Gambar Detail Pondasi Batu Kali dan Pondasi Telapak
Gambar Detail Pondasi Batu Kali dan Pondasi Telapak
Intisari
- Gambar Detail Pondasi adalah shop drawing berskala yang memuat dimensi, material, penulangan, dan elevasi pondasi sesuai SNI 8460:2017 dan SNI 2847:2019.
- Dua tipologi dominan: Pondasi Batu Kali (menerus, trapesium, untuk beban ringan-sedang ≤ 50 kN/m') dan Pondasi Telapak/Footplat (setempat, pelat persegi/persegi panjang, untuk beban kolom ≥ 200 kN/titik).
- Klasifikasi pondasi berdasarkan rasio Df/B: dangkal (≤ 4) dan dalam (> 4). Kedua pondasi yang dibahas termasuk kategori dangkal.
- Kapasitas daya dukung dihitung dengan persamaan Terzaghi (1943): qult = c·Nc + γ·Df·Nq + 0,5·γ·B·Nγ, dengan SF = 3 untuk daya dukung izin.
- Komponen wajib gambar detail: skala, notasi dimensi, simbol material, penulangan (Ø, s, fy, cover), elevasi referensi, dan spesifikasi mutu (f'c, fy).
- RAB pekerjaan pondasi mengacu pada AHSP Bidang Cipta Karya: pasangan batu kali butuh 1,20 m³ batu, 3,26 zak PC, dan 0,60 m³ pasir per 1 m³ pondasi.
Definisi dan Fungsi Pondasi dalam Struktur Bangunan
- Distribusi tegangan kontak (contact pressure distribution) — meneruskan beban kolom dan dinding ke tanah dengan tegangan yang lebih kecil dari kapasitas daya dukung izin tanah (qa).
- Pengendalian penurunan (settlement control) — meminimalkan penurunan diferensial antar titik pondasi agar tidak menimbulkan retak struktural pada elemen di atasnya.
- Stabilitas terhadap gaya lateral — menahan gaya horizontal akibat tekanan tanah aktif, beban angin, dan gaya gempa sesuai SNI 1726:2019.
- Isolasi struktur — memutus kapilaritas air tanah ke dinding melalui damp proof course (lapisan kedap air) yang dipasang di atas pondasi.
Klasifikasi Pondasi Berdasarkan Kedalaman
Df/B ≤ 4 ; Df < 3 m
- Batu Kali (strip)
- Telapak/Footplat (spread)
- Pelat (raft/mat)
- Cakar Ayam
- Rollag Bata/Batako
Df/B > 4 ; Df ≥ 3 m
- Tiang Pancang (driven pile)
- Tiang Bor (bored pile)
- Caisson / Sumuran
- Cerucuk (tanah lunak)
- Mini Pile
Pondasi Dangkal (Shallow Foundation)
Pondasi Dalam (Deep Foundation)
Anatomi Gambar Detail Pondasi
Komponen Wajib pada Gambar Detail
- Skala penyajian — umumnya 1:10, 1:20, atau 1:25 untuk detail potongan; 1:100 untuk denah pondasi keseluruhan. Skala dicantumkan pada kop gambar dan dibawah setiap detail.
- Notasi dimensional — lebar dasar (B), lebar atas (b), tinggi (h), kedalaman elevasi (Df), dengan satuan milimeter (mm) atau sentimeter (cm) yang konsisten di seluruh lembar.
- Simbol material — arsiran berbeda untuk batu kali (hatching diagonal rapat), beton bertulang (titik-titik), pasir urug (titik halus), dan tanah asli (arsiran diagonal jarang) sesuai konvensi BSI standard.
- Penulangan — diameter (Ø), jarak (s atau spasi), mutu baja (BJTP/BJTS), dan tebal selimut beton (cover). Mengacu pada tabel berat besi beton SNI untuk konversi diameter ke berat per meter.
- Elevasi referensi — titik nol lantai (±0,00) sebagai datum vertikal. Semua elevasi pondasi ditulis dalam tanda negatif (misalnya −0,75 m) menunjukkan posisi di bawah datum.
