Titoreista
Titoreista
Formulir Kontak

Titoreista Titoreista
  • Aplikasi RAB
    Tanah & Persiapan
    • Bowplank
    • Galian Tanah
    • Urugan Tanah Awal (Fill)
    • Urugan Tanah Kembali (Backfill)
    Pondasi
    • Pondasi Rollag Bata
    • Pondasi Batu Kali
    • Pondasi Footplate
    • Pondasi Cerucuk
    Struktur Beton
    • Sloof
    • Kolom
    • Balok
    • Plat Lantai Beton
    • Cor Rabat Beton
    Dinding & Finishing
    • Dinding Bata
    • Plesteran & Acian
    • Keramik Lantai
    • Pengecatan
    • Plafond
    Rangka Atap
    • Rangka Atap Kayu
    • Rangka Atap Baja Ringan
    Kalkulator Lainnya
    • Gorong-gorong
    • Kuat Tekan Beton Hot
  • Teknis & Metode
    Teknologi Beton
    • Uji Slump Beton
    • Tabel Slump Test SNI
    • Hammer Test Beton
    • Curing (Perawatan) Beton
    Metode Pelaksanaan
    • Teknik Pasangan Bata
    • Cetakan Batako
    • Cara Pasang Baja Ringan
    • Teknik Pengecatan Tembok
    MEP & Sanitasi
    • Instalasi Listrik Rumah
    • Septic Tank & Resapan
    • Septic Tank Biofil
    Struktur JembatanDesain jembatan, geoteknik, dan hidraulika dalam satu pembahasan lengkap.Baca Selengkapnya →
  • Dasar & Manajemen
    Pengetahuan Dasar
    • Apa itu Teknik Sipil?
    • Materi Dasar
    • Kaidah Tangan Kanan
    • Software Teknik Sipil
    Standar & Dokumen
    • Standar Konstruksi
    • FIDIC Contracts
    • Ukuran Kertas ISO
    • Standar HSE Proyek New
    Supervisi Proyek
    • Pengawasan Rumah Tinggal
    • Pengawasan Jembatan
    • Pengawasan Box Culvert
    • Contoh Laporan Proyek
  • Survey & Alat Berat
    Surveying
    • Surveyor Tanah
    • Windsock
    Pekerjaan Tanah
    • Cut and Fill
    • Produktivitas Alat Berat
    • Pemindahan Tanah Mekanis
    • Jenis Alat Berat
    • Pekerjaan Tanah Jalan
  • BOQ & Material
    Analisa Biaya
    • RAB (Bill of Quantity) Contoh RAB bangunan format Excel
    • Harga Bahan Bangunan
    • Satuan Volume Pekerjaan
    • AHSP (Analisa Harga Satuan)
    • Rumus Excel Sipil
    Tabel Berat Besi
    • Berat Besi Beton
    • Berat Wiremesh
  • Gambar DWG
    Jembatan
    • Jembatan Beton
    • Jembatan Girder Baja
    • Jembatan Bailey
    • Jembatan Komposit
    Drainase & Gorong-gorong
    • Box Culvert
    • Gorong-gorong Buis Beton
    • Saluran Drainase
    • Dermaga / Jetty
    Menara & Tandon Air
    • Tower Air Beton
    • Menara Air Baja
    • Storage Tank
    Bangunan & Fasilitas
    • Gudang Baja WF
    • Masjid New
    • Mushola
    • Pos Jaga
    Rumah & Arsitektur
    • Desain Rumah DWG
    • Desain Arsitektur
    • Pagar BRC
    • Kusen & Pintu New
    • Convert PDF to DWG
    Koleksi File DWG LengkapRatusan gambar kerja siap edit: jembatan, drainase, bangunan, hingga detail arsitektur.Jelajahi Semua DWG →

Daftar Isi

Blog Archive

  • 2026 209
    • November 2
    • Oktober 1
    • September 24
    • Juli 32
    • Juni 5
    • Mei 25
    • April 30
    • Maret 31
    • Februari 28
    • Januari 31
  • 2025 81
    • Desember 7
    • September 2
    • Agustus 6
    • Juli 29
    • Juni 28
    • Mei 9

