangunan Gedung. Jakarta: Sekretariat Negara.
  7. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pedoman Teknis Konstruksi Kayu untuk Bangunan Gedung. Jakarta: Kementerian PUPR.
  8. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Atlas Kayu Indonesia. Bogor: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Tito Reista
Tito Reista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Newer Posts Older Posts

Post a Comment