- Spesifikasi mutu — kuat tekan beton f'c (MPa) dan mutu baja fy (MPa) yang dicantumkan dalam tabel keterangan gambar. Standar tipikal f'c = 20-25 MPa untuk telapak rumah tinggal, fy = 240/400 MPa.
Gambar Detail Pondasi Batu Kali
Gambar 2. Potongan melintang (cross-section) pondasi batu kali — penampang trapesium dengan sloof beton 15×20 cm, aanstamping, dan pasir urug.
Karakteristik dan Dimensi Standar
- Lebar bawah (B1): 60-80 cm
- Lebar atas (B2): 25-40 cm
- Tinggi pondasi (h): 60-80 cm
- Kedalaman dasar pondasi (Df): minimum −75 cm dari muka tanah (di bawah zone of seasonal moisture change)
- Tebal pasir urug: 5-10 cm sebagai working platform
- Tebal aanstamping (batu kosong): 15-20 cm
- Sudut kemiringan tepi: 1:4 hingga 1:5 untuk stabilitas lateral
Komponen Struktural dan Fungsinya
- Lapisan Pasir Urug Padat — berfungsi sebagai lapisan perata (leveling course) dan media drainase untuk mencegah konsentrasi tegangan pada dasar pondasi. Dipadatkan dengan kepadatan minimal 95% MDD (Modified Maximum Dry Density) sesuai SNI 1742:2008. Untuk pemahaman mendalam mengenai jenis pasir, lihat perbedaan pasir urug dan tanah urug.
- Aanstamping (Batu Kosong) — susunan batu tegak tanpa adukan untuk meningkatkan stabilitas dasar dan berfungsi sebagai filter drainase. Tebal 15-20 cm dengan kepadatan rapat tanpa rongga besar.
- Pasangan Batu Kali dengan Spesi 1:4 — campuran 1 bagian semen Portland (PC Tipe I) dan 4 bagian pasir pasang. Volume mortar pengisi minimum 25% dari volume total pondasi untuk memastikan struktur masif (non-honeycomb) tanpa rongga internal.
- Sloof Beton Bertulang — berfungsi sebagai pengikat (tie beam) yang mendistribusikan beban dinding secara merata di atas pondasi. Dimensi umum 15 × 20 cm dengan tulangan utama 4Ø12 mm dan sengkang Ø6-200 mm sesuai SNI 2847:2019.
- Angkur Stek (Dowel) — tulangan Ø10 mm yang ditanam pada pasangan batu kali dengan jarak 50 cm sebagai pengikat ke sloof. Berfungsi memberikan kontinuitas kekakuan antara batu dan sloof.
- Pasangan Dinding Bata — lapisan trasraam (kedap air) setinggi minimum 30 cm di atas sloof dengan spesi 1:3 untuk mencegah kapilaritas air tanah. Untuk teknik pemasangan, lihat pasangan bata dinding.
Rumus Volume Pondasi Batu Kali
- V = Volume pondasi (m³)
- B1 = Lebar bawah pondasi (m)
- B2 = Lebar atas pondasi (m)
- h = Tinggi pondasi (m)
- L = Panjang total jalur pondasi (m)
Analisis Distribusi Beban dan Desain
- Mekanisme Transfer Beban — beban dinding (qw) ditransfer melalui sloof ke pondasi batu kali, lalu didistribusikan dengan sudut sebar (load spread angle) 30°-45° ke lapisan tanah pendukung. Konfigurasi trapesium memastikan tegangan kontak (σc) pada dasar pondasi tetap di bawah daya dukung izin tanah (qa).
- Fitur Kedap Air (Water-tightness) — sistem proteksi air diintegrasikan melalui plint keramik, nat tali air, dan lapisan trasraam untuk memutus kapilaritas dari tanah ke dinding. Tinggi trasraam minimum 30 cm di atas sloof.
- Kesesuaian Iklim Tropis — material batu alam memiliki ketahanan tinggi terhadap pelapukan akibat fluktuasi kelembaban iklim tropis lembab. Batu vulkanik (andesit, basalt) lebih tahan dibanding batu sedimen (batu kapur, batu pasir) untuk aplikasi di bawah muka air tanah.