Categories

  • civil engineering
  • architecture
  • dwg
  • construction
  • boq
Topik Teknik Sipil Arsip Blog
Beranda Label:civil engineering construction project management quality control quality management Bangunan Atas dan Bangunan Bawah Jembatan: Komponen Lengkap

Bangunan Atas dan Bangunan Bawah Jembatan: Komponen Lengkap

Titoreista Juni 29, 2026 Posting Komentar

Daftar Isi

Ilustrasi jembatan dua bentang: bangunan atas berwarna biru, perletakan kuning, dan bangunan bawah hijau tosca, dengan judul artikel
Skema jembatan dua bentang: bangunan atas (lantai dan gelagar) di atas garis pemisah, perletakan di antara keduanya, dan bangunan bawah (abutmen, pilar, pondasi) di bawahnya

Skema jembatan (tidak berskala): bangunan atas di atas garis pemisah, perletakan di antara keduanya, dan bangunan bawah di bawahnya.

Komponen Jembatan
KlasifikasiStruktur jembatan: bangunan atas, perletakan, bangunan bawah & bangunan pelengkap
Bangunan AtasLapis aus, pelat lantai, gelagar, diafragma, trotoar & sandaran, expansion joint (siar muai)
Jenis GelagarBeton bertulang, beton prategang, atau baja
PerletakanPenyalur beban & pengakomodasi gerak (suhu, lendutan, gempa); umumnya elastomer
Bangunan BawahAbutmen (termasuk wing wall), pilar, pondasi
Jenis PondasiTiang pancang, tiang bor, sumuran, atau telapak
Bangunan PelengkapOprit, pelat injak, proteksi gerusan, drainase, patok pengarah
Alur BebanLantai → gelagar → perletakan → abutmen/pilar → pondasi → tanah
Titik PerhatianPelat injak & proteksi gerusan sering rusak dini; rawat perletakan & expansion joint
AcuanSNI 1725:2016 (pembebanan); SNI 2833:2016 (gempa); SNI 3967:2013 (bantalan elastomer)

Bangunan Atas dan Bangunan Bawah Jembatan: Komponen Lengkap

Setiap jembatan tersusun dari dua bagian struktur utama: bangunan atas (superstructure) yang langsung memikul beban lalu lintas, dan bangunan bawah (substructure) yang menyalurkan beban tersebut ke tanah. Di antara keduanya terdapat perletakan (bearing), dan di sekeliling jembatan terdapat bangunan pelengkap. Artikel ini menguraikan fungsi tiap komponen, hubungan antarkomponen, dan bagian yang paling sering bermasalah di lapangan.

Elevasi skematis jembatan dua bentang dengan 15 komponen bernomor: lapis aus, pelat lantai, gelagar, sandaran, expansion joint, perletakan, abutmen, wing wall, pilar, poer, tiang pancang, oprit, pelat injak, proteksi gerusan, dan tanah keras
Gambar 1. Elevasi skematis (potongan memanjang, tidak berskala) jembatan gelagar dua bentang beserta komponennya. Angka mengacu pada daftar keterangan di bawah gambar.

Keterangan Gambar 1 (MAB = muka air banjir, MAN = muka air normal; garis putus-putus tebal adalah batas bangunan atas dan bawah di level perletakan):

  1. Lapis aus (aspal) — melindungi pelat lantai dan memberi permukaan rata.
  2. Pelat lantai kendaraan — menerima beban roda dan meneruskannya ke gelagar.
  3. Gelagar utama — pemikul utama pada tiap bentang.
  4. Sandaran — pengaman tepi jembatan.
  5. Expansion joint (siar muai) — celah gerak antara bentang dan abutmen serta antarbentang.
  6. Perletakan elastomer — penghubung gelagar dengan bangunan bawah.
  7. Abutmen — kepala jembatan: dinding belakang, dudukan perletakan, dan dinding abutmen.
  8. Wing wall (tembok sayap) — menahan timbunan di sisi abutmen; digambar putus-putus karena berada di belakang bidang potongan.
  9. Pilar — penyangga tengah: kepala pilar dan kolom.
  10. Poer (pile cap) — penghubung kolom atau dinding dengan kelompok tiang.
  11. Tiang pancang — pondasi dalam yang menyalurkan beban ke tanah pendukung.
  12. Oprit — timbunan jalan pendekat di belakang abutmen.
  13. Pelat injak (approach slab) — bertumpu pada dinding belakang abutmen.
  14. Proteksi gerusan — bronjong di lereng dan riprap di dasar pilar.
  15. Tanah keras — lapisan pendukung ujung tiang.