Pengamatan Kritis dan Batasan Aplikasi
- Kedalaman Minimum — elevasi dasar pondasi −75 cm cukup untuk bangunan satu lantai pada tanah keras, namun memerlukan koreksi pada tanah lempung ekspansif berdasarkan indeks plastisitas (PI). Untuk PI > 20%, kedalaman minimum dinaikkan menjadi −100 cm di bawah active zone.
- Batasan Daya Dukung — tidak direkomendasikan untuk tanah lunak (qa < 50 kPa) atau zona seismik tinggi (KDS D, E, F berdasarkan SNI 1726:2019) tanpa penguatan tambahan berupa cerucuk atau pondasi telapak setempat pada titik kolom utama.
- Keberlanjutan Material — penggunaan batu alam lokal mengurangi embodied carbon hingga 40% dibandingkan pondasi beton bertulang penuh. Hal ini selaras dengan agenda green building dalam Permen PUPR 21/2021.
Gambar Detail Pondasi Telapak (Footplat)
Gambar 3. Layout denah pondasi telapak (footplat) 60×60 cm — konfigurasi kolom praktis dengan penulangan dua arah.
Karakteristik dan Dimensi Pondasi Telapak
- Bentuk pelat: persegi (square footing) atau persegi panjang (rectangular footing) tergantung distribusi beban kolom dan kondisi tanah
- Dimensi sisi (B × L): 60 × 60 cm hingga 200 × 200 cm untuk bangunan 1-3 lantai; dapat lebih besar untuk gedung bertingkat tinggi
- Tebal pelat (t): 20-30 cm; minimum 200 mm untuk pondasi rumah 2 lantai sesuai SNI 2847:2019 Pasal 13.3
- Tulangan utama: Ø10-Ø16 mm dengan jarak 100-200 mm dua arah (two-way reinforcement) bottom rebar
- Selimut beton (cover): 40 mm untuk permukaan yang kontak dengan tanah, 75 mm untuk pondasi tanpa lantai kerja
- Mutu beton: minimum f'c = 20 MPa (K-225) untuk rumah tinggal, f'c = 25-30 MPa untuk gedung bertingkat
- Mutu baja: BJTP-24 (fy = 240 MPa) untuk tulangan polos, BJTS-40 (fy = 400 MPa) untuk tulangan ulir
Komponen Struktural Pendukung
- Pondasi Telapak (Footing Plate)
- Dimensi dasar 600 × 600 mm dengan tebal 200 mm (untuk rumah tinggal 1-2 lantai)
- Penulangan Ø10 mm dua lapis (arah x dan y) dengan spasi 150 mm
- Berfungsi mendistribusikan beban kolom (Pu) ke tanah dengan tegangan kontak σ = Pu/(B × L)
- Kolom Praktis
- Dimensi 150 × 150 mm, tulangan pokok 4Ø10 mm, sengkang Ø6-150 mm
- Berfungsi sebagai pengaku vertikal dinding pengisi (infill wall) bata atau hebel
- Sloof (Tie Beam)
- Dimensi 150 × 200 mm, tulangan pokok 4Ø12 mm, sengkang Ø6-200 mm
- Mengikat antar pondasi telapak dan mencegah penurunan diferensial yang merusak struktur
- Ring Balok dan Ring Balok Gantung
- Dimensi 150 × 200 mm, tulangan 4Ø10 mm, sengkang Ø6-200 mm
- Mengikat puncak dinding dan mendistribusikan beban atap secara merata
- Balok Teras (Tumpuan dan Lapangan)
- Dimensi 150 × 300 mm, tulangan 5Ø12 mm, sengkang Ø6-150 mm
- Menopang beban bentangan teras dan bagian kantilever (cantilever)
Kapasitas Daya Dukung — Teori Terzaghi
- qult = Kapasitas daya dukung ultimit (kN/m²)
- c = Kohesi tanah (kPa)
- γ = Berat volume tanah (kN/m³)
- Df = Kedalaman pondasi (m)
- B = Lebar pondasi (m)
- Nc, Nq, Nγ = Faktor daya dukung sebagai fungsi sudut geser dalam tanah (φ)
| φ (°) | Nc | Nq | Nγ | Jenis Tanah Tipikal |
|---|---|---|---|---|
| 0 | 5,7 | 1,0 | 0,0 | Lempung jenuh murni |
| 10 | 9,6 | 2,7 | 1,2 | Lempung lunak hingga sedang |
| 20 | 17,7 | 7,4 | 5,0 | Lanau atau pasir kelanauan |
| 30 | 37,2 | 22,5 | 19,7 | Pasir padat sedang |
| 35 | 57,8 | 41,4 | 42,4 | Pasir padat |
| 40 | 95,7 | 81,3 | 100,4 | Kerikil padat / pasir sangat padat |
Tabel 1. Faktor daya dukung Terzaghi (1943) — referensi cepat untuk perhitungan pondasi telapak.
Analisis Desain Struktural
- Pemeriksaan Geser Pons (Punching Shear)
- Tegangan geser pons di sekitar kolom harus < vc = 0,17·λ·√f'c sesuai SNI 2847:2019 Pasal 22.6.5
- Tebal pelat ditentukan agar tidak terjadi keruntuhan geser dua arah (two-way shear failure) yang bersifat tiba-tiba dan getas
- Penampang kritis berada pada d/2 dari muka kolom (d = tinggi efektif pelat)
- Pemeriksaan Lentur (Bending)
- Momen lentur pada penampang kritis (muka kolom) menentukan luas tulangan utama (As)
- Rasio tulangan minimum ρmin = 0,0018 untuk pelat pondasi sesuai SNI 2847:2019 Pasal 8.6.1
- Tulangan disebar merata dua arah pada lapisan bawah pelat
- Ketahanan Gempa
- Sistem terintegrasi sloof–kolom–ring balok membentuk moment-resisting frame yang mampu mendisipasi energi gempa
- Detailing sengkang rapat (s ≤ 150 mm) di daerah sendi plastis meningkatkan daktilitas struktur
- Pondasi telapak yang terikat dengan sloof menjamin pergerakan seragam saat gempa, mencegah differential settlement
Standar dan Regulasi Acuan
| Standar / Regulasi | Ruang Lingkup | Otoritas |
|---|---|---|
| UU 28/2002 | Bangunan Gedung — fungsi, persyaratan teknis, PBG/SLF | Kementerian PUPR |
| UU 2/2017 | Jasa Konstruksi — SBU, SKK, K3, sengketa konstruksi | LPJK & PUPR |
| Permen PUPR 22/2018 | Pedoman Pembangunan Bangunan Gedung Negara | Kementerian PUPR |
| SNI 8460:2017 | Persyaratan Perancangan Geoteknik — daya dukung, SF | BSN |
| SNI 2847:2019 | Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung | BSN |
| SNI 1726:2019 | Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa | BSN |
| SNI 1727:2020 | Beban Desain Minimum dan Kriteria Terkait | BSN |
| SNI 03-2834-2000 | Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal | BSN |
| SNI 1742:2008 | Cara Uji Kepadatan Ringan untuk Tanah | BSN |
Tabel 2. Standar dan regulasi nasional yang mengikat perancangan pondasi di Indonesia.
- Pondasi batu kali direkomendasikan untuk bangunan sederhana dengan tinggi maksimal 2 lantai dan beban terbagi rata. Wajib disertai sloof beton bertulang sebagai pengikat sesuai SNI 2847:2019.
- Pondasi telapak wajib didahului dengan analisis daya dukung tanah berbasis data SPT (Standard Penetration Test) atau sondir (CPT) sesuai SNI 8460:2017. Investigasi tanah dilakukan oleh surveyor tanah bersertifikat.
- Material batu alam wajib memenuhi standar mutu agregat untuk komponen pengikat, sedangkan beton struktural diuji slump segarnya dan kuat tekan 28 hari.