Pembahasan ini erat kaitannya dengan beban jembatan menurut SNI 1725:2016 dan menjadi bagian dari dasar civil engineering.

Perbandingan Singkat: Bangunan Atas, Perletakan, dan Bangunan Bawah

AspekBangunan atasPerletakanBangunan bawah
Fungsi utamaMemikul beban lalu lintas langsung dan menyalurkannya ke perletakanMenyalurkan reaksi gelagar dan mengakomodasi gerakanMenyalurkan beban ke tanah dan menahan tekanan tanah
KomponenLapis aus, pelat lantai, gelagar, diafragma, trotoar, sandaran, expansion jointBantalan elastomer; pot bearing, spherical bearing, tumpuan rol dan sendiAbutmen, pilar, pondasi, wing wall
Material umumBeton bertulang, beton prategang, bajaKaret berlapis pelat baja; bajaBeton bertulang; tiang beton atau baja
Beban dominanBeban mati, beban lalu lintas, anginReaksi vertikal dan gaya horizontal dari bangunan atasReaksi dari perletakan, tekanan tanah, aliran air, gempa
Masalah umumRetak, lubang pada aspal, expansion joint bocorKaret sobek atau bergeserGerusan, retak, penurunan

Bangunan Atas (Superstructure)

Bangunan atas menerima beban kendaraan dan menyalurkannya ke bangunan bawah. Komponen utamanya terlihat pada potongan melintang di Gambar 2 dan diuraikan berikut ini.

Potongan melintang skematis bangunan atas jembatan: lapis aus, pelat lantai, lima gelagar I, diafragma di antara gelagar, kerb, trotoar, sandaran, dan perletakan di atas kepala pilar
Gambar 2. Potongan melintang skematis bangunan atas di lokasi diafragma (tidak berskala). Angka mengacu pada daftar keterangan di bawah gambar.

Keterangan Gambar 2:

  1. Lapis aus (aspal) — lapisan permukaan jalur kendaraan.
  2. Pelat lantai kendaraan — menerima beban roda dan meneruskannya ke gelagar.
  3. Gelagar utama — contoh di sini girder beton pracetak tipe I.
  4. Diafragma — balok melintang antar gelagar; diarsir karena terpotong.
  5. Kerb — pembatas jalur kendaraan.
  6. Trotoar — jalur pejalan kaki.
  7. Sandaran — pengaman tepi jembatan.
  8. Perletakan — dipasang di bawah setiap gelagar.
  9. Kepala pilar (atau kepala abutmen) — bagian bangunan bawah tempat perletakan bertumpu.

Lapis aus (wearing course)

Lapis aus adalah lapisan aspal di atas pelat lantai. Lapisan ini melindungi beton dari abrasi roda dan air, serta memberi permukaan rata yang nyaman dilalui. Karena ikut menambah bobot, lapis aus diperhitungkan sebagai beban mati tambahan. Lapisan yang berlubang atau retak membiarkan air masuk ke pelat lantai.

Pelat lantai kendaraan (deck slab)

Pelat lantai menerima beban roda secara langsung, lalu meneruskannya ke gelagar. Pada gelagar baja, pelat beton dihubungkan dengan penghubung geser (shear connector) sehingga keduanya bekerja sebagai satu kesatuan (komposit).

Gelagar utama (main girder)

Gelagar adalah pemikul utama yang membentang searah lalu lintas dari satu tumpuan ke tumpuan berikutnya. Jenisnya dipilih menurut bentang, kondisi lapangan, dan metode pelaksanaan:

  • Beton bertulang — umumnya untuk bentang pendek.
  • Beton prategang — girder pracetak (tipe I, T, atau box) untuk bentang yang lebih panjang.
  • Baja — profil I (WF), plate girder, box girder, atau rangka; relatif ringan dan cepat dipasang, tetapi perlu perlindungan terhadap korosi.