Perbandingan Pondasi Batu Kali dan Pondasi Telapak
| Kriteria Teknis | Pondasi Batu Kali | Pondasi Telapak |
|---|---|---|
| Material Utama | Batu alam, mortar 1:4 | Beton bertulang f'c ≥ 20 MPa |
| Tipe Pondasi | Menerus (strip footing) | Setempat (isolated footing) |
| Kapasitas Beban | Ringan – sedang (≤ 50 kN/m') | Sedang – berat (≥ 200 kN/titik) |
| Daya Dukung Tanah Minimum | qa ≥ 100 kPa (tanah keras) | qa ≥ 75 kPa (sedang–keras) |
| Kedalaman Tipikal | −60 hingga −90 cm | −100 hingga −150 cm |
| Aplikasi Bangunan | Rumah 1-2 lantai, pos jaga, bangunan sederhana | Ruko, gedung bertingkat, bangunan komersial |
| Estimasi Biaya | Ekonomis | Relatif lebih tinggi (50-80%) |
| Kompleksitas Pelaksanaan | Sederhana (tukang batu) | Memerlukan pembesian dan bekisting |
| Ketahanan Gempa | Terbatas (KDS A–C) | Baik (KDS A–F dengan detailing) |
| Waktu Pelaksanaan | Cepat (3-7 hari per 10 m') | Lebih lama (curing beton min. 7 hari) |
Tabel 3. Perbandingan teknis-ekonomis pondasi batu kali dan pondasi telapak.
Keunggulan dan Keterbatasan Pondasi Batu Kali
- Biaya konstruksi rendah dengan ketersediaan material batu lokal yang melimpah
- Proses pelaksanaan sederhana, tidak memerlukan tenaga ahli khusus, cukup tukang batu berpengalaman
- Drainase alami yang baik melalui rongga antar batu, mengurangi tekanan hidrostatik
- Daya tahan tinggi terhadap pelapukan kimiawi pada iklim tropis lembab
- Embodied carbon rendah (40% lebih hemat dibanding beton bertulang)
- Tidak cocok untuk tanah lunak (qa < 50 kPa) atau tanah jenuh air
- Kapasitas beban terbatas untuk struktur bertingkat di atas 2 lantai
- Rentan terhadap penurunan diferensial pada tanah heterogen tanpa cerucuk pendukung
- Daktilitas rendah terhadap beban gempa pada KDS D, E, F
Keunggulan dan Keterbatasan Pondasi Telapak
- Kapasitas beban tinggi dengan kontrol penurunan yang baik melalui pengaturan dimensi B × L
- Fleksibilitas dimensional sesuai beban kolom aktual (per-titik optimasi)
- Ketahanan baik terhadap gaya seismik dan dinamis ketika diintegrasikan dengan sloof daktail
- Cocok untuk variasi kondisi tanah yang luas (qa 75-300 kPa)
- Dapat dimodifikasi menjadi combined footing untuk kolom yang berdekatan
- Biaya material dan pengerjaan lebih tinggi (50-80% di atas batu kali)
- Memerlukan perhitungan struktural detail dan pengawasan teknis ketat (quality assurance)
- Waktu pelaksanaan lebih lama karena curing beton minimum 7 hari sebelum pembebanan
- Memerlukan bekisting dan pembesian yang akurat sesuai gambar kerja
Estimasi Anggaran Biaya (RAB) Pekerjaan Pondasi
| Uraian Pekerjaan | Satuan | Koefisien |
|---|---|---|
| PEKERJAAN TANAH & PONDASI | ||
| Pasang Bowplank | m' | 1,00 |
| — Kayu Papan 2/20 × 4 m Kelas II | btg | 0,26 |
| — Kayu Balok 4/6 × 4 m Kelas II | btg | 0,21 |
| — Paku 2,5" | kg | 0,01 |
| — Benang Nylon | rol | 0,02 |
| Galian Tanah | m³ | 1,00 |
| Urugan Tanah & Pemadatan | m³ | 1,00 |
| Urug Pasir | m³ | 1,00 |
| — Pasir Urug | m³ | 1,20 |
| Pondasi Rollag Batako | m' | 1,00 |
| — Batako 10 × 20 × 40 cm | bh | 12,50 |
| — Semen PC Tipe I @ 50 kg | zak | 0,14 |
| — Pasir Pasang | m³ | 0,01 |
| Pasangan Batu Kali | m³ | 1,00 |
| — Batu Kali | m³ | 1,20 |
| — Semen PC Tipe I @ 50 kg | zak | 3,26 |
| — Pasir Pasang | m³ | 0,60 |
| Pancang Cerucuk Kayu Ø 10 cm × 3 m | btg | 1,00 |
| — Cerucuk Kayu Galam Ø 10 cm × 3 m | btg | 1,00 |
Tabel 4. Koefisien AHSP Bidang Cipta Karya untuk pekerjaan tanah dan pondasi.
Aplikasi Praktis Gambar Detail Pondasi pada Berbagai Tipologi Struktur
- Bangunan Penunjang: pos jaga 3×3 m, pos jaga 2×2 m, dan pos jaga 3×3 m pondasi cerucuk untuk tanah lunak.
- Bangunan Hunian: rumah tinggal 1-2 lantai dengan kombinasi pondasi batu kali (dinding) dan telapak (kolom utama). Juga aplikasi pada rumah prefabrikasi dan struktur dengan rangka kayu atap limas.
- Infrastruktur Jembatan: jembatan girder baja 6 m, jembatan girder baja 9 m, jembatan girder baja 12 m, dan jembatan girder baja 20 m dengan pondasi beton (abutment dan pier).
- Infrastruktur Perkebunan: titi panen bentang 7-12 m dengan pondasi batu mangga untuk akses kebun sawit.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa itu gambar detail pondasi?
2. Kapan menggunakan pondasi batu kali dan kapan pondasi telapak?
3. Berapa kedalaman minimum pondasi batu kali untuk rumah tinggal?
4. Bagaimana rumus daya dukung pondasi telapak menurut Terzaghi?
5. Apa standar SNI yang mengatur perancangan pondasi di Indonesia?
Kesimpulan
Lihat Juga
- Standar Gambar Denah Pondasi Bangunan
- Gambar Pondasi Dangkal
- Perbedaan Pondasi Dangkal dan Dalam
- Pondasi Cakar Ayam — Sosrobahu
- Detail Pondasi Footplat
- Cara Menghitung Volume Pondasi Batu Kali
- Gambar Konstruksi Bangunan
- Civil Engineering — Cabang Ilmu Teknik
- Materi Dasar Teknik Sipil
- Surveyor Tanah & Survei Lahan
- Perbedaan Pasir Urug & Tanah Urug
- Analisa Cut and Fill
- Pemindahan Tanah Mekanis
- Tabel Berat Besi Beton SNI
- Standar Cara Uji Slump Beton Segar
- Curing Beton
- Hammer Test Beton Excel
- Pasangan Bata Dinding
- Manajemen Konstruksi
- Quality Assurance Konstruksi
- Risk Management Konstruksi
- Laporan Progress Proyek Excel
- LPJK — Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi
- Kalkulator Pondasi Rollag Bata/Batako
- Kalkulator Pondasi Cerucuk
Referensi
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
- Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi.
- Peraturan Menteri PUPR Nomor 22/PRT/M/2018 tentang Pedoman Pembangunan Bangunan Gedung Negara.
- Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau.
- Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Bangunan Gedung.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 8460:2017 — Persyaratan Perancangan Geoteknik. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 2847:2019 — Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 1726:2019 — Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non-Gedung. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 1727:2020 — Beban Desain Minimum dan Kriteria Terkait untuk Bangunan Gedung dan Struktur Lain. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 03-2834-2000 — Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Jakarta: BSN.
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 1742:2008 — Cara Uji Kepadatan Ringan untuk Tanah. Jakarta: BSN.
- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Analisa Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Cipta Karya. Jakarta: Direktorat Jenderal Cipta Karya.
- Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK). Pedoman Sertifikasi Badan Usaha dan Tenaga Konstruksi. Jakarta: LPJK Nasional.
- International Organization for Standardization. ISO 128 — Technical Drawings — General Principles of Presentation.