Perbandingan tipe secara lebih lengkap ada di artikel perbedaan jembatan beton, girder baja, komposit, dan Bailey, sedangkan pemilihan panjang bentang dibahas di cara menentukan bentang ekonomis jembatan.

Diafragma (cross beam)

Diafragma adalah balok melintang yang mengikat antar gelagar. Fungsinya menjaga jarak dan kedudukan gelagar, mencegah gelagar terguling atau bergeser ke samping, dan membantu membagi beban ke gelagar di sebelahnya. Diafragma biasanya dipasang di atas tumpuan dan di beberapa titik sepanjang bentang. Karena arahnya melintang, komponen ini tidak tampak pada tampak samping seperti Gambar 1, tetapi terlihat pada potongan melintang di Gambar 2.

Trotoar, kerb, dan sandaran

Kerb membatasi jalur kendaraan, trotoar menjadi jalur pejalan kaki, dan sandaran (railing) menjadi pengaman tepi. Sandaran dirancang menahan gaya horizontal sesuai standar, bukan sekadar pagar.

Expansion joint (siar muai)

Expansion joint mengakomodasi gerakan bangunan atas akibat perubahan suhu, serta susut dan rangkak pada beton, sambil menjaga permukaan lalu lintas tetap rata. Jenis yang umum antara lain tipe karet, strip seal, dan finger joint dari baja. Bila bocor, air dan kotoran merembes ke perletakan serta kepala abutmen atau pilar, sehingga mempercepat kerusakan di bawahnya.

Perletakan (Bearing)

Perletakan berada di antara bangunan atas dan bawah. Fungsinya menyalurkan reaksi gelagar ke kepala abutmen atau pilar, sekaligus mengakomodasi pergerakan akibat suhu, lendutan, dan gempa. Menurut fungsinya, perletakan dapat bersifat tetap (menahan perpindahan) atau bergerak (mengizinkan perpindahan searah bentang).

Jenis yang paling umum adalah perletakan elastomer, yaitu karet berlapis pelat baja, yang relatif ringan dan lebih murah daripada bantalan logam. Jenis lain adalah pot bearing, spherical bearing, serta tumpuan rol dan sendi dari baja. Mutu bantalan elastomer diatur dalam SNI 3967:2013, dan perancangannya mengikuti Pedoman Perancangan Bantalan Elastomer untuk Perletakan Jembatan dari Bina Marga.

Sebagian literatur memasukkan perletakan ke dalam bangunan atas. Artikel ini memisahkannya karena perannya sebagai penghubung antara dua bagian struktur. Kerusakan yang sering ditemui adalah karet yang sobek, menggembung, retak, atau bergeser dari posisinya.

Bangunan Bawah (Substructure)

Abutmen (abutment) atau kepala jembatan

Abutmen berada di kedua ujung jembatan. Ia memikul bangunan atas melalui perletakan, menahan tekanan tanah timbunan oprit, dan menyalurkan beban ke pondasi. Bagian-bagiannya meliputi dinding belakang (backwall) yang menahan timbunan di belakang gelagar, dudukan perletakan, dinding abutmen (breast wall), dan poer (pile cap) di atas pondasi. Tembok sayap (wing wall) menahan timbunan di sisi jembatan dan biasanya menjadi bagian dari abutmen. Tipenya antara lain gravitasi dan kantilever. Bagian-bagian ini ditunjukkan pada Gambar 3. Pelajari fungsi dan perhitungan abutmen.

Potongan memanjang skematis abutmen jembatan: dinding belakang, dudukan perletakan, dinding abutmen, poer, tiang, wing wall, pelat injak, oprit, dan expansion joint, dengan panah gaya beban gelagar dan tekanan tanah
Gambar 3. Potongan memanjang skematis abutmen beton bertulang berpondasi tiang, lengkap dengan oprit dan pelat injak (tidak berskala). Panah merah menunjukkan gaya yang dipikul abutmen: beban vertikal dari gelagar dan tekanan tanah horizontal dari timbunan.

Keterangan Gambar 3:

  1. Gelagar — ujung bentang.
  2. Perletakan — menyalurkan reaksi gelagar ke abutmen.
  3. Dinding belakang (backwall) — menahan timbunan di belakang gelagar; konsol di sisi belakangnya menjadi tumpuan pelat injak.
  4. Dudukan perletakan (kepala abutmen).
  5. Dinding abutmen (breast wall).
  6. Poer (pile cap) — mengikat kepala tiang.
  7. Tiang pondasi.
  8. Wing wall (tembok sayap) — digambar putus-putus karena berada di belakang bidang potongan.
  9. Pelat injak — bertumpu pada konsol dinding belakang.
  10. Expansion joint — celah antara pelat injak dan lantai jembatan.
  11. Oprit — timbunan jalan pendekat beserta lapis pondasi perkerasannya.
  12. Lapis aus.

Pilar (pier)

Pilar adalah penyangga tengah pada jembatan berbentang banyak. Bagian-bagiannya adalah kepala pilar (pier head) tempat perletakan, kolom atau dinding pilar, dan poer. Bentuknya antara lain kolom tunggal, kolom ganda (portal), dan dinding pilar. Karena sering berada di sungai, pilar menerima gaya aliran air dan hanyutan, serta berisiko tergerus; aspek ini dibahas di desain jembatan: geoteknik dan hidraulika.

Pondasi

Pondasi meneruskan beban abutmen dan pilar ke tanah yang mampu memikulnya. Pemilihannya bergantung pada hasil penyelidikan tanah dan perhitungan daya dukung tanah, dengan persyaratan perancangan geoteknik mengacu pada SNI 8460:2017. Untuk pilar di sungai, kedalaman gerusan harus diperhitungkan. Empat jenis yang umum ditunjukkan pada Gambar 4.

Empat jenis pondasi jembatan: tiang pancang, tiang bor, sumuran, dan telapak, dengan kedalaman tanah keras yang berbeda pada tiap contoh
Gambar 4. Empat jenis pondasi jembatan (skematis, tidak berskala): (A) tiang pancang, (B) tiang bor, (C) sumuran, dan (D) telapak. Kedalaman tanah keras sengaja dibuat berbeda pada tiap contoh.
Jenis pondasiCiriUmumnya cocok untuk
Tiang pancangTiang pracetak beton atau baja yang dipancang ke dalam tanahTanah keras pada kedalaman tertentu; getaran dan kebisingan pemancangan perlu dipertimbangkan
Tiang bor (bored pile)Lubang dibor, dipasang tulangan, lalu dicor di tempatKapasitas dan diameter besar, serta area yang sensitif terhadap getaran pemancangan
SumuranSilinder atau kotak beton yang diturunkan sambil tanah di dalamnya digaliTanah keras yang relatif tidak terlalu dalam; sering dipakai di sungai
Telapak (footing)Pondasi dangkal berupa pelat beton di bawah kolom atau dindingTanah keras atau batuan pada kedalaman dangkal dengan risiko gerusan yang terkendali

Tabel ini bersifat umum; keputusan akhir ada pada analisis geoteknik. Contoh detail untuk pondasi tiang tersedia di detail tiang pancang jembatan (DWG).

Bangunan Pelengkap

Bangunan pelengkap menunjang fungsi dan keawetan jembatan:

  • Oprit (jalan pendekat) — menghubungkan jalan dengan jembatan.
  • Pelat injak (approach slab) — pelat beton di atas oprit yang bertumpu pada dinding belakang abutmen. Pelat ini meredam perbedaan penurunan antara timbunan dan abutmen agar kendaraan tidak mengalami hentakan di ujung jembatan.
  • Proteksi gerusan — bronjong atau riprap (batu pelindung) di sekitar pilar dan abutmen untuk melindungi dasar sungai dan lereng dari arus.
  • Drainase dan patok pengarah — mengalirkan air dari permukaan jembatan dan memberi petunjuk jalur bagi pengemudi.

Alur Beban: Membaca Struktur dari Atas ke Bawah

Gambar 1 dapat dibaca sebagai jalur beban dari permukaan sampai tanah:

  1. Beban lalu lintas bekerja pada lapis aus dan pelat lantai kendaraan (nomor 1 dan 2).
  2. Pelat lantai meneruskan beban ke gelagar utama; diafragma membantu membaginya ke gelagar di sebelahnya (nomor 3).
  3. Gelagar menyalurkan reaksi ke perletakan di ujung bentang (nomor 6).
  4. Perletakan meneruskannya ke kepala abutmen atau kepala pilar (nomor 7 dan 9).
  5. Abutmen dan pilar menyalurkan beban ke pondasi (nomor 10 dan 11).
  6. Pondasi menyalurkan beban ke tanah pendukung (nomor 15). Bangunan pelengkap (nomor 12 sampai 14) bekerja di sekelilingnya.

Selain beban vertikal, bangunan bawah juga menahan gaya horizontal, yaitu tekanan tanah pada abutmen, aliran air dan hanyutan pada pilar, serta gaya gempa. Jenis dan kombinasi beban diatur dalam SNI 1725:2016, termasuk beban lajur “D” dan beban truk “T”, sedangkan perencanaan terhadap gempa mengacu pada SNI 2833:2016. Urutan pelaksanaan komponen-komponen ini dapat dilihat di tahapan konstruksi jembatan.

Kerusakan Umum dan Hal yang Perlu Diperiksa

KomponenMasalah yang sering munculDampaknya
Lapis aus dan pelat lantaiLubang, retak, genangan airAir masuk ke pelat sehingga tulangan berkarat
GelagarRetak lentur atau geser pada beton; korosi pada bajaKapasitas pikul menurun
PerletakanKaret sobek atau menggembung, bergeser dari posisiGaya tidak tersalur merata; gerakan gelagar tidak terakomodasi
Expansion jointBocor, lepas, berbunyi saat dilewati kendaraanAir dan kotoran merembes ke perletakan dan kepala abutmen atau pilar
Pelat injak dan opritTimbunan turun, muncul ketidakrataan di ujung jembatanKenyamanan menurun dan beban kejut meningkat
Proteksi gerusanBronjong rusak, batu hanyut, dasar sungai tergerusPilar dan pondasi kehilangan dukungan tanah
Abutmen dan pilarRetak, kerusakan akibat tumbukan hanyutan, gerusan di dasarStabilitas menurun

Tabel ini hanya panduan awal. Pemeriksaan resmi mengikuti prosedur inspeksi jembatan yang berlaku.

Istilah Indonesia dan Inggris

Istilah IndonesiaIstilah Inggris
Bangunan atasSuperstructure
Bangunan bawahSubstructure
GelagarGirder
DiafragmaDiaphragm / cross beam
Pelat lantaiDeck slab
Lapis ausWearing course
PerletakanBearing
Siar muaiExpansion joint
Abutmen (kepala jembatan)Abutment
Dinding belakangBackwall
Tembok sayapWing wall
PilarPier
PoerPile cap
Tiang borBored pile
SumuranWell foundation / caisson
Pelat injakApproach slab
OpritApproach embankment / approach road
BronjongGabion

Kesimpulan dan Rekomendasi Engineer

Ringkasan: jembatan = bangunan atas + perletakan + bangunan bawah + pelengkap. Rekomendasi praktis:

  • Pahami alur penyaluran beban: lantai → gelagar → perletakan → abutmen/pilar → pondasi → tanah.
  • Jangan abaikan pelat injak dan proteksi gerusan; keduanya sering jadi sumber kerusakan dini.
  • Perawatan perletakan dan expansion joint penting untuk umur layan jembatan.
  • Pilih jenis pondasi berdasarkan data tanah dan potensi gerusan, bukan berdasarkan kebiasaan proyek sebelumnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa itu bangunan atas jembatan?

Bangunan atas adalah bagian jembatan yang langsung memikul beban lalu lintas, meliputi pelat lantai kendaraan, gelagar utama, diafragma, trotoar, sandaran, dan expansion joint.

Apa fungsi abutmen pada jembatan?

Abutmen adalah kepala jembatan di kedua ujung yang memikul bangunan atas sekaligus menahan tekanan tanah timbunan oprit, lalu menyalurkan beban ke pondasi.

Apa perbedaan gelagar dan diafragma?

Gelagar adalah balok pemikul utama yang membentang searah lalu lintas, sedangkan diafragma adalah balok melintang yang mengikat antar gelagar agar beban terdistribusi dan struktur stabil.

Apa fungsi perletakan (bearing) jembatan?

Perletakan menyalurkan beban dari gelagar ke abutmen atau pilar sekaligus mengakomodasi pergerakan akibat suhu, lendutan, dan gempa.

Apa perbedaan abutmen dan pilar?

Abutmen berada di kedua ujung jembatan, memikul bangunan atas, dan menahan tekanan tanah timbunan oprit. Pilar berada di tengah pada jembatan berbentang banyak; ia hanya memikul bangunan atas dan, bila berada di sungai, menerima gaya arus air serta hanyutan.

Apakah perletakan termasuk bangunan atas atau bangunan bawah?

Perletakan berada di antara keduanya. Sebagian literatur memasukkannya ke bangunan atas, sebagian lain memisahkannya sebagai komponen penghubung. Fungsinya sama: menyalurkan beban gelagar dan mengakomodasi gerakan.

Apa saja jenis pondasi jembatan?

Jenis yang umum adalah tiang pancang, tiang bor (bored pile), sumuran, dan telapak. Pemilihannya bergantung pada hasil penyelidikan tanah, besar beban, dan potensi gerusan di lokasi.

Apa fungsi pelat injak pada jembatan?

Pelat injak (approach slab) adalah pelat beton di atas oprit yang bertumpu pada dinding belakang abutmen. Fungsinya meredam perbedaan penurunan antara timbunan dan jembatan agar kendaraan tidak mengalami hentakan di ujung jembatan.

Lihat Juga

  • Beban Jembatan SNI 1725:2016
  • Fungsi dan Perhitungan Abutmen
  • Bentang Ekonomis Jembatan
  • Perbedaan Tipe Jembatan
  • Detail Tiang Pancang Jembatan (DWG)
  • Daya Dukung Tanah
  • Desain Jembatan: Geoteknik & Hidraulika
  • Tahapan Konstruksi Jembatan

Referensi

  1. Badan Standardisasi Nasional. SNI 1725:2016 — Pembebanan untuk Jembatan. Jakarta: BSN.
  2. Badan Standardisasi Nasional. SNI 2833:2016 — Perencanaan Jembatan terhadap Beban Gempa. Jakarta: BSN. Tersedia di: https://binamarga.pu.go.id/uploads/files/439/sni-2833-2016-standar-perencanaan-ketahanan-gempa-untuk-jembatan.pdf
  3. Badan Standardisasi Nasional. SNI 3967:2013 — Spesifikasi dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan. Jakarta: BSN.
  4. Badan Standardisasi Nasional. SNI 8460:2017 — Persyaratan Perancangan Geoteknik. Jakarta: BSN. Tersedia di: https://binamarga.pu.go.id/index.php/nspk/detail/sni-84602017-persyaratan-perancangan-geoteknik
  5. Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PUPR (2015). Pedoman Perancangan Bantalan Elastomer untuk Perletakan Jembatan. Tersedia di: https://binamarga.pu.go.id/index.php/nspk/detail/pedoman-perancangan-bantalan-elastomer-untuk-perletkan-jembatan
  6. Supriyadi, B. & Muntohar, A. S. (2007). Jembatan. Yogyakarta: Beta Offset.
  7. Chen, W. F. & Duan, L. (2014). Bridge Engineering Handbook (2nd ed.), Vol. 2 Superstructure Design dan Vol. 3 Substructure Design. Boca Raton: CRC Press.
Berbagi
Titoreista
Titoreista project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Artikel Terkait
Artikel Lainnya
Baca Juga
POSTINGAN SEBELUMNYA: POSTINGAN SELANJUTNYA:

Posting Komentar untuk "Bangunan Atas dan Bangunan Bawah Jembatan: Komponen Lengkap"

About

Foto saya
Titoreista Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia
project engineer in civil engineering, sharing formulas, calculator tools, and scientific insights, while embracing personal philosophy as guidance for growth
Ikuti
Logo Website

Site Information

  • About
  • Experience
  • Contact
  • Sitemap

Apps & Tools

CivilCalc in the Chrome Web Store — civil engineering calculators and tools
Al Quranahwu Primbon Calc on Google Play — civil engineering, geodesy, hydrology, and general calculators
  • Privacy Policy
  • Terms of Service
  • Disclaimer
  • DMCA
Copyright © 2026 Titoreista. All Rights Reserved.